
Asupan Zat Besi pada Anak Sekolah
Pendahuluan
Anak-anak usia sekolah merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap kekurangan zat besi karena kebutuhan nutrisi mereka meningkat seiring pertumbuhan dan aktivitas belajar yang intens. Kekurangan zat besi bukan hanya masalah kesehatan fisiologis, tetapi juga berdampak signifikan pada kemampuan kognitif dan prestasi akademik anak. Kekurangan zat besi yang berkepanjangan bisa menyebabkan anemia, yang ditandai dengan berkurangnya hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan membawa oksigen ke jaringan tubuh berkurang, memicu kelelahan, gangguan konsentrasi, dan penurunan performa belajar di sekolah. Kondisi ini tak hanya menghalangi proses belajar, tetapi juga menghambat perkembangan fisik dan mental anak secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami pentingnya asupan zat besi dan bagaimana cara memperbaikinya melalui pola makan yang tepat menjadi poin penting dalam penanganan masalah gizi pada anak sekolah.
Definisi Asupan Zat Besi pada Anak Sekolah
Definisi Asupan Zat Besi pada Anak Sekolah Secara Umum
Asupan zat besi pada anak sekolah merujuk pada jumlah dan kualitas zat besi yang dikonsumsi anak melalui makanan dan minuman dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dalam menjaga fungsi tubuh yang optimal, seperti pembentukan hemoglobin dan perkembangan kognitif. Zat besi merupakan mineral esensial yang memainkan peran sentral dalam pembentukan sel darah merah, transportasi oksigen, dan fungsi sistem saraf. Tidak terpenuhinya kebutuhan zat besi dapat berdampak langsung pada kualitas hidup anak, termasuk kemampuan belajar di sekolah akibat turunnya konsentrasi dan kelelahan kronis. Untuk anak usia sekolah, asupan zat besi yang cukup memastikan tubuh memiliki cadangan yang memadai untuk mendukung berbagai proses metabolik serta pertumbuhan tubuh yang cepat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Asupan Zat Besi pada Anak Sekolah dalam KBBI
Sampai saat ini, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) tidak memiliki entri tertentu yang spesifik untuk istilah “asupan zat besi”; namun istilah “asupan” sendiri dalam KBBI didefinisikan sebagai sesuatu yang dimakan atau dikonsumsi, terutama berkaitan dengan makanan atau nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Jadi dalam konteks gizi, asupan zat besi berarti semua zat besi yang masuk ke tubuh melalui bahan makanan yang dikonsumsi anak. Referensi definisi KBBI ini dapat diakses melalui laman KBBI daring untuk istilah “asupan”.
Definisi Asupan Zat Besi pada Anak Sekolah Menurut Para Ahli
-
Thomas Aksu (2023) menyatakan bahwa zat besi merupakan nutrien penting bagi pertumbuhan anak karena membantu menjaga keseimbangan besi melalui intake yang direkomendasikan untuk mendukung pembentukan hemoglobin dan fungsi fisiologis lain dalam tubuh. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
H Masanja et al. (2025) dalam review mereka menunjukkan bahwa konsumsi makanan kaya zat besi yang teratur dapat meningkatkan status besi tubuh dan kadar hemoglobin pada remaja. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
TF Putri (2022) menegaskan bahwa kurangnya asupan zat besi merupakan salah satu penyebab utama anemia defisiensi besi pada remaja terutama melalui pola makan harian yang tidak memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal2.umku.ac.id]
-
W Afriliya (2025) menunjukkan asupan zat besi yang kurang menjadi faktor utama terjadinya anemia, mengindikasikan pentingnya variasi diet yang mencukupi dalam status gizi anak. [Lihat sumber Disini - jurnal.fanshurinstitute.org]
-
DFS Ridwan (2023) menyimpulkan bahwa rendahnya pengetahuan gizi terkait asupan zat besi berdampak pada rendahnya konsumsi makanan sumber zat besi dan meningkatkan risiko anemia pada remaja. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Sumber Makanan Tinggi Zat Besi untuk Anak
Zat besi dalam makanan dibedakan menjadi dua bentuk utama: heme iron yang berasal dari sumber hewani dan lebih mudah diserap tubuh, serta non-heme iron dari sumber nabati yang penyerapan biologisnya lebih rendah. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Sumber Zat Besi Heme (Makanan Hewani):
-
Daging merah (sapi, kambing) mengandung lemak rendah dan zat besi yang sangat mudah diserap tubuh. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Unggas seperti ayam dan kalkun termasuk sumber zat besi heme yang bisa dikonsumsi oleh anak secara rutin. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Ikan laut dan ikan kecil seperti ikan sarden atau teri juga merupakan sumber heme yang baik dan kaya nutrisi lain seperti omega-3 yang mendukung perkembangan otak. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Telur, khususnya kuning telur, adalah sumber zat besi heme yang mudah ditemukan dan bisa menjadi bagian dari menu sarapan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Sumber Zat Besi Non-Heme (Makanan Nabati):
-
Sayuran berdaun hijau seperti bayam dan kangkung memiliki kandungan zat besi non-heme dan merupakan tambahan penting dalam menu harian. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
-
Legum dan kacang-kacangan seperti lentil dan buncis menyediakan zat besi nabati yang baik untuk diet anak. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Biji-bijian seperti biji labu, biji bunga matahari, dan sereal yang difortifikasi meningkatkan asupan zat besi, terutama dalam diet anak yang banyak vegetarian. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Buah-buahan kering seperti aprikot dan kismis juga memberikan kontribusi zat besi non-heme. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, beberapa buah seperti jeruk, pepaya, dan stroberi memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dan dapat memperbaiki bioavailabilitas zat besi dari makanan non-heme saat dikonsumsi bersama makanan yang kaya zat besi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Zat Besi
Penyerapan zat besi dalam usus dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang dapat meningkatkan atau menghambat efisiensi uptake dari makanan yang dikonsumsi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor yang Meningkatkan Penyerapan:
-
Vitamin C (asam askorbat) yang banyak terdapat dalam buah-buahan seperti jeruk dan tomat dapat meningkatkan penyerapan zat besi non-heme hingga beberapa kali lipat ketika dikonsumsi bersamaan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Protein hewani dari daging atau ikan menyediakan zat besi heme yang bioavailabilitasnya tinggi dan sekaligus membantu meningkatkan penyerapan zat besi non-heme. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kondisi lambung yang sehat dengan pH yang optimal juga berperan penting dalam proses reduksi zat besi dari bentuk ferri ke fero sehingga lebih mudah diserap. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Faktor yang Menghambat Penyerapan:
-
Kalsium dan produk susu bila dikonsumsi bersama sumber zat besi dapat bersaing untuk penyerapan, sehingga mengurangi jumlah zat besi yang diserap tubuh. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Nutrien antinutrien seperti fitat, tannin, dan polifenol yang ditemukan dalam biji-bijian utuh, teh, kopi, dan beberapa sayuran dapat mengikat zat besi dan mengurangi penyerapan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Konsumsi teh dan kopi dekat dengan waktu makan sangat menghambat penyerapan zat besi, terutama non-heme, karena tannin yang terkandung di dalamnya. [Lihat sumber Disini - tandfonline.com]
Faktor-faktor ini harus dipertimbangkan dalam perencanaan pola makan anak agar asupan zat besi tidak hanya cukup tetapi juga efektif diserap tubuh.
Hubungan Asupan Zat Besi dengan Konsentrasi Belajar
Konsumsi zat besi yang tidak memadai pada anak sekolah berhubungan kuat dengan masalah konsentrasi belajar. Hemoglobin yang terbentuk dari zat besi berperan dalam membawa oksigen ke otak dan jaringan tubuh lainnya; ketika kadar zat besi rendah, suplai oksigen ke otak berkurang, yang menyebabkan kelelahan mental, penurunan fokus, dan gangguan daya ingat yang akhirnya berdampak pada performa akademik. [Lihat sumber Disini - jerkin.org]
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak dengan asupan zat besi yang kurang memiliki prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan yang memiliki asupan yang cukup. Asupan zat besi yang kurang memicu anemia defisiensi besi yang telah dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif serta konsentrasi yang kurang optimal di sekolah. [Lihat sumber Disini - eprints.ums.ac.id]
Namun, beberapa studi observasional juga menunjukkan hasil yang kompleks, di mana hubungan langsung antara asupan zat besi dan konsentrasi belajar tidak selalu signifikan secara statistik karena pengaruh faktor lain seperti kebiasaan sarapan, asupan vitamin C, dan pola makan harian secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Efek kekurangan zat besi pada fungsi kognitif mencerminkan pentingnya mempertahankan asupan zat besi yang adekuat melalui diet seimbang, selain kombinasi dengan makanan yang mendukung penyerapan zat besi untuk memastikan fungsi otak optimal dan kapasitas belajar anak di sekolah.
Risiko Anemia pada Anak Sekolah
Anemia defisiensi zat besi adalah salah satu bentuk anemia yang paling umum di kalangan anak sekolah. Ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang memadai, sehingga kapasitas darah dalam mengangkut oksigen menurun. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Anemia pada anak sekolah berdampak buruk pada kesehatan umum termasuk kelelahan kronis, pucat, penurunan daya tahan tubuh, serta penurunan fokus dan konsentrasi belajar. Prevalensi anemia pada anak sekolah di berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurangnya asupan zat besi merupakan faktor risiko utama terjadinya anemia, terutama di negara berkembang di mana variasi diet masih terbatas dan konsumsi sumber zat besi heme rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Anemia defisiensi zat besi juga dapat memperparah kondisi sosial-ekonomi, karena anak dengan anemia cenderung memiliki performa akademik yang rendah dan kualitas hidup yang kurang optimal, yang pada akhirnya memperpanjang siklus malnutrisi dan kemiskinan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Edukasi Gizi dalam Meningkatkan Asupan Besi
Edukasi gizi memainkan peran penting dalam meningkatkan asupan zat besi pada anak sekolah. Pendidikan gizi yang diberikan kepada siswa, orang tua, dan lingkungan sekolah dapat meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya sumber makanan tinggi zat besi, strategi kombinasi makanan untuk meningkatkan penyerapan, serta cara menghindari faktor penghambat. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Program edukasi gizi juga dapat meningkatkan kesadaran tentang manfaat sarapan sehat, pemilihan jajanan sehat di kantin sekolah, serta peningkatan konsumsi buah-buahan kaya vitamin C yang mendukung penyerapan zat besi. Intervensi ini terbukti memperbaiki pola makan anak dan mengurangi prevalensi anemia defisiensi zat besi dalam jangka menengah hingga panjang. [Lihat sumber Disini - jurnal.fanshurinstitute.org]
Pemberdayaan masyarakat dan kerjasama antara sekolah, keluarga, dan layanan kesehatan juga sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung praktik makan sehat serta pemeriksaan status gizi secara berkala.
Kesimpulan
Asupan zat besi pada anak sekolah merupakan aspek gizi penting yang memengaruhi kesehatan fisik dan kemampuan kognitif anak. Zat besi dibutuhkan tubuh untuk produksi hemoglobin yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak, yang mendukung konsentrasi dan prestasi akademik. Kekurangan asupan zat besi dikaitkan dengan risiko anemia, yang berdampak negatif pada energi, fokus, daya tahan tubuh, dan hasil belajar anak.
Sumber makanan tinggi zat besi, baik heme dari daging, ikan, dan telur maupun non-heme dari sayuran hijau, kacang-kacangan, dan sereal difortifikasi harus menjadi bagian dari pola makan harian anak sekolah. Penyerapan zat besi dipengaruhi oleh kombinasi makanan, vitamin C dapat meningkatkan absorpsi, sementara kalsium, fitat, dan tannin dalam makanan tertentu dapat menghambatnya.
Intervensi edukasi gizi yang melibatkan siswa, keluarga, dan sekolah terbukti meningkatkan pemahaman dan praktik diet seimbang yang optimal, serta berpotensi menurunkan prevalensi anemia defisiensi zat besi pada populasi anak sekolah. Peningkatan pengetahuan gizi, kebiasaan makan sehat, dan lingkungan yang mendukung adalah kunci untuk memastikan asupan zat besi yang adekuat bagi perkembangan holistik anak sekolah.