
Risiko Retensi Urin
Pendahuluan
Retensi urin adalah salah satu kondisi urologi yang dapat mengancam fungsi sistem perkemihan seseorang. Walaupun kadang dianggap ringan, retensi urin, baik akut maupun kronis, dapat membawa sejumlah komplikasi serius, mulai dari distensi kandung kemih, infeksi saluran kemih, hingga kerusakan ginjal. Pemahaman yang baik tentang definisi, faktor risiko, tanda-gejala, hingga intervensi keperawatan sangat penting agar tindakan pencegahan dan penanganan dapat dilakukan tepat waktu. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif “Risiko Retensi Urin”: pengertian, faktor risiko, manifestasi klinis, penilaian, intervensi keperawatan, serta contoh kasus sebagai ilustrasi.
Definisi Retensi Urin
Definisi Retensi Urin Secara Umum
Retensi urin umumnya diartikan sebagai kondisi di mana seseorang tidak mampu mengosongkan kandung kemih secara sempurna, meskipun kandung kemih telah terisi penuh dengan urin. [Lihat sumber Disini - student.fdk.ac.id]
Dalam istilah kedokteran, retensi urin dapat terjadi secara akut (mendadak dan total) maupun kronis (secara bertahap, dengan pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Definisi Retensi Urin dalam KBBI
Menurut definisi populer dan literatur keperawatan di Indonesia, retensi urin (atau “retensio urin/retensi urine”) didefinisikan sebagai “penumpukan urine di kandung kemih dan ketidakmampuan untuk mengosongkannya secara sempurna.” [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Definisi ini mengarah pada gagalnya proses miksi meskipun ada dorongan atau keinginan untuk berkemih. [Lihat sumber Disini - student.fdk.ac.id]
Definisi Retensi Urin Menurut Para Ahli
Beberapa definisi menurut literatur/peneliti:
-
Menurut Hidayat (2015), retensi urin adalah keadaan di mana kandung kemih tidak mampu mengosongkan urin secara sempurna. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Menurut kompilasi dari literatur keperawatan (Smeltzer & Suddarth, seperti dikutip di sumber), retensi urin adalah ketidakmampuan untuk melakukan miksi meskipun ada dorongan berkemih. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Dalam konteks pasca-persalinan, definisi lebih spesifik juga digunakan: misalnya Postpartum urinary retention (PPUR) didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih spontan dalam 6 jam setelah persalinan dengan volume residu kandung kemih > 200 mL. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Literatur lainnya menyebut bahwa retensi urin dapat dibedakan menjadi retensi total (tidak bisa berkemih sama sekali) dan retensi parsial / residu urin (berkemih tapi dengan sisa urine signifikan di kandung kemih). [Lihat sumber Disini - univmed.org]
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa inti dari retensi urin adalah: terjadi akumulasi urine di kandung kemih karena gagal pengosongan, baik sebagian maupun total, yang dapat bersifat akut ataupun kronis.
Faktor Risiko Retensi Urin
Beberapa penelitian dan literatur keperawatan/medis telah mengidentifikasi sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya retensi urin. Berikut ringkasan faktor-faktor utama:
-
Pembesaran prostat / Benign prostatic hyperplasia (BPH), Pada pria, pembesaran prostat bisa menekan uretra sehingga menghambat aliran urin. Sebuah review menunjukkan bahwa pada pasien BPH, meningkatnya volume prostat berhubungan dengan insidensi retensi urin akut. [Lihat sumber Disini - ppjp.ulm.ac.id]
-
Usia Lanjut / Kelamin Pria, Studi pada pasien pasca-operasi menunjukkan bahwa usia yang lebih tua dan jenis kelamin laki-laki secara signifikan meningkatkan risiko retensi urin pascaoperasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Anestesi / Prosedur Operasi / Kateterisasi atau Manipulasi Jalan Kemih, Faktor iatrogenik seperti anestesi spinal/epidural, anestesi umum, atau intervensi pada saluran kemih dapat menurunkan fungsi detrusor atau mengganggu koordinasi miksi, sehingga menyebabkan retensi. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Faktor Neurologis (gangguan persarafan), Kerusakan saraf simpatis/parasimpatis, cedera medula spinalis, atau gangguan neurologis lain dapat menghambat kontrol miksi normal. [Lihat sumber Disini - student.fdk.ac.id]
-
Distensi Kandung Kemih / Overfilling, Jika kandung kemih dibiarkan terlalu lama penuh tanpa dikosongkan, dapat terjadi overstretching yang mempengaruhi fungsi otot hati-kemih (detrusor). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Pasca-persalinan, Untuk wanita, terutama setelah persalinan pervaginam, PPUR bisa terjadi. Faktor seperti lama kala II persalinan, penggunaan alat, ruptur/perineum luas, atau trauma jalan lahir meningkatkan risiko PPUR. [Lihat sumber Disini - inajog.com]
-
Obstruksi Saluran Kemih Lainnya, Misalnya striktur uretra, batu saluran kemih, tumor, infeksi atau inflamasi, yang menghambat aliran urin. [Lihat sumber Disini - cdkjournal.com]
-
Gangguan Fungsi Otot Kandung Kemih / Detrusor, Bila fungsi otot detrusor melemah atau koordinasi dengan sfingter terganggu, memungkinkan urine tertahan. [Lihat sumber Disini - univmed.org]
Dengan demikian, retensi urin bukan sekadar satu penyebab, melainkan hasil interaksi berbagai faktor, baik anatomi, neurologis, iatrogenik, maupun fisiologis.
Tanda dan Gejala Retensi Urin
Manifestasi klinis retensi urin dapat berbeda-beda tergantung apakah retensinya akut atau kronis, serta penyebabnya. Berikut sejumlah tanda dan gejala yang umum ditemukan:
-
Ketidakmampuan untuk berkemih sama sekali (anuria) atau sangat sedikit, pada retensi akut total. [Lihat sumber Disini - proceedings.ums.ac.id]
-
Perasaan penuh atau tekanan di area perut bawah / supra-pubik; kadang diikuti rasa nyeri atau tidak nyaman. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
-
Setelah berkemih, tetap terasa ada sisa urin, urinasi terasa tidak tuntas (residu urin). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Distensi kandung kemih, kandung kemih terasa membesar/kenyang, terkadang bisa teraba secara palpasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
-
Nyeri atau ketidaknyamanan pada perut bagian bawah, mungkin disertai urgensi berkemih tapi tidak mampu, terutama pada retensi parsial. [Lihat sumber Disini - journal.stikvinc.ac.id]
-
Dalam kasus tertentu (misalnya retensi pasca persalinan): tidak bisa berkemih dalam waktu tertentu pasca persalinan (misalnya 6 jam) + residual volume tinggi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Tanda-gejala ini dapat bervariasi dan terkadang tidak khas, terutama bila retensi bersifat parsial atau kronis, sehingga perlu evaluasi objektif (misalnya lewat pemindaian, palpasi, atau pemeriksaan residu urin) untuk konfirmasi.
Komplikasi Retensi Urin
Jika retensi urin tidak ditangani dengan tepat dan segera, berbagai komplikasi bisa muncul:
-
Distensi berlebihan kandung kemih → Overstretch pada dinding kandung kemih, yang bisa menurunkan kemampuan kontraksi otot detrusor, bahkan menyebabkan atonia kandung kemih. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Infeksi Saluran Kemih (ISK), Urine yang tertahan menjadi reservoir bagi bakteri, memudahkan terjadinya infeksi. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
-
Kompromi fungsi ginjal / hidronefrosis, Bila tekanan balik akibat obstruksi atau reten urin bertahan lama, bisa mempengaruhi saluran atas (ureter, ginjal). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pembentukan batu kandung kemih / saluran kemih, Stasis urine kronis meningkatkan risiko kristalisasi dan pembentukan batu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gangguan kualitas hidup, Rasa nyeri, ketidaknyamanan, frekuensi kontrol medis, mungkin perawatan kateter terus-menerus, semua bisa menurunkan kualitas hidup pasien.
Karena potensi komplikasinya cukup serius, penilaian dini dan intervensi tepat sangat krusial.
Penilaian Kandung Kemih
Penilaian kandung kemih merupakan bagian penting dalam diagnosis retensi urin dan penentuan tindakan. Berikut metode penilaian yang umum dipakai:
Bladder Scan / Ultrasonografi
-
Pemeriksaan non-invasif menggunakan ultrasonografi untuk menilai volume residu urin dalam kandung kemih setelah miksi, membantu menilai apakah pengosongan terjadi secara adekuat. Banyak penelitian retensi urin, termasuk retensi pasca persalinan, menggunakan kriteria residu urin (misalnya > 200 mL) sebagai patokan diagnosis. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Metode ini memungkinkan deteksi retensi, baik overt maupun covert (tampak sebagian), tanpa perlu kateterisasi langsung, sehingga lebih nyaman dan lebih aman.
Palpasi / Pemeriksaan Fisik (Abdomen / Supra-pubik)
-
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan palpasi area suprapubik / perut bawah untuk mendeteksi distensi kandung kemih, terutama pada kasus retensi akut atau total. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
-
Bila teraba massa bulat / penuh, dan pasien tidak bisa berkemih meskipun ada dorongan, ini bisa menunjukkan retensi urin. Kasus retensi pasca persalinan misalnya sering menunjukkan massa supra-pubik dan nyeri tekan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
Anamnesis & Riwayat Klinik
-
Riwayat penyakit seperti BPH, operasi sebelumnya, anestesi, gangguan neurologis, keluhan obstruksi, riwayat persalinan (untuk wanita), atau penggunaan obat-obatan yang mempengaruhi miksi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Riwayat subjektif seperti kesulitan berkemih, aliran urine kecil, rasa tidak tuntas, nyeri atau tekanan perut bagian bawah, atau sering dorongan berkemih yang gagal.
Penilaian menyeluruh akan membantu membedakan retensi akut vs kronis, mengetahui penyebab mendasarnya, dan menentukan intervensi yang tepat.
Intervensi Keperawatan untuk Risiko Retensi Urin
Intervensi keperawatan penting sebagai bagian dari pencegahan maupun penanganan retensi urin. Berdasarkan literatur keperawatan dan studi kasus di Indonesia, berikut beberapa intervensi yang disarankan:
-
Pemantauan dan evaluasi eliminasi urin, Memantau frekuensi berkemih, volume urine, kemungkinan sisa urin/residu setelah miksi, serta nyeri atau distensi kandung kemih. Ini penting terutama pada pasien dengan faktor risiko (misalnya post-operasi, lansia, BPH, pasca persalinan).
-
Kateterisasi bila diperlukan, Pada kasus retensi akut, total, atau ketika residu urin signifikan: tindakan kateterisasi intermiten atau pemasangan kateter permanen (dauer) dapat diperlukan. Beberapa literatur retensi pasca persalinan merekomendasikan kateterisasi intermiten tiap 6 jam sampai residu urin < threshold tertentu. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Bladder training & mobilisasi, Untuk pasien dengan retensi setelah operasi (misalnya BPH), intervensi non-farmakologis seperti latihan kandung kemih (bladder training) telah terbukti membantu mengurangi kejadian retensi urin / inkontinensia pasca operasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbhaktihusada.ac.id]
-
Edukasi pasien, Memberi informasi tentang pentingnya pengosongan kandung kemih secara teratur, mengenali tanda-gejala awal retensi, menjaga hidrasi, dan segera melapor bila ada gangguan miksi.
-
Kolaborasi dengan tim medis, Bila penyebab retensi adalah obstruksi (misalnya BPH, striktur uretra), atau faktor neurologis, koordinasi untuk tindakan medis lanjutan (obat, prosedur urologi, fisioterapi, atau tindakan bedah) sangat penting.
Intervensi ini harus disesuaikan dengan penyebab, kondisi klinis, dan kebutuhan pasien.
Contoh Kasus Retensi Urin
Sebagai ilustrasi, berikut salah satu contoh kasus dari literatur di Indonesia:
Pada sebuah studi kasus pasien lansia di IGD dengan diagnosa retensi urin total, meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan selama 1×4 jam, masalah retensi belum teratasi. [Lihat sumber Disini - journal.stikvinc.ac.id]
Deskripsi kasus: pasien tidak mampu berkemih meskipun kandung kemih dalam keadaan penuh, merasakan nyeri ketika ingin berkemih. Pemeriksaan menunjukkan distensi kandung kemih, dan kateterisasi dilakukan sebagai intervensi. Namun karena tekanan uretra (obstruksi) tetap tinggi, eliminasi urin tidak berhasil dipulihkan. [Lihat sumber Disini - journal.stikvinc.ac.id]
Kasus ini menggambarkan betapa retensi urin, terutama yang disebabkan oleh obstruksi atau gangguan aliran, bisa menjadi tantangan signifikan dalam keperawatan, dan memerlukan penanganan komprehensif serta kolaborasi dengan tim urologi.
Kesimpulan
Retensi urin adalah kondisi medis penting yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara sempurna, baik sebagian maupun total. Penyebabnya bisa sangat beragam, dari pembesaran prostat, obstruksi saluran kemih, gangguan neurologis, efek anestesi/pasca operasi, hingga faktor pasca-persalinan pada wanita.
Manifestasi klinis bisa berbeda-beda: mulai dari tidak bisa berkemih sama sekali, distensi perut bagian bawah, rasa penuh kandung kemih, hingga miksi dengan sisa urin (residu). Jika tidak ditangani dengan tepat, retensi urin dapat menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi, kerusakan kandung kemih, hingga kerusakan ginjal.
Penilaian kandung kemih melalui metode objektif seperti bladder scan (ultrasonografi) maupun pemeriksaan fisik & anamnesis sangat penting. Intervensi keperawatan, seperti pemantauan eliminasi, kateterisasi bila perlu, bladder training, edukasi, dan kolaborasi tim, menjadi kunci dalam pencegahan dan penanganan.
Kasus nyata menunjukkan bahwa retensi urin, terutama akibat obstruksi atau tekanan uretra, memerlukan pendekatan menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan pemahaman dan tindakan dini, risiko komplikasi akibat retensi urin dapat diminimalkan, serta kualitas hidup pasien dapat lebih terjaga.