
Efektivitas Teknik Relaksasi
Pendahuluan
Relaksasi adalah bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental dan fisik. Di tengah tekanan hidup modern, pekerjaan, perawatan kesehatan, atau penyakit kronis, teknik relaksasi menawarkan pendekatan non-farmakologis yang relatif aman untuk membantu mengurangi stres, kecemasan, nyeri, dan meningkatkan kualitas hidup. Artikel ini membahas definisi, jenis, manfaat, prosedur, faktor pendukung, bukti ilmiah, dan penerapan teknik relaksasi pada pasien. Harapannya, pembaca mendapatkan gambaran komprehensif tentang bagaimana relaksasi dapat diintegrasikan dalam praktik klinis maupun kehidupan sehari-hari.
Definisi Teknik Relaksasi
Definisi Teknik Relaksasi Secara Umum
Teknik relaksasi dapat dipahami sebagai serangkaian metode yang dirancang untuk membantu individu mencapai keadaan tenang, mengurangi ketegangan otot, menenangkan pikiran, serta menurunkan stres fisik dan psikologis. Relaksasi umumnya melibatkan kontrol pernapasan, kesadaran tubuh, imajinasi positif, atau kombinasi aspek fisik dan mental untuk memfasilitasi pemulihan keseimbangan fisiologis dan psikologis.
Definisi Teknik Relaksasi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “relaksasi” secara umum berarti “keadaan rileks; pelepasan ketegangan fisik dan psikis.” Definisi ini menekankan aspek pelepasan ketegangan dan keadaan rileks sebagai inti dari relaksasi.
Definisi Teknik Relaksasi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dan literatur ilmiah mendeskripsikan relaksasi sebagai berikut:
-
Jacobson Edmund, melalui teknik relaksasi otot progresif (Progressive Muscle Relaxation / PMR), yaitu menegangkan dan kemudian melepaskan ketegangan otot secara sistematis untuk mencapai relaksasi otot dan mental. [Lihat sumber Disini - dovepress.com]
-
Loren Toussaint et al.: dalam penelitiannya, relaksasi termasuk pernapasan dalam (deep breathing), PMR, dan imajinasi terpimpin (guided imagery) yang terbukti meningkatkan relaksasi secara psikologis dan fisiologis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Y Luo (2024): menyatakan bahwa PMR membantu mengurangi aktivitas sistem saraf simpatik, sehingga menurunkan stres, kecemasan, dan memperbaiki kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Sebuah review sistematis kontemporer (2024) menunjukkan bahwa PMR efektif dalam menurunkan stres, kecemasan, dan depresi pada orang dewasa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, teknik relaksasi adalah metode yang terstruktur secara fisik dan/atau mental untuk menenangkan tubuh dan pikiran, dengan berbagai varian seperti pernapasan, relaksasi otot, dan imajinasi terpimpin.
Jenis-Jenis Teknik Relaksasi
Berikut ini adalah beberapa jenis teknik relaksasi yang umum digunakan dalam praktik klinis maupun non-klinis:
Nafas Dalam (Deep Breathing / Pernapasan Dalam)
Teknik ini melibatkan pengaturan pola napas: napas dalam dan perlahan, dengan fokus pada pernapasan, misalnya menarik napas dalam melalui hidung, menahan sebentar, lalu menghembuskan perlahan. Teknik pernapasan dalam membantu menurunkan ketegangan fisik, menenangkan pikiran, dan menstabilkan sistem saraf otonom.
Relaksasi Otot Progresif (Progressive Muscle Relaxation, PMR)
Metode PMR dikembangkan untuk mengenali ketegangan otot dan kemudian melepaskannya secara sadar. Prinsipnya: menegangkan kelompok otot tertentu secara bertahap lalu melepaskan, biasanya dilakukan dari kaki ke kepala atau sebaliknya. Teknik ini membantu mengurangi ketegangan fisik, stres, kecemasan, dan meningkatkan rasa rileks. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
Guided Imagery (Imajinasi Terpimpin)
Guided imagery atau imajinasi terpimpin memanfaatkan daya imajinasi seseorang untuk membayangkan gambaran mental yang menenangkan, misalnya suasana alam, tempat nyaman, pengalaman menyenangkan, dengan tujuan menenangkan pikiran dan tubuh. Teknik ini membantu mengubah respons stres, mengurangi kecemasan/nyeri, dan meningkatkan relaksasi psikologis. [Lihat sumber Disini - dovepress.com]
Teknik-teknik ini bisa dilakukan sendiri (self-practice) atau dibimbing oleh terapis/perawat, dan terkadang dikombinasikan (misalnya nafas dalam + guided imagery) agar efek relaksasinya lebih optimal.
Manfaat Teknik Relaksasi bagi Pasien
Penerapan teknik relaksasi menawarkan sejumlah manfaat, terutama bagi pasien, antara lain:
-
Mengurangi stres, kecemasan, dan depresi, Beberapa penelitian menunjukkan bahwa PMR efektif dalam menurunkan tingkat stres, kecemasan, dan bahkan depresi pada orang dewasa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Meningkatkan kualitas tidur, Meta-analisis terbaru (2025) menunjukkan bahwa PMR dapat meningkatkan kualitas tidur pada individu yang dirawat di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - japendi.publikasiindonesia.id]
-
Mengurangi nyeri, Teknik seperti guided imagery telah dipakai pada pasien dismenore, pasca-operasi, atau kondisi kronis untuk membantu menurunkan intensitas nyeri. [Lihat sumber Disini - jurnals.akimba.ac.id]
-
Menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kondisi kardiovaskular, Pada lansia dengan hipertensi, guided imagery dilaporkan berpengaruh signifikan terhadap penurunan tekanan darah. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukjp.ac.id]
-
Meningkatkan kualitas hidup, kesehatan mental dan fisik, Kombinasi relaksasi dapat mendukung kesehatan secara holistik, termasuk memperbaiki suasana hati, menurunkan ketegangan otot, dan membantu pemulihan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Sebagai intervensi non-farmakologis yang aman dan praktis, Karena tidak melibatkan obat, teknik relaksasi relatif bebas efek samping, bisa dilakukan mandiri atau dibimbing, cocok untuk berbagai kondisi (prosedur bedah, penyakit kronis, lansia, dll).
Prosedur Pelaksanaan Teknik Relaksasi
Berikut gambaran prosedur umum pelaksanaan teknik relaksasi:
-
Persiapan lingkungan
-
Pilih tempat tenang, nyaman, dengan sedikit gangguan suara atau cahaya.
-
Pastikan posisi tubuh nyaman, bisa duduk santai atau berbaring.
-
-
Instruksi / pendampingan
-
Bila dilakukan bersama terapis/perawat: diberikan instruksi verbal, audio, atau panduan tertulis.
-
Bila dilakukan sendiri: bisa menggunakan panduan audio/video, atau mengikuti instruksi dari buku/manual.
-
-
Pelaksanaan teknik relaksasi
-
Untuk nafas dalam: tarik napas perlahan lewat hidung, tahan sejenak, hembuskan secara perlahan lewat mulut; ulangi beberapa kali (misalnya 5, 10 kali).
-
Untuk PMR: rentangkan, tegangkan otot kelompok tertentu (misalnya kaki), tahan beberapa detik, kemudian lepaskan perlahan, lanjutkan ke kelompok otot lainnya (tangan, bahu, leher, wajah).
-
Untuk guided imagery: tutup mata (jika nyaman), bayangkan secara detail lingkungan atau situasi yang menenangkan, suara alam, angin, pemandangan, sensasi nyaman, sambil menjaga napas dan rileks tubuh.
-
-
Durasi dan frekuensi
-
Durasi bisa bervariasi; banyak studi memakai sesi ~20 menit. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Frekuensi tergantung kebutuhan: bisa harian, beberapa kali seminggu, atau sesuai rekomendasi terapis.
-
-
Monitoring dan evaluasi efek
-
Sebelum dan setelah relaksasi, pasien/individu bisa dinilai tingkat stres, kecemasan, nyeri, tekanan darah, kualitas tidur, atau indikator subyektif seperti rasa nyaman.
-
Jika dilakukan dalam setting klinis, dokumentasikan respons dan perkembangan.
-
Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Relaksasi
Keberhasilan teknik relaksasi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
-
Konsistensi dan frekuensi latihan, Sesi yang rutin dan teratur lebih cenderung menghasilkan efek positif jangka panjang dibanding latihan sporadis.
-
Kenyamanan lingkungan, Lingkungan yang tenang, aman, bebas gangguan akan mendukung proses relaksasi, sedangkan lingkungan ramai atau stres akan mengurangi efektivitas.
-
Kepatuhan dan motivasi individu, Kemauan untuk mengikuti instruksi, fokus, dan memberi waktu cukup, sangat berpengaruh terhadap hasil.
-
Jenis dan kondisi individu / pasien, Kondisi fisik, mental, tingkat stres dasar, dan kondisi penyakit dapat mempengaruhi respons terhadap relaksasi. Misalnya, pasien kronis, lansia, atau pasca-operasi mungkin butuh pendekatan lebih adaptif.
-
Panduan / pelatihan yang tepat, Instruksi dari profesional atau audio/video panduan yang baik dapat membantu seseorang melakukan teknik dengan benar sehingga hasil maksimal.
-
Kombinasi dengan intervensi lain, Kekombinasian dengan terapi lain (misalnya musik, aromaterapi, konseling) seringkali meningkatkan efek relaksasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Bukti Ilmiah tentang Efektivitas Relaksasi
Banyak penelitian ilmiah mendukung bahwa teknik relaksasi, terutama PMR, pernapasan dalam, dan guided imagery, efektif untuk berbagai aspek kesehatan. Berikut beberapa bukti:
-
Sebuah studi eksperimental menunjukkan bahwa PMR, deep breathing, dan guided imagery meningkatkan status relaksasi secara psikologis dan fisiologis dibanding kontrol. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Review sistematis tahun 2024 terhadap 46 publikasi dari 16 negara (more than 3402 orang dewasa) menunjukkan PMR efektif menurunkan stres, kecemasan, dan depresi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Meta-analisis 2025 pada pasien rawat inap menunjukkan PMR meningkatkan kualitas tidur, penting bagi pasien dengan gangguan tidur dalam setting rumah sakit. [Lihat sumber Disini - japendi.publikasiindonesia.id]
-
Pada pasien dengan penyakit kronis seperti penyakit paru (respiratory diseases), integrasi PMR membantu mengurangi tekanan psikologis dan memperbaiki tidur. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Kombinasi PMR dan guided imagery telah terbukti secara signifikan meningkatkan kesehatan psikologis pada pasien kanker. [Lihat sumber Disini - jpalliativecare.com]
-
Untuk pasien dengan penyakit akut seperti COVID-19, PMR membantu memperbaiki kualitas tidur, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Pada pasien lansia dengan hipertensi, guided imagery menunjukkan penurunan tekanan darah setelah intervensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukjp.ac.id]
-
Studi pada pasien pasca-operasi (misalnya operasi caesarea) menunjukkan bahwa kombinasi teknik relaksasi seperti nafas dalam + guided imagery mengurangi intensitas nyeri. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
Secara keseluruhan, bukti ilmiah mendukung bahwa teknik relaksasi memberikan efek positif, baik psikologis maupun fisiologis, pada berbagai populasi: pasien rawat inap, lansia, pasien kronis, pasien bedah, maupun orang sehat.
Contoh Penerapan Relaksasi pada Pasien
Berikut beberapa contoh penerapan nyata teknik relaksasi dalam konteks perawatan/pasien:
-
Di sebuah penelitian (2025) pada 20 lansia di Desa Bambapula, teknik guided imagery signifikan menurunkan tingkat stres. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
-
Pada remaja dengan dismenore, penerapan guided imagery selama beberapa hari berhasil menurunkan intensitas nyeri dari skala sedang menjadi ringan. [Lihat sumber Disini - jurnals.akimba.ac.id]
-
Pada lansia dengan hipertensi di Desa Pinotu, terapi guided imagery dilaporkan menurunkan tekanan darah secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.ukjp.ac.id]
-
Pada pasien post operasi sectio caesarea, kombinasi relaksasi nafas dalam dan guided imagery membantu menurunkan nyeri secara progresif. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Untuk pasien dengan penyakit kronis atau penyakit pernapasan, integrasi PMR dalam program rehabilitasi meningkatkan kesehatan mental, tidur, dan kualitas hidup secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Pada pasien COVID-19, PMR membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup serta tidur selama masa perawatan. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Kesimpulan
Teknik relaksasi, termasuk pernapasan dalam, relaksasi otot progresif (PMR), dan guided imagery, adalah metode non-farmakologis yang terbukti efektif dalam membantu menurunkan stres, kecemasan, depresi, nyeri, memperbaiki kualitas tidur, dan mendukung pemulihan kesehatan mental dan fisik pada berbagai jenis pasien. Keberhasilan teknik ini sangat bergantung pada konsistensi praktik, kenyamanan lingkungan, motivasi individu, serta panduan yang tepat. Banyak bukti ilmiah dari periode 2021, 2025 menunjukkan bahwa penerapan teknik relaksasi dapat menjadi bagian penting dari perawatan holistik, baik dalam setting rumah sakit, klinik, maupun perawatan mandiri. Oleh karena itu, integrasi teknik relaksasi dalam praktik kesehatan dan kesejahteraan layak dipertimbangkan sebagai strategi komplementer untuk mendukung kesehatan fisik dan mental.