Terakhir diperbarui: 20 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 20 December). Stigma Penyakit. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/stigma-penyakit  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Stigma Penyakit - SumberAjar.com

Stigma Penyakit

Pendahuluan

Fenomena stigma penyakit merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena berdampak jauh melampaui kondisi medis itu sendiri. Stigma sering membuat individu yang mengalami suatu penyakit dipandang secara negatif, dijauhi, dan diperlakukan tidak adil oleh lingkungan sosialnya. Akibatnya, penderita tidak hanya menghadapi tantangan kesehatan fisik, tetapi juga tekanan psikososial yang serius yang dapat memperburuk kualitas hidup dan memperlambat proses pemulihan mereka. Misalnya, dalam konteks gangguan mental, stigma sering kali menjadi penghalang utama dalam mencari bantuan medis yang diperlukan sehingga pasien enggan mengakses layanan kesehatan (termasuk karena takut dianggap “tidak normal”) yang memperburuk keadaan psikologis mereka. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Stigma tidak hanya relevan untuk satu jenis penyakit saja, tetapi juga muncul dalam berbagai kondisi seperti HIV/AIDS, tuberculosis, gangguan kesehatan mental, dan banyak penyakit lainnya. Bentuk-bentuk stigma ini membawa dampak luas baik di tingkat individu, keluarga, maupun komunitas sosial secara keseluruhan. Dengan memahami konsep, faktor penyebab, dampak, serta strategi intervensi untuk menanggulangi stigma penyakit, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang adil bagi semua orang.


Definisi Stigma Penyakit

Definisi Stigma Penyakit Secara Umum

Stigma secara umum merujuk pada label negatif atau persepsi buruk yang diberikan oleh masyarakat kepada individu atau kelompok tertentu yang dianggap berbeda dari norma sosial. Dalam konteks kesehatan, stigma penyakit berarti adanya pandangan negatif yang melekat pada individu karena kondisi kesehatannya, sehingga mereka sering dihindari, dikucilkan, atau diperlakukan secara diskriminatif oleh masyarakat luas. Stigma ini melibatkan stereotip dan generalisasi yang merugikan terhadap identitas seseorang yang mengalami penyakit tertentu, yang bisa menyebabkan mereka merasa malu atau takut untuk mengungkapkan kondisi kesehatannya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Stigma Penyakit dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stigma adalah ciri negatif yang menempel pada diri seseorang karena pengaruh lingkungannya. Dalam pengertian ini, stigma bukan hanya sekadar label, tetapi juga mencerminkan pandangan sosial yang memberikan nilai buruk terhadap individu yang dianggap berbeda, termasuk karena kondisi kesehatannya. [Lihat sumber Disini - gramedia.com]

Definisi Stigma Penyakit Menurut Para Ahli

Para ahli memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai stigma dalam konteks sosial dan kesehatan.

  1. Erving Goffman menjelaskan bahwa stigma merupakan atribut yang sangat mendiskreditkan, yang menyebabkan individu yang stigmatisasi dinilai rendah dan dipisahkan dari kelompok sosial yang dianggap normal. Goffman menggambarkan stigma sebagai proses di mana reaksi orang lain “mengotori” identitas normal seseorang, seringkali melalui label negatif, stereotip, dan diskriminasi sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Bruce Link & Jo Phelan memaparkan bahwa stigma terjadi ketika perbedaan antara individu distigmatisasi dan norma budaya dikaitkan dengan atribut negatif, diikuti oleh pemisahan sosial dan kehilangan status, yang kemudian mengarah pada diskriminasi secara nyata. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) melihat stigma dalam konteks kesehatan sebagai proses sosial yang menciptakan wawasan negatif yang memengaruhi kemungkinan individu untuk mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukan serta menimbulkan isolasi sosial. Stigma ini mencakup label, stereotip, diskriminasi, dan pengucilan sosial dalam upaya merespon kondisi medis tertentu. [Lihat sumber Disini - repository.itsk-soepraoen.ac.id]

  4. Surgeon General Amerika Serikat menjelaskan stigma sebagai hambatan besar bagi pencarian perawatan kesehatan karena individu yang terkena stigma sering menunda atau menghindari akses layanan kesehatan untuk menghindari penilaian negatif dari masyarakat. [Lihat sumber Disini - e-journal.sari-mutiara.ac.id]


Konsep dan Bentuk Stigma Penyakit

Penyakit sering kali dikaitkan dengan norma sosial dan keyakinan masyarakat sehingga perilaku terhadap penderita bisa juga dipengaruhi oleh konstruksi sosial tersebut. Stigma ini bukan fenomena tunggal, tetapi terdiri dari berbagai bentuk yang muncul di masyarakat.

  1. Public Stigma (Stigma Publik)

    Ini merupakan bentuk stigma yang berasal dari pandangan dan sikap negatif masyarakat luas terhadap individu yang memiliki penyakit tertentu. Sebagai contoh, penderita HIV/AIDS sering dijauhi dan mengalami stereotip negatif yang melahirkan diskriminasi, keterbatasan dukungan sosial, serta kecemasan psikologis pada individu tersebut. [Lihat sumber Disini - applicare.id]

  2. Self Stigma (Stigma Internal)

    Stigma ini terjadi ketika individu mulai menginternalisasi pandangan negatif masyarakat terhadap penyakitnya, sehingga mereka mulai merendahkan diri sendiri, merasa malu atau tidak percaya diri. Ini menyebabkan rendahnya upaya pencarian bantuan medis atau keterlibatan sosial, memperburuk keadaan kesehatan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Stigma Institusional

    Bentuk stigma yang terdapat dalam sistem atau institusi, seperti layanan kesehatan yang memberikan perlakuan tidak sensitif atau tidak ramah kepada pasien karena kondisi mereka. Hal ini dapat terjadi ketika fasilitas kesehatan tidak cukup terlatih menangani pasien stigmatisasi atau memiliki kebijakan yang diskriminatif. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  4. Labeling, Stereotip, dan Diskriminasi

    Proses stigma sering dimulai dari labeling (pemberian label negatif), stereotip yang menggeneralisasi kondisi tersebut sebagai buruk, dan akhirnya perilaku diskriminatif di masyarakat seperti pengucilan sosial. [Lihat sumber Disini - rsj.babelprov.go.id]


Faktor Sosial Budaya Pembentuk Stigma

Stigma penyakit tidak datang begitu saja; ia terbentuk melalui interaksi kompleks antara faktor sosial, budaya, dan pengetahuan masyarakat sekitar kondisi kesehatan. Beberapa faktor utama tersebut antara lain:

  1. Kurangnya Pengetahuan Kesehatan dan Edukasi

    Ketidaktahuan tentang penyebab, gejala, dan penanganan penyakit menyebabkan masyarakat cenderung mengaitkan kondisi tersebut sebagai sesuatu yang aneh, memalukan, atau berbahaya. Sebagai contoh, masyarakat yang kurang teredukasi tentang HIV/AIDS sering menganggap penyakit ini merupakan “aib” sehingga mereka mengucilkan penderita. [Lihat sumber Disini - applicare.id]

  2. Norma Budaya dan Keyakinan Sosial

    Budaya dan nilai-nilai sosial yang menekankan pada kesempurnaan tubuh atau norma moral tertentu dapat memperkuat stigma. Dalam beberapa komunitas, penyakit tertentu dipandang sebagai tanda kelemahan moral atau perbuatan buruk yang membuat individu enggan mengakuinya. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]

  3. Sistem Sosial dan Stratifikasi Sosial

    Struktur sosial, seperti diskriminasi berdasarkan kelas sosial, umur, jenis kelamin, atau latar belakang ekonomi, turut membentuk pandangan negatif terhadap kelompok tertentu yang mengalami penyakit. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]

  4. Media dan Representasi Masyarakat

    Media dapat memperkuat stereotype negatif tentang penyakit tertentu apabila menggambarkan penderita secara emosional atau berlebihan tanpa konteks medis yang tepat. Ini memperkuat ketakutan dan mispersepsi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  5. Pengaruh Tradisi atau Kepercayaan Lokal

    Beberapa tradisi atau kepercayaan masyarakat tertentu mungkin menghubungkan penyakit dengan kutukan, dosa, atau stigma moral. Hal ini dapat memperburuk stigma di kalangan komunitas tradisional. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]


Dampak Stigma terhadap Individu dan Keluarga

Stigma penyakit membawa implikasi serius bagi kehidupan individu penderita maupun keluarga mereka. Beberapa dampak utama antara lain:

  1. Penurunan Kesehatan Mental

    Stigma dapat menyebabkan penderita merasa malu, terisolasi, dan mengalami tekanan psikologis seperti depresi, kecemasan, serta rendahnya harga diri. ▪ Ini memperburuk kondisi mental dan membuat penderita enggan mencari dukungan sosial bahkan dari keluarga terdekat. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  2. Hambatan dalam Akses Layanan Kesehatan

    Ketakutan akan stigma sering membuat penderita menunda atau menghindari pencarian bantuan medis, termasuk diagnosis dini dan perawatan yang diperlukan, yang pada akhirnya memperburuk kondisi kesehatan mereka. Studi di Indonesia menunjukkan stigma sebagai hambatan utama dalam pencarian layanan kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  3. Stigma terhadap Keluarga

    Tidak hanya individu yang terkena stigma, tetapi anggota keluarga juga dapat mengalami diskriminasi sosial karena hubungan mereka dengan penderita. Ini dapat menyebabkan rasa malu dan tekanan emosional lebih lanjut bagi keluarga. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  4. Pengucilan Sosial dan Diskriminasi

    Penderita sering menghadapi isolasi dari aktivitas sosial, kesulitan dalam hubungan interpersonal, serta penolakan di tempat kerja atau komunitas, yang memperburuk marginalisasi mereka. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]


Pengaruh Stigma terhadap Akses Pelayanan Kesehatan

Stigma sangat memengaruhi hubungan antara individu dengan sistem pelayanan kesehatan.

  1. Tunda Keputusan Mencari Perawatan

    Akibat persepsi negatif, banyak penderita menunda konsultasi ke tenaga medis atau berhenti berobat karena takut mengalami penilaian sosial yang menstigma mereka. [Lihat sumber Disini - applicare.id]

  2. Kualitas Pelayanan yang Kurang Sensitif

    Dalam beberapa kasus, tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan belum sepenuhnya siap menangani penderita dengan stigma secara empatik, sehingga mereka memberikan pelayanan yang kurang sensitif terhadap kebutuhan pasien. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  3. Penurunan Kepatuhan terhadap Pengobatan

    Stigma juga dapat mengurangi kepatuhan pasien terhadap rencana perawatan mereka karena rasa malu atau ketidaknyamanan saat berinteraksi dengan petugas kesehatan. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]


Peran Edukasi dalam Mengurangi Stigma

Edukasi merupakan pendekatan penting dalam mengatasi stigma penyakit.

  1. Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat

    Memberikan informasi yang benar tentang penyakit akan membantu masyarakat memahami penyebab, gejala, dan penanganan medis, sehingga mengurangi kesalahpahaman dan stereotip negatif. [Lihat sumber Disini - applicare.id]

  2. Pelatihan Tenaga Kesehatan

    Edukasi bagi petugas kesehatan untuk bersikap empatik dapat menciptakan lingkungan layanan yang lebih ramah dan bebas diskriminasi bagi pasien. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  3. Kampanye Publik dan Media

    Kampanye edukatif melalui media massa dan media sosial tentang realitas penyakit dan kisah nyata penderita dapat membantu mengubah persepsi publik dan menumbuhkan empati. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  4. Diskusi Komunitas dan Kesadaran Sosial

    Mengadakan diskusi komunitas, seminar, atau lokakarya untuk membuka dialog tentang stigma dan dampaknya dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk bertanya dan belajar secara langsung. [Lihat sumber Disini - applicare.id]


Strategi Intervensi Pengurangan Stigma Penyakit

Strategi intervensi dirancang untuk mengurangi stigma tidak hanya di tingkat individu tetapi juga dalam masyarakat luas.

  1. Intervensi Berbasis Komunitas

    Melibatkan tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan lokal dalam program pengurangan stigma dapat memberikan dampak yang signifikan karena mereka memiliki pengaruh kuat terhadap norma sosial setempat. [Lihat sumber Disini - applicare.id]

  2. Program Dukungan Sebaya (Peer Support)

    Kelompok dukungan yang terdiri dari individu yang sedang mengalami atau pernah mengalami penyakit stigmatized dapat memberikan pengalaman dan dukungan emosional yang membantu mereka merasa lebih diterima serta mengurangi rasa malu. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Kebijakan dan Regulasi Anti-Diskriminasi

    Pemerintah dan lembaga kesehatan perlu mengembangkan serta menerapkan kebijakan yang melarang diskriminasi terhadap individu berdasarkan status kesehatan mereka sehingga menciptakan lingkungan sosial yang lebih adil. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]

  4. Edukasi Formal dan Pengetahuan Publik

    Mengintegrasikan kurikulum kesehatan komunitas di sekolah, kampus, dan pelatihan kerja dapat membantu pembentukan pandangan yang lebih positif terhadap penyakit serta menanamkan nilai empati sejak dini. [Lihat sumber Disini - applicare.id]


Kesimpulan

Stigma penyakit adalah proses sosial yang melibatkan label, stereotip, dan diskriminasi terhadap individu yang mengalami kondisi kesehatan tertentu. Dampaknya luas, mencakup aspek psikologis, sosial, keluarga, dan akses terhadap layanan kesehatan. Faktor penyebab stigma sangat kompleks, termasuk kurangnya pengetahuan, norma budaya, dan representasi sosial yang keliru. Edukasi yang tepat, pelatihan tenaga kesehatan, kampanye publik, serta kebijakan anti-diskriminasi merupakan strategi penting untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kualitas hidup serta akses layanan kesehatan bagi semua penderita penyakit.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Stigma penyakit adalah pandangan negatif, label sosial, dan perlakuan diskriminatif yang diberikan kepada individu atau kelompok karena kondisi kesehatan tertentu. Stigma ini dapat menyebabkan pengucilan sosial, penurunan harga diri, serta hambatan dalam mengakses pelayanan kesehatan.

Bentuk stigma penyakit meliputi stigma publik, stigma internal atau self-stigma, stigma institusional, serta proses labeling, stereotip, dan diskriminasi. Bentuk-bentuk ini dapat muncul dalam interaksi sosial, pelayanan kesehatan, maupun kebijakan institusional.

Faktor utama pembentuk stigma penyakit antara lain kurangnya pengetahuan kesehatan, norma dan nilai budaya, kepercayaan tradisional, pengaruh media, serta sistem sosial yang masih memandang penyakit sebagai aib atau kelemahan individu.

Stigma penyakit dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental, penurunan kualitas hidup, isolasi sosial, serta tekanan psikologis bagi keluarga. Selain itu, stigma juga dapat memengaruhi hubungan sosial dan ekonomi keluarga penderita.

Stigma membuat individu takut dicap negatif sehingga menunda atau menghindari layanan kesehatan. Hal ini berdampak pada keterlambatan diagnosis, rendahnya kepatuhan pengobatan, dan memburuknya kondisi kesehatan.

Edukasi berperan penting dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, meluruskan miskonsepsi tentang penyakit, serta membangun empati sosial. Edukasi yang tepat dapat mengubah persepsi negatif dan mendorong penerimaan terhadap penderita penyakit.

Strategi pengurangan stigma penyakit meliputi intervensi berbasis komunitas, kampanye edukasi publik, pelatihan tenaga kesehatan, dukungan sebaya, serta kebijakan dan regulasi anti-diskriminasi dalam bidang kesehatan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Stigma terhadap Gangguan Mental Stigma terhadap Gangguan Mental Stigma Sosial: Konsep dan Dampaknya dalam Masyarakat Stigma Sosial: Konsep dan Dampaknya dalam Masyarakat Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS Faktor Sosial dalam Penggunaan Obat Psikotropika Faktor Sosial dalam Penggunaan Obat Psikotropika Persepsi Penyakit: Konsep dan Respons Individu Persepsi Penyakit: Konsep dan Respons Individu Faktor Risiko Kehamilan Remaja Faktor Risiko Kehamilan Remaja Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Mental Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Mental Akses Layanan Kesehatan Mental Akses Layanan Kesehatan Mental Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Jiwa Pengetahuan Masyarakat tentang Kesehatan Jiwa Penyakit Degeneratif pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Faktor Risiko Penyakit Berbasis Lingkungan Pelaporan Penyakit Wajib Lapor Pelaporan Penyakit Wajib Lapor Pola Penyakit Tidak Menular Pola Penyakit Tidak Menular Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Beban Penyakit: Konsep, Pengukuran DALY, dan Implikasi Kebijakan Pencegahan HIV/AIDS Pencegahan HIV/AIDS Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Kepatuhan Minum ARV pada Pasien HIV Kepatuhan Minum ARV pada Pasien HIV Pengetahuan Masyarakat tentang Penyakit Menular Pengetahuan Masyarakat tentang Penyakit Menular Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku Pencegahan Penyakit Menular: Konsep, adaptasi sosial, dan perilaku
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…