
Uji Reliabilitas Composite Reliability
Pendahuluan
Reliabilitas instrumen adalah aspek krusial dalam penelitian kuantitatif, tanpa instrumen yang reliabel, hasil penelitian bisa saja bias atau tidak konsisten. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dalam konteks pengukuran konstruk laten (misalnya sikap, persepsi, kepuasan, kompetensi, dsb.), metode tradisional seperti Cronbach's Alpha banyak digunakan untuk menguji konsistensi internal. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id] Namun dalam pendekatan modern,terutama ketika menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) atau varian seperti Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM),koefisien alternatif yang lebih tepat yaitu Composite Reliability (CR). CR dianggap mampu menangkap reliabilitas konstruk laten dengan lebih akurat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Artikel ini akan membahas pengertian Composite Reliability, bagaimana penggunaannya dalam penelitian, perbandingan dengan Cronbach’s Alpha, serta interpretasi hasilnya.
Definisi Composite Reliability
Definisi Composite Reliability Secara Umum
Composite Reliability (CR) adalah ukuran reliabilitas internal yang digunakan untuk konstruk laten dalam konteks model pengukuran reflektif (reflective measurement model). CR mencerminkan seberapa konsisten suatu konstruk diukur oleh sejumlah indikator (item), dengan mempertimbangkan bobot (loading) tiap indikator,tidak dengan asumsi bobot sama seperti pada Cronbach’s Alpha. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan kata lain: CR menunjukkan sejauh mana skor komposit (gabungan item) merefleksikan konstruk laten yang ingin diukur, memperhitungkan varian kesalahan dan bobot indikator. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Composite Reliability dalam KBBI
Istilah “Composite Reliability” tidak secara khusus tercantum dalam KBBI (kamus bahasa Indonesia) sebagai satu entri umum, karena ini adalah istilah teknis di bidang metodologi penelitian/psikometri/statistika. Oleh karena itu, tidak ada definisi resmi “Composite Reliability” dalam KBBI dalam arti “kemampuan gabungan reliabilitas indikator”.
Sebagai konsekuensinya, ketika menggunakan istilah ini dalam artikel berbahasa Indonesia, biasanya tetap dipertahankan dalam bahasa Inggris dan dijelaskan maknanya dalam konteks penelitian (seperti “reliabilitas komposit”).
Definisi Composite Reliability Menurut Para Ahli
Berikut definisi dan komentar dari beberapa ahli/penelitian terkait Composite Reliability:
- DR Bacon (1995) dalam artikelnya “Composite Reliability in Structural Equations Modeling” menyebutkan bahwa CR dapat digunakan sebagai alat penilaian reliabilitas konstruk pada model SEM. Namun Bacon juga mengingatkan bahwa CR tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk seleksi item. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
- T Raykov (2004) mengembangkan konsep CR (kadang disebut juga congeneric reliability atau coefficient omega) dalam kerangka latent variable modeling, menganggap bahwa pendekatan ini lebih fleksibel daripada pendekatan klasik (misalnya asumsi bobot sama seperti di Cronbach’s Alpha). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
- Widhiarso (2014) menunjukkan bahwa CR adalah estimasi reliabilitas konstruk yang lazim dipakai dalam penelitian multifaset dengan item-item reflektif, serta sering dikombinasikan dengan uji validitas konvergen seperti Average Variance Extracted (AVE). [Lihat sumber Disini - journal2.um.ac.id]
- J Schuberth (2025) dan koleganya dalam publikasi terkini menekankan bahwa meskipun CR populer di kalangan pengguna PLS-SEM atau composite-based SEM, ada kontroversi terkait kecenderungan CR memberikan nilai reliabilitas yang terlalu optimis (berinflasi), terutama jika model tidak ditetapkan dengan tepat. [Lihat sumber Disini - scriptwarp.com]
- Y Sitio (2025) dalam jurnal lokal di Indonesia juga menggunakan Composite Reliability sebagai tolok ukur reliabilitas konstruk, sebagaimana banyak penelitian kuantitatif lain sejak awal 2020-an. [Lihat sumber Disini - journal.universitassuryadarma.ac.id]
Penggunaan Composite Reliability dalam Penelitian
Dalam praktik penelitian sosial, manajemen, pendidikan atau psikologi, Composite Reliability umum digunakan terutama ketika analisis data memakai SEM atau PLS-SEM:
- Misalnya pada penelitian soft-competency era Industri 4.0 yang menggunakan PLS-SEM, peneliti menyatakan bahwa konstruk dianggap reliabel jika nilai CR ≥ 0.70. [Lihat sumber Disini - ejournal.raharja.ac.id]
- Contoh lain: penelitian tentang sikap guru terhadap buku ilustrasi (2022) menggunakan Cronbach’s Alpha dan CR untuk mengevaluasi reliabilitas skala. Hasil menunjukkan skala valid dan reliabel. [Lihat sumber Disini - files.eric.ed.gov]
- Pada penelitian skala ketangguhan siswa SMK (2024), penulis menggunakan CR sebagai bagian dari uji reliabilitas, dan menyimpulkan instrumen dapat dipercaya. [Lihat sumber Disini - journal.aritekin.or.id]
Secara umum, langkah pengujian dengan CR biasanya mencakup:
- Melakukan analisis model pengukuran (measurement model), confirmatory factor analysis (CFA) atau PLS outer model. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
- Menghitung nilai CR untuk tiap konstruk laten (per variabel).
- Membandingkan CR dengan threshold: umumnya CR ≥ 0.70 dianggap dapat diterima; beberapa literatur menyebut ≥ 0.60 sebagai batas minimal jika kondisi sulit. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
- Sebaiknya juga mengevaluasi validitas konvergen melalui AVE, dan validitas diskriminan (jika ada lebih dari satu konstruk) sebagai pelengkap reliabilitas. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Pada banyak jurnal Indonesia dari 2021–2025, praktik ini sudah lazim diterapkan, membuktikan bahwa CR kini menjadi bagian standar dalam uji reliabilitas konstruk. [Lihat sumber Disini - journal.universitassuryadarma.ac.id]
Perbandingan Composite Reliability dengan Cronbach’s Alpha
Meski keduanya digunakan untuk menilai reliabilitas internal, CR dan Cronbach’s Alpha berbeda secara filosofis dan teknis:
- Cronbach’s Alpha mengasumsikan bahwa semua indikator (item) memiliki bobot (loading) sama, artinya tiap item dianggap memberikan kontribusi yang identik terhadap konstruk. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Composite Reliability menghitung bobot aktual tiap indikator berdasarkan loading empiris, sehingga lebih fleksibel dan cenderung memberikan estimasi reliabilitas yang lebih realistis ketika indikator bervariasi dalam kontribusi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Karena perbedaan ini, banyak ahli merekomendasikan CR (atau omega) sebagai alternatif atau pelengkap Cronbach’s Alpha, terlebih untuk konstruk laten dalam model reflektif. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
Namun perlu diperhatikan: CR tidak boleh menjadi satu-satunya dasar pemilihan atau penghapusan item (item selection). Sebagaimana diingatkan Bacon (1995), CR cocok sebagai alat penilaian reliabilitas konstruk secara keseluruhan, tapi bukan untuk menentukan item individually apakah valid atau tidak. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
Interpretasi Nilai Composite Reliability dan Batas Minimum
Dalam literatur dan praktik empiris, batas minimal yang sering digunakan untuk CR adalah:
- CR ≥ 0.70, dianggap reliabilitas konstruk “cukup baik”. [Lihat sumber Disini - jiemar.org]
- Beberapa studi membolehkan nilai CR ≥ 0.60 jika kondisi data sulit (misalnya sedikit item, sampel kecil, dsb.), walaupun idealnya tetap 0.70. [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
Jika konstruk memiliki CR di bawah batas tersebut, maka konsistensi internal dianggap kurang memadai, artinya, indikator-indikator pada konstruk mungkin tidak homogen atau tidak secara konsisten mengukur konstruk yang sama.
Karena itu, ketika laporan penelitian menunjukkan nilai CR tiap konstruk di atas 0.70 (serta Cronbach’s Alpha yang mendukung), peneliti dapat menyimpulkan bahwa instrumen “reliable” untuk konstruk tersebut. Banyak penelitian PLS-SEM di Indonesia menggunakan kriteria ini. [Lihat sumber Disini - e-journal.metrouniv.ac.id]
Kelebihan dan Keterbatasan Composite Reliability
Kelebihan
- CR mempertimbangkan bobot indikator (loading empiris), sehingga estimasinya lebih fleksibel dan realistis dibanding Alpha yang mengasumsikan bobot sama. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Dalam model reflektif dan penggunaan SEM/PLS-SEM, CR lebih sesuai sebagai ukuran reliabilitas konstruk laten daripada Alpha. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
- Banyak penelitian mutakhir (termasuk di Indonesia 2021–2025) mengadopsi CR sebagai standar reliabilitas, menunjukkan relevansi dan penerimaan luas. [Lihat sumber Disini - journal.universitassuryadarma.ac.id]
Keterbatasan / Kritik
- Estimasi CR bisa cenderung “berinflasi” terutama jika model tidak dispesifikasi dengan benar, misalnya ketika indikator memiliki cross-loadings atau konstruk kompleks, sehingga konsistensinya terkesan lebih tinggi dari kenyataan. [Lihat sumber Disini - scriptwarp.com]
- CR tidak boleh dijadikan alat tunggal untuk seleksi item, item-by-item evaluasi tetap diperlukan (misalnya melihat loading tiap indikator, validitas konvergen dan diskriminan, item total correlation, dsb.). [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
- Untuk konstruk multidimensional atau data dengan hierarki (nested/multilevel), estimasi CR bisa lebih kompleks dan membutuhkan pendekatan khusus, tidak selalu cukup dengan CR “standar”. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Relevansi Composite Reliability dalam Penelitian Kuantitatif di Indonesia
Di Indonesia, terutama sejak 2021–2025, banyak penelitian kuantitatif,khususnya di bidang manajemen, pendidikan, psikologi, dan sosial,mulai menggunakan CR sebagai bagian dari uji reliabilitas konstruk. Contoh:
- Penelitian soft-competency di era Industri 4.0 menggunakan PLS-SEM dan menetapkan CR ≥ 0.70 sebagai kriteria reliabilitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.raharja.ac.id]
- Studi pengukuran persepsi atau sikap mahasiswa/masyarakat memakai CR + Cronbach’s Alpha untuk memastikan konsistensi internal. [Lihat sumber Disini - jurnal.uts.ac.id]
- Penelitian di bidang pemasaran/konsumen memakai PLS-SEM, lalu melaporkan CR dari setiap konstruk, sebagai bagian dari validitas dan reliabilitas instrumen. [Lihat sumber Disini - journal.trunojoyo.ac.id]
Hal ini menunjukkan bahwa CR telah menjadi “best practice” dalam penelitian dengan konstruk laten dan model pengukuran reflektif di konteks akademik dan ilmiah di Indonesia.
Kesimpulan
Composite Reliability (CR) adalah metode reliabilitas internal yang lebih modern dan fleksibel dibandingkan Cronbach’s Alpha, karena mempertimbangkan bobot indikator berdasarkan loading empiris. CR sangat relevan ketika menggunakan model SEM/PLS-SEM untuk konstruk laten.
Kriteria umum menyatakan bahwa konstruk dianggap reliabel jika CR ≥ 0.70 (dengan syarat ideal), meskipun dalam kondisi tertentu nilai ≥ 0.60 bisa diterima.
Meski CR memiliki banyak kelebihan, terutama dalam akurasi estimasi reliabilitas konstruk laten, peneliti harus tetap berhati-hati: evaluasi indikator per item (loading, validitas konvergen & diskriminan) tetap diperlukan, dan CR tidak boleh menjadi satu-satunya dasar seleksi item.
Dalam praktik penelitian kuantitatif di Indonesia (2021–2025), penggunaan CR telah menjadi standar untuk menjamin bahwa instrumen yang digunakan memiliki konsistensi internal yang memadai, sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya.
Dengan demikian, uji reliabilitas melalui Composite Reliability menjadi bagian penting dari metodologi penelitian modern, khususnya bila menggunakan konstruk laten dan model pengukuran reflektif dalam SEM atau PLS-SEM.