Terakhir diperbarui: 11 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 11 December). Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Polifarmasi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengetahuan-masyarakat-tentang-bahaya-polifarmasi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Polifarmasi - SumberAjar.com

Pengetahuan Masyarakat tentang Bahaya Polifarmasi

Pendahuluan

Polifarmasi adalah salah satu fenomena kesehatan masyarakat yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara, khususnya di kalangan populasi lansia, pasien dengan penyakit kronis, dan mereka yang memiliki lebih dari satu kondisi medis secara bersamaan. Istilah ini mengacu pada penggunaan banyak obat secara simultan oleh satu individu, dan meskipun dalam beberapa kasus penggunaan banyak obat dapat diperlukan secara klinis, fenomena ini rentan terhadap risiko kesehatan yang serius, termasuk interaksi obat-obat, efek samping yang tidak diinginkan, dan masalah ketidakpatuhan dalam pengobatan.

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang polifarmasi masih dinilai belum memadai di berbagai konteks, sehingga banyak pasien tidak menyadari risiko yang mungkin mereka hadapi ketika mengonsumsi banyak obat dalam suatu waktu. Ketidaktahuan ini dapat memperbesar kejadian efek samping, interaksi obat yang merugikan, hingga potensi komplikasi kesehatan yang lebih kompleks. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Definisi Polifarmasi dan Risikonya

Definisi Polifarmasi Secara Umum

Polifarmasi secara umum didefinisikan sebagai pemberian atau penggunaan berbagai obat secara bersamaan oleh seorang pasien. Meski definisinya dapat bervariasi, dalam banyak literatur klinis istilah “polifarmasi” disepakati bila seorang pasien menggunakan lima atau lebih obat secara bersamaan. Situasi ini sering kali terjadi pada pasien dengan berbagai kondisi kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan sendi, atau kondisi medis lain yang memerlukan beberapa agen terapi sekaligus sebagai bagian dari rencana terapi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Polifarmasi tidak selalu bermakna buruk apabila obat-obat tersebut disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan didukung oleh praktik klinis berbasis bukti. Namun, fenomena polifarmasi yang tidak terkontrol atau tidak optimal dapat meningkatkan risiko efek samping, kejadian interaksi obat-obat yang merugikan, serta menurunkan efektivitas terapi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Polifarmasi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah polifarmasi mengacu pada penggunaan banyak obat sekaligus oleh pasien, biasanya dalam konteks pengobatan penyakit yang kompleks atau kronis. Polifarmasi juga dapat dikaitkan dengan konsep obat berlebihan (overmedication) apabila pemberian obat-obat tidak disesuaikan dengan kebutuhan nyata pasien, sehingga berpotensi menyebabkan bahaya kesehatan lainnya seperti reaksi obat negatif atau beban obat yang tidak proporsional.

Definisi Polifarmasi Menurut Para Ahli

Menurut Varghese (2024), polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan oleh seorang individu, terutama pada populasi lansia dan pasien dengan kondisi kronis, yang berkaitan erat dengan risiko terjadinya keseluruhan efek samping yang tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Menurut studi permukaan medis lain, polifarmasi mencakup pemberian banyak obat atau obat yang tidak seluruhnya diperlukan secara medis, yang mana pemberian ini sering tidak dipantau secara penuh oleh tenaga kesehatan sehingga meningkatkan risiko terhadap kejadian interaksi obat yang merugikan. [Lihat sumber Disini - journal.ugm.ac.id]

Awali dan kolega (2025) menegaskan bahwa polifarmasi juga melibatkan masalah obat yang tidak tepat indikasi atau tidak sesuai kebutuhan klinis pasien, sehingga tidak hanya masalah jumlah obat saja tetapi juga masalah rasionalitas penggunaan obat itu sendiri. [Lihat sumber Disini - ejournal.baleliterasi.org]


Faktor yang Mendorong Penggunaan Banyak Obat

Beberapa faktor yang mendorong seseorang mengalami polifarmasi meliputi:

1. Multimorbiditas dan Penyakit Kronis

Polifarmasi sering dijumpai pada pasien yang menderita lebih dari satu penyakit kronis. Ketika beberapa kondisi medis terjadi secara bersamaan, misalnya diabetes mellitus dikombinasikan dengan hipertensi dan dislipidemia, pasien mungkin menerima kombinasi obat dari setiap kondisi tersebut sehingga jumlah obat meningkat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

2. Lansia dan Perubahan Fisiologis

Populasi lansia memiliki risiko tinggi mengalami polifarmasi karena penurunan fungsi organ seperti ginjal dan liver, lebih banyak penyakit komorbid, dan penanganan medis yang kompleks. Lansia secara statistik cenderung menerima lebih banyak obat dari berbagai kelas obat dibandingkan kelompok usia lainnya. [Lihat sumber Disini - journal.untar.ac.id]

3. Faktor Sistem Pelayanan Kesehatan

Kurangnya koordinasi antar penyedia layanan kesehatan, kurangnya evaluasi ulang terhadap obat-obat yang sedang dikonsumsi, maupun lemahnya pengawasan terapi oleh tenaga kesehatan dapat memperburuk kejadian polifarmasi. Ketiadaan rekam medis yang terintegrasi juga dapat membuat pasien menerima obat dari berbagai dokter tanpa monitoring jumlah total obat yang dikonsumsi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

4. Kepatuhan Pasien dan Self-Medication

Tingkat kepatuhan yang rendah atau perilaku swamedikasi dengan obat bebas tanpa pemantauan dokter turut berkontribusi pada meningkatnya potensi polifarmasi. Pasien dapat mengkombinasikan obat resep, obat bebas, dan suplemen herbal tanpa sadar bahwa kombinasi tersebut dapat berpotensi berbahaya. [Lihat sumber Disini - journal.stikesborneocendekiamedika.ac.id]

5. Struktur Resep dan Kebijakan Praktik Klinis

Dalam beberapa kasus, dokter meresepkan kombinasi obat untuk menanggulangi efek samping dari obat lain (prescribing cascade), yang secara tidak langsung justru melipatgandakan jumlah obat yang harus dikonsumsi pasien. Ketika hal ini tidak dikelola dengan hati-hati, polifarmasi yang tidak tepat dapat terjadi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Dampak Polifarmasi terhadap Kesehatan

Risiko Interaksi Obat

Interaksi obat terjadi ketika efek satu obat berubah karena adanya obat lain yang dikonsumsi bersamaan. Potensi interaksi tersebut meningkat seiring bertambahnya jumlah obat yang dikonsumsi. Ketika interaksi ini tidak dipantau atau diantisipasi, konsekuensinya bisa berupa meningkatnya efek toksik, berkurangnya manfaat terapi, hingga kejadian efek samping yang berat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Beberapa studi klinis menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang mengalami polifarmasi memiliki risiko kuat untuk menemukan interaksi klinis yang moderat hingga berat antara obat-obat yang digunakan secara bersamaan, yang jika tidak ditangani bisa memperburuk kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.baleliterasi.org]

Efek Samping dan Reaksi Obat Negatif

Semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin tinggi pula kemungkinan efek samping total yang dialami pasien. Setiap obat membawa risiko efek samping tersendiri; kombinasi efek dari banyak obat dapat menghasilkan respons yang tidak terduga dan tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Penurunan Kepatuhan Terapi

Polifarmasi sering berakar dari regimen terapi yang kompleks, sehingga pasien lebih cenderung melewatkan dosis, salah minum obat, atau berhenti minum obat karena kesulitan mengingat aturan minum yang banyak dan rumit. Hal ini mempengaruhi keberhasilan terapi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]

Komplikasi Kesehatan Lainnya

Selain hal-hal di atas, polifarmasi juga dikaitkan dengan meningkatnya kejadian jatuh, kebingungan pasien lansia, peningkatan rawat inap, dan beban biaya kesehatan yang lebih tinggi akibat efek samping atau terapi yang kurang efektif. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Interaksi Obat

Penelitian publik tentang tingkat pengetahuan masyarakat umum mengenai polifarmasi dan interaksi obat masih relatif terbatas, terutama di Indonesia. Namun, survei global terhadap populasi lansia dan komunitas tertentu menunjukkan bahwa tingkat kesadaran tentang risiko polifarmasi cenderung rendah, khususnya di antara mereka yang tidak memiliki pendidikan formal atau akses informasi kesehatan yang baik. [Lihat sumber Disini - iarconsortium.org]

Beberapa penelitian global di luar Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat usia lanjut memiliki pemahaman yang terbatas tentang bagaimana obat-obat yang mereka konsumsi dapat berinteraksi satu sama lain. Faktor seperti tingkat pendidikan, akses layanan kesehatan, dan pengalaman sebelumnya dengan sistem perawatan kesehatan memengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap mereka terhadap masalah tersebut. [Lihat sumber Disini - iarconsortium.org]

Dalam konteks lokal di Indonesia, perilaku swamedikasi dan minimnya literasi obat telah diidentifikasi sebagai tantangan utama dalam pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat yang aman dan rasional, yang secara tidak langsung berkontribusi pada kurang optimalnya pemahaman risiko polifarmasi. [Lihat sumber Disini - journal.stikesborneocendekiamedika.ac.id]


Peran Farmasis dalam Pencegahan Polifarmasi

Farmasis memiliki peran penting dalam mencegah polifarmasi yang tidak rasional melalui beberapa strategi berikut:

1. Konseling Obat kepada Pasien

Farmasis diperlukan untuk memberikan edukasi kepada pasien mengenai cara minum obat yang benar, efek samping yang mungkin terjadi, serta potensi interaksi obat yang harus diwaspadai. Edukasi ini membantu pasien memahami terapi mereka sehingga dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam keputusan terapi yang aman. [Lihat sumber Disini - journal.idscipub.com]

2. Peninjauan Terapi Obat (Medication Review)

Selain menjelaskan kepada pasien, farmasis dapat melakukan peninjauan secara berkala terhadap keseluruhan obat yang dikonsumsi pasien untuk menilai kebutuhan setiap obat, mengidentifikasi obat-obat yang tidak diperlukan, dan mencegah interaksi obat yang berbahaya. [Lihat sumber Disini - journal.idscipub.com]

3. Kolaborasi Interprofesional

Kolaborasi farmasis dengan dokter dan tenaga kesehatan lain penting dilakukan untuk memastikan bahwa resep pasien sudah dioptimalkan sesuai praktik klinis berbasis bukti, serta untuk merekomendasikan deprescribing jika obat tertentu tidak lagi diperlukan. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

4. Promosi Edukasi Kesehatan Masyarakat

Farmasis juga dapat berperan dalam kampanye kesehatan masyarakat yang mengedukasi orang banyak tentang risiko polifarmasi, dampaknya terhadap kesehatan, dan bagaimana mencegah penggunaan obat yang tidak perlu. [Lihat sumber Disini - journal.idscipub.com]


Kesimpulan

Polifarmasi adalah fenomena klinis yang kompleks, terutama di populasi lansia dan pasien dengan penyakit kronis, yang ditandai oleh penggunaan lima atau lebih obat secara bersamaan oleh seorang pasien. Polifarmasi dapat memberikan manfaat bila obat-obat tersebut diperlukan secara rasional dan dipantau secara profesional, tetapi juga membawa risiko signifikan terhadap kesehatan, seperti interaksi obat, efek samping, menurunnya kepatuhan terapi, hingga komplikasi kesehatan. Risiko ini sering disertai dengan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana obat-obat dapat saling berinteraksi dan potensi bahayanya.

Faktor-faktor yang mendorong polifarmasi termasuk multimorbiditas, perubahan fisiologis seperti pada lansia, perilaku swamedikasi, serta keterbatasan sistem pelayanan kesehatan. Peran farmasis sangat penting dalam mencegah polifarmasi yang tidak rasional melalui konseling, peninjauan obat, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, dan edukasi kepada masyarakat. Peningkatan kesadaran dan literasi obat di masyarakat perlu mendapat perhatian lebih guna mengurangi dampak buruk dari penggunaan obat-obat yang tidak optimal.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Polifarmasi adalah kondisi ketika seseorang menggunakan banyak obat secara bersamaan, umumnya lima obat atau lebih. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko interaksi obat, efek samping, serta menurunkan kepatuhan terapi jika tidak dikelola secara tepat.

Risiko kesehatan dari polifarmasi meliputi interaksi obat yang merugikan, efek samping yang meningkat, kebingungan pasien, penurunan kepatuhan terapi, hingga komplikasi seperti jatuh pada lansia atau rawat inap akibat efek obat.

Polifarmasi sering terjadi pada lansia karena kelompok usia ini biasanya memiliki lebih dari satu penyakit kronis dan perubahan fisiologis seperti penurunan fungsi ginjal dan hati, sehingga membutuhkan banyak terapi obat sekaligus.

Faktor penyebab polifarmasi meliputi multimorbiditas, praktik swamedikasi, kurangnya koordinasi antar tenaga kesehatan, serta kebiasaan meresepkan obat tambahan untuk mengatasi efek samping obat lain (prescribing cascade).

Farmasis berperan dalam memberikan konseling obat, meninjau regimen terapi pasien secara berkala, mengidentifikasi obat yang tidak diperlukan, mencegah interaksi berbahaya, serta memberikan edukasi kesehatan masyarakat terkait penggunaan obat yang aman.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Polifarmasi: Konsep, Risiko Klinis, dan Pengendalian Polifarmasi: Konsep, Risiko Klinis, dan Pengendalian Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Pengetahuan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan Pengetahuan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan Tanda Bahaya Kehamilan: Konsep, Pengetahuan Ibu, dan Urgensi Edukasi Tanda Bahaya Kehamilan: Konsep, Pengetahuan Ibu, dan Urgensi Edukasi Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Interaksi Obat: Pengertian dan Contoh Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Evaluasi Interaksi Obat pada Pasien Multimorbid Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Manajemen Obat pada Pasien dengan Penyakit Ganda Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit Rasionalitas Penggunaan Obat Rasionalitas Penggunaan Obat Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Efek Interaksi Obat terhadap Terapi Hipertensi Edukasi Bahaya Rokok Edukasi Bahaya Rokok Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Pengetahuan Ibu tentang Komplikasi Persalinan Pengetahuan Ibu tentang Komplikasi Persalinan Keselamatan Pasien: Konsep, implementasi, dan tantangan Keselamatan Pasien: Konsep, implementasi, dan tantangan Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Penggunaan Alat Pelindung Diri Penggunaan Alat Pelindung Diri Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…