
Sistem Informasi Berbasis Progressive Web App (PWA)
Pendahuluan
Perkembangan teknologi web dan kebutuhan aksesibilitas serta fleksibilitas dalam penggunaan aplikasi telah mendorong munculnya konsep aplikasi berbasis web yang dapat menyaingi aplikasi mobile native, tanpa harus menginstall dari app store. Salah satu solusi modern adalah Progressive Web App (PWA), yang memungkinkan sistem informasi dijalankan melalui browser namun menawarkan pengalaman seperti aplikasi native. Dengan mengadopsi PWA, pengembang sistem informasi bisa memperoleh keuntungan dalam hal performa, aksesibilitas, kemudahan pemeliharaan, dan kemudahan distribusi. Artikel ini membahas secara mendalam PWA, termasuk definisi, karakteristik, mekanisme teknis, keunggulan dan keterbatasannya, serta contoh penerapan pada sistem informasi, sehingga pembaca mendapat gambaran komprehensif tentang potensi PWA untuk sistem informasi modern.
Definisi Progressive Web App (PWA)
Definisi Progressive Web App secara umum
Progressive Web App adalah sebuah pendekatan pengembangan aplikasi web yang memanfaatkan teknologi modern pada browser (seperti HTML, CSS, JavaScript) untuk menghasilkan aplikasi yang dapat berjalan di berbagai perangkat, desktop maupun mobile, dan menawarkan pengalaman pengguna mirip aplikasi native. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
PWA dirancang agar aplikasi web bisa: di-install ke home screen perangkat, bekerja offline atau dalam kondisi koneksi lemah, melakukan push notification, dan menampilkan antarmuka yang responsif serta cepat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan kata lain, PWA menggabungkan jangkauan luas dari web (mudah diakses via URL, tidak perlu install via store) dengan kenyamanan dan performa seperti aplikasi mobile. [Lihat sumber Disini - ijres.org]
Definisi Progressive Web App menurut kamus (KBBI)
Hingga saat ini, istilah “Progressive Web App” belum secara resmi tercantum dalam edisi daring KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Oleh karena itu, tidak tersedia definisi baku PWA dalam KBBI.
Namun, dalam praktik teknologi informasi di Indonesia, PWA sering disebut sebagai “aplikasi web progresif”, yaitu aplikasi berbasis web yang dapat dipasang seperti aplikasi biasa dan mendukung fitur offline, instalasi, dan notifikasi.
Definisi Progressive Web App menurut para ahli
Dalam literatur akademik maupun praktisi, sejumlah peneliti dan pakar telah mendefinisikan PWA dengan menekankan aspek teknis dan pengalaman pengguna. Berikut beberapa definisi menurut ahli:
-
Dalam “Analisis Performance Progressive Web Apps Pada Aplikasi Shopee” oleh Haryanto & Saputra (2021), PWA dijelaskan sebagai “pengembangan aplikasi berbasis web yang mencakup penerapan teknologi terbaru dari browser yang dapat diakses cepat tanpa harus menginstall.” PWA memungkinkan web app dijalankan seperti aplikasi mobile dengan tampilan native. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]
-
Dalam tinjauan pustaka komprehensif “A Comprehensive Review of Progressive Web Apps” (2025), PWA digambarkan sebagai pendekatan modern yang menggabungkan kelebihan web tradisional dan native app, dengan keunggulan loading cepat, akses offline, dan kompatibilitas lintas platform. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam artikel “Progressive Web Apps (PWAs): Enhancing User Experience through Modern Web Development” (2024), PWA diartikan sebagai evolusi desain web yang memungkinkan fungsionalitas aplikasi native, seperti notifikasi, background refresh, dan offline capability, dijalankan melalui browser tanpa perlu instalasi dari app store. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam penelitian “Pengembangan Website Program Studi Teknik Informatika Berbasis PWA” (2025), penulis menyimpulkan bahwa PWA memungkinkan situs web responsif di berbagai perangkat, bisa di-install, dan beroperasi secara online-offline melalui kombinasi service worker dan caching. [Lihat sumber Disini - jurnaliptek.iti.ac.id]
Berdasarkan berbagai definisi di atas, PWA dapat disimpulkan sebagai metode pengembangan web yang menjembatani fleksibilitas web dengan pengalaman aplikasi native, menjadikannya solusi ideal untuk sistem informasi modern.
Karakteristik Utama PWA
Beberapa karakteristik utama yang membedakan PWA dari web app konvensional antara lain:
-
Responsif (Responsive), PWA dapat menyesuaikan tampilan dengan berbagai ukuran layar perangkat (desktop, tablet, smartphone). [Lihat sumber Disini - academia.edu]
-
Installable / Bisa di-pasang, Dengan mendefinisikan file manifest dan ikon, pengguna dapat “menginstall” PWA ke home screen perangkat layaknya aplikasi native, tanpa perlu lewat app store. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Offline / Connectivity independent, Berkat mekanisme caching melalui service worker, PWA dapat tetap berfungsi meskipun koneksi internet hilang atau lambat. [Lihat sumber Disini - repository.ukdw.ac.id]
-
App-like (Mirip Aplikasi Native), Interaksi, navigasi, dan pengalaman pengguna disesuaikan agar menyerupai aplikasi mobile native. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Fast / Performa Cepat, PWA umumnya memiliki waktu muat (load-time) yang lebih singkat dibanding web tradisional, memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
-
Fresh / Terus Terbarui, PWA mendukung pembaruan otomatis dan konten dinamis, sehingga pengguna selalu mendapatkan versi terbaru tanpa harus reinstall. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
-
Secure / Aman, PWA diwajibkan dijalankan melalui protokol HTTPS untuk memastikan keamanan data dan komunikasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Linkable / Dapat Ditanamkan ke URL / SEO Friendly, Karena berbasis web, PWA tetap mudah diindeks mesin pencari dan dapat dibagikan melalui URL seperti website biasa. [Lihat sumber Disini - papers.ssrn.com]
Karakteristik-karakteristik ini menunjukkan bahwa PWA mengombinasikan kekuatan web dan aplikasi native, menjadikannya kandidat kuat untuk sistem informasi modern.
Service Worker dan Offline Capabilities
Salah satu pilar teknis paling krusial dari PWA adalah penggunaan Service Worker, sebuah skrip JavaScript yang berjalan di belakang layar (background), memisahkan antara frontend (UI) dengan mekanisme caching, network request, dan pengelolaan resource. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Beberapa fungsi penting Service Worker dalam konteks PWA:
-
Caching aset & konten, Service Worker memungkinkan caching aset statis (CSS, JS, gambar, dll.) dan/atau konten dinamis pada saat pertama kali aplikasi diakses. Hal ini memungkinkan aplikasi dibuka kembali dengan cepat bahkan jika koneksi internet terputus. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]
-
Intercept request & fallback, Saat pengguna mencoba mengakses data/konten dengan koneksi lemah atau offline, Service Worker bisa menangani request dan mengirim data dari cache sebagai fallback, sehingga aplikasi tetap bisa berjalan. [Lihat sumber Disini - jurnal.amikom.ac.id]
-
Push Notification & Background Sync (opsional), Service Worker mendukung notifikasi push, sinkronisasi data latar belakang, dan update konten secara otomatis, fitur yang biasanya hanya tersedia di aplikasi native. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Performa & pengalaman pengguna lebih baik, Dengan caching dan mekanisme offline-first, pembukaan aplikasi bisa jauh lebih cepat dibanding web biasa, terutama di kondisi jaringan tidak stabil. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
Dengan demikian, penggunaan Service Worker menjadikan PWA tidak sekadar “situs web responsif”, melainkan aplikasi web yang dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai kondisi, online maupun offline, tanpa mengorbankan performa.
Instalasi PWA dan Web App Manifest
Untuk menjadikan sebuah web sebagai PWA dan bisa “diinstall” ke perangkat pengguna, ada beberapa komponen penting yang harus dipenuhi:
-
Web App Manifest, Sebuah file JSON yang mendefinisikan metadata aplikasi:
name,short_name,start_url,display(misalnyastandalone),icons(dengan berbagai ukuran), dan atribut lain yang diperlukan. Manifest ini memungkinkan browser mengenali web sebagai PWA dan menawarkan opsi install ke pengguna. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org] -
HTTPS / Secure Origin, PWA harus disajikan melalui protokol aman HTTPS agar aman dan memenuhi persyaratan browser. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Registrasi Service Worker, Dalam kode JavaScript, perlu mendaftarkan service worker untuk menangani caching, fetch event, dan kemampuan offline. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Desain Responsif (Responsive Design), Agar UI bisa optimal di berbagai perangkat dengan ukuran layar berbeda, dari desktop, tablet, hingga smartphone. [Lihat sumber Disini - jurnaliptek.iti.ac.id]
Setelah komponen di atas terpenuhi, pengguna biasanya akan mendapatkan prompt dari browser (“Add to Home Screen”) ketika mengunjungi situs tersebut, memungkinkan web “terinstall” layaknya aplikasi native, tanpa perlu melalui Play Store atau App Store. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Keunggulan PWA dibandingkan Aplikasi Mobile Native
Menggunakan PWA untuk sistem informasi memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan membangun aplikasi mobile native tradisional:
-
Biaya dan waktu pengembangan lebih efisien, Karena hanya dibangun sekali (web), tidak perlu membuat versi terpisah untuk Android, iOS, dll. [Lihat sumber Disini - papers.ssrn.com]
-
Maintenance dan update lebih mudah, Perubahan diterapkan di server, langsung tersedia untuk semua pengguna tanpa perlu update melalui app store. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
-
Jangkauan luas & aksesibilitas tinggi, Dapat diakses melalui browser di desktop, laptop, maupun mobile, tanpa install awal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Performa dan pengalaman pengguna yang baik, Dengan caching, service worker, dan optimasi lainnya, PWA dapat loading cepat dan tetap responsif meskipun kondisi jaringan buruk. [Lihat sumber Disini - journal.eng.unila.ac.id]
-
SEO dan kemudahan distribusi, Karena berbasis web, PWA tetap bisa diindeks mesin pencari dan dibagikan via URL seperti situs biasa, memudahkan distribusi dan visibilitas. [Lihat sumber Disini - papers.ssrn.com]
-
Installable tanpa app store, Mengurangi hambatan (barrier) instalasi: pengguna tinggal klik “Add to Home Screen” dari browser. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, PWA menawarkan kombinasi terbaik antara fleksibilitas web dan kenyamanan aplikasi native, cocok bagi sistem informasi yang butuh akses mudah, lintas platform, dan efisien dari sisi pengembangan & pemeliharaan.
Contoh Penerapan PWA pada Sistem Informasi
Beberapa studi dan implementasi nyata di Indonesia maupun global menunjukkan bagaimana PWA bisa diterapkan untuk sistem informasi, mulai dari pendidikan, akademik, hingga aplikasi khusus. Berikut contoh-contohnya:
-
Pada penelitian “Aplikasi Berbasis PWA sebagai Sistem Informasi Akademik untuk Sekolah”, PWA digunakan untuk mendukung operasional sekolah, membantu penyampaian informasi dan akses siswa/guru ke aplikasi dengan tampilan mobile web, sehingga sekolah bisa meninggalkan sistem manual (kertas/arsip). [Lihat sumber Disini - jurnal.geinrafflesia.com]
-
Proyek “Mentoree”, sistem pencarian mentor online berbasis PWA, menunjukkan fleksibilitas PWA: pengguna bisa mengakses sistem lewat web ataupun mobile, tanpa perlu download aplikasi khusus. [Lihat sumber Disini - jtiik.ub.ac.id]
-
Penerapan PWA pada aplikasi perpustakaan di kampus (STMIK Kharisma) membantu mahasiswa mengakses katalog pustaka dengan cepat, efisien, dan tetap bisa diakses saat jaringan kurang stabil. [Lihat sumber Disini - ojs.nitromks.ac.id]
-
Pengembangan web program studi universitas berbasis PWA berhasil meningkatkan performa, aksesibilitas, dan SEO, dengan backend menggunakan framework modern serta frontend responsif lintas perangkat. [Lihat sumber Disini - jurnaliptek.iti.ac.id]
-
Aplikasi edukasi berbasis PWA: misalnya media pembelajaran matematika dengan PWA terbukti efektif, pengguna (siswa & guru) memberikan respon positif terhadap kemudahan akses dan kinerja aplikasi. [Lihat sumber Disini - ppjp.ulm.ac.id]
Contoh-contoh di atas membuktikan bahwa PWA bukan cuma teori, tapi sudah diimplementasikan secara nyata di Indonesia dan dunia dengan hasil yang positif, terutama dalam konteks sistem informasi dan layanan berbasis web.
Tantangan dan Batasan PWA
Meski punya banyak keunggulan, PWA juga memiliki sejumlah tantangan dan keterbatasan yang perlu dipertimbangkan saat merancang sistem informasi:
-
Dukungan fitur perangkat keras terbatas, Meskipun PWA semakin mendekati pengalaman native, akses ke fitur hardware tertentu (seperti sensor kompleks, bluetooth, beberapa API khusus) masih bisa lebih terbatas dibanding aplikasi native. [Lihat sumber Disini - iscap.us]
-
Dukungan browser bervariasi, Tidak semua browser di semua perangkat mendukung seluruh fitur PWA (service worker, manifest, install prompt) secara konsisten. Hal ini mempengaruhi pengalaman pengguna. [Lihat sumber Disini - ijmsrt.com]
-
Keterbatasan performa dibanding aplikasi native kompleks, Untuk aplikasi dengan kebutuhan komputasi berat atau interaksi hardware intensif, PWA mungkin kalah dibanding aplikasi native. [Lihat sumber Disini - iscap.us]
-
Keterbatasan dalam ekosistem distribusi & monetisasi, Karena tidak selalu melalui app store, pengembang mungkin kehilangan keuntungan yang bisa didapat dari distribusi lewat platform resmi, atau kesulitan menjangkau peserta pengguna yang terbiasa lewat store. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Masalah keamanan & izin (permissions), Meskipun PWA berjalan melalui HTTPS dan service worker, manajemen izin perangkat keras & privasi bisa lebih rumit dibanding native app, terutama jika menggunakan API sensor atau fitur sensitif. [Lihat sumber Disini - scribd.com]
Dengan mengetahui tantangan ini sejak awal, pengembang sistem informasi dapat membuat keputusan yang lebih cermat: kapan PWA benar-benar cocok, dan kapan sebaiknya digunakan aplikasi native atau hybrid.
Kesimpulan
Progressive Web App (PWA) telah menjadi salah satu inovasi penting dalam dunia pengembangan aplikasi web modern. Dengan menggabungkan fleksibilitas dan kemudahan akses web serta pengalaman pengguna seperti aplikasi native, melalui fitur seperti installable, offline capability, responsif lintas perangkat, dan performa tinggi, PWA menawarkan solusi ideal untuk sistem informasi.
Implementasi PWA pada sistem informasi akademik, perpustakaan, media pembelajaran, hingga aplikasi manajemen menunjukkan bahwa PWA bukan sekadar konsep, melainkan solusi nyata yang sudah diterapkan dan berhasil menyederhanakan akses, meningkatkan performa, serta memperluas jangkauan pengguna.
Namun, PWA juga memiliki keterbatasan, terutama terkait dukungan fitur perangkat keras, variasi dukungan browser, performa pada aplikasi kompleks, serta tantangan distribusi dan izin. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk membangun sistem informasi berbasis PWA, penting untuk mempertimbangkan kebutuhan aplikasi, target pengguna, dan fitur yang dibutuhkan.
Secara keseluruhan, bagi banyak kasus sistem informasi (terutama yang fokus pada akses lintas perangkat, kemudahan distribusi, dan efisiensi pengembangan), PWA adalah pilihan yang sangat menarik, dan bisa menjadi pondasi kuat untuk sistem informasi modern, ringan, dan mudah diakses.