
Stigma terhadap Gangguan Mental
Pendahuluan
Stigma terhadap gangguan mental merupakan isu penting yang masih meluas di berbagai negara dan komunitas, termasuk Indonesia. Banyak orang dengan kondisi kesehatan mental menghadapi prasangka, stereotip, dan diskriminasi yang dapat menghambat mereka dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan pencarian bantuan medis. Meski gangguan mental diperkirakan mempengaruhi jutaan orang di dunia, pemahaman masyarakat masih rendah sehingga stigma terus berlanjut dan berdampak negatif terhadap kualitas hidup penderita dan keluarganya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Stigma terhadap Gangguan Mental
Definisi Stigma secara Umum
Stigma secara umum dipahami sebagai label negatif atau penilaian buruk yang diarahkan kepada seseorang atau kelompok karena karakteristik tertentu yang dianggap berbeda dari norma sosial. Dalam konteks kesehatan mental, stigma sering mencakup prasangka, stereotip, dan perilaku diskriminatif yang membuat individu dengan gangguan mental dipandang sebagai “berbeda”, “tidak normal”, atau “berbahaya”. [Lihat sumber Disini - mhanational.org]
Definisi Stigma dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma merupakan suatu ciri negatif yang ada dalam diri seseorang karena pengaruh lingkungan dan pandangan masyarakat, sehingga individu tersebut diperlakukan berbeda atau dipandang tidak layak. [Lihat sumber Disini - gramedia.com]
Definisi Stigma Menurut Para Ahli
-
Erving Goffman, Stigma adalah atribut yang mendiskreditkan seseorang dan menyebabkan mereka dipisahkan dari “kelompok normal”, serta mengalami pengucilan sosial karena perbedaan yang dianggap negatif oleh masyarakat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Link & Phelan, Stigma melibatkan interaksi antara pelabelan (labeling), stereotip, pemisahan sosial, kehilangan status, serta diskriminasi, suatu proses sosial yang membuat individu mendapatkan perlakuan tidak adil. [Lihat sumber Disini - repository.um-surabaya.ac.id]
-
Goffman (sosiologi stigma), Menekankan bahwa stigma bukan hanya tentang atribut individu, tetapi merupakan konstruk sosial yang dihasilkan melalui interaksi sosial dan norma budaya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
WHO dan literatur kesehatan mental, Stigma mencakup segala bentuk persepsi negatif, sikap, dan perilaku yang menghambat kesempatan penderita gangguan mental untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat dan mendapatkan layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Konsep dan Jenis Stigma Gangguan Mental
Stigma terhadap gangguan mental tidak terjadi dalam satu bentuk tunggal, tetapi terbagi dalam beberapa tipe yang masing-masing mempengaruhi pengalaman hidup individu dengan cara berbeda.
1. Public Stigma (Stigma Publik)
Public stigma atau stigma publik adalah sikap diskriminatif yang dimiliki masyarakat luas terhadap gangguan mental, mencakup stereotip, penilaian negatif, dan pengucilan sosial. Individu yang mengalami gangguan mental sering dianggap lemah, berbahaya, tidak kompeten, atau tidak layak berinteraksi secara normal oleh masyarakat tanpa memahami kondisi sebenarnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Self-Stigma (Stigma Internal)
Self-stigma adalah proses dimana orang dengan gangguan mental menginternalisasi stigma publik dan mulai memandang dirinya sendiri secara negatif. Hal ini menciptakan rasa malu, rendah diri, dan penurunan harga diri yang kemudian dapat memperburuk kondisi psikologis dan menghambat pencarian bantuan profesional. [Lihat sumber Disini - ijmhs.biomedcentral.com]
3. Institutional Stigma
Institutional stigma terjadi ketika organisasi, sistem layanan kesehatan, atau kebijakan publik secara tidak langsung atau langsung merugikan mereka dengan gangguan mental melalui praktik diskriminatif atau akses yang tidak setara terhadap layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Beberapa studi juga mengidentifikasi bentuk stigma profesional dan struktural di dalam layanan kesehatan atau lingkungan kerja yang dapat membatasi kesempatan individu dengan gangguan mental. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Faktor Penyebab Stigma terhadap Gangguan Mental
Stigma terhadap gangguan mental tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor interrelasi, antara lain:
Kurangnya Pengetahuan dan Literasi Kesehatan Mental
Banyak masyarakat yang belum memahami apa itu gangguan mental, penyebabnya, perbedaannya dengan fenomena “kelemahan pribadi”, serta bagaimana kondisinya harus ditangani secara ilmiah. Ketidaktahuan ini sering kali menghasilkan stereotip negatif yang kemudian menjadi stigma. [Lihat sumber Disini - mhanational.org]
Budaya dan Nilai Sosial Tradisional
Dalam beberapa komunitas, gangguan mental masih dianggap sebagai sesuatu yang berakar pada kepercayaan tradisional atau supranatural, seperti kerasukan roh jahat, kutukan, atau aib keluarga. Hal ini memperkuat stigma karena kondisi tersebut dipandang sebagai sesuatu yang memalukan atau tabu. [Lihat sumber Disini - digilib.uin-suka.ac.id]
Prasangka dan Ketakutan Sosial
Prasangka atau kecenderungan untuk melihat gangguan mental sebagai sesuatu yang “berbahaya” atau “tidak dapat diprediksi” juga menjadi faktor besar penyebab stigma masyarakat. Ketakutan ketika berinteraksi dengan individu yang mengalami gejala yang tidak dipahami dapat memperkuat respon disengagement sosial. [Lihat sumber Disini - gramedia.com]
Media dan Representasi Negatif
Media massa dan konten digital sering kali menggambarkan gangguan mental dengan cara sensasional atau stereotipikal, yang memperkuat pandangan negatif di masyarakat dan merendahkan pemahaman akan kondisi sebenarnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Stigma terhadap Penderita Gangguan Mental
Stigma terhadap gangguan mental memiliki dampak yang luas dan serius baik pada tingkat individu maupun sosial, di antaranya:
Penurunan Kesejahteraan Psikologis
Individu yang terus-menerus menerima stigma cenderung mengalami kecemasan, stres, perasaan tidak berharga, dan bahkan depresi lanjutan, serta penurunan harga diri yang signifikan. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Hambatan dalam Sosialisasi dan Hubungan Interpersonal
Stigma dapat menyebabkan individu mengalami isolasi sosial, sulit mempertahankan hubungan dengan teman atau keluarga, serta merasa dijauhi oleh komunitasnya. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Pengucilan dari Layanan dan Akses Sosial
Stigma publik dan institusional sering kali menyebabkan individu mengalami diskriminasi dalam akses kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan yang memadai, yang pada akhirnya memperburuk kondisi klinis mereka. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penurunan Kualitas Hidup
Kombinasi dari kurangnya akses layanan, diskriminasi sosial, dan rasa malu akibat stigma berdampak langsung pada penurunan kualitas hidup penderita bahkan setelah kondisi medisnya ditangani secara profesional. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Pengaruh Stigma terhadap Pencarian Pertolongan
Stigma berpengaruh besar terhadap perilaku pencarian bantuan atau help-seeking behavior. Individu dengan gejala gangguan mental seringkali:
• Menunda mencari bantuan profesional karena takut dianggap “lemah” atau “gila” oleh lingkungan sekitar. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
• Enggan berbicara dengan layanan kesehatan jiwa karena takut stigma dalam komunitasnya, yang memicu perburukan kondisi sebelum akhirnya mendapatkan bantuan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
• Mengalami hambatan internal ketika mengakui masalahnya sendiri karena self-stigma, yang mengurangi motivasi untuk menjalani pemeriksaan atau terapi. [Lihat sumber Disini - ijmhs.biomedcentral.com]
Beberapa riset internasional menyimpulkan bahwa stigma merupakan salah satu pendorong utama rendahnya tingkat pencarian pertolongan di antara mereka yang mengalami gangguan mental. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Peran Keluarga dan Masyarakat dalam Mengurangi Stigma
Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam penerimaan dan dukungan terhadap individu dengan gangguan mental:
Edukasi dan Penyuluhan Keluarga
Keluarga yang memahami kondisi gangguan mental cenderung memberikan dukungan emosional dan praktis yang lebih baik, serta mampu membantu penderita mengatasi self-stigma dan menjalani proses pemulihan. [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]
Kampanye Kesadaran Masyarakat
Program pendidikan publik, kampanye media, dan kegiatan komunitas yang mengedukasi masyarakat tentang realitas gangguan mental dapat menurunkan stereotip negatif dan memperbaiki sikap publik terhadap penderita. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Fasilitasi Lingkungan Inklusif
Masyarakat yang menciptakan lingkungan sosial inklusif, seperti dukungan sosial di sekolah, tempat kerja, dan kegiatan komunitas, membantu mengurangi isolasi sosial dan diskriminasi yang dihadapi penderita. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
Upaya Promosi Kesehatan Mental
Promosi kesehatan mental merupakan strategi yang berkelanjutan untuk memperbaiki pemahaman, perilaku, dan kebijakan di masyarakat terhadap masalah gangguan mental. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi:
Penyuluhan dan Literasi Kesehatan Mental
Program pendidikan tentang gangguan mental di sekolah, tempat kerja, dan fasilitas layanan kesehatan dapat membantu mengurangi ketidaktahuan dan stereotip yang menjadi akar stigma. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Pelatihan Tenaga Kesehatan
Peningkatan kemampuan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dalam menangani dan berinteraksi secara sensitif dengan penderita gangguan mental akan menciptakan layanan yang lebih ramah serta mengurangi stigma struktural. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kebijakan Publik yang Mendukung
Pendirian kebijakan kesehatan mental yang adil dan dukungan terhadap rehabilitasi serta pemulihan akan membantu mendorong akses layanan dan pengurangan diskriminasi sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kolaborasi Komunitas
Kerja sama antar organisasi masyarakat, lembaga pendidikan, dan penyedia layanan kesehatan dapat menciptakan kampanye stigma yang lebih luas dan berkesinambungan untuk jangka panjang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kesimpulan
Stigma terhadap gangguan mental merupakan masalah kompleks yang melibatkan prasangka sosial, perilaku diskriminatif, dan respon internal individu terhadap label negatif. Stigma muncul dari kurangnya pengetahuan, budaya tradisional, dan ketakutan sosial yang berakar pada ketidaktahuan tentang realitas gangguan mental. Dampaknya dapat menghambat kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, akses layanan kesehatan, serta menurunkan kualitas hidup penderita. Stigma juga menjadi penghalang signifikan bagi individu yang perlu mencari pertolongan profesional. Untuk mengatasi stigma, diperlukan peran aktif keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, serta kebijakan publik yang mendukung literasi kesehatan mental dan lingkungan sosial yang inklusif. Upaya promosi kesehatan mental melalui edukasi publik, kampanye kesadaran, dan peningkatan literasi akan membantu menciptakan masyarakat yang lebih peka, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan orang dengan gangguan mental.