Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kerusakan-integritas-kulit-indikator-dan-pencegahannya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya - SumberAjar.com

Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya

Pendahuluan

Kulit sebagai organ terbesar pada manusia memiliki fungsi penting sebagai pelindung tubuh dari berbagai rangsangan eksternal, mulai dari trauma fisik, infeksi, hingga kehilangan cairan dan panas tubuh. Namun dalam situasi tertentu seperti imobilitas, penyakit kronis, atau gangguan sirkulasi, kulit bisa mengalami kerusakan, yang dalam terminologi keperawatan dikenal dengan “kerusakan integritas kulit” atau “gangguan integritas kulit/jaringan”. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan dan kualitas hidup pasien, tetapi juga berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti luka tekan (pressure ulcer), infeksi, dan lama penyembuhan luka. Oleh karena itu penting bagi tenaga kesehatan, terutama perawat, untuk memahami pengertian, faktor risiko, indikator, dan strategi pencegahan serta intervensi keperawatan yang tepat untuk menjaga integritas kulit pasien.


Definisi Kerusakan Integritas Kulit

Definisi Kerusakan Integritas Kulit Secara Umum

Kerusakan integritas kulit mengacu pada kondisi di mana terjadi pelanggaran terhadap struktur atau fungsi normal kulit atau jaringan di bawahnya, sehingga kulit tidak lagi dapat berfungsi sebagai pelindung optimal. Ini bisa berupa robekan, luka, ulserasi, erosi, ekskoriasi, kulit bersisik, kulit kering, atau kerusakan jaringan kulit lainnya.

Definisi Kerusakan Integritas Kulit dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “integritas” berarti keutuhan atau kesempurnaan. Maka “integritas kulit” dapat diartikan sebagai keutuhan struktur kulit, mencakup epidermis, dermis, dan jaringan terkait, dalam kondisi sehat dan berfungsi optimal. Kerusakan integritas kulit berarti telah terjadi gangguan pada keutuhan tersebut.

Definisi Kerusakan Integritas Kulit Menurut Para Ahli

Beberapa definisi dari literatur keperawatan dan penelitian:

  • Tim Pokja SDKI DPP PPNI mendefinisikan gangguan integritas kulit sebagai “kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, fasia, otot, tendon, tulang, ligament, dan/atau struktur terkait)” ketika integritas normal terganggu. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]

  • Dalam literatur keperawatan kasus, kerusakan integritas kulit disebut sebagai “skin/tissue integrity disorders”, kondisi yang mencakup luka, ulkus, ekskoriasi dan lesi kulit lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  • Menurut penelitian pada pasien dengan penyakit kronis, gangguan integritas kulit dapat muncul akibat kombinasi faktor seperti perubahan sirkulasi, status nutrisi, kelembapan, imobilitas, serta kondisi lingkungan atau mekanik. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  • Selain itu, dalam konteks pasien lansia atau dengan kondisi komorbid, kerusakan integritas kulit dapat muncul sebagai manifestasi kulit kering, bersisik, pruritus (gatal), lesi, atau ulserasi akibat penurunan fungsi sistem integumen dan elastisitas kulit. [Lihat sumber Disini - e-journal.poltekkesjogja.ac.id]


Faktor Risiko Kerusakan Kulit

Beberapa faktor risiko yang berperan besar dalam terjadinya kerusakan integritas kulit meliputi:


Indikator Kerusakan Integritas Kulit

Beberapa tanda atau indikator klinis yang menunjukkan kulit sudah mengalami kerusakan integritas kulit antara lain:


Dampak Kerusakan Kulit terhadap Pasien

Kerusakan integritas kulit tidak hanya bersifat lokal (kulit saja), tetapi dapat berdampak luas terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien. Beberapa dampak penting:

  • Risiko infeksi, luka atau ulkus yang terbuka memungkinkan mikroorganisme masuk, menyebabkan infeksi lokal ataupun sistemik, terutama pada pasien dengan imunitas menurun atau komorbid kronis. (banyak studi kasus pada pasien diabetes, gagal ginjal, imobil) [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Nyeri dan ketidaknyamanan, luka, ulkus, gatal, kulit kering/bersisik, semua bisa menyebabkan rasa nyeri, pruritus, iritasi, dan menurunkan kenyamanan pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  • Penurunan kualitas hidup, pasien mungkin sulit bergerak, tidur terganggu, sulit perawatan diri, risiko komplikasi makin besar; terutama pada lansia, pasien kronis, atau pasien imobil. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]

  • Perpanjangan masa perawatan / rawat inap / beban perawatan lebih berat, luka kronis atau ulkus sulit sembuh, butuh perawatan luka intensif, dressing, observasi rutin, kolaborasi multidisiplin, mengakibatkan biaya dan waktu perawatan meningkat. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Gangguan psikologis, rasa sakit, gatal, penampilan kulit yang buruk, ketidaknyamanan, bisa menyebabkan stres, kecemasan, menurunkan motivasi pemulihan. Beberapa studi kasus menunjukkan intervensi holistik penting untuk membantu aspek psikososial. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Penilaian Risiko (Skala Braden, Risiko Luka Tekan)

Untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami kerusakan integritas kulit, terutama luka tekan/ulkus dekubitus, digunakan alat penilaian risiko seperti:

  • Skala Braden, banyak digunakan dan terbukti valid dalam memprediksi risiko luka tekan/pressure ulcers, terutama pada pasien di ruang ICU atau imobil. Dalam satu penelitian, Skala Braden menunjukkan sensitivitas 86, 67% dan spesifisitas 70, 37% pada cut-off 15. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  • Perbandingan dengan skala lain seperti Skala Norton juga dilakukan, namun Skala Braden umumnya lebih efektif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  • Penilaian risiko tidak hanya berdasarkan alat semata, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor risiko seperti mobilitas, status nutrisi, kelembapan kulit, sirkulasi, kondisi umum pasien (usia, komorbid), dan kondisi lingkungan, supaya intervensi pencegahan bisa tepat sasaran. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

Penilaian risiko secara dini sangat penting agar pencegahan bisa dilakukan sebelum terjadi luka, sehingga mengurangi kejadian kerusakan integritas kulit.


Strategi Pencegahan Kerusakan Kulit

Berikut beberapa strategi pencegahan berdasarkan literatur dan praktik keperawatan:

  • Perawatan kulit rutin (skin care), menjaga kebersihan, hidrasi, kelembapan kulit penting, terutama bagi lansia, pasien imobil, atau pasien dengan penyakit kronis. Studi pada lansia menunjukkan bahwa skin cleansing dan emollient therapy menurunkan skor kulit kering (Overall Dry Skin Score) secara signifikan. [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]

  • Penggunaan agen topikal / pelembap / minyak alami, misalnya minyak zaitun (olive oil), minyak kelapa (virgin coconut oil), aloe vera, almond oil, dan sebagainya, terbukti efektif dalam menjaga kelembapan kulit dan mencegah luka tekan pada pasien imobil. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]

  • Reposisi posisi secara berkala pada pasien imobil, mengganti posisi setiap beberapa jam untuk mengurangi tekanan pada area tonjolan tulang dan mencegah luka tekan. Banyak studi kasus asuhan keperawatan menekankan reposisi dan perawatan luka. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  • Pemeriksaan kulit rutin (inspeksi, palpasi, observasi kelembapan, eritema, lesi, perubahan warna atau tekstur), penting dilakukan secara rutin untuk mendeteksi dini perubahan kulit sebelum berkembang menjadi luka. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]

  • Edukasi pasien dan keluarga/pengasuh, untuk kasus kronis seperti gagal ginjal kronik, diabetes, imobilitas, agar perawatan kulit di rumah bisa dilakukan dengan benar, termasuk pelembap, pembersihan, perubahan posisi, nutrisi, dan pengawasan. [Lihat sumber Disini - journal.mandiracendikia.com]

  • Kontrol faktor risiko, nutrisi, hidrasi, sirkulasi, status kesehatan umum, memastikan pasien mendapat nutrisi cukup, hidrasi adekuat, sirkulasi memadai, serta perawatan komorbid (misalnya diabetes, CKD) untuk mendukung kesehatan kulit. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Intervensi Keperawatan pada Kerusakan Integritas Kulit

Ketika kerusakan kulit telah terjadi, seperti luka, ulkus, kulit kering, ekskoriasi, intervensi keperawatan menjadi sangat penting. Berikut beberapa intervensi berbasis bukti dari studi Indonesia:

  • Perawatan luka / wound care, Modern Moist Wound Healing: Pada pasien dengan ulkus diabetikum atau luka kronis, pendekatan moist wound healing dengan dressing modern, menjaga kelembapan luka, dan perawatan rutin terbukti mempercepat penyembuhan, menurunkan tanda infeksi, mengurangi nekrosis, dan mendukung pembentukan granulasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]

  • Terapi topikal / pelembap / minyak natural: Misalnya pemberian virgin coconut oil (VCO) pada pasien gagal ginjal kronik dengan pruritus membantu menurunkan rasa gatal, meningkatkan kelembapan kulit, dan memperbaiki integritas kulit. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbaptis.ac.id]

  • Massage dan perawatan tambahan: Untuk pasien imobil atau dengan cedera neurologis, pemberian pijat punggung (back massage) dilaporkan membantu mengurangi kemerahan kulit, meningkatkan sirkulasi lokal, dan mendukung pemulihan integritas kulit. [Lihat sumber Disini - jpk.jurnal.unej.ac.id]

  • Perawatan kulit pada lansia: Untuk lansia dengan xerosis, perawatan kulit teratur (skin cleansing + emollient therapy) dapat mengurangi kekeringan, iritasi, dan meningkatkan kelembapan serta elastisitas kulit, sehingga menurunkan risiko gangguan integritas kulit. [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]

  • Asuhan keperawatan menyeluruh (holistik), meliputi pengkajian menyeluruh (physical exam, status nutrisi, mobility, lingkungan), diagnosis keperawatan, intervensi (wound care, repositioning, skin care, edukasi), implementasi, dan evaluasi. Banyak studi kasus menggunakan pendekatan proses keperawatan komprehensif. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Kesimpulan

Kerusakan integritas kulit, atau gangguan integritas kulit/jaringan, merupakan masalah klinis penting yang bisa terjadi pada berbagai kelompok pasien: lansia, pasien imobil, penderita penyakit kronis seperti diabetes mellitus atau gagal ginjal, serta pasien pasca operasi atau trauma. Definisi dari berbagai literatur menekankan bahwa kondisi ini mencakup kerusakan pada kulit (dermis/epidermis) atau jaringan di bawahnya.

Risiko kerusakan kulit dipengaruhi oleh banyak faktor: sirkulasi, nutrisi, hidrasi, mobilitas, kondisi kulit, serta faktor lingkungan atau mekanik. Indikator klinis meliputi lesi, luka, ulkus, kulit kering/bersisik/berubah warna, pruritus, ekskoriasi, dan tanda-tanda infeksi.

Penilaian risiko menggunakan alat seperti Skala Braden sangat penting untuk mendeteksi dini pasien yang berisiko. Pencegahan melalui perawatan kulit rutin, pelembap/topikal, reposisi posisi, edukasi, dan kontrol faktor risiko merupakan strategi utama.

Jika kerusakan telah terjadi, intervensi keperawatan seperti wound care dengan moist wound healing, terapi topikal, pijat, perawatan kulit lansia, serta asuhan keperawatan holistik sangat membantu memperbaiki integritas kulit, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi.

Dengan pemahaman yang komprehensif mengenai definisi, faktor risiko, indikator, pencegahan, dan intervensi, tenaga kesehatan dapat menjalankan asuhan keperawatan yang efektif, sehingga menjaga integritas kulit pasien, mempercepat pemulihan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kerusakan integritas kulit adalah kondisi ketika struktur dan fungsi kulit mengalami gangguan sehingga tidak lagi berfungsi secara optimal. Kondisi ini dapat berupa luka, ulkus, erosi, ekskoriasi, kulit kering, atau kerusakan jaringan akibat tekanan, gesekan, penyakit kronis, atau faktor lingkungan.

Faktor risiko kerusakan integritas kulit meliputi imobilitas, gangguan sirkulasi, status nutrisi buruk, kelembapan kulit tidak terkontrol, gesekan dan tekanan, penyakit kronis seperti diabetes, serta usia lanjut yang menyebabkan kulit lebih rapuh.

Indikator kerusakan kulit meliputi luka, ulkus, kulit kering dan bersisik, perubahan warna kulit, pruritus, ekskoriasi, edema, serta tanda infeksi seperti bau atau eksudat berlebihan.

Skala Braden adalah alat yang paling umum digunakan untuk menilai risiko kerusakan kulit, khususnya risiko luka tekan. Skala ini menilai enam komponen: persepsi sensorik, kelembapan, aktivitas, mobilitas, nutrisi, dan gesekan atau gaya geser.

Pencegahan dilakukan melalui perawatan kulit rutin, menjaga kelembapan kulit, reposisi berkala pada pasien imobil, edukasi pasien dan keluarga, pemantauan kulit secara rutin, serta memastikan status nutrisi dan hidrasi adekuat.

Intervensi mencakup perawatan luka modern (moist wound healing), penggunaan agen topikal seperti pelembap atau minyak alami, reposisi, pijat punggung untuk meningkatkan aliran darah, serta pendekatan keperawatan holistik yang meliputi pengkajian, asuhan, dan evaluasi kondisi kulit pasien.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Risiko Gangguan Integritas Kulit Risiko Gangguan Integritas Kulit Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian Pengaruh Gizi Mikronutrien terhadap Kesehatan Kulit Pengaruh Gizi Mikronutrien terhadap Kesehatan Kulit Luka Dekubitus: Tingkatan dan Pencegahannya Luka Dekubitus: Tingkatan dan Pencegahannya Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Luka Dekubitus: Tingkatan, Faktor Risiko, dan Pencegahan Luka Dekubitus: Tingkatan, Faktor Risiko, dan Pencegahan Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir SPK Pemetaan Kerusakan Jalan SPK Pemetaan Kerusakan Jalan Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Kangaroo Mother Care: Konsep, Manfaat Neonatal, dan Penerapan Kangaroo Mother Care: Konsep, Manfaat Neonatal, dan Penerapan Indikator: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Indikator: Definisi, Jenis, dan Contoh dalam Penelitian Gangguan Integritas Mukosa Oral Gangguan Integritas Mukosa Oral Hubungan Kurangnya Paparan Matahari dengan Defisiensi Vitamin D Hubungan Kurangnya Paparan Matahari dengan Defisiensi Vitamin D Inisiasi Menyusu Dini: Konsep, Manfaat, dan Praktik Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini: Konsep, Manfaat, dan Praktik Pelaksanaan Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini Indikator Kinerja: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian Indikator Kinerja: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Penelitian
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…