
Stigma Sosial: Konsep dan Dampaknya dalam Masyarakat
Pendahuluan
Fenomena stigma sosial menjadi salah satu isu penting dalam kajian sosiologi dan psikologi sosial karena berkaitan langsung dengan cara masyarakat memaknai perbedaan, stereotip, dan diskriminasi terhadap orang atau kelompok tertentu. Stigma sosial seringkali menghasilkan konsekuensi serius, seperti marginalisasi individu atau kelompok yang diberi label negatif, yang pada akhirnya berpengaruh pada struktur sosial, hubungan antarindividu, dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Menurut penelitian empiris, stigma dapat memunculkan efek psikologis maupun sosial yang merugikan dalam berbagai konteks, seperti penyakit, keadaan sosial tertentu, hingga karakteristik personal yang dianggap “menyimpang” dari norma umum masyarakat. Konskuensi tersebut tidak hanya berdampak bagi pihak yang distigma, tetapi juga bagi struktur sosial secara luas karena memperkuat pola prasangka dan eksklusi sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Stigma Sosial
Definisi Stigma Sosial Secara Umum
Stigma sosial secara umum merupakan suatu fenomena sosial yang menggambarkan adanya pelabelan, stereotip, serta diskriminasi yang diterima oleh individu atau kelompok karena mereka memiliki ciri atau atribut tertentu yang dianggap menyimpang atau berbeda dari norma sosial dominan. Istilah stigma sendiri memiliki akar makna dalam sosiologi klasik dan kontemporer, di mana stigma disebut sebagai atribut yang menyebabkan seseorang dinilai negatif atau direndahkan statusnya di mata masyarakat. [Lihat sumber Disini - scholar.harvard.edu]
Definisi Stigma Sosial dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma sosial didefinisikan sebagai sebuah tanda atau cap sosial yang disematkan kepada seseorang atau sekelompok orang yang berbeda, sehingga menimbulkan penilaian negatif dan isolasi dari lingkungan sosial. KBBI menekankan bahwa stigma bukan hanya label semata, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk memisahkan kelompok tertentu dari arus sosial umum. (Catatan: langsung gunakan sumber KBBI resmi ketika menambahkan ke artikel, misal dari kbbi.kemdikbud.go.id)
Definisi Stigma Sosial Menurut Para Ahli
Erving Goffman, Goffman mendefinisikan stigma sebagai atribut, perilaku, atau reputasi yang secara sosial mendiskreditkan individu atau kelompok sehingga mereka “tersisih” dari interaksi sosial normatif masyarakat. [Lihat sumber Disini - journal.waocp.org]
Link & Phelan, Definisi stigma menurut Link & Phelan menekankan adanya proses labeling, stereotyping, pemisahan, kemunduran status dan diskriminasi yang terjadi dalam konteks kekuasaan. [Lihat sumber Disini - montefioreeinstein.org]
WHO (World Health Organization), Dalam konteks kesehatan, WHO menyebut stigma sosial sebagai asosiasi negatif terhadap individu atau kelompok dengan karakteristik tertentu, seperti penyakit, yang menyebabkan mereka mengalami diskriminasi dan isolasi sosial. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Andersen (2022), Andersen menggambarkan stigma sebagai pemberian status rendah kepada individu berdasarkan atribut mereka yang tidak diinginkan oleh mayoritas masyarakat, sehingga terjadi kekurangan hak dan akses sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Bentuk-Bentuk Stigma Sosial
Stigma sosial tidak muncul dalam satu bentuk tunggal, melainkan terdiri dari beberapa bentuk yang berbeda tergantung konteks sosialnya. Pertama, stigma langsung atau eksplisit berupa labeling dan stereotyping terhadap individu yang sering disertai dengan diskriminasi terbuka dalam kehidupan sehari-hari, misalnya terhadap orang yang hidup dengan penyakit tertentu. [Lihat sumber Disini - ijmhs.biomedcentral.com] Kedua, stigma sosial dalam bentuk pengucilan sosial atau isolasi, di mana individu atau kelompok dihindari dan dibatasi kontak sosialnya oleh masyarakat sehingga mengalami keterputusan dari jaringan sosial normal. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Selain itu, ada bentuk stigma yang terinternalisasi (self-stigma) di mana individu mulai menerima pandangan negatif masyarakat dan kemudian menilai dirinya sendiri secara buruk, berdampak pada rasa percaya diri dan kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com] Bentuk lain ialah stigma struktural, terjadi melalui kebijakan atau norma sosial yang tersirat, mempengaruhi akses terhadap pendidikan, pekerjaan, maupun layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id] Dalam konteks sosial yang lebih luas, stigma juga dapat berbentuk stereotip gender atau budaya, seperti pandangan negatif terhadap perempuan yang melakukan pekerjaan malam akibat norma sosial patriarkal. [Lihat sumber Disini - ejournal.ps.fisip-unmul.ac.id]
Proses Terbentuknya Stigma Sosial
Proses terbentuknya stigma sosial dimulai dari pemberian label sosial (social labeling) terhadap individu atau kelompok yang dianggap berbeda dari norma masyarakat. Label ini kemudian dilanjutkan dengan stereotyping atau penerapan pandangan umum yang menyederhanakan kompleksitas individu menjadi sebuah ciri negatif yang mudah diidentifikasi. [Lihat sumber Disini - montefioreeinstein.org]
Setelah stereotyping, terjadi pemisahan sosial (social separation) yang berujung pada penempatan pihak yang distigma dalam kategori “kami” dan “mereka”, memperkuat batas-batas sosial yang eksklusif. [Lihat sumber Disini - montefioreeinstein.org] Proses ini diperkuat oleh prasangka dan diskriminasi, di mana individu atau kelompok yang diberi label menjadi sasaran perlakuan tidak adil, dipandang lebih rendah, atau dihindari dalam berbagai interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Adanya media sosial dan penyebaran informasi yang tidak akurat juga dapat memperkuat proses ini karena kesalahan informasi dan stereotip negatif dapat tersebar luas, membentuk persepsi yang salah terhadap kelompok tertentu. [Lihat sumber Disini - jikm.upnvj.ac.id]
Faktor Penyebab Stigma Sosial
Beberapa faktor dapat menyebabkan terbentuknya stigma sosial. Faktor pertama adalah pengetahuan dan persepsi masyarakat yang rendah terhadap fenomena tertentu, seperti penyakit menular atau kondisi sosial yang belum dipahami secara tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Kedua, norma budaya dan tradisi yang diteruskan dalam masyarakat dapat menyebabkan pandangan stereotip yang mengakar tentang siapa yang dianggap “normal” dan siapa yang dianggap “menyimpang”, sehingga muncul sikap stigma terhadap mereka yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]
Ketiga, ketakutan dan miskonsepsi, terutama terhadap risiko kesehatan atau ancaman sosial yang dirasakan, dapat memicu reaksi negatif yang dianggap wajar oleh banyak orang tetapi berujung pada stigma sosial. [Lihat sumber Disini - jurnalsosiologi.fisip.unila.ac.id]
Keempat, diskriminasi struktural dan ketidaksetaraan sosial, seperti stereotip berdasarkan gender, pekerjaan, atau status ekonomi, dapat memperkuat praktik stigma pada kelompok rentan tertentu. [Lihat sumber Disini - ejournal.ps.fisip-unmul.ac.id]
Dampak Stigma Sosial terhadap Individu dan Kelompok
Dampak stigma sosial terhadap individu dapat sangat luas. Secara psikologis, stigma dapat menyebabkan rasa rendah diri, isolasi sosial, dan penurunan kualitas hidup karena individu merasa tidak diterima oleh lingkungan sosialnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.untirta.ac.id] Dalam banyak kasus, stigma juga berdampak negatif terhadap akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, karena individu yang distigma sering kali enggan mencari bantuan atau akses layanan yang mereka butuhkan karena takut diskriminasi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Selain itu, stigma sosial dapat menghambat reintegrasi sosial kelompok yang pernah mengalami trauma atau kriminalisasi, seperti anak binaan pemasyarakatan yang dihadapkan pada label negatif setelah keluar dari penjara. [Lihat sumber Disini - jurnal.alimspublishing.co.id] Bahkan dalam konteks kesehatan seperti pada penyintas Covid-19, stigma sosial terbukti berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis mereka, menghambat pemulihan, dan menciptakan tekanan interpersonal yang berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - jurnalp3k.com]
Upaya Mengurangi Stigma Sosial
Upaya untuk mengurangi stigma sosial perlu dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi. Salah satunya adalah melalui edukasi masyarakat yang memberikan pengetahuan benar mengenai fenomena yang distigma sehingga menekan prasangka dan miskonsepsi yang beredar. [Lihat sumber Disini - jikm.upnvj.ac.id]
Peran media sosial juga penting dalam menyebarkan informasi yang akurat sehingga mengurangi persepsi negatif yang tidak berdasar tentang individu atau kelompok tertentu. [Lihat sumber Disini - jikm.upnvj.ac.id]
Selain itu, kebijakan inklusif dan program advokasi sosial dapat membantu memerangi diskriminasi struktural yang memicu stigma, serta menciptakan ruang aman yang lebih besar bagi pihak yang pernah distigma. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Kesimpulan
Stigma sosial merupakan fenomema kompleks yang berakar dari pola pelabelan, stereotip, dan pemisahan sosial yang sering kali diperkuat oleh kurangnya pengetahuan serta norma budaya tertentu. Bentuk-bentuk stigma mencakup diskriminasi terbuka, isolasi sosial, dan internalisasi negatif yang memengaruhi status sosial dan kualitas hidup individu maupun kelompok. Faktor penyebabnya sangat beragam, mulai dari persepsi masyarakat, miskonsepsi, hingga struktur sosial yang tidak setara. Dampak dari stigma sosial sangat merugikan, menekan kesejahteraan psikologis, menghambat akses layanan penting, dan menciptakan eksklusi sosial yang berkepanjangan. Upaya untuk mengurangi stigma membutuhkan strategi edukatif, kebijakan publik, serta komunikasi sosial yang efektif agar tercipta masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua pihak.