Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Perubahan Pola Eliminasi Urin. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/perubahan-pola-eliminasi-urin  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Perubahan Pola Eliminasi Urin - SumberAjar.com

Perubahan Pola Eliminasi Urin

Pendahuluan

Eliminasi urine adalah proses fisiologis penting untuk menjaga homeostasis, di mana tubuh membuang produk sisa metabolisme melalui urine. Proses ini melibatkan ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

Gangguan atau perubahan pada pola eliminasi urine, misalnya perubahan frekuensi, urgensi, inkontinensia, retensi, poliuria, dan lain-lain, dapat menjadi indikasi adanya disfungsi pada sistem perkemihan. Kondisi seperti itu tidak hanya berdampak pada aspek fisiologis, tetapi juga kualitas hidup, kenyamanan, psikososial, dan memerlukan intervensi keperawatan yang tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan pengertian eliminasi urin, jenis-jenis perubahan pola eliminasi, faktor penyebab, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, intervensi keperawatan, dan contoh kasus perubahan pola eliminasi.


Definisi Perubahan Pola Eliminasi Urin

Definisi Eliminasi Urin Secara Umum

Eliminasi urin merujuk pada proses pembuangan sisa metabolisme tubuh berupa cairan urine dari ginjal melalui ureter, disimpan di kandung kemih, dan dikeluarkan melalui uretra saat berkemih. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]

Dalam konteks keperawatan, eliminasi urin normal melibatkan pengosongan kandung kemih secara lengkap pada interval berkemih yang wajar, dengan volume dan frekuensi yang sesuai kebutuhan cairan tubuh. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

Definisi dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “eliminasi” berarti pengeluaran atau pembuangan zat dari dalam tubuh. Oleh karena itu, “eliminasi urin” bisa diartikan sebagai pembuangan urine dari tubuh sebagai hasil proses metabolisme dan ekskresi. Meskipun literatur keperawatan sering menggunakan istilah eliminasi urin tanpa definisi harfiah KBBI dalam artikel, makna dasarnya sesuai dengan definisi “eliminasi” + “urin.”

Definisi Menurut Para Ahli

  • Menurut Wartoanah (2016), eliminasi urin adalah pengosongan kandung kemih yang lengkap sebagai bagian dari proses eliminasi tubuh. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  • Menurut literatur dari program keperawatan, fungsi eliminasi urine sangat tergantung pada organ ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra; gangguan pada salah satu organ bisa mengganggu proses eliminasi urine. [Lihat sumber Disini - pustaka.poltekkes-pdg.ac.id]

  • Dalam konteks gangguan eliminasi urine, tim pakar keperawatan (misalnya Tim Pokja SDKI DPP PPNI) mendefinisikan “gangguan eliminasi urine” sebagai disfungsi eliminasi urine, artinya ada perubahan dari normalitas dalam produksi, penyimpanan, atau pengeluaran urine. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  • Literatur keperawatan internasional juga menyebut bahwa “impaired urinary elimination” dapat berupa ketidakmampuan melewati urine secara efektif, akibat kelainan fisik, sensori, atau sekunder terhadap kondisi penyakit lain. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com]

Dengan demikian, “perubahan pola eliminasi urin” dalam artikel ini mencakup berbagai bentuk penyimpangan dari pola normal urinasi, baik dari segi frekuensi, volume, urgensi, kemampuan pengosongan kandung kemih, maupun kontinensia.


Jenis Perubahan Pola Eliminasi

Beberapa bentuk perubahan pola eliminasi urin antara lain: frekuensi, urgensi, inkontinensia, retensi (inkonsistensi/pengosongan tidak lengkap), poliuria, nokturia, dan disfungsi lainnya. [Lihat sumber Disini - scribd.com]


Faktor Penyebab Perubahan Eliminasi

Berbagai kondisi dapat menyebabkan perubahan pola eliminasi urine. Faktor-faktor umum meliputi:


Tanda dan Gejala Kelainan Eliminasi Urin

Tanda dan gejala gangguan/pola eliminasi abnormal bisa bervariasi tergantung jenis gangguan, namun antara lain:


Pemeriksaan Penunjang

Untuk menilai dan mendeteksi perubahan pola eliminasi, beberapa pemeriksaan/bantuan penunjang dapat dilakukan:

  • Urinalisis, memeriksa karakteristik urine (adanya infeksi, darah, sel, pH, densitas, dll.), membantu mendeteksi infeksi saluran kemih, hematuria, atau abnormalitas urin lain.

  • Pencatatan pola berkemih (voiding diary / bladder diary), pencatatan waktu miksi, volume, frekuensi, episode inkontinensia, asupan cairan, urgensi; membantu membedakan jenis gangguan (frekuensi, poliuria, urgensi, retensi, inkontinensia) serta sebagai baseline sebelum intervensi keperawatan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Pengukuran residu urine (post-void residual volume), untuk mendeteksi pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau retensi urine. Pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan ultrasound atau sonografi kandung kemih. Banyak panduan keperawatan dan urologi merekomendasikan pemeriksaan residu urine saat ada dugaan retensi atau pengosongan tidak tuntas. [Lihat sumber Disini - journal.edukalia.id]

  • Pencitraan (misalnya USG, ultrasonografi saluran kemih), untuk menilai anatomi ginjal, kandung kemih, uretra, apakah ada obstruksi, batu, pembesaran kelenjar prostat, atau kelainan struktural lain yang bisa mempengaruhi eliminasi urin. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

  • Asesmen keperawatan / riwayat medis & fisik, mencakup anamnesis frekuensi/urgensi, pola cairan, riwayat penyakit ginjal, neurologis, komorbitas, penggunaan obat, serta pemeriksaan fisik abdomen, kandung kemih, perineum, dan status mobilitas. [Lihat sumber Disini - nurseslabs.com]


Intervensi Keperawatan untuk Mengatasi Gangguan Eliminasi Urin

Intervensi keperawatan harus disesuaikan dengan penyebab dan jenis gangguan eliminasi urin. Berikut beberapa tindakan berdasarkan literatur keperawatan:

  • Bladder training (latihan kandung kemih), membantu klien mengembangkan kebiasaan berkemih terjadwal, menunda dorongan untuk berkemih, melatih kontrol kandung kemih, terutama pada inkontinensia atau overactive bladder. [Lihat sumber Disini - nurseslabs.com]

  • Latihan otot dasar panggul (pelvic floor muscle exercises / PFME), memperkuat otot panggul dan sfingter uretra untuk mendukung kontinensia, terutama pada inkontinensia stress atau urgensi. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]

  • Manajemen cairan dan asupan nutrisi, mengatur intake cairan (tidak berlebihan, tidak kurang), memantau asupan & output (I/O), menjaga keseimbangan cairan, serta menghindari faktor pemicu seperti kafein, alkohol, yang bisa mengiritasi kandung kemih. [Lihat sumber Disini - openstax.org]

  • Edukasi klien dan keluarga / caregiver, memberikan informasi tentang kebiasaan berkemih, pentingnya voiding diary, posisi saat berkemih, kebersihan perineum, dan cara mencegah infeksi saluran kemih. [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]

  • Pengelolaan lingkungan dan mobilitas, memastikan akses mudah ke toilet, memfasilitasi kebutuhan toileting, terutama bagi klien lanjut usia atau dengan mobilitas terbatas (functional incontinence). [Lihat sumber Disini - opentextbc.ca]

  • Perawatan kateterisasi bila diperlukan, pada kasus retensi urine, retensi kronik, atau setelah operasi, jika klien tidak mampu berkemih secara normal. [Lihat sumber Disini - journal.edukalia.id]

  • Pemantauan & evaluasi secara berkala, memantau output urin, karakteristik urine, sisa urine (residual), gejala, serta respon terhadap intervensi; melakukan penyesuaian rencana keperawatan sesuai kebutuhan. [Lihat sumber Disini - journal.edukalia.id]


Contoh Kasus Perubahan Pola Eliminasi

Sebuah studi kasus di Indonesia melaporkan klien pasca operasi Transurethral Resection of the Prostate (TURP) (TURP) untuk indikasi pembesaran prostat (“BPH”) mengalami gangguan eliminasi urine: pasien merasa tidak nyaman dengan kateter 3-way, mengalami retensi atau pengosongan tidak sempurna, serta karakteristik urine awal tidak normal. Intervensi keperawatan berupa manajemen eliminasi urine, termasuk irigasi kateter, monitoring intake-output cairan, dan evaluasi berkala, berhasil mengembalikan pengosongan kandung kemih secara lebih baik dan urine kembali normal. [Lihat sumber Disini - journal.edukalia.id]

Kasus ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan terencana dan spesifik terhadap kondisi memegang peranan penting untuk mengatasi perubahan pola eliminasi akibat prosedur medis.


Kesimpulan

Perubahan pola eliminasi urin, mencakup frekuensi, urgensi, inkontinensia, retensi, poliuria, dysuria, dan bentuk kelainan lainnya, merupakan masalah klinis yang signifikan dan memerlukan perhatian serius. Definisi eliminasi urin maupun gangguan eliminasi telah dijelaskan oleh literatur keperawatan; gangguan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, infeksi, disfungsi mekanik, neurologis, perubahan fisiologis, maupun akibat prosedur medis.

Penting bagi tenaga kesehatan, terutama perawat, untuk melakukan assessment menyeluruh, menggunakan pemeriksaan penunjang seperti urinalisis, voiding diary, dan pemeriksaan residu urine/USG, serta merancang intervensi keperawatan yang individual berdasarkan penyebab. Intervensi seperti bladder training, latihan otot panggul, manajemen cairan, edukasi, dan perawatan kateter dapat membantu mengembalikan pola eliminasi yang normal dan memperbaiki kualitas hidup klien.

Dengan pemahaman yang tepat dan intervensi yang terencana, perubahan pola eliminasi urin dapat dikelola secara efektif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Perubahan pola eliminasi urin adalah kondisi ketika terjadi gangguan pada frekuensi, urgensi, volume, maupun kemampuan mengosongkan kandung kemih. Gangguan ini dapat berupa frekuensi meningkat, urgensi, retensi, poliuria, nocturia, atau inkontinensia.

Penyebab perubahan eliminasi urin meliputi infeksi saluran kemih, gangguan otot dasar panggul, obstruksi saluran kemih, gangguan neurologis, pola hidup, asupan cairan tidak seimbang, serta kondisi medis seperti gagal ginjal atau pembesaran prostat.

Gejalanya dapat berupa sering buang air kecil, urgensi, rasa tidak lampias, nyeri saat berkemih, aliran urin lemah, keluarnya urin tidak sengaja (inkontinensia), atau volume urine yang terlalu banyak maupun terlalu sedikit.

Pemeriksaan penunjang meliputi urinalisis, bladder diary, USG, pengukuran residual urine, serta pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan untuk menilai fungsi eliminasi urin secara menyeluruh.

Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain bladder training, latihan otot dasar panggul, manajemen cairan, edukasi kesehatan, memfasilitasi akses toileting, dan perawatan kateter jika diperlukan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya Pola Eliminasi: Gangguan yang Menyertai dan Implikasi Klinis Pola Eliminasi: Gangguan yang Menyertai dan Implikasi Klinis Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Gangguan Eliminasi Fekal: Definisi dan Contoh Gangguan Eliminasi Fekal: Definisi dan Contoh Perubahan Pola Eliminasi Urin: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Perubahan Pola Eliminasi Urin: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Konstipasi: Konsep, Faktor Risiko, dan Pencegahan Konstipasi: Konsep, Faktor Risiko, dan Pencegahan Pengaruh Diet Keto terhadap Efektivitas Pengobatan Pengaruh Diet Keto terhadap Efektivitas Pengobatan Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Risiko Retensi Urin Risiko Retensi Urin Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Dampak Diet Ekstrem pada Penggunaan Obat Dampak Diet Ekstrem pada Penggunaan Obat Interaksi Obat: Konsep, Risiko Klinis, dan Pencegahan Interaksi Obat: Konsep, Risiko Klinis, dan Pencegahan Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Kepatuhan Pengobatan TB Kepatuhan Pengobatan TB Kesiapan Perubahan Perilaku: Konsep, Tahapan Perubahan, dan Implikasinya Kesiapan Perubahan Perilaku: Konsep, Tahapan Perubahan, dan Implikasinya Perubahan Budaya: Konsep dan Faktor Pendorong Perubahan Budaya: Konsep dan Faktor Pendorong
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…