
Pola Penggunaan Obat Antasida pada Mahasiswa
Pendahuluan
Gangguan pencernaan atas seperti dyspepsia, gastritis, dan gastroesophageal reflux disease (GERD) sering dialami oleh populasi umum, termasuk mahasiswa, terutama ketika pola hidup dan pilihan makanan tidak optimal. Kondisi ini kerap memicu rasa tidak nyaman seperti mulas (heartburn), nyeri ulu hati, atau kembung yang membuat banyak individu mencari pertolongan cepat melalui obat-obatan yang mudah diperoleh tanpa resep dokter, salah satunya antasida. Obat antasida bekerja dengan cara menetralkan asam lambung sehingga dapat meredakan gejala cepat dan efektif dalam jangka pendek, menjadikannya pilihan populer pada swamedikasi di kalangan mahasiswa yang sibuk atau mengutamakan penyelesaian cepat atas gejala ringan tanpa konsultasi medis terlebih dahulu. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Pola Penggunaan Obat Antasida pada Mahasiswa
Definisi Pola Penggunaan Obat Antasida pada Mahasiswa Secara Umum
Pola penggunaan obat antasida pada mahasiswa merujuk pada bagaimana biasanya mahasiswa memilih, mengonsumsi, dan mengatur penggunaan obat antasida dalam kehidupan sehari-hari untuk mengatasi gejala saluran cerna atas seperti rasa asam, mulas, atau nyeri ulu hati. Antasida termasuk golongan obat bebas yang dapat diperoleh tanpa resep dokter, sehingga mudah digunakan oleh mahasiswa secara mandiri (self-medication). Pola ini umumnya mencakup frekuensi penggunaan, alasan pemilihan antasida dibandingkan terapi lain, sumber informasi yang digunakan mahasiswa, serta cara penggunaan yang meliputi dosis dan aturan pakai yang diikuti oleh responden. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Definisi Pola Penggunaan Obat Antasida pada Mahasiswa dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pola merujuk pada “susunan atau tata cara yang tetap dari sesuatu yang berulang” dan penggunaan berarti “penerapan atau pemakaian sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu.” Sementara istilah antasida sendiri dalam KBBI didefinisikan sebagai obat untuk menetralkan asam lambung yang biasa digunakan untuk mengatasi gangguan pencernaan seperti heartburn atau dispepsia. Jika digabungkan, definisi ini menunjukkan bahwa pola penggunaan obat antasida pada mahasiswa dapat diartikan sebagai tata cara berulang atau kebiasaan mahasiswa dalam memakai antasida untuk mengatasi gejala lambung berdasarkan pengalaman, pengetahuan, atau kebutuhan individu yang mereka rasakan dalam konteks kehidupan akademik. (Catatan: definisi ini disusun berdasarkan makna istilah sesuai KBBI karena entri “antasida” tidak langsung tersedia sebagai istilah klinis dalam KBBI online).
Definisi Pola Penggunaan Obat Antasida pada Mahasiswa Menurut Para Ahli
-
V. Garg (2022) mendeskripsikan antasida sebagai obat yang bekerja menetralkan asam lambung untuk meredakan gejala seperti heartburn, indigestion, dan upset stomach, dan bahwa antasida merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan secara over-the-counter secara global karena kemampuannya memberikan kelegaan cepat terhadap gejala ringan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
BH Salisbury (2023) menjelaskan bahwa antasida merupakan kombinasi dari berbagai senyawa seperti garam kalsium, magnesium, dan aluminium yang bertindak mengurangi keasaman lambung dan sering digunakan untuk mengatasi gejala hasil refluks atau gangguan pencernaan bagian atas. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Ersalia Susetyo et al. (2020/2021) dalam kajiannya tentang mahasiswa menunjukkan bahwa antasida merupakan obat yang umum digunakan untuk terapi gastritis di kalangan mahasiswa dan bahwa tingkat pengetahuan tentang penggunaan antasida memiliki pengaruh langsung terhadap cara mahasiswa menggunakan antasida tersebut. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Friesca S. Nurhaidah et al. (2021) menekankan pentingnya pengetahuan mengenai antasida sebagai bagian dari pengobatan gangguan pencernaan di antara mahasiswa, serta variasi tingkat pengetahuan tergantung pada latar belakang pendidikan kesehatan atau non-kesehatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Frekuensi dan Alasan Penggunaan Antasida
Frekuensi penggunaan antasida di kalangan mahasiswa terutama dipengaruhi oleh intensitas gejala gangguan pencernaan yang mereka alami serta kemudahan akses terhadap obat tersebut. Penelitian observasional pada mahasiswa menunjukkan bahwa antasida banyak digunakan secara mandiri (self-medication) ketika mahasiswa mengalami gejala maag atau lindung lambung akibat pola makan tidak teratur, stres akademik, atau konsumsi makanan pedas dan berlemak yang sering menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa. [Lihat sumber Disini - journal.upy.ac.id]
Dalam studi yang dilakukan pada mahasiswa, ditemukan bahwa persentase mahasiswa yang melakukan swamedikasi menggunakan antasida cukup tinggi, karena obat ini mudah diperoleh tanpa resep di apotek, toko obat, atau bahkan warung, serta dikenal dapat meredakan gejala secara cepat tanpa harus menunggu pemeriksaan medis. [Lihat sumber Disini - jurnal-pharmaconmw.com]
Alasan utama mahasiswa menggunakan antasida antara lain:
-
Praktis dan cepat meredakan gejala
Banyak mahasiswa memilih antasida karena dapat langsung mengurangi sensasi terbakar di ulu hati atau rasa tidak nyaman di perut dalam waktu singkat, sehingga lebih sesuai dengan jadwal padat perkuliahan yang tidak memungkinkan kunjungan ke tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kebiasaan atau pengalaman sebelumnya
Beberapa mahasiswa menggunakan antasida karena pernah mendapatkan hasil yang memuaskan pada penggunaan sebelumnya, atau mendapat rekomendasi dari teman dan keluarga tanpa pertimbangan etika medis. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Kemudahan memperoleh tanpa resep dokter
Status antasida sebagai obat bebas yang bisa dibeli tanpa resep dokter meningkatkan penggunaannya di populasi mahasiswa yang mungkin belum familiar dengan layanan kesehatan formal atau enggan mengeluarkan biaya untuk konsultasi. [Lihat sumber Disini - nhs.uk]
Frekuensi penggunaan antasida secara harian atau mingguan oleh mahasiswa bisa bervariasi tergantung pada tingkat keparahan gejala, tetapi sejumlah riset menunjukkan bahwa penggunaan antasida dapat menjadi salah satu pilihan reguler ketika mahasiswa mengalami gangguan cerna ringan hingga sedang. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor Gaya Hidup yang Mempengaruhi Penggunaan
Beberapa faktor gaya hidup mahasiswa berkaitan erat dengan pola penggunaan antasida, yaitu:
1. Pola Makan Tidak Teratur
Mahasiswa sering kali memiliki pola makan yang tidak konsisten karena jadwal kuliah dan aktivitas luar kelas yang padat, sehingga meningkatkan risiko gangguan lambung seperti acid reflux atau indigestion, yang selanjutnya mendorong penggunaan antasida sebagai solusi cepat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Stres Akademik dan Kegiatan Sosial
Tingginya tingkat stres akibat tugas, ujian, dan tanggung jawab akademik dapat memicu gangguan pencernaan, sedangkan konsumsi kafein atau makanan pedas pada jam-jam malam sering dikaitkan dengan peningkatan keasaman lambung yang mendorong mahasiswa mencari bantuan antasida. [Lihat sumber Disini - journal.upy.ac.id]
3. Kurangnya Pengetahuan Obat yang Tepat
Beberapa mahasiswa menggunakan antasida bukan berdasarkan indikasi medis yang tepat, tetapi lebih karena rekomendasi teman atau informasi tidak resmi di internet, yang menunjukkan keterkaitan antara rendahnya tingkat literasi obat dan gaya hidup swamedikasi yang sering dilakukan. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
4. Perbedaan Pendidikan Kesehatan
Studi membandingkan mahasiswa dari fakultas kesehatan dan non-kesehatan menunjukkan perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan terhadap antasida, yang kemudian memengaruhi keputusan gaya hidup dalam penggunaan obat tersebut. Mahasiswa yang kurang memahami mekanisme kerja antasida mungkin memakai obat ini untuk gejala yang tidak sesuai indikasi terbaiknya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Risiko Penggunaan Antasida Jangka Panjang
Meskipun antasida memberikan kelegaan cepat terhadap gejala gangguan pencernaan, penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan medis memiliki beberapa risiko klinis dan farmakologis:
1. Risiko Interaksi Obat dan Penyerapan Nutrien
Antasida dapat mempengaruhi penyerapan obat lain atau nutrien tertentu di saluran cerna. Misalnya, peningkatan pH lambung akibat antasida dapat mengganggu absorpsi beberapa obat yang pH-sensitif jika dikonsumsi secara bersamaan, sehingga efek terapi obat lain bisa berkurang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
2. Dampak pada Keseimbangan Elektrolyte
Beberapa komponen antasida seperti aluminium atau magnesium dapat menyebabkan konstipasi atau diare jika digunakan terlalu sering dalam jangka panjang, dan aluminium berlebih dapat berkontribusi terhadap masalah tulang seperti risiko osteoporosis pada penggunaan kronis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
3. Masking Gejala Kondisi yang Lebih Serius
Pemakaian antasida yang terus-menerus tanpa diagnosis medis dapat menutupi gejala penting dari kondisi yang lebih serius seperti GERD kronis, ulkus peptikum, atau kelainan lain yang memerlukan penanganan spesifik, sehingga diagnosis terlambat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
4. Ketergantungan Perilaku
Mahasiswa yang terlalu sering menggunakan antasida untuk mengatasi gejala kronis mungkin cenderung mengandalkan obat tersebut sebagai solusi tunggal, padahal perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat dan manajemen stres lebih efektif dalam jangka panjang.
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Aturan Pakai
Pengetahuan mahasiswa mengenai aturan pakai antasida memainkan peran penting dalam penggunaan obat yang rasional. Penelitian survei di kalangan mahasiswa non-kesehatan Universitas Airlangga menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang penggunaan yang tepat antasida, tetapi masih signifikan sejumlah responden yang hanya memiliki pengetahuan cukup atau kurang mengenai kapan, bagaimana, dan dosis yang benar dalam penggunaan antasida. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam studi lain yang dilakukan pada mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, ditemukan bahwa sekitar 47% responden memiliki pengetahuan penggunaan obat antasida yang baik sedangkan sisanya memiliki pengetahuan yang cukup. Tingkat pengetahuan ini berhubungan dengan pengalaman gejala dan sumber informasi yang diperoleh mahasiswa, seperti keluarga, internet, tenaga kesehatan, atau pengalaman pribadi dalam penggunaan antasida. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan termasuk latar belakang pendidikan kesehatan (mahasiswa fakultas kesehatan cenderung memiliki pengetahuan lebih baik), akses terhadap informasi kesehatan yang kredibel, serta pengalaman gastroduodenal yang pernah dialami sebelumnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Peran Edukasi dalam Penggunaan Antasida yang Aman
Edukasi kesehatan berperan penting dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait penggunaan yang aman dan rasional antasida. Beberapa pendekatan edukatif yang dapat diterapkan antara lain:
1. Edukasi Formal melalui Kurikulum Kesehatan
Memasukkan materi tentang penggunaan obat bebas termasuk antasida dalam kurikulum kesehatan atau literasi obat dapat membantu mahasiswa memahami mekanisme kerja, efek samping, dan interaksi obat yang mungkin terjadi.
2. Penyuluhan oleh Tenaga Kesehatan di Kampus
Program penyuluhan oleh apoteker atau profesional kesehatan di lingkungan kampus dapat memberikan informasi yang akurat mengenai kapan antasida diperlukan, alternatif pengobatan non-farmakologis, serta pentingnya konsultasi medis bila gejala berulang.
3. Promosi Kesehatan Digital
Menggunakan platform online yang populer di kalangan mahasiswa untuk menyebarkan informasi kesehatan dapat membantu menjangkau audiens luas dengan materi yang mudah dicerna dan berbasis bukti.
4. Penekanan pada Manajemen Gaya Hidup
Edukasi juga perlu menekankan pentingnya perubahan gaya hidup seperti pola makan teratur, menghindari makanan pemicu, manajemen stress, dan aktivitas fisik sebagai tindakan preventif yang dapat mengurangi kebutuhan terhadap antasida.
Upaya edukatif ini terbukti meningkatkan ketepatan penggunaan antasida dan meminimalkan risiko penggunaan berlebihan atau tidak sesuai indikasi. [Lihat sumber Disini - jurnal-pharmaconmw.com]
Kesimpulan
Pola penggunaan antasida di kalangan mahasiswa ditandai oleh frekuensi penggunaan yang dipicu oleh gejala pencernaan atas ringan hingga sedang serta kemudahan akses sebagai obat bebas (OTC). Pola ini seringkali dilakukan secara swamedikasi tanpa konsultasi medis, dipengaruhi oleh gaya hidup mahasiswa seperti pola makan yang tidak teratur dan stres akademik. Pengetahuan mahasiswa tentang aturan pakai antasida bervariasi, dengan sebagian memiliki pemahaman yang baik namun masih banyak yang kurang, sehingga edukasi kesehatan yang sistematis sangat diperlukan untuk meningkatkan penggunaan antasida yang aman dan rasional. Risiko penggunaan antasida jangka panjang termasuk kemungkinan interaksi obat, gangguan penyerapan nutrien, dan masking gejala penyakit yang lebih serius, yang menegaskan pentingnya pendekatan edukatif dan perubahan gaya hidup untuk mengatasi gangguan pencernaan secara efektif.