Terakhir diperbarui: 27 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 27 December). Polifarmasi: Konsep, Risiko Klinis, dan Pengendalian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/polifarmasi-konsep-risiko-klinis-dan-pengendalian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Polifarmasi: Konsep, Risiko Klinis, dan Pengendalian - SumberAjar.com

Polifarmasi: Konsep, Risiko Klinis, dan Pengendalian

Pendahuluan

Polifarmasi merupakan fenomena klinis yang semakin sering ditemukan seiring dengan bertambahnya angka penderita penyakit kronis dan multimorbiditas di dunia. Dalam praktik klinis, banyak pasien, terutama lansia, menerima kombinasi lebih dari satu jenis obat, yang secara logika tampak membantu mengendalikan penyakit-penyakit tersebut. Namun demikian, realitasnya banyak kejadian mengkhawatirkan yang timbul akibat penggunaan banyak obat dalam waktu bersamaan, yang berdampak pada keselamatan pasien, efektivitas terapi, serta biaya perawatan kesehatan. Polifarmasi bukan sekadar jumlah obat dalam resep, tetapi representasi dari kompleksitas manajemen terapi yang harus diperhatikan secara klinis oleh tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Polifarmasi

Definisi Polifarmasi Secara Umum

Polifarmasi pada dasarnya menggambarkan situasi di mana seseorang menerima banyak obat secara bersamaan. Secara umum, definisi yang paling sering diadopsi dalam literatur klinis adalah penggunaan ≥5 jenis obat secara bersamaan dalam satu periode terapi. Tujuan dari definisi numerik ini adalah untuk menandai momen ketika kompleksitas obat menjadi signifikan dan berpotensi menimbulkan efek samping atau interaksi obat yang merugikan pasien. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Definisi Polifarmasi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “polifarmasi” mencerminkan praktik penggunaan banyak obat secara bersamaan oleh seorang individu. Definisi ini menggarisbawahi praktik pemberian obat yang tidak hanya bergantung pada jumlah, tetapi juga pada konteks klinis masing-masing pasien, misalnya risiko munculnya interaksi obat, kemungkinan efek samping, dan ketidakpatuhan pasien terhadap regimen terapi. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]

Definisi Polifarmasi Menurut Para Ahli

  1. Pazan & rekan (2021): Polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan simultan ≥5 obat, termasuk obat resep, non-resep, maupun obat herbal/komplementer. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  2. S Scotti (2025): Polifarmasi adalah konsep penggunaan berbagai macam obat secara bersamaan dan substansial meningkatkan risiko terjadinya efek negatif, termasuk rawat inap dan interaksi obat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Masnoon et al. (2017, dikutip dalam Endalifer 2025): Polifarmasi mencakup berbagai definisi operasional tetapi umumnya berkaitan dengan lebih dari lima obat yang diberikan dalam satu periode terapi. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

  4. Risk Factors Associated With Polypharmacy Study: Polifarmasi dikaitkan dengan kombinasi obat yang sering “dipakai secara bersamaan”, yang sangat umum terjadi pada lansia dengan multimorbiditas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Faktor Penyebab Terjadinya Polifarmasi

Polifarmasi seringkali bukan sebuah pilihan tunggal oleh tenaga kesehatan, tetapi sebuah hasil dari kompleksitas klinis yang melibatkan beberapa faktor penting.

1. Multimorbiditas Penyakit Kronis

Penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung, dan osteoarthritis seringkali muncul bersamaan pada satu individu, khususnya pada lansia. Semakin banyak penyakit yang dialami pasien, semakin banyak pula obat yang diresepkan untuk mengendalikan masing-masing kondisi penyakit tersebut, sehingga meningkatkan risiko polifarmasi. [Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]

2. Penuaan dan Perubahan Fisiologis

Proses penuaan menyebabkan perubahan pada metabolisme tubuh, termasuk fungsi hati dan ginjal. Penurunan kemampuan metabolik ini sering membuat dokter memilih terapi kombinasi lebih dari satu obat untuk memastikan setiap penyakit mendapat perhatian farmakologis yang cukup, suatu kondisi yang tak jarang memicu polifarmasi. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

3. Praktik Klinis dan Preskripsi Ganda

Dalam praktik klinis, terutama pada sistem kesehatan dengan banyak dokter subspesialis, terdapat kecenderungan penulisan resep ganda tanpa koordinasi yang optimal antar dokter. Hal ini terjadi misalnya antara dokter umum dengan dokter spesialis, atau antara dokter dengan perawat/petugas farmasi, yang terkadang tanpa menilai secara menyeluruh jumlah total obat yang diberikan kepada pasien. [Lihat sumber Disini - jamanetwork.com]

4. Ketidakpatuhan dan Perubahan Resep yang Tidak Terkoordinasi

Pasien yang mengunjungi banyak fasilitas kesehatan dalam periode singkat dapat membawa daftar obat yang panjang, terutama jika masing-masing tenaga kesehatan tidak meninjau ulang daftar obat secara menyeluruh setiap kunjungan baru.

5. Pedoman Klinis yang Kompleks

Berbagai pedoman klinis untuk kondisi berbeda sering menganjurkan terapi kombinasi, terutama pada penyakit kardiometabolik atau autoimun. Pedoman ini dapat memicu preskripsi banyak obat secara bersamaan meskipun tingkat manfaat relatif terhadap risiko belum selalu sama. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]


Risiko Klinis Polifarmasi

Polifarmasi secara klinis dikaitkan dengan beragam risiko kesehatan yang signifikan, terutama kepada pasien dengan kondisi fisiologis yang rapuh seperti lansia.

1. Interaksi Obat-Obat (Drug-Drug Interaction)

Penggunaan lebih dari satu obat sekaligus meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi antara obat A dan obat B, yang dapat memperkuat atau memperlemah efek masing-masing obat, bahkan menyebabkan toksisitas. Risiko ini semakin meningkat seiring jumlah obat yang digunakan. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

2. Efek Samping Obat Adverse Drug Reactions (ADR)

Adverse Drug Reactions adalah kejadian negatif yang tidak diinginkan akibat obat. Polifarmasi secara signifikan meningkatkan kejadian ADR, karena tubuh harus memproses berbagai metabolit obat sekaligus. Hal ini berdampak buruk terutama pada organ yang berperan dalam eliminasi obat seperti hati dan ginjal. [Lihat sumber Disini - mail.journalofmedula.com]

3. Kesalahan Pemberian dan Kepatuhan Pasien

Semakin banyak obat yang diresepkan, semakin kompleks regimen terapi tersebut, yang kemudian meningkatkan risiko kesalahan minum obat oleh pasien, baik dalam dosis, jadwal, maupun penggunaan yang benar, sehingga menurunkan kepatuhan pasien terhadap terapi. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]

4. Peningkatan Durasi Rawat Inap dan Keluar Masuk Rumah Sakit

Pasien yang mengalami komplikasi dari polifarmasi memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami rawat inap yang lebih lama atau kejadian kembali masuk rumah sakit akibat efek samping atau interaksi obat. [Lihat sumber Disini - jamanetwork.com]

5. Dampak pada Fungsi Kognitif dan Fisik

Polifarmasi juga dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan fisik pada lansia, yang mengakibatkan risiko jatuh, gangguan keseimbangan, dan penurunan kualitas hidup secara umum. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Polifarmasi terhadap Keselamatan Pasien

Polifarmasi berperan besar dalam menurunkan keselamatan pasien jika tidak dikelola dengan hati-hati:

Interaksi Obat yang Merugikan

Interaksi yang buruk tidak hanya menurunkan efektivitas obat, tetapi juga dapat menimbulkan efek toksik yang serius atau bahkan berpotensi fatal. [Lihat sumber Disini - mail.journalofmedula.com]

Penurunan Kualitas Hidup

Kombinasi obat yang kompleks berpengaruh pada ketidaknyamanan, kecemasan, serta beban terapi yang membuat pasien lebih sulit memenuhi kebutuhan sederhana dalam keseharian, termasuk beraktivitas dan pola makan. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]

Biaya Pengobatan yang Lebih Tinggi

Semakin banyak obat yang digunakan, semakin tinggi pula biaya perawatan kesehatan bagi pasien maupun sistem layanan kesehatan. Ini terjadi terutama ketika obat-obat yang digunakan tidak efektif atau memicu efek samping yang memerlukan penanganan tambahan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Identifikasi dan Penilaian Polifarmasi

1. Rekam Medis dan Review Obat

Identifikasi polifarmasi dilakukan melalui tinjauan menyeluruh terhadap daftar obat pasien, termasuk obat resep, over-the-counter, dan suplemen herbal. Evaluasi tersebut sangat penting untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat atau obat yang tidak sesuai indikasi. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]

2. Kriteria Pengukuran (Beers, STOPP/START)

Ada alat klinis khusus seperti Beers Criteria atau STOPP/START criteria yang digunakan untuk menilai apakah suatu obat masih sesuai atau berpotensi tidak tepat pada populasi tertentu (misalnya lansia). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Evaluasi Efek Samping Klinis

Pemeriksaan klinis untuk melihat tanda-tanda ADR atau gejala yang muncul akibat interaksi obat harus dilakukan secara sistematis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

4. Keterlibatan Tim Interdisipliner

Kolaborasi antar dokter, apoteker, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya sangat krusial untuk mengevaluasi kebutuhan obat dan mempertimbangkan deprescribing jika diperlukan.


Strategi Pengendalian Polifarmasi

1. Medication Review Berkala

Tinjauan obat rutin adalah langkah penting dalam pengendalian polifarmasi. Langkah ini melibatkan evaluasi jumlah, dosis, serta kebutuhan setiap obat, dan penyesuaian berdasarkan kondisi klinis terkini pasien.

2. Deprescribing

Deprescribing adalah proses sistematis untuk menghentikan atau mengurangi dosis obat yang tidak lagi diperlukan atau berpotensi menimbulkan risiko, dilakukan dengan bertahap dan diawasi secara medis.

3. Edukasi Pasien dan Keluarga

Memberikan edukasi tentang ketepatan minum obat, potensi interaksi, serta tanda-tanda efek samping merupakan strategi penting untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola regimen obat mereka sendiri. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]

4. Penggunaan Alat Bantu Teknologi

Aplikasi pengingat minum obat, sistem e-medical yang terintegrasi, dan dukungan Apoteker Klinis dapat membantu pasien mengurangi kesalahan penggunaan obat. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]

5. Koordinasi Antar Tenaga Kesehatan

Konsultasi rutin antara dokter umum, spesialis, dan apoteker memastikan bahwa semua resep ditinjau secara kolektif sehingga potensi polifarmasi yang tidak perlu dapat dieliminasi.


Kesimpulan

Polifarmasi adalah fenomena klinis yang komplek, didefinisikan secara umum sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan dalam satu periode terapi. Polifarmasi memiliki akar dari beberapa faktor seperti multimorbiditas, penuaan tubuh, praktik klinis yang kurang terkoordinasi, serta pedoman preskripsi yang kompleks. Risiko klinis dari polifarmasi sangat nyata, mencakup interaksi obat yang merugikan, efek samping, penurunan kepatuhan pasien, serta biaya kesehatan yang meningkat. Identifikasi polifarmasi harus dilakukan melalui peninjauan obat berkala, penggunaan kriteria penilaian yang tepat, serta keterlibatan interdisipliner. Pengendalian polifarmasi menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui edukasi, deprescribing yang terarah, serta penggunaan teknologi pendukung yang efektif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Polifarmasi adalah kondisi penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan oleh seorang pasien dalam satu periode terapi. Kondisi ini sering terjadi pada pasien dengan penyakit kronis dan lansia, serta dapat meningkatkan risiko efek samping dan interaksi obat.

Polifarmasi sering terjadi pada pasien lansia karena mereka umumnya mengalami lebih dari satu penyakit kronis (multimorbiditas), sehingga memerlukan beberapa jenis obat untuk mengontrol masing-masing kondisi kesehatan.

Risiko klinis polifarmasi meliputi interaksi obat, peningkatan efek samping obat (adverse drug reactions), penurunan kepatuhan pasien, gangguan fungsi organ, penurunan fungsi kognitif, serta peningkatan angka rawat inap dan biaya pengobatan.

Polifarmasi dapat menurunkan keselamatan pasien karena meningkatkan risiko kesalahan penggunaan obat, interaksi obat yang merugikan, efek samping serius, serta penurunan kualitas hidup dan kemandirian pasien.

Polifarmasi dapat diidentifikasi melalui peninjauan daftar obat secara menyeluruh, termasuk obat resep, obat bebas, dan suplemen. Selain itu, dapat digunakan alat penilaian seperti kriteria Beers atau STOPP/START untuk menilai ketepatan penggunaan obat.

Strategi pengendalian polifarmasi meliputi medication review berkala, deprescribing obat yang tidak diperlukan, edukasi pasien dan keluarga, penggunaan teknologi pendukung, serta koordinasi antar tenaga kesehatan dalam pengelolaan terapi obat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Polifarmasi Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Polifarmasi Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Pengendalian Variabel dalam Riset Eksperimen Pengendalian Variabel dalam Riset Eksperimen Rasionalitas Penggunaan Obat Rasionalitas Penggunaan Obat Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Pengendalian Kesalahan Statistik dalamĀ Penelitian Pengendalian Kesalahan Statistik dalamĀ Penelitian Pengendalian Variabel: Definisi, Fungsi, dan Contoh Pengendalian Variabel: Definisi, Fungsi, dan Contoh Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Terapi Obat Jangka Panjang: Konsep, Risiko, dan Pengendalian Terapi Obat Jangka Panjang: Konsep, Risiko, dan Pengendalian Manajemen Risiko Infeksi Manajemen Risiko Infeksi Pendekatan Evidence-Based Practice: Konsep, Integrasi Bukti, dan Keputusan Klinis Pendekatan Evidence-Based Practice: Konsep, Integrasi Bukti, dan Keputusan Klinis Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Manajemen Risiko Fasilitas Kesehatan Manajemen Risiko Fasilitas Kesehatan Ketertiban Sosial: Konsep dan Mekanisme Pengendalian Ketertiban Sosial: Konsep dan Mekanisme Pengendalian
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…