Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pola-eliminasi-pengertian-dan-gangguannya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya - SumberAjar.com

Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya

Pendahuluan

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar fisiologis, salah satunya adalah proses eliminasi, yaitu proses pengeluaran sisa metabolisme tubuh melalui urine (BAK) atau feses (BAB). Eliminasi yang normal sangat penting untuk menjaga homeostasis tubuh agar tidak terjadi penimbunan zat sisa metabolisme yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Namun dalam praktik keperawatan, sering dijumpai pasien dengan pola eliminasi yang terganggu, misalnya kesulitan berkemih, konstipasi, inkontinensia, atau retensi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengertian pola eliminasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, jenis gangguan eliminasi, dampaknya, serta bagaimana penilaian dan intervensi keperawatan yang sesuai sangat penting. Artikel ini membahas konsep “pola eliminasi”, gangguannya, serta pendekatan keperawatan terhadap masalah eliminasi.


Definisi Pola Eliminasi

Definisi Umum

Eliminasi adalah proses pembuangan limbah metabolisme tubuh, baik berupa urine maupun feses, dari sistem kemih dan sistem pencernaan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Pola eliminasi merujuk pada kebiasaan/perilaku serta fungsi normal tubuh dalam melakukan proses eliminasi, termasuk frekuensi, volume, konsistensi, dan kenyamanan saat BAK/BAB.

Definisi Pola Eliminasi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “eliminasi” dapat dipahami sebagai pembuangan kotoran atau sisa dari hasil pencernaan tubuh. Dalam konteks keperawatan, “pola eliminasi” berarti pola normal pembuangan sisa metabolisme tubuh melalui urine atau feses.

Definisi Pola Eliminasi Menurut Para Ahli

Dengan demikian, “pola eliminasi” mencakup aspek fungsional, kebiasaan, dan kualitas dari proses eliminasi, bukan sekadar konsep medis semata, melainkan juga indikator kebutuhan dasar manusia dalam keperawatan.


Faktor yang Mempengaruhi Pola Eliminasi

Berbagai faktor dapat mempengaruhi bagaimana seseorang melakukan eliminasi urine maupun feses. Berikut beberapa faktor penting:


Jenis-Jenis Gangguan Eliminasi

Gangguan eliminasi bisa terjadi pada sistem urin (BAK) maupun sistem fekal (BAB). Berikut jenis-jenis umum gangguan eliminasi:


Dampak Gangguan Eliminasi pada Pasien

Gangguan pola eliminasi tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga pada psikososial, kenyamanan, serta kualitas hidup pasien:

  • Secara fisiologis, gangguan eliminasi dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri (misalnya konstipasi → nyeri rektum, hemoroid), distensi abdomen, infeksi saluran kemih, retensi urin, kerusakan ginjal, hingga komplikasi serius pada sistem pencernaan atau urologi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]

  • Pada pasien kritis atau rawat inap, gangguan eliminasi, terutama fekal, dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas jika tidak dikelola dengan baik. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]

  • Dampak psikososial: pasien mungkin merasa malu, stres, cemas, atau kehilangan rasa percaya diri, terutama pada kasus inkontinensia atau feses/urine tidak terkendali, yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan kepatuhan pada perawatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Ketidaknyamanan dan penurunan kualitas hidup: gangguan eliminasi dapat membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur (misal nokturia), mempengaruhi nutrisi dan hidrasi (karena takut BAK/BAB), dan memperburuk kesehatan umum.


Penilaian Pola Eliminasi dalam Keperawatan

Penilaian pola eliminasi oleh perawat meliputi beberapa aspek penting untuk mendeteksi adanya gangguan eliminasi:

  • Anamnesis dan riwayat eliminasi: frekuensi BAK/BAB, konsumsi cairan, diet, kebiasaan aktivitas, kebiasaan menahan BAK/BAB, riwayat operasi, penggunaan obat, serta keluhan seperti nyeri, dorongan, inkontinensia, retensi, sulit BAB/BAB tidak tuntas.

  • Pengamatan fisik dan inspeksi: palpasi abdomen, pemeriksaan kandung kemih, inspeksi region perineal atau anus, pengamatan konsistensi feses/urine, volume, warna, bau, adanya darah, lendir, atau perubahan lainnya.

  • Dokumentasi pola eliminasi, sesuai dengan standar keperawatan: mencatat volume urine, frekuensi BAB/BAK, karakteristik feses/urine, keluhan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Pendokumentasian yang baik memudahkan diagnosis keperawatan dan intervensi tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Penggunaan alat ukur/penilaian: misalnya observasi feses (konsistensi, frekuensi), penggunaan skala masalah eliminasi, catatan intake/output, serta evaluasi kebutuhan perawatan.

  • Analisis kebutuhan pasien: berdasarkan hasil assessment, menentukan apakah pasien mengalami gangguan eliminasi aktual atau berisiko, serta merencanakan intervensi sesuai diagnosis keperawatan.


Intervensi Keperawatan pada Gangguan Eliminasi

Berdasarkan hasil penilaian, perawat dapat melakukan berbagai intervensi untuk membantu pasien mengembalikan pola eliminasi yang sehat:

  • Intervensi non-farmakologis: misalnya pendekatan perubahan gaya hidup, peningkatan asupan cairan dan serat, dorongan aktivitas fisik dan mobilisasi, latihan otot dasar panggul, edukasi kebiasaan toileting.

  • Terapi komplementer: pada kasus konstipasi, misalnya penggunaan teknik pijat abdomen, seperti teknik pijat abdomen gaya Swedia, yang terbukti dapat meningkatkan peristaltik usus dan memperlancar defekasi, terutama pada lansia. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]

  • Perawatan dan manajemen urin: pada gangguan eliminasi urin seperti retensi atau inkontinensia, dapat dilakukan perawatan kateter bila diperlukan, latihan otot panggul, manajemen frekuensi berkemih, edukasi kebiasaan berkemih, serta kolaborasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]

  • Pendidikan dan konseling pasien: membangun komunikasi empatik dan terbuka agar pasien tidak malu membicarakan masalah eliminasi; memberikan pemahanan pentingnya pola eliminasi sehat dan dukungan dalam implementasi perubahan gaya hidup. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Monitoring dan evaluasi rutin: mencatat perkembangan eliminasi, frekuensi, volume, konsistensi, keluhan, serta mengevaluasi apakah intervensi efektif dan perlu disesuaikan.


Contoh Kasus Masalah Eliminasi

Misalnya pada kasus pasien lansia dengan konstipasi kronik dan hemoroid: setelah dilakukan intervensi pijat abdomen ala Swedia ditambah edukasi diet tinggi serat dan latihan kebiasaan BAB teratur, terjadi peningkatan frekuensi BAB dari kurang dari 2 kali/minggu menjadi reguler, konsistensi feses lebih lunak, dan keluhan nyeri defekasi berkurang. Ini sesuai laporan dari penelitian pada 2025 yang menunjukkan pijat abdomen dapat efektif memperbaiki pola defekasi pada lansia. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]

Pada kasus pasien dengan infeksi saluran kemih dan gangguan eliminasi urin, intervensi perawatan keperawatan selama 3×24 jam (misalnya edukasi tidak menahan kencing, instruksi meningkatkan asupan cairan, relaksasi, dan perawatan kandung kemih) berhasil meningkatkan frekuensi berkemih dan mengurangi rasa sakit saat berkemih. [Lihat sumber Disini - journals.prosciences.net]


Kesimpulan

Pola eliminasi, meliputi proses BAK dan BAB, adalah bagian mendasar dari kebutuhan fisiologis manusia. Gangguan pola eliminasi bisa terjadi karena berbagai faktor: asupan cairan/nutrisi, aktivitas fisik, usia, prosedur medis, dan kebiasaan. Jenis gangguannya bermacam-macam, dari diare, konstipasi, inkontinensia, retensi, hingga impaksi. Gangguan ini tidak hanya berdampak fisiologis, tetapi juga psikososial dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penilaian dan intervensi keperawatan yang sistematis dan holistik sangat penting, termasuk tindakan non-farmakologis, edukasi, perawatan kateter atau latihan otot panggul, serta terapi komplementer seperti pijat abdomen bila sesuai. Dengan pendekatan keperawatan yang tepat, banyak gangguan eliminasi dapat dicegah, dikendalikan, atau diperbaiki sehingga pasien memperoleh pola eliminasi yang sehat dan kualitas hidup yang lebih baik.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pola eliminasi adalah proses serta kebiasaan tubuh dalam mengeluarkan sisa metabolisme berupa urine dan feses. Pola ini mencakup frekuensi, volume, konsistensi, serta kenyamanan saat berkemih maupun buang air besar.

Faktor yang mempengaruhi pola eliminasi meliputi asupan cairan dan nutrisi, aktivitas fisik, usia, obat-obatan, kebiasaan menahan eliminasi, kondisi lingkungan, serta prosedur medis seperti pemasangan kateter.

Gangguan eliminasi mencakup diare, konstipasi, impaksi fekal, retensi urin, inkontinensia urin, inkontinensia fekal, serta perubahan pola berkemih seperti nokturia dan disuria.

Gangguan eliminasi dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, infeksi saluran kemih, hemoroid, distensi abdomen, gangguan ginjal, serta dampak psikologis seperti stres dan penurunan kualitas hidup.

Penilaian dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, observasi karakteristik urine dan feses, pendokumentasian intake dan output, serta penggunaan alat ukur atau skala penilaian eliminasi.

Intervensi meliputi peningkatan asupan cairan dan serat, latihan otot dasar panggul, edukasi kebiasaan toileting, pijat abdomen untuk konstipasi, manajemen kateter bila diperlukan, serta monitoring rutin pola eliminasi.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pola Eliminasi: Gangguan yang Menyertai dan Implikasi Klinis Pola Eliminasi: Gangguan yang Menyertai dan Implikasi Klinis Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Gangguan Eliminasi Fekal: Konsep, Implikasi Keperawatan Perubahan Pola Eliminasi Urin Perubahan Pola Eliminasi Urin Gangguan Eliminasi Fekal: Definisi dan Contoh Gangguan Eliminasi Fekal: Definisi dan Contoh Perubahan Pola Eliminasi Urin: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Perubahan Pola Eliminasi Urin: Konsep, Penyebab, dan Implikasi Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi Gangguan Fungsi Sensorik: Konsep, Jenis, dan Implikasi Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Konstipasi: Konsep, Faktor Risiko, dan Pencegahan Konstipasi: Konsep, Faktor Risiko, dan Pencegahan Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Ketepatan Dosis Obat pada Pasien dengan Gangguan Hati Pengaruh Diet Keto terhadap Efektivitas Pengobatan Pengaruh Diet Keto terhadap Efektivitas Pengobatan Risiko Retensi Urin Risiko Retensi Urin Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Pengaruh Nutrisi terhadap Metabolisme Obat Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Perubahan Pola Bicara: Pengertian dan Contoh Kasus Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit: Definisi dan Faktor Penyebab Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit: Definisi dan Faktor Penyebab Gangguan Mekanis Pernapasan: Konsep dan Intervensi Gangguan Mekanis Pernapasan: Konsep dan Intervensi Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pengetahuan Pasien tentang Interaksi Obat–Makanan Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Pengaruh Defisiensi Mikronutrien terhadap Efek Samping Obat Dampak Diet Ekstrem pada Penggunaan Obat Dampak Diet Ekstrem pada Penggunaan Obat Kepatuhan Pengobatan TB Kepatuhan Pengobatan TB
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…