
Validasi Instrumen Survei Online
Pendahuluan
Kuesioner atau instrumen survei merupakan alat ukur yang sering digunakan dalam penelitian sosial, pendidikan, kesehatan, maupun bidang lain untuk mengumpulkan data berupa persepsi, sikap, pengetahuan, atau perilaku responden. Seiring dengan perkembangan teknologi dan akses internet, survei berbasis daring (online) semakin populer karena kepraktisan dan efisiensi distribusinya. Namun demikian, agar hasil survei online dapat dipercaya dan mewakili konstruk yang ingin diukur, instrumen survei harus melalui proses validasi dan reliabilitas terlebih dahulu, artinya instrumen harus terbukti “valid” (mengukur apa yang seharusnya diukur) dan “reliabel” (konsisten dalam pengukuran). Proses validasi ini tidak boleh dilewatkan, karena tanpa validasi, data yang diperoleh bisa bias, tidak konsisten, atau tidak dapat generalisasi. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan menjelaskan konsep validasi instrumen survei online, bagaimana definisinya, landasan teori menurut KBBI dan para ahli, serta prosedur dan best practice dalam validasi instrumen survei online berdasarkan literatur akademik terkini.
Definisi Validasi Instrumen Survei Online
Definisi Secara Umum
Dalam konteks penelitian, “validasi instrumen” merujuk pada proses mengevaluasi apakah sebuah instrumen ukur (misalnya kuesioner, skala, angket) secara akurat dan tepat mengukur konstruk yang dimaksud, misalnya sikap, pengetahuan, atau persepsi. Untuk survei online, validasi juga mempertimbangkan aspek distribusi daring dan karakteristik responden online. Validasi memastikan bahwa item-item pertanyaan sesuai dengan domain variabel, dapat dimengerti oleh responden, dan hasilnya konsisten. Juga reliabilitas, bahwa jika instrumen digunakan kembali dalam kondisi serupa, hasilnya cenderung sama.
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “validasi” berarti proses pengujian atau penilaian terhadap sesuatu agar dinyatakan sahih, layak, atau dapat dipercaya. Dengan demikian, validasi instrumen survei online berarti pengujian apakah instrumen tersebut sahih dan dapat dipercaya untuk mengukur konstruk yang dimaksud dalam konteks survei daring.
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi menurut para peneliti/ahli:
- Dalam konteks pengembangan instrumen, validitas konstruk (construct validity) dan reliabilitas adalah kunci untuk memastikan bahwa alat ukur “mengukur apa yang seharusnya diukur” dan “konsisten”.[Lihat sumber Disini - jmmr.umy.ac.id]
- Menurut studi adaptasi dan validasi versi Indonesia dari instrumen survei daring, proses dimulai dari literatur review dan penyusunan butir pertanyaan, kemudian uji konten dengan panel ahli (expert judgment), dan setelah itu uji reliabilitas internal (misalnya dengan Cronbach’s alpha).[Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Validitas isi (content validity) melibatkan para ahli untuk mengevaluasi relevansi dan representativitas item terhadap konstruk yang ingin diukur, sedangkan validitas konstruk melalui analisis statistik (misalnya analisis faktor, konvergen/discriminant validity) untuk memastikan struktur psikometriknya.[Lihat sumber Disini - jer.or.id]
- Reliabilitas menyangkut konsistensi internal instrumen, sering diukur dengan koefisien seperti Cronbach’s alpha; instrumen dengan alpha ≥ 0,70 umumnya dianggap reliabel.[Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id]
Aspek-aspek Dalam Validasi Instrumen Survei Online
Untuk memastikan instrumen survei online valid dan reliabel, beberapa aspek dan tahapan penting perlu diperhatikan:
1. Validitas Isi (Content Validity)
Sebelum menyebarkan survei, butir-butir pertanyaan harus dievaluasi oleh panel pakar (expert judgment) untuk menilai relevansi, kejelasan, dan cakupan konstruk yang diukur. Panel ahli memeriksa apakah item tersebut representatif terhadap domain konstruk. Banyak penelitian menggunakan Content Validity Index (CVI) dan/atau Content Validity Ratio (CVR) untuk mengkuantifikasi hasil penilaian. Misalnya, penelitian pada instrumen pengukuran keterampilan kolaborasi terintegrasi nilai pendidikan Islam menggunakan CVR dan CVI; hanya item dengan I-CVI ≥ 0,78 dan S-CVI/UA ≥ 0,8 dianggap dapat diterima.[Lihat sumber Disini - jer.or.id]
2. Validitas Konstruk (Construct Validity)
Setelah validitas isi terpenuhi dan data dikumpulkan, perlu dilakukan analisis statistik untuk memastikan struktur konstruk instrumen konsisten dengan teori atau variabel yang hendak diukur. Teknik yang umum digunakan antara lain: analisis faktor (exploratory factor analysis / EFA, dan/atau confirmatory factor analysis / CFA), convergent validity, discriminant validity, dan uji reliabilitas internal.[Lihat sumber Disini - jtiik.ub.ac.id]
Contoh: dalam adaptasi versi Indonesia dari instrumen Survei Kepuasan Dosen pada pembelajaran daring (Online Faculty Satisfaction Survey, OFSS), dari 28 item awal, 5 item gugur setelah analisis validitas dan reliabilitas; sisanya 23 item dinyatakan valid dan reliabel.[Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
3. Reliabilitas (Internal Consistency / Stability)
Reliabilitas sering diukur dengan Cronbach’s alpha atau composite reliability. Jika nilai alpha ≥ 0,70–0,80 biasanya dianggap cukup untuk instrumen penelitian. Reliabilitas menunjukkan bahwa jawaban responden konsisten jika instrumen digunakan ulang atau diulang dalam kondisi serupa.[Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id]
Selain itu, beberapa studi juga menggunakan metode lain seperti model Rasch atau teori klasikal untuk mengevaluasi reliabilitas dan tingkat kesulitan item (terutama untuk instrumen tes atau kemampuan).[Lihat sumber Disini - jurnal.ulb.ac.id]
4. Prosedur Validasi untuk Survei Online
Karena survei bersifat daring, ada beberapa langkah praktis yang sering diikuti dalam literatur:
- Penyusunan kisi-kisi instrumen berdasarkan teori dan literatur (operasionalisasi konstruk).
- Penyusunan butir pertanyaan/item (item generation).
- Penilaian panel ahli untuk validitas konten (content validity).
- Pilot test (uji coba skala kecil) ke sejumlah responden untuk mendeteksi ambiguitas, ketidaksesuaian, dan reliabilitas awal.
- Sebar survei secara daring (misalnya via Google Forms, kuesioner online), seperti yang dilakukan dalam banyak penelitian di Indonesia.[Lihat sumber Disini - researchgate.net]
- Analisis data: uji validitas konstruk (EFA/CFA, convergent/discriminant), uji reliabilitas (Cronbach’s alpha, composite reliability, Rasch, atau metode lain sesuai jenis instrumen), dan revisi item jika perlu.
- Finalisasi instrumen, setelah item-item lolos pengujian dan instrumen dianggap valid & reliabel, baru digunakan secara luas.
Tantangan dan Pertimbangan Saat Validasi Instrumen Survei Online
Meskipun validasi instrument sudah menjadi praktik ilmiah standard, ada beberapa tantangan khusus ketika instrumen digunakan dalam survei online:
- Responden anonim / tanpa pengawasan langsung: responden bisa asal menjawab, tidak fokus, atau bahkan tidak jujur, sehingga diperlukan desain instrumen yang jelas, dan jika memungkinkan kontrol kualitas data (misalnya validasi respon, pengecekan outlier, consistency check).
- Keberagaman responden: karena survei online mudah diakses, respons bisa datang dari berbagai latar belakang, penting memastikan item cocok secara budaya, demografis, dan bahasa agar validitas isi tetap terjaga.
- Distribusi & sampling: risiko bias sampling muncul jika survei disebar melalui jaringan sosial tertentu, harus dipertimbangkan representativitas responden terhadap populasi target.
- Skala jawaban & interpretasi item: skala Likert atau pilihan harus jelas dan mudah dipahami; ambigu item atau pilihan bisa merusak validitas.
- Keterbatasan akses/teknologi: tidak semua responden memiliki akses internet atau paham cara mengisi kuesioner online, ini bisa mempengaruhi responden, terutama dalam penelitian dengan populasi rentan atau remote.
Contoh Studi Validasi Instrumen Survei Online di Indonesia
- Studi adaptasi dan validasi versi Indonesia dari instrumen “kepuasan dosen terhadap pembelajaran online” (OFSS) menunjukkan bahwa dari 28 item awal, 5 item dihapus, dan sisanya 23 item valid & reliabel dengan Cronbach’s alpha ≈ 0,901 dan korelasi positif dengan alat ukur lain (divergen/konvergen).[Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
- Penelitian pada instrumen pengukuran keterampilan kolaborasi siswa di sekolah Islam menggunakan validitas isi melalui panel ahli, EFA untuk validitas konstruk, serta Cronbach’s alpha untuk reliabilitas, hasilnya menunjukkan bahwa instrumen dapat digunakan untuk penelitian lanjutan.[Lihat sumber Disini - jer.or.id]
- Pengembangan instrumen survei untuk mengevaluasi “game edukasi digital” pada siswa melalui survei daring: kuesioner disebar online, kemudian dianalisis dengan EFA dan reliabilitas Cronbach’s alpha, instrumen hasil modifikasi menunjukkan reliabilitas yang lebih baik (alpha > 0,90) dibanding versi awal.[Lihat sumber Disini - jtiik.ub.ac.id]
Rekomendasi Praktis dalam Membuat dan Memvalidasi Instrumen Survei Online
Berdasarkan teori dan praktik empirik, berikut rekomendasi untuk kamu (atau peneliti lain) yang hendak membuat instrumen survei online:
- Mulailah dengan literatur dan teori yang jelas untuk mendefinisikan konstruk dan indikator, jangan asal bikin item.
- Gunakan panel ahli (expert judgment) untuk mengevaluasi konten instrumen, masukkan paling sedikit 3–5 ahli yang kompeten di bidang terkait.
- Lakukan pilot test terlebih dahulu dengan sejumlah responden kecil untuk mengecek kejelasan item, kesalahan penulisan, dan readability (terutama jika menggunakan bahasa Indonesia).
- Setelah pilot test, sebarkan kuesioner secara online ke sampel representatif, lalu lakukan analisis validitas konstruk (EFA, atau CFA jika sudah ada teori dimensi) dan reliabilitas internal (Cronbach’s alpha / composite reliability / metode lainnya).
- Jika ada item yang gagal (misalnya loading rendah, alpha menurun, CVI/CVR buruk), revisi atau hapus item tersebut.
- Dokumentasikan seluruh proses (literatur rujukan, panel ahli, analisis statistik) agar transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama jika hasil akan dipublikasikan.
- Perhatikan aspek teknis survei online: desain kuesioner, instrumen distribusi, informed consent/responden anonim, perlindungan data, dan etika penelitian.
Kesimpulan
Validasi instrumen survei online adalah langkah krusial agar data yang diperoleh dari survei daring dapat dipercaya, valid, dan reliabel. Validasi mencakup validitas isi, validitas konstruk, dan reliabilitas, melalui kombinasi expert judgment, analisis statistik, dan pilot test. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa instrumen yang telah melalui proses validasi dengan benar mampu menghasilkan alat ukur yang sahih dan konsisten, baik untuk kepuasan pembelajaran online, persepsi siswa, maupun aspek pendidikan lainnya. Oleh karena itu, setiap penelitian yang menggunakan kuesioner daring sebaiknya tidak melewatkan proses validasi, demi kualitas data dan keakuratan kesimpulan.