
Pola Eliminasi: Pengertian dan Gangguannya
Pendahuluan
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar fisiologis, salah satunya adalah proses eliminasi, yaitu proses pengeluaran sisa metabolisme tubuh melalui urine (BAK) atau feses (BAB). Eliminasi yang normal sangat penting untuk menjaga homeostasis tubuh agar tidak terjadi penimbunan zat sisa metabolisme yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan. Namun dalam praktik keperawatan, sering dijumpai pasien dengan pola eliminasi yang terganggu, misalnya kesulitan berkemih, konstipasi, inkontinensia, atau retensi. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pengertian pola eliminasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, jenis gangguan eliminasi, dampaknya, serta bagaimana penilaian dan intervensi keperawatan yang sesuai sangat penting. Artikel ini membahas konsep “pola eliminasi”, gangguannya, serta pendekatan keperawatan terhadap masalah eliminasi.
Definisi Pola Eliminasi
Definisi Umum
Eliminasi adalah proses pembuangan limbah metabolisme tubuh, baik berupa urine maupun feses, dari sistem kemih dan sistem pencernaan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Pola eliminasi merujuk pada kebiasaan/perilaku serta fungsi normal tubuh dalam melakukan proses eliminasi, termasuk frekuensi, volume, konsistensi, dan kenyamanan saat BAK/BAB.
Definisi Pola Eliminasi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “eliminasi” dapat dipahami sebagai pembuangan kotoran atau sisa dari hasil pencernaan tubuh. Dalam konteks keperawatan, “pola eliminasi” berarti pola normal pembuangan sisa metabolisme tubuh melalui urine atau feses.
Definisi Pola Eliminasi Menurut Para Ahli
-
Menurut Hidayat (dalam dokumen Poltekkes), eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh melalui urine atau bowel (feses). [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Berdasarkan literatur keperawatan, proses eliminasi urine melibatkan organ ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra; sedangkan eliminasi feses melibatkan sistem pencernaan, usus besar, rektum, dan anus. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam konteks perawatan keperawatan, pola eliminasi merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi agar fungsi fisiologis tubuh tetap optimal. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Dengan demikian, “pola eliminasi” mencakup aspek fungsional, kebiasaan, dan kualitas dari proses eliminasi, bukan sekadar konsep medis semata, melainkan juga indikator kebutuhan dasar manusia dalam keperawatan.
Faktor yang Mempengaruhi Pola Eliminasi
Berbagai faktor dapat mempengaruhi bagaimana seseorang melakukan eliminasi urine maupun feses. Berikut beberapa faktor penting:
-
Asupan cairan dan nutrisi: Jumlah dan jenis minum atau makan memengaruhi volume urine dan konsistensi feses. Misalnya, asupan cairan sedikit atau diet rendah serat dapat menyebabkan konstipasi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Aktivitas fisik dan tonus otot: Aktivitas fisik dan kondisi otot, khususnya otot dasar panggul dan otot usus, mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mengosongkan kandung kemih maupun menggerakkan usus untuk defekasi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Kebiasaan menahan BAK/BAB: Menahan keinginan berkemih atau ber-defekasi secara terus-menerus bisa merusak fungsi kandung kemih atau usus dan menyebabkan gangguan eliminasi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Prosedur medis / penggunaan kateter / obat-obatan: Tindakan medis seperti kateterisasi, anestesi, obat tertentu bisa mengganggu kemampuan eliminasi. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Usia dan kondisi fisiologis: Lansia atau pasien dengan kondisi kronis lebih rentan mengalami perubahan pola eliminasi, misalnya melemahnya otot dasar panggul, penurunan motilitas usus, atau penurunan fungsi ginjal. [Lihat sumber Disini - eprints.umpo.ac.id]
-
Lingkungan dan kebiasaan hidup: ketersediaan fasilitas toilet, kebiasaan diet, gaya hidup (aktif/kaku), serta stres atau faktor psikologis bisa memengaruhi pola eliminasi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
Jenis-Jenis Gangguan Eliminasi
Gangguan eliminasi bisa terjadi pada sistem urin (BAK) maupun sistem fekal (BAB). Berikut jenis-jenis umum gangguan eliminasi:
-
Diare: peningkatan frekuensi feses yang bersifat cair dan tidak berbentuk, akibat percepatan transito usus, gangguan penyerapan atau sekresi dalam saluran pencernaan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Konstipasi: kondisi sulit atau jarang BAB, dengan feses keras dan kering disertai rasa tidak tuntas setelah defekasi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Impaksi fekal: akumulasi feses keras di saluran usus akibat konstipasi berkepanjangan atau retensi feses, sulit dikeluarkan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Inkontinensia fekal: ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses atau gas dari anus secara involunter, bisa disebabkan kerusakan spingter, trauma neurologis, atau penyakit neuromuscular. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Retensi urin: kondisi di mana kandung kemih tidak dapat dikosongkan sepenuhnya, menyebabkan urin tertahan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Inkontinensia urin: pengeluaran urine secara tidak terkendali, baik sebagian maupun total, tanpa disadari atau tanpa kemampuan menahan, bisa karena otot panggul lemah, disfungsi saraf, atau faktor lain. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Distensi kandung kemih / dysuria / nokturia / pola BAK tidak normal: perubahan pola berkemih seperti sering kencing, urine sedikit-sedikit, nyeri saat kencing, atau perasaan tidak nyaman saat buang air kecil, menunjukkan gangguan fungsi sistem kemih. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
Dampak Gangguan Eliminasi pada Pasien
Gangguan pola eliminasi tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi juga pada psikososial, kenyamanan, serta kualitas hidup pasien:
-
Secara fisiologis, gangguan eliminasi dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, nyeri (misalnya konstipasi → nyeri rektum, hemoroid), distensi abdomen, infeksi saluran kemih, retensi urin, kerusakan ginjal, hingga komplikasi serius pada sistem pencernaan atau urologi. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Pada pasien kritis atau rawat inap, gangguan eliminasi, terutama fekal, dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas jika tidak dikelola dengan baik. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-smg.ac.id]
-
Dampak psikososial: pasien mungkin merasa malu, stres, cemas, atau kehilangan rasa percaya diri, terutama pada kasus inkontinensia atau feses/urine tidak terkendali, yang bisa mempengaruhi kualitas hidup dan kepatuhan pada perawatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Ketidaknyamanan dan penurunan kualitas hidup: gangguan eliminasi dapat membatasi aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur (misal nokturia), mempengaruhi nutrisi dan hidrasi (karena takut BAK/BAB), dan memperburuk kesehatan umum.
Penilaian Pola Eliminasi dalam Keperawatan
Penilaian pola eliminasi oleh perawat meliputi beberapa aspek penting untuk mendeteksi adanya gangguan eliminasi:
-
Anamnesis dan riwayat eliminasi: frekuensi BAK/BAB, konsumsi cairan, diet, kebiasaan aktivitas, kebiasaan menahan BAK/BAB, riwayat operasi, penggunaan obat, serta keluhan seperti nyeri, dorongan, inkontinensia, retensi, sulit BAB/BAB tidak tuntas.
-
Pengamatan fisik dan inspeksi: palpasi abdomen, pemeriksaan kandung kemih, inspeksi region perineal atau anus, pengamatan konsistensi feses/urine, volume, warna, bau, adanya darah, lendir, atau perubahan lainnya.
-
Dokumentasi pola eliminasi, sesuai dengan standar keperawatan: mencatat volume urine, frekuensi BAB/BAK, karakteristik feses/urine, keluhan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi. Pendokumentasian yang baik memudahkan diagnosis keperawatan dan intervensi tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Penggunaan alat ukur/penilaian: misalnya observasi feses (konsistensi, frekuensi), penggunaan skala masalah eliminasi, catatan intake/output, serta evaluasi kebutuhan perawatan.
-
Analisis kebutuhan pasien: berdasarkan hasil assessment, menentukan apakah pasien mengalami gangguan eliminasi aktual atau berisiko, serta merencanakan intervensi sesuai diagnosis keperawatan.
Intervensi Keperawatan pada Gangguan Eliminasi
Berdasarkan hasil penilaian, perawat dapat melakukan berbagai intervensi untuk membantu pasien mengembalikan pola eliminasi yang sehat:
-
Intervensi non-farmakologis: misalnya pendekatan perubahan gaya hidup, peningkatan asupan cairan dan serat, dorongan aktivitas fisik dan mobilisasi, latihan otot dasar panggul, edukasi kebiasaan toileting.
-
Terapi komplementer: pada kasus konstipasi, misalnya penggunaan teknik pijat abdomen, seperti teknik pijat abdomen gaya Swedia, yang terbukti dapat meningkatkan peristaltik usus dan memperlancar defekasi, terutama pada lansia. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]
-
Perawatan dan manajemen urin: pada gangguan eliminasi urin seperti retensi atau inkontinensia, dapat dilakukan perawatan kateter bila diperlukan, latihan otot panggul, manajemen frekuensi berkemih, edukasi kebiasaan berkemih, serta kolaborasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Pendidikan dan konseling pasien: membangun komunikasi empatik dan terbuka agar pasien tidak malu membicarakan masalah eliminasi; memberikan pemahanan pentingnya pola eliminasi sehat dan dukungan dalam implementasi perubahan gaya hidup. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Monitoring dan evaluasi rutin: mencatat perkembangan eliminasi, frekuensi, volume, konsistensi, keluhan, serta mengevaluasi apakah intervensi efektif dan perlu disesuaikan.
Contoh Kasus Masalah Eliminasi
Misalnya pada kasus pasien lansia dengan konstipasi kronik dan hemoroid: setelah dilakukan intervensi pijat abdomen ala Swedia ditambah edukasi diet tinggi serat dan latihan kebiasaan BAB teratur, terjadi peningkatan frekuensi BAB dari kurang dari 2 kali/minggu menjadi reguler, konsistensi feses lebih lunak, dan keluhan nyeri defekasi berkurang. Ini sesuai laporan dari penelitian pada 2025 yang menunjukkan pijat abdomen dapat efektif memperbaiki pola defekasi pada lansia. [Lihat sumber Disini - journal.unimma.ac.id]
Pada kasus pasien dengan infeksi saluran kemih dan gangguan eliminasi urin, intervensi perawatan keperawatan selama 3×24 jam (misalnya edukasi tidak menahan kencing, instruksi meningkatkan asupan cairan, relaksasi, dan perawatan kandung kemih) berhasil meningkatkan frekuensi berkemih dan mengurangi rasa sakit saat berkemih. [Lihat sumber Disini - journals.prosciences.net]
Kesimpulan
Pola eliminasi, meliputi proses BAK dan BAB, adalah bagian mendasar dari kebutuhan fisiologis manusia. Gangguan pola eliminasi bisa terjadi karena berbagai faktor: asupan cairan/nutrisi, aktivitas fisik, usia, prosedur medis, dan kebiasaan. Jenis gangguannya bermacam-macam, dari diare, konstipasi, inkontinensia, retensi, hingga impaksi. Gangguan ini tidak hanya berdampak fisiologis, tetapi juga psikososial dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penilaian dan intervensi keperawatan yang sistematis dan holistik sangat penting, termasuk tindakan non-farmakologis, edukasi, perawatan kateter atau latihan otot panggul, serta terapi komplementer seperti pijat abdomen bila sesuai. Dengan pendekatan keperawatan yang tepat, banyak gangguan eliminasi dapat dicegah, dikendalikan, atau diperbaiki sehingga pasien memperoleh pola eliminasi yang sehat dan kualitas hidup yang lebih baik.