
Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia
Pendahuluan
Masalah kesehatan di kalangan lansia semakin kompleks karena perubahan fisiologis penuaan dan tingginya prevalensi penyakit kronis. Salah satu fenomena klinis yang semakin sering ditemui adalah polifarmasi, yaitu penggunaan banyak obat secara bersamaan dalam pengobatan komorbiditas yang dialami lansia. Kondisi ini bisa memberikan manfaat bila dikelola dengan tepat, namun juga berpotensi menimbulkan risiko serius seperti interaksi obat, efek samping yang tidak diinginkan, dan penurunan kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, manajemen terapi polifarmasi menjadi aspek penting dalam praktik pelayanan kesehatan geriatri untuk mengoptimalkan hasil terapi sekaligus meminimalkan risiko yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obatan tersebut. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Polifarmasi pada Lansia
Definisi Polifarmasi Secara Umum
Polifarmasi secara umum mengacu pada kondisi ketika seorang individu menggunakan banyak obat secara bersamaan. Dalam literatur ilmiah internasional, istilah polypharmacy sering dipahami sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara simultan untuk mengobati berbagai kondisi kesehatan yang dialami oleh pasien, terutama pada populasi lanjut usia yang memiliki banyak komorbiditas. Kondisi ini tidak selalu buruk jika penggunaan obat-obatan tersebut tepat dan sesuai kebutuhan terapi, namun sering kali dikaitkan dengan tingginya risiko efek samping, interaksi antarobat, dan beban obat yang kompleks. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Polifarmasi dalam KBBI
Istilah polifarmasi dalam bahasa Indonesia mengacu pada pengonsumsian obat dalam jumlah banyak, biasanya lebih dari lima jenis obat dalam satu waktu. Istilah ini berasal dari penggabungan kata “poli” yang berarti banyak dan “farmasi” yang berkaitan dengan obat-obatan, sehingga secara harfiah berarti penggunaan banyak obat sekaligus. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Definisi Polifarmasi Menurut Para Ahli
-
Menurut Rifa’at dkk., polifarmasi pada lansia merupakan fenomena penggunaan banyak obat yang melebihi kebutuhan klinis, sering dijumpai pada pasien geriatri dengan penyakit kronis yang kompleks, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya masalah terkait terapi obat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam literatur internasional, Polypharmacy didefinisikan sebagai kondisi di mana penggunaan obat-obatan yang simultan seringkali berkaitan dengan multimorbiditas dan menjadi lebih umum pada lansia karena kebutuhan terapi untuk berbagai penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Menurut Marzuqi, polifarmasi memicu beban antikolinergik yang signifikan dan memerlukan evaluasi terapi berulang untuk menjamin keamanan terapi pada lansia. [Lihat sumber Disini - etheses.uin-malang.ac.id]
-
Sebuah kajian menyatakan bahwa polifarmasi bukan hanya sekadar jumlah obat, tetapi juga mencakup penggunaan obat-obat yang tidak sesuai dengan kondisi klinis, seperti obat yang potensial tidak perlu atau berisiko tinggi bagi lansia. [Lihat sumber Disini - jurnal-pharmaconmw.com]
Faktor Penyebab Polifarmasi pada Lansia
Polifarmasi pada lansia bukan fenomena tunggal, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor klinis dan sistemik di pelayanan kesehatan.
Pertama, komorbiditas penyakit kronis yang tinggi pada lansia menjadi faktor utama meningkatnya jumlah obat yang diresepkan. Lansia seringkali mengalami hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, dislipidemia, hingga gangguan kronis lain secara bersamaan, sehingga memerlukan terapi multipel untuk masing-masing kondisi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kondisi medis yang beragam tersebut tidak hanya meningkatkan jumlah obat yang digunakan, tetapi juga memperbesar kemungkinan interaksi antarobat karena kompleksitas regimen terapi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, kurangnya koordinasi antar penyedia layanan kesehatan memperburuk fenomena ini. Dalam sistem pelayanan kesehatan yang terfragmentasi, lansia mungkin menerima resep dari berbagai dokter atau fasilitas yang tidak saling terintegrasi, sehingga obat-obat yang diresepkan tidak dievaluasi secara holistik. Hal ini dapat menyebabkan redundansi, tumpang tindih, dan obat yang sebenarnya tidak perlu tetap diberikan. [Lihat sumber Disini - washingtonpost.com]
Faktor lain adalah ketidaktahuan atau keterbatasan tenaga kesehatan dalam mengevaluasi kebutuhan terapi lansia secara komprehensif. Tenaga kesehatan sering kali berfokus pada permasalahan kesehatan spesifik tanpa mempertimbangkan keseluruhan regimen obat pasien, sehingga potensi polifarmasi tidak dideteksi sejak awal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Terakhir, perubahan fisiologis akibat penuaan seperti penurunan metabolisme obat dan fungsi organ (misalnya hati dan ginjal) mendorong tenaga kesehatan untuk menambah obat lain untuk mengatasi efek samping atau respons terapi yang tidak optimal. Hal ini juga berkontribusi pada kompleksitas pengelolaan terapi obat pada lansia. [Lihat sumber Disini - mail.journalofmedula.com]
Risiko Interaksi dan Efek Samping Obat
Polifarmasi pada lansia secara signifikan meningkatkan risiko interaksi obat-obat (drug-drug interaction) dan efek samping obat (adverse drug events). Interaksi obat dapat terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh obat lain yang dikonsumsi secara bersamaan, hal ini lebih sering terjadi pada lansia akibat jumlah obat yang tinggi serta perubahan metabolisme obat seiring dengan penuaan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Penelitian di beberapa rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa potensi interaksi antarobat pada lansia sangat tinggi, dengan mayoritas interaksi berada pada kategori moderat yang dapat mempengaruhi kondisi klinis pasien jika tidak ditangani dengan tepat. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Interaksi ini tidak hanya dapat mengurangi efektivitas pengobatan, tetapi juga meningkatkan kejadian efek samping obat, seperti masalah gastrointestinal, perdarahan, disfungsi organ, hingga toksisitas yang berbahaya. [Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id]
Selain itu, kombinasi obat yang banyak dapat memperburuk efek samping individual tiap obat, seperti peningkatan risiko jatuh, gangguan kognitif, dan penurunan fungsi organ. Lansia secara fisiologis lebih rentan terhadap efek samping karena perubahan farmakokinetik (absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi) serta farmakodinamik obat akibat penuaan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Risiko lainnya termasuk ketidakpatuhan terhadap terapi akibat kompleksitas regimen dan beban obat yang tinggi, yang pada akhirnya dapat memperburuk hasil klinis lansia. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Peran Review Obat secara Berkala
Salah satu strategi penting dalam manajemen terapi polifarmasi adalah melakukan review obat secara berkala. Review obat melibatkan evaluasi lengkap terhadap semua obat yang digunakan pasien untuk menilai kebutuhan, efektivitas, serta potensi interaksi atau efek samping. [Lihat sumber Disini - impactfactor.org]
Proses review ini mencakup verifikasi bahwa setiap obat masih relevan dengan kondisi klinis pasien dan masih memberikan manfaat yang sebanding dengan risikonya. Selain itu, review membantu mengidentifikasi obat yang tidak lagi diperlukan, berpotensi berbahaya, atau dapat diganti dengan terapi yang lebih aman. [Lihat sumber Disini - impactfactor.org]
Berdasarkan bukti ilmiah, review obat yang komprehensif dapat mengurangi kejadian efek samping, meningkatkan kepatuhan pasien, serta mengoptimalkan hasil terapeutik secara keseluruhan. Hal ini mencakup penggunaan pedoman seperti Beers Criteria atau STOPP/START untuk mengevaluasi potensi penggunaan obat yang tidak tepat pada lansia. [Lihat sumber Disini - impactfactor.org]
Review obat juga berperan dalam memberi kesempatan bagi pasien dan keluarga untuk berdiskusi tentang pengalaman terapi obat, seperti gejala efek samping atau tantangan kepatuhan, yang dapat digunakan oleh tenaga kesehatan untuk menyusun regimen lebih tepat guna. [Lihat sumber Disini - impactfactor.org]
Kolaborasi Tim Kesehatan dalam Manajemen Terapi
Manajemen polifarmasi tidak dapat dilakukan oleh satu profesi kesehatan saja. Kolaborasi tim kesehatan multidisipliner menjadi pendekatan yang efektif dalam mengelola terapi obat lansia. Hal ini melibatkan dokter, apoteker klinis, perawat, dan profesional kesehatan lain dalam melakukan penilaian terapi yang komprehensif. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Pendekatan tim ini memungkinkan evaluasi menyeluruh terhadap regimen obat pasien dari berbagai perspektif klinis. Misalnya, apoteker klinis dapat mengidentifikasi potensi interaksi obat dan efek samping yang tersembunyi, sementara dokter dapat menyesuaikan diagnosis dan kebutuhan terapi. Pendekatan seperti Geriatric Interdisciplinary Team terbukti membantu mengurangi risiko polifarmasi dan memberikan insight penting dalam optimasi terapi obat lansia. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Kolaborasi tim juga meningkatkan komunikasi antara profesi kesehatan serta dengan pasien dan keluarga. Dengan komunikasi yang baik, penyesuaian terapi dapat dilakukan secara aman, terkoordinasi, dan berbasis bukti. Ini sangat penting terutama saat lansia berpindah dari satu layanan kesehatan ke layanan lain, yang sering menjadi titik kritis terjadinya polifarmasi yang tidak terkendali. [Lihat sumber Disini - washingtonpost.com]
Strategi Pengurangan Obat yang Tidak Perlu
Untuk mengurangi polifarmasi yang tidak perlu, strategi deprescribing menjadi elemen penting dalam pendekatan klinis. Deprescribing adalah proses mengurangi atau menghentikan obat yang tidak lagi diperlukan, berlebihan, atau berisiko tinggi bagi pasien, dengan tujuan meningkatkan hasil kesehatan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Deprescribing dilakukan setelah menilai manfaat dan risiko setiap obat serta mempertimbangkan preferensi pasien. Strategi ini melibatkan identifikasi obat-obat yang potensial tidak sesuai dengan kebutuhan klinis atau yang memiliki profil risiko buruk bagi lansia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Selain itu, intervensi seperti penyederhanaan regimen obat (menggabungkan obat jika memungkinkan), penggunaan alat bantu pengingat, dan edukasi pasien tentang pentingnya pengelolaan obat yang benar dapat membantu meminimalkan beban terapi dan meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Strategi lain termasuk pemantauan berkelanjutan pasca deprescribing untuk memastikan bahwa penghentian obat tidak menyebabkan kekambuhan atau efek buruk lain, serta memastikan bahwa terapi yang tersisa tetap optimal dan aman bagi pasien. [Lihat sumber Disini - impactfactor.org]
Kesimpulan
Manajemen terapi polifarmasi pada lansia merupakan tantangan kritis dalam layanan kesehatan geriatri. Polifarmasi tidak hanya melibatkan banyak obat, tetapi juga mengandung berbagai risiko seperti efek samping, interaksi obat, dan ketidakpatuhan terapi. Polifarmasi dipicu oleh komorbiditas yang kompleks, koordinasi kesehatan yang kurang optimal, serta perubahan fisiologis akibat penuaan. Review obat secara berkala dan kolaborasi tim kesehatan multidisipliner menjadi kunci dalam menilai kebutuhan terapi, mengurangi obat yang tidak perlu, dan meningkatkan keselamatan pasien. Strategi deprescribing dan penyederhanaan regimen obat dapat menurunkan risiko yang terkait dengan polifarmasi, memberikan pendekatan yang lebih aman dan efektif dalam optimalisasi terapi lansia. Dengan tindakan yang terkoordinasi antara pasien, keluarga, dan profesional kesehatan, hasil terapi obat dapat dimaksimalkan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup lansia secara keseluruhan.