
Identifikasi Faktor Risiko Kehamilan Kurang Energi Kronis (KEK)
Pendahuluan
Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi serius yang masih sering dijumpai di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Kondisi ini terjadi ketika asupan energi dan/atau protein selama periode panjang tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga menyebabkan status gizi ibu menurun dan berisiko mempengaruhi kesehatan ibu serta pertumbuhan janin. KEK dapat berdampak pada komplikasi kehamilan, gangguan pertumbuhan janin, hingga kematian maternal dan perinatal. [Lihat sumber Disini - ejournal2.uika-bogor.ac.id]
Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan KEK pada ibu hamil, termasuk aspek nutrisi, sosial ekonomi, pola makan, peran ANC (Antenatal Care), lingkungan, pekerjaan, serta hambatan dalam pemenuhan nutrisi. Pemahaman faktor-faktor ini penting agar upaya pencegahan dan penatalaksanaan bisa lebih optimal.
Definisi Kurang Energi Kronis (KEK)
Definisi KEK Secara Umum
KEK pada ibu hamil didefinisikan sebagai kondisi malnutrisi kronis akibat asupan energi dan/atau protein yang tidak mencukupi dalam jangka waktu lama. Kondisi ini bukan hanya masalah sementara, melainkan defisit gizi akumulatif yang terjadi sebelum atau selama kehamilan, sehingga kebutuhan tambahan energi dan protein selama hamil tidak dapat terpenuhi. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Definisi KEK dalam KBBI
Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan / KBBI, “kronis” merujuk pada sesuatu yang berlangsung terus-menerus atau dalam waktu lama. Kombinasi istilah ini menekankan bahwa KEK adalah kekurangan energi yang bersifat jangka panjang, bukan defisiensi sesaat. Meskipun definisi spesifik “KEK” mungkin tidak ada dalam KBBI, istilah “kronis” memberi makna bahwa asupan energi yang kurang bersifat berkelanjutan, sesuai dengan konsep malnutrisi kronik.
Definisi KEK Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi KEK menurut literatur ilmiah dan penelitian di bidang gizi dan kesehatan maternal:
-
Ibu hamil dengan KEK didefinisikan sebagai mereka yang memiliki asupan energi dan protein kurang dari kebutuhan minimal selama kehamilan sehingga terjadi malnutrisi kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.permataindonesia.ac.id]
-
Dalam banyak penelitian, KEK diukur melalui antropometri, misalnya lingkar lengan atas (LILA) kurang dari ambang tertentu (misal < 23, 5 cm) sebagai indikator risiko KEK. [Lihat sumber Disini - polkesraya.ac.id]
-
KEK juga dipahami sebagai salah satu determinan utama berat badan lahir rendah (BBLR), anemia, dan komplikasi kehamilan lainnya, akibat defisit energi dan nutrisi berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
-
Selain itu, KEK mencerminkan ketidakseimbangan antara kebutuhan energi ibu (termasuk untuk pertumbuhan janin) dan asupan yang tersedia selama periode prakehamilan atau kehamilan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Faktor Nutrisi sebagai Penyebab Utama KEK
Asupan nutrisi, baik kuantitas maupun kualitas, merupakan faktor paling utama dalam kejadian KEK. Ibu dengan asupan energi dan protein rendah pada masa kehamilan sangat rentan mengalami KEK. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
Beberapa studi menunjukkan bahwa konsumsi makanan tidak memadai dan ketersediaan pangan keluarga dapat menjadi penyebab KEK. Contohnya, saat keluarga tidak mampu menyediakan pangan adekuat, ibu hamil tidak mendapatkan asupan energi dan protein yang cukup. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Selain itu, kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi, pola makan seimbang, dan kebutuhan tambahan selama kehamilan turut berkontribusi, ibu mungkin tidak sadar akan pentingnya peningkatan asupan makronutrien dan mikronutrien. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Dalam beberapa kasus, budaya pantang makan (pantangan makanan) juga dilaporkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi KEK, karena membatasi jenis makanan yang dikonsumsi ibu hamil, sehingga asupan energi dan zat gizi menjadi tidak optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Hubungan Sosial Ekonomi dengan Risiko KEK
Faktor sosial ekonomi, seperti pendapatan keluarga, status ekonomi, dan latar belakang pendidikan ibu, terbukti memiliki hubungan signifikan dengan kejadian KEK. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Penelitian di beberapa wilayah menunjukkan bahwa ibu hamil dari keluarga dengan pendapatan rendah cenderung lebih berisiko mengalami KEK. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Pendidikan ibu juga memiliki peran: ibu dengan tingkat pendidikan rendah seringkali memiliki pengetahuan gizi yang terbatas, kurang memahami kebutuhan nutrisi selama kehamilan, sehingga meningkatkan risiko KEK. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Status pekerjaan dan paritas juga perlu diperhatikan: di beberapa studi, ibu rumah tangga atau dengan pekerjaan tertentu disebut sebagai kelompok dengan prevalensi KEK tinggi. [Lihat sumber Disini - polkesraya.ac.id]
Pengaruh Pola Makan terhadap Status Energi
Pola makan ibu, termasuk frekuensi makan, variasi makanan, dan keseimbangan gizi, sangat menentukan status energi dan risiko KEK. Ibu yang makan sedikit, jarang makan, atau pola makan tidak seimbang lebih mudah mengalami defisit energi. [Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id]
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) serta kecukupan kalori secara umum berkorelasi dengan status gizi ibu dan kejadian KEK. [Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id]
Jika asupan makanan terbatas atau terhambat (misalnya karena mual, muntah, pantangan budaya, atau keterbatasan ekonomi), maka berat badan ibu tidak meningkat secara optimal, dan kebutuhan energi untuk kehamilan tidak terpenuhi, memicu KEK. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Peran ANC dalam Deteksi Dini KEK
Kunjungan Antenatal Care (ANC) penting untuk mendeteksi status gizi ibu, termasuk risiko KEK. Melalui pengukuran antropometri (misalnya LILA), penilaian nutrisi, dan konseling gizi, petugas kesehatan dapat mengidentifikasi ibu rentan KEK lebih awal. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
Beberapa studi melaporkan bahwa frekuensi ANC yang rendah berkorelasi dengan kejadian KEK, ibu yang jarang melakukan ANC lebih berisiko. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
Dengan deteksi dini dan intervensi seperti pemberian makanan tambahan (PMT), penyuluhan gizi, dan pemantauan gizi secara berkala, risiko KEK dapat dicegah atau dikurangi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Dampak KEK terhadap Pertumbuhan Janin
Ibu hamil dengan KEK berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), prematur, atau gangguan pertumbuhan, karena asupan energi dan nutrisi untuk tumbuh kembang janin tidak memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkespalembang.ac.id]
Selain itu, KEK berhubungan dengan anemia pada ibu hamil, kondisi ini dapat memperburuk suplai oksigen dan nutrisi ke janin, berisiko terhadap perkembangan janin, kelahiran prematur, atau komplikasi lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.uym.ac.id]
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat mempengaruhi kualitas kesehatan anak, pertumbuhan, dan perkembangan, bahkan berkontribusi pada stunting atau anak dengan status gizi buruk. [Lihat sumber Disini - jurnal.mercubaktijaya.ac.id]
Upaya Pencegahan KEK pada Ibu Hamil
Beberapa upaya pencegahan yang direkomendasikan berdasarkan literatur:
-
Pemberian makanan tambahan (PMT) dan suplementasi gizi untuk ibu hamil dengan risiko atau sudah menunjukkan gejala KEK. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Penyuluhan gizi dan edukasi kepada ibu hamil tentang kebutuhan energi dan protein selama kehamilan, pentingnya pola makan seimbang, variasi makanan, serta pengetahuan tentang pantangan makanan yang dapat membatasi asupan gizi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Peningkatan akses dan frekuensi ANC untuk mendeteksi status gizi ibu sejak awal kehamilan, pemantauan antropometri, konseling gizi, dan intervensi dini jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
-
Upaya peningkatan status sosial ekonomi keluarga, misalnya program bantuan pangan, ekonomi berbasis keluarga, dukungan sosial, untuk memastikan ketersediaan pangan adekuat selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Faktor Lingkungan dan Pekerjaan yang Berisiko
Lingkungan dan kondisi pekerjaan ibu juga dapat memengaruhi risiko KEK. Ibu dengan pekerjaan berat atau aktivitas fisik tinggi selama hamil, tanpa diimbangi asupan energi yang cukup, berisiko defisit energi. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Demikian pula, ibu yang tinggal di lingkungan dengan keterbatasan akses pangan, sanitasi buruk, atau beban hidup tinggi kemungkinan lebih sulit memenuhi kebutuhan gizi, sehingga meningkatkan risiko KEK. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Hambatan Ibu dalam Pemenuhan Nutrisi
Beberapa hambatan umum yang sering dilaporkan dalam penelitian:
-
Pengetahuan gizi ibu yang rendah, banyak ibu tidak mengetahui kebutuhan tambahan energinya selama hamil atau pentingnya variasi makanan. [Lihat sumber Disini - ojs3.poltekkes-mks.ac.id]
-
Budaya pantang makanan, pantangan terhadap makanan tertentu selama kehamilan yang mengurangi keragaman dan kecukupan gizi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Keterbatasan ekonomi dan ketersediaan pangan dalam keluarga, jika keluarga sulit membeli atau menyediakan makanan bergizi cukup, asupan ibu akan kurang. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Kurang akses ke pelayanan kesehatan/ANC, ibu yang jarang kontrol kehamilan mungkin tidak mendapatkan konseling gizi maupun pemantauan status gizi. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]
-
Aktivitas fisik atau pekerjaan berat tanpa kompensasi asupan energi yang memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Strategi Penatalaksanaan Ibu Hamil dengan KEK
Penatalaksanaan ibu hamil dengan KEK melibatkan beberapa strategi:
-
Pemeriksaan awal dan pemantauan status gizi ibu melalui ANC, termasuk pengukuran antropometri (misalnya LILA), evaluasi asupan makan, dan riwayat gizi/prakehamilan.
-
Pemberian makanan tambahan (PMT) dan suplemen sesuai kebutuhan, terutama jika ibu memiliki defisit energi/protein, anemia, atau risiko tinggi lainnya.
-
Edukasi gizi komprehensif, memberikan penyuluhan tentang kebutuhan energi dan protein ibu hamil, pentingnya variasi makanan dan asupan mikronutrien, serta menangani pantangan atau kebiasaan makanan yang membatasi asupan gizi.
-
Intervensi sosial ekonomi, mendukung keluarga kurang mampu dengan program bantuan pangan, peningkatan akses ekonomi atau program sosial untuk meningkatkan kemampuan membeli pangan bergizi.
-
Pemantauan tumbuh kembang janin dan kondisi kesehatan ibu terus-menerus, agar komplikasi dapat dicegah atau ditangani sedini mungkin.
Kesimpulan
Kurang Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang kompleks dengan berbagai faktor penentu, mulai dari asupan nutrisi, pola makan, pengetahuan gizi, kondisi sosial ekonomi, pekerjaan, lingkungan, hingga akses ke layanan kesehatan. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan meningkatkan risiko KEK jika tidak ditangani secara komprehensif. Pengaruh KEK terhadap kesehatan ibu dan pertumbuhan janin sangat nyata, termasuk risiko anemia, berat badan lahir rendah, dan komplikasi kehamilan.
Upaya pencegahan dan penatalaksanaan perlu dilakukan secara multipihak: melalui pemberian tambahan gizi, edukasi, pemantauan selama kehamilan, serta dukungan sosial ekonomi. Deteksi dini melalui ANC serta intervensi yang tepat dapat membantu menurunkan prevalensi KEK dan memperbaiki hasil kehamilan.