
Faktor Penyebab Kekurangan Energi Kronis
Pendahuluan
Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah gizi yang sering dialami di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Kondisi ini muncul ketika tubuh tidak mendapatkan cukup energi (kalori) dalam jangka waktu panjang sehingga keseimbangan energi terganggu dan fungsi tubuh menjadi terhambat. Dampaknya bukan hanya pada penurunan berat badan atau rasa lemah, tetapi juga pada gangguan kesehatan yang lebih serius seperti anemia atau gangguan pertumbuhan pada ibu hamil dan anak. Fenomena ini memiliki implikasi luas terhadap produktivitas, kualitas hidup, serta kesehatan reproduksi dan tumbuh kembang generasi berikutnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Kekurangan Energi Kronis
Definisi Kekurangan Energi Kronis Secara Umum
Kekurangan Energi Kronis adalah suatu kondisi malnutrisi di mana seseorang mengalami ketidakseimbangan jangka panjang antara asupan energi dan kebutuhan energi tubuh, sehingga tubuh tidak memiliki energi yang cukup untuk menjalankan fungsi dasar serta aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, terutama pada kelompok populasi yang rentan seperti ibu hamil, wanita usia subur, dan anak-anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Kekurangan Energi Kronis dalam KBBI
Menurut definisi yang digambarkan dalam berbagai literatur bahasa Indonesia, kekurangan energi kronis adalah keadaan kurangnya asupan makanan yang mencukupi kebutuhan energi dalam waktu yang cukup lama sehingga mengakibatkan gangguan pada kesehatan dan fungsi tubuh. Istilah “kronis” menunjukkan bahwa kondisi ini berlangsung secara terus-menerus dan tidak hanya sementara. [Lihat sumber Disini - puskesmaskembangan.jakarta.go.id]
Definisi Kekurangan Energi Kronis Menurut Para Ahli
-
S. Dagne et al. (2021)
Menurut penelitian internasional, Chronic Energy Deficiency (CED) merupakan kondisi di mana seseorang berada dalam keseimbangan energi yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang karena asupan energi tidak mencukupi kebutuhan tubuh. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Harna et al. (2024)
KEK dijelaskan sebagai bentuk malnutrisi yang timbul akibat asupan energi dan protein yang tidak seimbang dalam waktu yang lama, khususnya pada ibu hamil, sehingga meningkatkan risiko masalah kesehatan materno-fetal. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
W Ummah (2024)
Kekurangan energi kronis bukan hanya dipengaruhi oleh pola konsumsi makanan saja, tetapi juga oleh infeksi dan faktor pekerjaan yang memengaruhi keseimbangan energi di tubuh. [Lihat sumber Disini - assyifa.forindpress.com]
-
PR Agustri (2025)
Prevalensi KEK yang cukup tinggi pada populasi tertentu, seperti ibu hamil di Provinsi Kepulauan Riau, menunjukkan hubungan kuat antara asupan makanan yang tidak memadai dan kejadian kekurangan energi kronis. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]
Peran Asupan Makanan terhadap Energi Harian
Asupan makanan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat energi yang tersedia bagi tubuh untuk menjalankan fungsi fisiologis dan aktivitas sehari-hari. Energi yang dibutuhkan tubuh berasal dari makronutrien utama seperti karbohidrat, lemak, dan protein yang terkandung dalam makanan. Ketika asupan energi dari makanan kurang dari kebutuhan metabolisme tubuh yang berkelanjutan, tubuh akan mengalami defisit energi yang dapat berkembang menjadi kekurangan energi kronis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penelitian menunjukkan bahwa ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan kebutuhan energi sangat berkontribusi terhadap kasus KEK, terutama pada kelompok yang membutuhkan energi tinggi seperti ibu hamil, wanita usia subur, dan anak-anak. Asupan yang tidak mencukupi menyebabkan tubuh menggunakan cadangan energi dari simpanan lemak dan protein tubuh, yang dalam jangka panjang mengakibatkan penurunan massa otot, penurunan berat badan, dan gangguan fungsi organ penting seperti sistem kekebalan tubuh. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Keberlanjutan asupan makanan yang tidak memadai juga berkaitan dengan rendahnya frekuensi makan, kurangnya variasi makanan bergizi, serta pola makan yang tidak seimbang yang sering ditemui pada populasi berpendapatan rendah dan dengan pengetahuan nutrisi yang terbatas. Hal ini mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan energi harian yang dibutuhkan untuk aktivitas fisik dan fungsi tubuh lainnya. [Lihat sumber Disini - jik.stikesalifah.ac.id]
Selain energi total, kekurangan asupan protein juga berkontribusi pada ketidakseimbangan energi jangka panjang karena protein memberi kontribusi signifikan terhadap pemeliharaan massa otot dan perbaikan sel. Kekurangan protein dapat memperberat kondisi energi rendah karena tubuh tidak lagi mampu mempertahankan struktur jaringan pentingnya. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Faktor Sosial dan Ekonomi yang Mempengaruhi Asupan
Faktor sosial dan ekonomi memiliki peran penting dalam menentukan pola asupan makanan dan kecukupan energi yang diterima oleh individu atau keluarga. Pendapatan keluarga menentukan kemampuan untuk membeli makanan bergizi yang cukup dalam jumlah dan kualitasnya. Keluarga dengan pendapatan rendah cenderung memilih makanan yang lebih murah tetapi kurang bergizi, sehingga berisiko mengalami kekurangan energi kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Pengetahuan tentang gizi juga merupakan faktor sosial penting yang memengaruhi asupan makanan. Individu yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan energi harian dan jenis makanan yang tepat cenderung tidak mampu mengatur pola makan yang seimbang, yang pada akhirnya meningkatkan risiko KEK. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Budaya dan praktik makanan tertentu juga dapat memengaruhi pola asupan energi. Beberapa tradisi atau pantangan makanan dapat mengurangi variasi makanan yang dikonsumsi dan bahkan membatasi asupan makronutrien penting. Faktor pendidikan dan pekerjaan juga menjadi bagian dari dimensi sosial ekonomi yang memengaruhi kemampuan seseorang mengakses makanan sehat dan bergizi secara konsisten. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Keamanan pangan di tingkat rumah tangga juga berkontribusi besar terhadap kemungkinan seseorang mengalami KEK. Ketidakamanan pangan menyebabkan fluktuasi asupan nutrien termasuk energi, sehingga individu dengan sumber daya pangan yang tidak stabil lebih berisiko mengalami defisit energi kronis jika tidak ada intervensi atau akses terhadap bantuan pangan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebutuhan Energi
Aktivitas fisik berperan besar dalam menentukan kebutuhan energi harian seseorang. Semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung aktivitas tersebut. Jika asupan energi tidak meningkat sesuai dengan kebutuhan aktivitas yang semakin tinggi, tubuh akan mengalami defisit energi yang kronis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi seperti pekerjaan berat, pertanian, atau pekerjaan rumah tangga yang intensif memerlukan energi tambahan. Tanpa asupan energi yang cukup, individu yang melakukan aktivitas fisik berat lebih rentan mengalami penurunan massa tubuh dan gangguan fungsi fisiologis. [Lihat sumber Disini - jik.stikesalifah.ac.id]
Selain itu, defisit energi juga dapat muncul ketika seseorang melakukan latihan olahraga berlebihan tanpa dukungan asupan kalori yang cukup, yang sering terjadi pada atlet atau pekerja fisik yang memiliki kebutuhan energi tinggi. Kekurangan energi dalam jangka panjang dapat mengganggu metabolisme, mengurangi kemampuan tubuh untuk memulihkan diri, dan menimbulkan kelelahan kronis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pengaruh Penyakit atau Kondisi Medis
Penyakit atau kondisi medis dapat secara signifikan memengaruhi keseimbangan energi dalam tubuh. Infeksi kronis, gangguan pencernaan, atau kondisi kesehatan yang memengaruhi penyerapan nutrien dapat menurunkan kemampuan tubuh memperoleh energi dari makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh, infeksi menyebabkan penurunan nafsu makan, penurunan penyerapan nutrisi, dan peningkatan kebutuhan energi tubuh untuk melawan infeksi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Penyakit kronis seperti gangguan metabolisme, gangguan pencernaan, serta kondisi medis yang menyebabkan penurunan fungsi organ tertentu juga mengakibatkan gangguan pemanfaatan energi. Ketika tubuh tidak dapat menyerap atau memetabolisme nutrien dengan efisien, energi dari makanan tidak tersedia untuk fungsi tubuh penting, yang memperburuk status energi kronis. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Beberapa penyakit juga meningkatkan kebutuhan energi tubuh jauh di atas normal; jika asupan energi tidak disesuaikan, tubuh akan jatuh ke dalam defisit energi terus-menerus. Kondisi medis seperti gangguan tiroid, penyakit paru-paru kronis, atau HIV/AIDS menimbulkan beban metabolik yang lebih tinggi sehingga energi yang tersedia cepat habis jika asupan tidak mencukupi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Dampak Kekurangan Energi terhadap Kesehatan
KEK berdampak luas terhadap berbagai aspek kesehatan. Pada ibu hamil, kekurangan energi kronis dikaitkan dengan risiko anemia, pendarahan, kurangnya peningkatan berat badan normal selama kehamilan, dan lebih rentan terhadap infeksi. Kondisi ini juga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin sehingga meningkatkan risiko stunting dan berat lahir rendah. [Lihat sumber Disini - jik.stikesalifah.ac.id]
Selain itu, kekurangan energi kronis menurunkan kapasitas fisik dan produktivitas seseorang, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Individu dengan defisit energi kronis sering mengalami kelelahan ekstrem, gangguan konsentrasi, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kesimpulan
Kekurangan Energi Kronis merupakan kondisi malnutrisi yang kompleks dan berjangka panjang, yang terjadi ketika tubuh tidak menerima cukup energi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan aktivitas harian. Faktor penyebabnya mencakup ketidakseimbangan asupan makanan, kondisi sosial ekonomi yang rendah, pola aktivitas fisik yang tinggi tanpa dukungan asupan energi yang memadai, serta penyebab medis yang memengaruhi penyerapan atau kebutuhan energi tubuh. Dampaknya mencakup gangguan kesehatan serius seperti anemia, gangguan pertumbuhan janin, dan penurunan fungsi tubuh yang signifikan. Pemahaman mendalam tentang faktor-faktor ini penting untuk merancang intervensi yang efektif guna mencegah dan menangani KEK, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil, wanita usia subur, dan anak-anak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]