
Sistem Informasi Produksi: Pengertian dan Penerapannya
Pendahuluan
Kinerja produksi di perusahaan, terutama pada sektor manufaktur, menjadi salah satu penentu utama keberhasilan perusahaan dalam memenuhi permintaan, menjaga kualitas, dan mengelola biaya secara efektif. Untuk mendukung hal ini, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu mengelola data produksi, memonitor proses, dan menyediakan informasi akurat bagi pengambilan keputusan. Sistem tersebut dikenal sebagai sistem informasi produksi. Dengan kemajuan teknologi informasi, implementasi sistem informasi produksi semakin relevan untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kecepatan operasional perusahaan. Artikel ini membahas pengertian sistem informasi produksi dari berbagai perspektif, landasan konsep, hingga penerapannya di dunia nyata industri manufaktur.
Definisi Sistem Informasi Produksi
Definisi Secara Umum
Secara umum, sistem informasi adalah susunan dari elemen, seperti orang, hardware, software, data, dan jaringan, yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan informasi untuk mendukung operasional, manajerial, dan strategi suatu organisasi. [Lihat sumber Disini - repository.bsi.ac.id]
Sedangkan sistem informasi produksi merujuk pada bagian dari sistem informasi organisasi yang secara khusus dirancang untuk mendukung fungsi-fungsi produksi, mulai dari perencanaan, pengolahan bahan baku, pelaksanaan produksi, hingga pelaporan hasil produksi dan manajemen persediaan. [Lihat sumber Disini - repository.bsi.ac.id]
Dengan demikian, sistem informasi produksi secara umum merujuk pada suatu sistem terintegrasi yang memfasilitasi pengelolaan dan pemantauan proses produksi serta penyediaan informasi bagi manajemen untuk pengambilan keputusan.
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “sistem” dapat diartikan sebagai sekumpulan unsur yang saling berhubungan untuk membentuk keseluruhan, sedangkan “informasi” adalah keterangan atau kabar yang memberi pengetahuan. Oleh karena itu, “sistem informasi” bisa diartikan sebagai sekumpulan unsur yang saling terkait untuk menghasilkan, mengelola, dan menyebarkan informasi. Apabila dikombinasikan dengan “produksi”, maka “sistem informasi produksi” dapat dipahami sebagai sistem yang dirancang untuk mendukung proses produksi dengan pengelolaan informasi secara terstruktur dan sistematis. (Catatan: definisi dari KBBI di sini bersifat interpretatif berdasarkan makna sistem dan informasi, mengingat dalam literatur akademik, definisi formal cenderung menggunakan istilah “sistem informasi manajemen / manufaktur”).
Definisi Menurut Para Ahli
Beberapa akademisi dan penelitian memberikan definisi lebih spesifik untuk sistem informasi produksi:
- Menurut Dinata (dalam sumber referensi), sistem informasi produksi adalah “sebuah sistem informasi yang menyediakan informasi dan juga mengolah informasi tersebut yang digunakan pada fungsi-fungsi produksi”. Hal ini menunjukkan bahwa sistem informasi produksi tidak hanya mengumpulkan data, tetapi mengolah data produksi menjadi informasi yang berguna untuk manajemen. [Lihat sumber Disini - repository.bsi.ac.id]
- Dalam penelitian di perusahaan furnitur rotan, disebutkan bahwa sistem informasi produksi mencakup basis data terintegrasi yang menangani data bahan baku, produk, proses produksi, dan laporan produksi, sehingga memudahkan pengawasan lantai produksi dan mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Pada penelitian penerapan sistem informasi manajemen produksi di perusahaan manufaktur conveyor belt, sistem informasi produksi terintegrasi meningkatkan rantai nilai data dan informasi antar fungsi manajemen, sehingga memperbaiki perencanaan produksi, pengadaan bahan baku, dan pemenuhan pesanan secara tepat waktu. [Lihat sumber Disini - dinastirev.org]
- Dalam studi tentang perusahaan flooring kayu, sistem informasi produksi terkomputerisasi memungkinkan perusahaan mendapatkan informasi yang tepat dan relatif cepat, mengurangi redundansi data, menjaga keamanan dan kelanggengan data dibanding pencatatan manual, dan mempermudah pembuatan laporan stok dan produksi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi produksi adalah sistem informasi khusus dalam organisasi/manufaktur yang fokus mendukung kegiatan produksi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan, dengan memanfaatkan pengolahan data secara efektif dan terintegrasi.
Tujuan dan Fungsi Sistem Informasi Produksi
Sistem informasi produksi memiliki beberapa tujuan dan fungsi utama, antara lain:
- Mendukung pengolahan data produksi secara cepat dan akurat, baik data bahan baku, proses produksi, stok, maupun hasil produksi akhir. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Mempermudah pembuatan laporan produksi, stok, serta pelacakan proses produksi sehingga memudahkan manajemen dalam memonitor kinerja produksi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Mengurangi kesalahan pencatatan manual, redundansi data, kehilangan arsip, atau inkonsistensi data, sehingga data lebih aman, terstruktur, dan dapat diandalkan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Mempercepat pengambilan keputusan manajerial karena informasi tersedia lebih cepat, lengkap, dan relevan bagi perencanaan produksi, pengadaan bahan, kontrol kualitas, dan distribusi. [Lihat sumber Disini - jurnalindustri.petra.ac.id]
- Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses produksi serta manajemen persediaan, sehingga perusahaan dapat merespons permintaan pasar dengan lebih optimal. [Lihat sumber Disini - dinastirev.org]
Komponen Utama dalam Sistem Informasi Produksi
Dalam penerapannya, sistem informasi produksi terdiri atas beberapa komponen penting:
- Data dan Database: Menyimpan informasi terkait bahan baku, stok, proses produksi, hasil produksi, laporan. Studi perancangan sistem dalam perusahaan furnitur rotan menekankan pentingnya basis data terintegrasi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Perangkat Lunak / Sistem (Software/System): Untuk menginput, memproses, dan menghasilkan informasi dari data, misalnya sistem berbasis web dengan database seperti MySQL, serta modul untuk produksi, persediaan, stok, laporan, dsb. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
- Prosedur dan Alur Produksi (Workflow / SOP): Definisi proses produksi, dari perencanaan, pembelian bahan, pelaksanaan produksi, hingga pelaporan, yang sistem informasinya mendukung. Pada beberapa penelitian, alur kerja dan SOP untuk produksi digabung dengan sistem informasi untuk menjaga konsistensi dan kinerja. [Lihat sumber Disini - jurnal.itg.ac.id]
- Pemangku Kepentingan / Pengguna: Pihak manajemen, staf produksi, gudang, bagian pembelian, hingga pemilik, yang menggunakan sistem untuk input data, monitoring, dan pengambilan keputusan. [Lihat sumber Disini - repository.bsi.ac.id]
Penerapan Sistem Informasi Produksi di Dunia Industri (Studi Kasus & Temuan Empiris)
Berikut beberapa implementasi nyata sistem informasi produksi pada perusahaan/manufaktur di Indonesia:
- Di perusahaan dengan sistem kerja job-order pada manufaktur conveyor belt, implementasi sistem informasi manajemen produksi terintegrasi berhasil mengatasi permasalahan seperti keterlambatan informasi ketersediaan komponen, keterlambatan pembelian bahan, informasi pemeriksaan produk, sehingga perencanaan produksi dan produktivitas kerja meningkat. [Lihat sumber Disini - dinastirev.org]
- Pada perusahaan flooring kayu (pembuatan lantai kayu), sistem informasi produksi memungkinkan staf untuk mengambil keputusan lebih cepat, melakukan input dan pencarian data produksi, serta membuat laporan stok dan produksi secara efisien. Sistem ini menggantikan pencatatan manual yang selama ini memakan waktu dan rawan kesalahan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Di perusahaan furnitur rotan, sistem baru dengan database terintegrasi memperbaiki proses penyimpanan data, updating data, pembuatan laporan, dan meningkatkan pengawasan di lantai produksi, mengatasi kelemahan sistem lama yang masih manual. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Di perusahaan manufaktur kayu lapis (timber), sistem informasi produksi dirancang untuk mengelola data supplier, bahan baku, proses produksi, hasil produksi, serta laporan, membantu perusahaan mempercepat pengolahan data produksi dibanding metode konvensional. [Lihat sumber Disini - ejournal.unama.ac.id]
Selain itu, implementasi sistem informasi produksi berbasis web (menggunakan database relasional seperti MySQL atau SQL Server) semakin populer, karena memungkinkan akses informasi secara real-time, pelaporan yang terstruktur, dan integrasi antar fungsi seperti persediaan, produksi, dan penjualan. [Lihat sumber Disini - journal.mediapublikasi.id]
Manfaat & Dampak Positif Sistem Informasi Produksi bagi Perusahaan
Implementasi sistem informasi produksi memberikan sejumlah dampak dan manfaat bagi perusahaan, di antaranya:
- Peningkatan efisiensi operasional, karena proses input, monitoring, dan laporan produksi lebih cepat dibanding pencatatan manual.
- Pengurangan kesalahan manusia (error), data lebih konsisten, pengulangan (redundansi) data diminimalkan, serta risiko kehilangan arsip berkurang.
- Kemudahan pelacakan & audit, histori produksi, stok, penggunaan bahan baku dapat dilacak dengan mudah, mempermudah kontrol kualitas dan audit internal.
- Pengambilan keputusan lebih tepat waktu dan berbasis data, manajemen dapat segera melihat laporan produksi, stok, kebutuhan bahan baku, dan merespons dengan cepat sesuai kondisi nyata.
- Transparansi dan koordinasi antar departemen lebih baik, departemen produksi, gudang, pembelian, dan manajemen bisa berbagi data dan informasi dengan mudah dalam satu sistem terintegrasi.
- Fleksibilitas & skalabilitas, sistem berbasis web atau terkomputerisasi memungkinkan perusahaan berkembang tanpa dibatasi metode manual, serta memudahkan adaptasi terhadap perubahan kebutuhan produksi.
Tantangan dan Pertimbangan dalam Implementasi Sistem Informasi Produksi
Walaupun banyak manfaat, penerapan sistem informasi produksi juga menghadapi tantangan, misalnya:
- Kebutuhan sumber daya (hardware, software, database) serta keahlian teknis dalam mengembangkan dan memelihara sistem, terutama untuk perusahaan kecil atau UKM.
- Resistensi terhadap perubahan, staf yang terbiasa dengan metode manual mungkin butuh adaptasi agar bisa menerima sistem baru.
- Konsistensi data dan integritas sistem, jika data awal salah atau input tidak disiplin, maka output informasi juga bisa salah atau menyesatkan.
- Biaya awal implementasi dan pelatihan, meskipun dalam jangka panjang dapat hemat, di awal perusahaan perlu investasi.
- Kesesuaian sistem dengan proses produksi aktual, sistem harus dirancang sesuai alur kerja perusahaan agar efektif, tidak malah membuat workflow menjadi rumit.
Rekomendasi Praktis untuk Implementasi Sistem Informasi Produksi
Untuk perusahaan/manufaktur yang ingin menerapkan sistem informasi produksi, hal-hal berikut sebaiknya diperhatikan:
- Lakukan analisis proses produksi secara menyeluruh sebelum merancang sistem, pahami alur kerja, bahan baku, stok, output, pelaporan, dan kebutuhan pengguna.
- Gunakan database terintegrasi dan sistem berbasis web jika memungkinkan, mempermudah akses, pelaporan, dan manajemen data secara real-time.
- Libatkan semua stakeholder (produksi, gudang, manajer, pembelian) sejak awal agar sistem sesuai kebutuhan nyata dan mendapat dukungan penuh.
- Terapkan standar prosedur operasional (SOP) untuk input data dan proses produksi agar data konsisten dan sistem berjalan dengan baik.
- Lakukan evaluasi dan pemeliharaan secara berkala, update data, backup database, dan pelatihan ulang staf agar sistem tetap optimal.
Kesimpulan
Sistem informasi produksi adalah elemen penting dalam perusahaan manufaktur maupun industri manapun yang memiliki proses produksi. Dengan mendefinisikan sistem informasi produksi secara tepat, sebagai sistem yang mengolah data produksi menjadi informasi berguna, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi, akurasi, dan kecepatan operasional. Banyak penelitian menunjukkan bahwa implementasi sistem informasi produksi, terutama berbasis web dan database, memberikan manfaat signifikan: pengurangan kesalahan manual, kemudahan pelaporan, percepatan pengambilan keputusan, serta koordinasi antar departemen yang lebih baik. Namun, agar implementasinya berhasil, perusahaan perlu merancang sistem sesuai konteks produksi, melibatkan stakeholder, dan menerapkan SOP. Dengan demikian, sistem informasi produksi bukan sekadar alat digitalisasi, melainkan fondasi strategis untuk keberlanjutan dan daya saing industri.