
Risiko Gangguan Integritas Kulit
Pendahuluan
Kulit adalah organ paling luas pada tubuh manusia yang berperan sebagai pelindung terhadap berbagai ancaman eksternal, seperti trauma, gesekan, kelembapan, iritasi, infeksi, dan perubahan lingkungan. Ketika kulit atau jaringan di bawahnya mengalami kerusakan, baik epidermis, dermis, ataupun struktur jaringan pendukung, maka muncul kondisi yang dikenal sebagai gangguan integritas kulit. Kondisi ini dapat berdampak buruk pada kualitas hidup pasien, meningkatkan risiko infeksi, rasa sakit, dan komplikasi lainnya seperti luka tekan (pressure ulcer). Oleh sebab itu, penting bagi penyedia layanan kesehatan, terutama perawat, untuk memahami definisi, faktor risiko, tanda-gejala, penilaian risiko, serta strategi pencegahan dan intervensi keperawatan agar integritas kulit dapat terjaga dengan baik. Artikel ini membahas secara komprehensif tentang risiko gangguan integritas kulit, dari definisi hingga contoh kasus, dengan referensi ilmiah terkini.
Definisi “Gangguan Integritas Kulit”
Definisi secara umum
Gangguan integritas kulit merujuk pada kondisi di mana terjadi kerusakan pada kulit atau jaringan tubuh akibat berbagai faktor internal maupun eksternal. Kerusakan ini dapat meliputi epidermis, dermis, atau struktur jaringan di bawahnya seperti fasia, otot, maupun membran mukosa. Akibatnya, fungsi proteksi kulit sebagai barier terhadap infeksi, kehilangan cairan, dan kerusakan mekanis menjadi terganggu. Kerusakan ini dapat bersifat akut maupun kronis tergantung pada penyebab dan durasinya.
Definisi dalam KBBI
Dalam KBBI, istilah “integritas” merujuk pada keutuhan; sehingga “integritas kulit” bisa diartikan sebagai kondisi kulit yang utuh, tidak rusak, dan berfungsi sesuai dengan perannya, sebagai pelindung, regulasi suhu, dan indra. Oleh karena itu, “gangguan integritas kulit” dalam arti KBBI bisa diterjemahkan sebagai perubahan/perusakan pada keutuhan kulit, sehingga fungsi normalnya terganggu. (Catatan: karena KBBI jarang memuat terminologi medis spesifik, definisi ini diinterpretasikan dari makna umum kata “integritas” + “kulit”).
Definisi menurut para ahli
Beberapa definisi menurut literatur dan panduan keperawatan:
-
Menurut panduan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), gangguan integritas kulit/jaringan adalah kerusakan kulit (dermis dan/atau epidermis) atau jaringan (membran mukosa, fasia, otot, tendon, ligament, dll). [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Definisi serupa juga dikemukakan dalam tinjauan pustaka keperawatan bahwa gangguan integritas kulit melibatkan kerusakan pada kulit atau struktur jaringan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Dalam studi kasus pada pasien dengan penyakit kronis (misalnya gagal ginjal) dan kondisi yang memperparah status kulit, gangguan integritas kulit didefinisikan sebagai kondisi di mana terdapat perubahan seperti kulit kering, kasar, ekskoriasi, kulit bersisik, hiperpigmentasi, gatal, yang berkaitan dengan perubahan sirkulasi, status nutrisi, atau kelebihan volume cairan. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
-
Pada konteks pasien dengan penyakit metabolik seperti Diabetes Mellitus Tipe II, gangguan integritas kulit dapat terjadi sebagai akibat hiperglikemia kronis yang mengganggu saraf dan sirkulasi sehingga memicu kerusakan kulit/jaringan. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa gangguan integritas kulit mencakup segala bentuk perubahan atau kerusakan pada kulit atau jaringan di bawahnya, yang mengganggu fungsi dan keutuhan kulit sebagai pelindung tubuh.
Faktor Risiko Kerusakan Kulit
Beberapa faktor atau kondisi dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan integritas kulit, di antaranya:
-
Imobilitas atau penurunan mobilitas (misalnya pasien bedrest, pasien pascaoperasi, pasien lansia), karena kurangnya perubahan posisi menyebabkan tekanan berkepanjangan pada area tertentu sehingga memicu luka tekan. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Inkontinensia (urine atau feses) atau kelembapan berlebihan, kelembapan, kelembaban, dan bahan iritatif dapat merusak kulit. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Gesekan atau shear (geseran kulit terhadap permukaan kasur atau kursi) serta tekanan pada tonjolan tulang, faktor mekanis ini dapat memicu kerusakan kulit dan jaringan. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Nutrisi buruk atau status gizi yang tidak adekuat (misalnya malnutrisi, hiperglikemia, gangguan metabolik), yang dapat mengganggu kemampuan kulit untuk meregenerasi atau mempertahankan keutuhan. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
-
Perubahan kondisi cairan (hipovolemia atau overload cairan), gangguan sirkulasi, edema, atau penurunan perfusi jaringan, yang mempengaruhi suplai darah dan oksigen ke kulit. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Proses penuaan dan penurunan fungsi fisiologis kulit (misalnya pada lansia), kulit menjadi lebih tipis, elastisitas menurun, dan lebih rentan terhadap iritasi atau trauma. [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]
-
Penyakit kronis (misalnya diabetes, gagal ginjal) atau perubahan kondisi medis lainnya yang mempengaruhi sirkulasi, metabolisme, atau kemampuan regenerasi kulit. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
Faktor-faktor tersebut dapat muncul sendiri-sendiri maupun bersamaan, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya gangguan integritas kulit.
Tanda dan Gejala Gangguan Integritas Kulit
Beberapa tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan integritas kulit antara lain:
-
Kerusakan pada kulit: luka terbuka, erosi, ekskoriasi, ulkus, atau jaringan nekrosis. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
-
Perubahan struktur atau tekstur kulit: kulit kering, kasar, bersisik, hiperpigmentasi, perubahan warna, purpura, atau perubahan elastisitas. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
-
Keluhan subjektif dari pasien: gatal, nyeri, rasa terbakar, ketidaknyamanan, atau sensasi abnormal pada kulit. (Sering dilaporkan pada kondisi kulit kering atau iritasi, misalnya pada lansia) [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]
-
Risiko luka tekan atau ulkus dekubitus: terutama pada area tonjolan tulang atau area tubuh yang mendapat tekanan terus-menerus. [Lihat sumber Disini - ejurnal.univbatam.ac.id]
Diagnosis gangguan integritas kulit pada keperawatan biasanya dilakukan bila ada bukti objektif kerusakan kulit/jaringan (kerusakan dermis dan/atau epidermis) sesuai definisi SDKI. [Lihat sumber Disini - perawat.org]
Penilaian Risiko: Skala Braden
Penilaian risiko sangat penting untuk mendeteksi dini kemungkinan terjadinya gangguan integritas kulit, terutama luka tekan. Skala yang paling banyak digunakan adalah Skala Braden. Skala ini mengukur beberapa domain: persepsi sensorik, kelembapan, aktivitas, mobilitas, nutrisi, dan gesekan/ shear. Skor total berkisar antara 6, 23; semakin rendah skor, semakin tinggi risiko. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Skala Braden valid dan reliabel untuk menilai risiko luka tekan pada pasien bed-rest atau pasien dengan mobilitas terbatas. [Lihat sumber Disini - conference.unsri.ac.id]
Misalnya, pada penelitian oleh Marviana dkk. tahun 2021, rata-rata skor risiko luka tekan pada pasien bedrest menggunakan Skala Braden adalah 13.9, menunjukkan sebagian besar berada pada kategori risiko sedang. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Penggunaan Skala Braden secara rutin pada awal perawatan dan pemantauan berkala penting untuk menentukan intervensi pencegahan yang tepat.
Strategi Pencegahan Luka Tekan dan Gangguan Integritas Kulit
Untuk mencegah terjadinya gangguan integritas kulit, khususnya luka tekan, berbagai strategi dapat diterapkan, termasuk:
-
Perawatan kulit secara rutin dan konsisten (skin care), seperti pembersihan kulit, pengeringan, dan pemberian pelembab/topikal skin care. Studi menunjukkan bahwa agen topikal seperti minyak zaitun, minyak kelapa murni (VCO), gel lidah buaya, gel peppermint, minyak wijen, dan lainnya dapat membantu mempertahankan integritas kulit pada pasien imobilitas, tanpa efek samping signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Reposisi posisi secara berkala (turning schedule) untuk mengurangi tekanan pada area tonjolan tulang dan menghindari gesekan atau shear. Hal ini merupakan bagian dari perawatan kulit dan pencegahan luka tekan. [Lihat sumber Disini - jpk.jurnal.unej.ac.id]
-
Penggunaan alas atau bantalan khusus (pressure-relieving mattress / cushion) untuk mengurangi tekanan mekanis pada kulit, meskipun artikel ini lebih berfokus pada aspek keperawatan non-alat, tetap penting disinggung sebagai bagian dari pencegahan luka tekan sesuai praktik keperawatan komprehensif. Banyak literatur manajemen luka menekankan pentingnya menjaga kelembapan dan sirkulasi serta menghindari tekanan terus-menerus. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
-
Nutrisi adekuat dan hidrasi optimal: memastikan asupan nutrisi dan cairan yang cukup agar kulit tetap sehat, elastis, dan mampu melakukan regenerasi. Ini penting khususnya pada pasien dengan penyakit kronis atau malnutrisi. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
-
Edukasi dan pemantauan kondisi kulit secara berkala: terutama pada populasi dengan risiko tinggi (lansia, pasien dengan penyakit kronis, imobilitas, inkontinensia), agar perubahan kulit dapat segera dikenali dan ditangani dini. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
Intervensi Keperawatan untuk Merawat Kulit
Berdasarkan diagnosis gangguan integritas kulit dan hasil penilaian, intervensi keperawatan dapat meliputi:
-
Perawatan kulit rutin: skin cleansing, penggunaan emolien atau pelembab, menjaga kelembapan kulit agar tidak kering atau pecah. Pada lansia misalnya, skin care dan emollient therapy terbukti efektif mengatasi xerosis (kulit kering), meningkatkan kelembutan kulit, dan mencegah perburukan. [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]
-
Pijat ringan atau back massage, terutama pada klien dengan mobilitas terbatas, untuk meningkatkan sirkulasi lokal, mengurangi tekanan statis, dan merangsang kulit serta jaringan di bawahnya, sebuah studi kasus menunjukkan bahwa pijat punggung pada pasien dengan gangguan integritas kulit akibat imobilitas membantu memperbaiki kondisi kulit. [Lihat sumber Disini - jpk.jurnal.unej.ac.id]
-
Perawatan luka dengan metode modern: misalnya pada pasien dengan Diabetes Mellitus atau ulkus diabetikum, penggunaan dressing modern, krim berbasis seng (zinc), atau asam hialuronat sebagai agen penyembuhan luka terbukti membantu proses epitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Evaluasi dan pemantauan berkala: mengawasi kondisi kulit secara rutin, mendokumentasikan perubahan, dan segera melakukan tindakan jika ada tanda peringatan seperti perubahan warna, kemerahan, luka kecil, ekskoriasi, atau nyeri. Pendekatan holistik diperlukan, termasuk penilaian nutrisi, hidrasi, kondisi umum pasien, dan lingkungan perawatan. [Lihat sumber Disini - journals.prosciences.net]
-
Edukasi kepada pasien dan keluarga (jika memungkinkan): memberikan informasi penting tentang perawatan kulit, perubahan posisi, hidrasi, dan tanda-tanda bahwa kulit perlu diperiksa, untuk mencegah gangguan lebih lanjut terutama pada pasien rawat jalan atau perawatan jangka panjang.
Contoh Kasus Risiko Gangguan Integritas Kulit
Sebagai gambaran konkret: studi deskriptif kasus di Indonesia melaporkan seorang pasien lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II yang mengalami gangguan integritas kulit/jaringan. Setelah dilakukan perawatan luka menggunakan metode modern dressing dan perawatan kulit rutin, ditemukan perbaikan kondisi kulit, luka mulai menunjukkan tanda penyembuhan, tekstur kulit membaik, dan tidak ada komplikasi infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.iakmikudus.org]
Di kasus lain, pasien lansia dengan kulit kering (xerosis) dan pruritus, setelah dilakukan skin cleansing dan emollient therapy selama beberapa hari, kondisi kulit menjadi lebih lembut, gatal berkurang, dan tidak muncul kerusakan kulit lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - lontar.ui.ac.id]
Kesimpulan
Gangguan integritas kulit adalah kondisi klinis yang serius dan beragam, mencakup kerusakan kulit maupun jaringan di bawahnya, yang dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti imobilitas, inkontinensia, tekanan mekanis, nutrisi buruk, penyakit kronis, dan faktor usia. Oleh karena itu, penilaian risiko dini menggunakan alat seperti Skala Braden menjadi sangat penting, agar intervensi pencegahan dan perawatan kulit dapat diterapkan sedini mungkin. Strategi kulit sehat, termasuk skin care rutin, perawatan luka, pijat, pemeliharaan nutrisi dan hidrasi, serta edukasi, harus menjadi bagian dari standar asuhan keperawatan. Dengan pendekatan komprehensif dan berkelanjutan, risiko terjadinya ulkus, infeksi, dan komplikasi dapat diminimalisir, sehingga menjaga kualitas hidup dan kenyamanan pasien.