
Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko
Pendahuluan
Penggunaan obat pada lansia merupakan salah satu isu penting dalam pelayanan kesehatan karena seiring bertambahnya usia, terjadi peningkatan prevalensi penyakit kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang dan kompleks. Lansia cenderung mengonsumsi beberapa obat sekaligus (polifarmasi), yang dapat meningkatkan risiko efek samping, interaksi obat, dan komplikasi terkait pengobatan lainnya. Fenomena ini menimbulkan tantangan dalam menjamin keamanan obat dan kualitas hidup lansia agar tetap optimal. Studi menunjukkan bahwa lansia memiliki risiko tinggi mengalami efek samping obat dan kejadian terkait obat seperti rawat inap yang tidak perlu, yang pada akhirnya berdampak pada sistem layanan kesehatan secara keseluruhan [Lihat sumber Disini - link.springer.com].
Definisi Keamanan Obat Lansia
Definisi Keamanan Obat Lansia Secara Umum
Keamanan obat lansia mengacu pada upaya untuk memastikan bahwa penggunaan obat pada individu lanjut usia dilakukan secara tepat, efektif, dan minim risiko efek samping atau komplikasi. Hal ini mencakup pemilihan obat yang sesuai, penyesuaian dosis, pemantauan respon terapi, serta penghindaran interaksi obat yang merugikan. Keamanan obat menjadi aspek krusial karena lansia sering mengalami perubahan fisiologis yang memengaruhi respons tubuh terhadap obat [Lihat sumber Disini - journal.unair.ac.id].
Definisi Keamanan Obat Lansia dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keamanan obat diartikan sebagai kondisi atau upaya yang menjamin obat digunakan secara benar dan tidak membahayakan kesehatan, termasuk mencegah efek samping serta bahaya lain yang berkaitan dengan penggunaan obat. Ketika menambahkan konteks lansia, istilah ini mencerminkan aspek keamanan yang spesifik pada populasi lanjut usia yang memiliki kebutuhan farmakoterapi berbeda dari populasi umum (KBBI Online).
Definisi Keamanan Obat Lansia Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO): Menyatakan keamanan obat pada lansia mencakup pharmacovigilance, yaitu disiplin yang berfokus pada identifikasi, evaluasi, dan pencegahan efek merugikan serta masalah terkait penggunaan obat untuk memastikan hasil terapeutik terbaik pada populasi rentan termasuk lansia [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
-
Maher et al. (2014): Dalam kajian klinikal, keamanan obat pada lansia didefinisikan sebagai penyesuaian terapi obat yang mempertimbangkan perubahan fisiologis, kemungkinan polifarmasi, risiko interaksi obat, serta pemantauan yang sistematis untuk mencegah reaksi merugikan yang sering terjadi pada kelompok usia ini [Lihat sumber Disini - migrationletters.com].
-
NLC Yaacob et al. (2024): Menjelaskan bahwa peninjauan obat oleh apoteker klinis dapat meningkatkan keamanan obat lansia dengan mengurangi kejadian drug related problems dan potensi obat tidak tepat serta meningkatkan kepatuhan terhadap terapi [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].
-
Institusi Geriatri Internasional: Menegaskan bahwa keamanan obat lansia berarti obat harus diberikan dengan perhitungan risiko, manfaat yang cermat, memperhatikan adanya komorbiditas dan kemungkinan interaksi obat untuk meminimalkan efek samping yang dapat mengganggu kualitas hidup lansia [Lihat sumber Disini - mdpi.com].
Konsep Keamanan Obat pada Lansia
Keamanan obat pada lansia melibatkan pendekatan multidimensional di mana proses evaluasi terapi tidak hanya difokuskan pada efek obat terhadap penyakit, tetapi juga pada risiko yang terkait dengan penggunaan obat itu sendiri, termasuk efek samping, potensi interaksi, serta adaptasi terhadap perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia. Penelitian menunjukkan bahwa pasien lansia sering kali mengalami polifarmasi karena komorbiditas yang tinggi, sehingga memerlukan strategi khusus untuk meminimalkan risiko adverse drug events (ADEs) dan drug-related problems (DRPs) [Lihat sumber Disini - journal.unair.ac.id].
Perubahan Farmakokinetik dan Farmakodinamik
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan fisiologis yang secara langsung memengaruhi bagaimana obat diserap, didistribusikan, dimetabolisme, dan dieliminasi, serta bagaimana tubuh merespons efek obat tersebut.
-
Farmakokinetik mencakup perubahan dalam absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi. Pada lansia, absorpsi sering melambat akibat perubahan motilitas gastrointestinal, penurunan aliran darah ke organ pencernaan, serta penurunan fungsi hati dan ginjal yang memperlama waktu paruh obat dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko akumulasi obat dan efek samping yang tidak diinginkan [Lihat sumber Disini - journals.ubmg.ac.id].
-
Farmakodinamik menunjukkan perubahan respons tubuh terhadap obat, termasuk sensitivitas yang meningkat terhadap obat tertentu karena perubahan jumlah atau fungsi reseptor dan jalur sinyal intracellular. Hal ini dapat menyebabkan efek obat yang lebih kuat atau berbeda pada lansia dibanding pasien yang lebih muda, sehingga perlu penyesuaian dosis dan pemantauan yang cermat [Lihat sumber Disini - journal.ugm.ac.id].
Perubahan kedua hal ini perlu diperhitungkan dalam keamanan obat karena ketidakseimbangan antara konsentrasi obat dan respons klinis dapat meningkatkan risiko efek merugikan seperti sedasi berlebihan, hipotensi, atau gangguan fungsi organ lainnya.
Tantangan Penggunaan Obat pada Lansia
Tantangan utama dalam penggunaan obat pada lansia berasal dari kompleksitas kondisi kesehatan mereka. Lansia sering memiliki lebih dari satu penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit kardiovaskular, yang membuat pengobatan menjadi kompleks dan sering memerlukan banyak jenis obat sekaligus (polifarmasi) [Lihat sumber Disini - journal.unair.ac.id].
Polifarmasi meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat yang merugikan baik secara farmakokinetik maupun farmakodinamik, serta potensi kesalahan dalam peresepan. Hal ini sering ditemukan pada lansia karena jumlah obat yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan kejadian interaksi obat dan efek samping [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id].
Selain itu, lansia juga rentan terhadap kesalahan penggunaan obat seperti ketidakpatuhan terhadap regimen terapi karena gangguan kognitif, gangguan pendengaran atau penglihatan, serta kurangnya edukasi mengenai obat yang digunakan. Faktor-faktor ini dapat memperburuk efektivitas terapi dan meningkatkan risiko kejadian yang tidak diinginkan.
Risiko Efek Samping dan Interaksi Obat
Risiko efek samping pada lansia sangat tinggi karena adanya kombinasi antara perubahan fisiologis, polifarmasi, serta adanya penyakit kronis yang mendasar. Interaksi obat dapat mengubah efektivitas suatu obat atau meningkatkan toksisitas obat lain sehingga efek terapinya menjadi tidak diinginkan. Interaksi ini dapat terjadi melalui mekanisme farmakokinetik maupun farmakodinamik dimana satu obat memodifikasi metabolisme atau respons obat lain [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id].
Polifarmasi merupakan faktor risiko utama karena semakin banyak obat yang diberikan, semakin tinggi kemungkinan terjadinya efek samping dan interaksi, termasuk reaksi obat yang tidak diinginkan dan komplikasi klinis lain seperti risiko jatuh, rawat inap, atau bahkan kematian yang terkait dengan obat [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia
Upaya pencegahan risiko ini melibatkan berbagai strategi klinis dan edukatif.
-
Peninjauan terapi obat secara berkala untuk mengidentifikasi serta mengeliminasi obat yang tidak diperlukan atau berisiko tinggi, termasuk deprescribing apabila obat tidak lagi memberikan manfaat yang seimbang terhadap risiko pada individu lansia [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
-
Pemantauan fungsi organ seperti ginjal dan hati secara berkala untuk menyesuaikan dosis obat sesuai kapasitas metabolik pasien lansia sehingga meminimalkan akumulasi obat dan risiko toksisitas [Lihat sumber Disini - journals.ubmg.ac.id].
-
Penggunaan alat bantu klinis seperti Beers Criteria untuk mengidentifikasi obat yang potensial tidak tepat atau berisiko tinggi pada lansia, sehingga dapat memandu keputusan klinis dalam peresepan obat [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
-
Edukasi pasien dan keluarga tentang penggunaan obat yang benar, peringatan efek samping, serta pentingnya kepatuhan terhadap jadwal terapi dapat membantu mengurangi kejadian yang tidak diinginkan akibat kesalahan penggunaan obat.
Peran Farmasis dalam Pengelolaan Obat Lansia
Farmasis memiliki peran penting dalam peningkatan keamanan obat lansia, terutama melalui kegiatan pharmaceutical care dan medication review.
-
Farmasis dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap regimen terapi pasien untuk mengidentifikasi obat yang potensial menyebabkan efek samping atau interaksi, serta merekomendasikan penyesuaian terapeutik yang aman dan efektif [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].
-
Dengan keterlibatan farmasis dalam tim kesehatan, jumlah PIMs (Potentially Inappropriate Medications) yang digunakan oleh lansia dapat signifikan dikurangi, yang berimplikasi pada peningkatan keamanan dan kualitas hasil terapi [Lihat sumber Disini - mdpi.com].
-
Farmasis juga berperan dalam medication reconciliation yaitu proses verifikasi semua obat yang digunakan pasien untuk memastikan konsistensi dan menghindari duplikasi atau interaksi yang merugikan saat pasien berpindah layanan kesehatan seperti rawat inap atau pulang dari rumah sakit [Lihat sumber Disini - gedcollaborative.com].
-
Keterlibatan aktif farmasis dalam edukasi dan dukungan kepatuhan terhadap terapi kepada pasien lansia juga terbukti meningkatkan hasil klinis dan mengurangi kejadian rawat inap terkait obat [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].
Kesimpulan
Keamanan obat lansia adalah aspek kritis dalam pelayanan kesehatan modern yang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik terkait penuaan serta tantangan klinis yang melibatkan polifarmasi dan interaksi obat. Risiko efek samping dapat ditekan melalui pendekatan multidisipliner termasuk peninjauan terapi, edukasi pasien, serta peran aktif farmasis yang dapat mengoptimalkan penggunaan obat dan mengurangi peresepan obat yang tidak tepat. Pendekatan sistematis terhadap keamanan obat pada lansia tidak hanya meningkatkan hasil klinis tetapi juga meningkatkan kualitas hidup pasien lansia secara keseluruhan.