Terakhir diperbarui: 08 February 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 8 February). Retak Perkerasan: Konsep, Mekanisme Retak, dan Penurunan Mutu. SumberAjar. Retrieved 24 February 2026, from https://sumberajar.com/kamus/retak-perkerasan-konsep-mekanisme-retak-dan-penurunan-mutu  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Retak Perkerasan: Konsep, Mekanisme Retak, dan Penurunan Mutu - SumberAjar.com

Retak Perkerasan: Konsep, Mekanisme Retak, dan Penurunan Mutu

Pendahuluan

Pavement atau perkerasan jalan adalah elemen penting dalam infrastruktur transportasi yang harus mampu menahan beban lalu lintas dan kondisi lingkungan selama masa layanannya. Namun pada kenyataannya, perkerasan jalan sering mengalami berbagai bentuk kerusakan yang mengurangi mutu dan umur layanan, salah satunya ialah retak perkerasan. Retak perkerasan menjadi salah satu tanda paling dominan dari distorsi struktural di permukaan jalan yang mempengaruhi kenyamanan berkendara, keselamatan, dan biaya pemeliharaan yang semakin tinggi jika ditunda. Retak yang awalnya berupa garis kecil bisa berkembang menjadi kerusakan serius seperti lubang dan pengelupasan material yang lebih dalam karena air dan beban lebh lanjut menembus lapisan di bawahnya, sehingga mempercepat kerusakan dan menurunkan kinerja perkerasan secara keseluruhan. Hal ini menjadi tanggung jawab penting bagi perencana, insinyur jalan, dan pemelihara infrastruktur untuk memahami konsep, jenis-jenis, mekanisme terbentuknya retak, faktor yang mempengaruhi retak, dampaknya terhadap mutu perkerasan, serta strategi penanganan dan pencegahannya supaya perkerasan jalan tetap optimal selama masa layanannya.


Definisi Retak Perkerasan

Definisi Retak Perkerasan Secara Umum

Retak perkerasan merupakan kondisi patahan atau pecahnya struktur bahan perkerasan jalan pada permukaan atau dalam lapisan yang terjadi akibat tegangan yang melebihi kapasitas tarik atau ketahanan materialnya. Retak dapat muncul dalam bentuk garis lurus, bercabang, saling terkait, atau berbagai pola lainnya tergantung pada penyebab dan sifat retaknya. Retak secara umum menunjukkan adanya mekanisme kelelahan material, perubahan suhu, atau hambatan struktural terhadap tegangan dari traf๏ฌk dan lingkungan.

Definisi Retak Perkerasan Dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah retak berarti kondisi terbelah atau terpecahnya benda menjadi dua bagian atau lebih karena tekanan atau tegangan lebih dari kapasitas kekuatan materialnya. Dalam konteks perkerasan jalan, retak kemudian merujuk pada bidang permukaan yang mengalami keretakan tersebut akibat faktor mekanis dan/atau lingkungan.

Definisi Retak Perkerasan Menurut Para Ahli

Beberapa ahli teknik sipil menjelaskan retak pada perkerasan sebagai berikut:

  1. Retak adalah manifestasi awal dari distorsi struktural pada perkerasan yang muncul sebagai hasil dari perubahan tegangan akibat beban lalu lintas berulang dan kondisi lingkungan. Retak biasanya merupakan bentuk kerusakan awal yang memungkinkan air dan faktor degradasi lainnya masuk ke dalam struktur perkerasan dan mempercepat kerusakan lebih lanjut.

  2. Menurut sumber ilmiah internasional, retak perkerasan dapat diklasifikasikan berdasarkan pola dan sumber penyebabnya, termasuk fatigue crack (retak karena kelelahan), shrinkage crack (retak karena penyusutan), reflective crack (retak reflektif di overlay), edge crack (retak tepi akibat drainase, dukungan bahu jalan buruk), slippage crack (retak geser akibat permukaan licin), dan block crack (retak blok akibat penyusutan termal) sebagai bentuk umum distorsi lapisan permukaan jalan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

  3. Dalam literatur penelitian bidang perkerasan, retak sering didefinisikan lebih detail dalam konteks mekanisme kelelahan (fatigue cracking) yang terjadi akibat beban berulang yang menyebabkan tegangan tarik menumpuk di dalam lapisan aspal sehingga material kehilangan cohesiveness dan mulai patah. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Jenis-Jenis Retak pada Perkerasan Jalan

Retak pada perkerasan dapat dibedakan berdasarkan pola, arah, dan penyebabnya. Mengetahui jenis retak sangat penting untuk menentukan strategi pemeliharaan yang tepat.

Retak Kelelahan (Fatigue / Crocodile / Alligator Cracking)
Retak kelelahan merupakan salah satu bentuk retak yang umum terjadi pada perkerasan aspal dimana pola retaknya menyerupai kulit buaya atau jaringan yang saling berinteraksi. Retak ini terjadi akibat beban yang berulang pada aspal yang mengalami siklus stres-tarik hingga material kehilangan ketahanan terhadap kelelahan. Pola ini biasanya dimulai dari retak memanjang di lintasan roda yang kemudian berkembang menjadi jaringan retak yang saling terhubung. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Retak Memanjang (Longitudinal Cracking)
Retak ini terjadi sejajar dengan arah lalu lintas. Penyebabnya bisa karena segmen perkerasan mengalami konsentrasi tegangan akibat overloading atau ketidaksesuaian desain antara lapisan perkerasan dan subgrade. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Retak Melintang (Transverse Cracking)
Retak yang muncul tegak lurus terhadap arah lalu lintas biasanya disebabkan oleh perubahan temperatur yang menyebabkan kontraksi dan ekspansi, atau karena terjadinya penyusutan di sepanjang lebar perkerasan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Retak Blok (Block Cracking)
Retak ini berbentuk segi empat atau “blok” akibat penyusutan termal atau perubahan suhu ekstrem di permukaan perkerasan yang menyebabkan lapisan aspal mengalami pembentukan pola retak yang teratur. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Retak Reflektif (Reflective Cracking)
Retak ini umum terjadi pada overlay aspal yang meniru pola retak dari lapisan bawah, terutama di lapisan overlay yang ditambahkan di atas beton lama atau lapisan retak sebelumnya. Tegangan yang terjadi pada retak di lapisan bawah dapat memicu retak baru di overlay. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Retak Tepi (Edge Cracking)
Retak ini terjadi di pinggir atau tepi perkerasan, seringkali karena drainase yang buruk atau kurangnya dukungan bahu jalan yang kuat sehingga tegangan yang tidak seimbang menyebabkan material di tepi pecah. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Mekanisme Terjadinya Retak Perkerasan

Retak pada perkerasan terjadi karena interaksi kompleks antara beban lalu lintas, kondisi lingkungan, material perkerasan, dan sifat struktural tanah dasar. Secara umum mekanisme retak dapat dijelaskan sebagai berikut:

Beban lalu lintas yang berulang menghasilkan tegangan dan regangan dinamik di permukaan dan lapisan bawah perkerasan. Ketika tegangan tarik lebih besar dari kekuatan tarik material aspal, retak mulai terbentuk. Dalam kasus fatigue cracking, retak dimulai dari bawah lapisan aspal dan berkembang ke permukaan karena tegangan tarik yang dihasilkan oleh siklus beban kendaraan berulang. ([Lihat sumber Disini - il-asphalt.org])

Faktor termal juga memainkan peran penting, terutama di daerah dengan fluktuasi suhu tinggi atau rendah. Perubahan suhu menyebabkan ekspansi atau kontraksi material, menciptakan tegangan internal yang dapat memicu retak, terutama jika material menjadi lebih rapuh akibat oksidasi atau penuaan. Retak blok dan transverse cracking sering dikaitkan dengan mekanisme penyusutan termal ini. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Interaksi antara lapisan overlay dan lapisan bawah yang retak dapat menyebabkan retak reflektif. Ketika lapisan baru ditempatkan di atas lapisan yang retak tanpa memperbaiki retak tersebut terlebih dahulu, stress dari retak bawah dapat mentransfer ke lapisan overlay dan menciptakan retak dengan pola yang mirip. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Retak

Berbagai faktor internal dan eksternal mempengaruhi kemungkinan serta laju perkembangan retak perkerasan:

Beban Lalu Lintas

Frekuensi beban dan berat kendaraan memiliki pengaruh besar terhadap tegangan tarik di perkerasan. Lalu lintas berat dan siklus berulang menyebabkan akumulasi tegangan yang mempercepat pembentukan retak.

Material dan Kualitas Campuran

Komposisi campuran aspal (misalnya kualitas binder, ukuran agregat, distribusi partikel) dan proses konstruksi menentukan ketahanan material terhadap kelelahan dan perubahan suhu. Material yang tidak homogen atau kurang kuat lebih rentan terhadap retak.

Kondisi Lingkungan

Perubahan suhu dan kelembapan serta siklus pembekuan/pencairan mempengaruhi sifat mekanik aspal dan menyebabkan pelemahan ikatan material. Tempat yang mengalami temperatur ekstrem akan lebih cepat mengalami retak termal. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Drainase dan Subgrade

Drainase yang buruk atau kelembapan tinggi di lapisan bawah dapat melemahkan tanah dasar sehingga menyebabkan redistribusi beban yang tidak merata dan meningkatkan peluang terbentuknya retak. ([Lihat sumber Disini - id.scribd.com])


Dampak Retak terhadap Mutu Perkerasan

Retak perkerasan berdampak signifikan terhadap mutu dan masa layan perkerasan jalan. Beberapa dampaknya antara lain:

Penurunan Present Serviceability dan Pavement Condition Index

Retak yang berkembang memperburuk tingkat layanan jalan (PSI/PCI) karena menyebabkan permukaan menjadi tidak rata, tidak nyaman untuk dilalui, dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Masuknya Air dan Degradasi Internal
Retak membuka jalan bagi air untuk masuk ke lapisan internal perkerasan. Air ini melemahkan ikatan antara agregat dan binder serta tanah dasar sehingga mempercepat kerusakan seperti lubang dan deformasi struktur. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

Biaya Pemeliharaan yang Lebih Tinggi

Jika retak dibiarkan, kerusakan akan berlanjut ke bentuk yang lebih parah, sehingga biaya untuk perbaikan dan rehabilitasi menjadi jauh lebih besar dibanding bila ditangani sejak awal.


Penanganan dan Pencegahan Retak Perkerasan

Penanganan retak harus dilakukan sejak dini untuk memperlambat perkembangan kerusakan. Berbagai metode yang dapat diterapkan meliputi:

Sealant Crack Filling
Mengisi retak dengan bahan sealant aspal atau elastomerik untuk mencegah air masuk dan memperlambat perluasan retak. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Overlay

Menempatkan lapisan overlay aspal baru setelah memperbaiki retak untuk meningkatkan ketahanan permukaan dan menyebarkan tegangan beban lebih baik.

Perbaikan Drainase

Memastikan sistem drainase bekerja dengan baik untuk menghindari kelembapan berlebih di lapisan bawah, yang dapat mempercepat degradasi.

Peningkatan Material

Pemilihan binder yang lebih tahan terhadap oksidasi dan perubahan suhu serta campuran agregat berkualitas tinggi dapat meningkatkan ketahanan terhadap retak.


Kesimpulan

Retak perkerasan adalah salah satu bentuk kerusakan paling umum dan penting pada perkerasan jalan yang menunjukkan adanya penurunan mutu struktur. Retak muncul akibat kombinasi beban lalu lintas yang berulang, perubahan suhu, kualitas material yang kurang optimal, dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Jenis retak seperti kelelahan, memanjang, melintang, blok, reflektif, dan tepi memiliki karakteristik penyebab yang berbeda sehingga membutuhkan strategi penanganan yang spesifik. Retak yang dibiarkan tanpa tindakan perbaikan akan mempercepat degradasi permukaan jalan, menurunkan kinerja layanan jalan, dan menimbulkan biaya pemeliharaan yang tinggi. Oleh karena itu, deteksi dini, pemilihan material berkualitas, serta perencanaan drainase dan overlay yang tepat penting untuk mempertahankan mutu perkerasan dalam jangka panjang.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Retak perkerasan adalah kerusakan berupa patahan atau celah pada permukaan atau lapisan struktur jalan yang terjadi akibat tegangan berlebih dari beban lalu lintas, perubahan suhu, kualitas material yang menurun, serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

Jenis-jenis retak pada perkerasan jalan meliputi retak kelelahan atau retak buaya, retak memanjang, retak melintang, retak blok, retak reflektif, dan retak tepi. Setiap jenis retak memiliki pola dan penyebab yang berbeda.

Retak perkerasan terjadi akibat akumulasi tegangan tarik yang melebihi kekuatan material perkerasan. Tegangan ini berasal dari beban lalu lintas berulang, perubahan temperatur yang menyebabkan ekspansi dan kontraksi, serta interaksi antara lapisan perkerasan dan tanah dasar.

Faktor yang mempengaruhi retak perkerasan antara lain beban dan volume lalu lintas, kualitas material perkerasan, kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembapan, sistem drainase, serta kekuatan dan stabilitas tanah dasar.

Retak perkerasan menyebabkan penurunan mutu jalan karena mempercepat masuknya air ke lapisan bawah, menurunkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, serta meningkatkan biaya pemeliharaan dan rehabilitasi jika tidak segera ditangani.

Penanganan retak perkerasan dapat dilakukan melalui pengisian retak (crack sealing), overlay, perbaikan drainase, dan rehabilitasi struktural. Pencegahan dilakukan dengan desain perkerasan yang baik, pemilihan material berkualitas, serta pemeliharaan rutin.

โฌ‡
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perkerasan Lentur: Konsep, Perilaku Material, dan Struktur Lapis Perkerasan Lentur: Konsep, Perilaku Material, dan Struktur Lapis Perkerasan Kaku: Konsep, Distribusi Beban, dan Ketahanan Pelat Perkerasan Kaku: Konsep, Distribusi Beban, dan Ketahanan Pelat Tebal Perkerasan: Konsep, Desain Struktur Jalan, dan Umur Rencana Tebal Perkerasan: Konsep, Desain Struktur Jalan, dan Umur Rencana Alur Perkerasan (Rutting): Konsep, Deformasi Permanen, dan Beban Lalu Lintas Alur Perkerasan (Rutting): Konsep, Deformasi Permanen, dan Beban Lalu Lintas Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Retak Beton: Konsep, Jenis Retak, dan Penyebab Struktural Kerusakan Jalan: Konsep, Jenis Kerusakan, dan Penyebab Teknis Kerusakan Jalan: Konsep, Jenis Kerusakan, dan Penyebab Teknis Beban Lalu Lintas: Konsep, Repetisi Beban, dan Kerusakan Jalan Beban Lalu Lintas: Konsep, Repetisi Beban, dan Kerusakan Jalan Umur Rencana Jalan: Konsep, Beban Lalu Lintas, dan Ketahanan Umur Rencana Jalan: Konsep, Beban Lalu Lintas, dan Ketahanan Drainase Jalan: Konsep, Pengendalian Air, dan Perlindungan Perkerasan Drainase Jalan: Konsep, Pengendalian Air, dan Perlindungan Perkerasan Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Kuat Tarik Beton: Konsep, Mekanisme Retak, dan Perilaku Material Stabilitas Campuran Aspal: Konsep, Kekuatan Campuran, dan Durabilitas Stabilitas Campuran Aspal: Konsep, Kekuatan Campuran, dan Durabilitas Kadar Aspal Optimum: Konsep, Desain Campuran, dan Performa Aspal Kadar Aspal Optimum: Konsep, Desain Campuran, dan Performa Aspal Marshall Stability: Konsep, Kekuatan Campuran, dan Kriteria Desain Marshall Stability: Konsep, Kekuatan Campuran, dan Kriteria Desain Durabilitas Aspal: Konsep, Ketahanan Lingkungan, dan Umur Layan Durabilitas Aspal: Konsep, Ketahanan Lingkungan, dan Umur Layan Penurunan Pondasi: Konsep, Pengaruh Tanah, dan Respons Struktur Penurunan Pondasi: Konsep, Pengaruh Tanah, dan Respons Struktur Kapasitas Geser Balok: Konsep, Mekanisme Kegagalan, dan Tahanan Geser Kapasitas Geser Balok: Konsep, Mekanisme Kegagalan, dan Tahanan Geser Kekasaran Permukaan Jalan: Konsep, Kenyamanan Berkendara, dan Keselamatan Kekasaran Permukaan Jalan: Konsep, Kenyamanan Berkendara, dan Keselamatan Konfigurasi Tulangan: Konsep, Penempatan Tulangan, dan Efektivitas Struktur Konfigurasi Tulangan: Konsep, Penempatan Tulangan, dan Efektivitas Struktur Perilaku Struktur Beton Bertulang: Konsep, Mekanisme Kerja, dan Kapasitas Perilaku Struktur Beton Bertulang: Konsep, Mekanisme Kerja, dan Kapasitas Penurunan Nilai Aset: Konsep dan Indikator Penurunan Nilai Aset: Konsep dan Indikator
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaruโ€ฆ