
Basis Kas: Konsep dan Perbandingan dengan Akrual
Pendahuluan
Akuntansi merupakan tulang punggung dalam penyusunan informasi keuangan yang kredibel dan akurat bagi pengambil keputusan, baik dalam dunia bisnis maupun pemerintahan. Salah satu konsep mendasar dalam akuntansi adalah basis pencatatan, yakni aturan yang menentukan kapan transaksi keuangan diakui dalam laporan keuangan. Dua metode pencatatan yang paling umum digunakan adalah basis kas (cash basis) dan basis akrual (accrual basis). Basis kas sering dipilih oleh usaha kecil karena kesederhanaannya, sementara basis akrual memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi keuangan entitas dengan mengakui transaksi saat terjadinya peristiwa ekonomi, bukan sekadar saat kas berpindah tangan. Perbedaan antara kedua basis ini menjadi penting dalam memahami bagaimana pendapatan dan beban diakui serta implikasinya terhadap pelaporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Definisi Basis Kas: Konsep dan Pengertian
Definisi Basis Kas Secara Umum
Basis kas dalam akuntansi adalah metode pencatatan transaksi keuangan di mana pendapatan diakui saat kas atau setara kas benar-benar diterima dan beban dicatat saat kas benar-benar dibayarkan. Dalam pendekatan ini, laporan keuangan secara langsung mencerminkan pergerakan kas aktual dalam suatu periode tertentu tanpa memperhitungkan piutang atau utang yang belum diselesaikan. Pendekatan ini memfokuskan perhatian pada arus kas sebagai indikator utama performa keuangan entitas. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Metode basis kas memberi kejelasan tentang arus kas masuk dan keluar, dan sering kali digunakan oleh entitas usaha kecil atau bisnis baru yang memiliki struktur operasi sederhana dengan sedikit piutang dan utang. Di dalam praktiknya, basis kas memungkinkan penyusunan catatan keuangan yang mudah dipahami bahkan oleh non-akuntan karena semua transaksi dicatat hanya ketika kas berpindah tangan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Basis Kas dalam KBBI
Secara formal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan kas sebagai sejumlah uang yang tersedia dan segera dapat digunakan. Dengan demikian, basis kas dalam konteks akuntansi adalah suatu basis pencatatan yang berbasis pada penerimaan dan pengeluaran uang tunai dalam aktivitas usahanya. Metode ini menitikberatkan pada bukti fisik kas masuk dan kas keluar sebagai dasar pencatatan transaksi keuangan dalam periode pelaporan tertentu. Kata “kas” menekankan fokus pada arus uang tunai secara langsung dalam pengakuan pendapatan dan beban. (KBBI, kas dan basis, 2025).
Definisi Basis Kas Menurut Para Ahli
Menurut Bastian (2005) dalam kajian akuntansi pemerintahan, basis kas adalah metode yang mencatat transaksi ketika dana telah diterima atau dibayar, sehingga jika suatu transaksi belum menimbulkan perubahan kas, transaksi tersebut tidak perlu dicatat. Basis ini menekankan pengukuran saldo kas dan perubahan saldo kas dalam suatu periode sebagai indikator utama hasil aktivitas keuangan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Selain itu, dalam sumber akuntansi modern, basis kas disebut sebagai metode pencatatan yang mendasarkan pengakuan pendapatan pada saat uang tunai diterima, dan biaya dicatat pada saat pembayaran dilakukan. Dengan demikian, pencatatan tidak mempertimbangkan apakah transaksi tersebut telah terjadi secara ekonomis jika kas belum berpindah. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Karakteristik Pencatatan Berbasis Kas
Basis kas memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari metode lain, terutama basis akrual. Karakteristik-karakteristik inilah yang menentukan bagaimana transaksi dicatat dan diakui dalam laporan keuangan.
Pertama, metode ini fokus secara eksklusif pada arus kas aktual: setiap transaksinya dicatat hanya ketika kas benar-benar masuk atau keluar. Dengan kata lain, transaksi yang belum melibatkan penerimaan atau pembayaran kas tidak akan tercatat. Hal ini memberikan ketepatan yang tinggi untuk melihat posisi kas aktual entitas dalam periode tersebut. ([Lihat sumber Disini - ksap.org])
Kedua, pencatatan berbasis kas cenderung sederhana karena tidak memerlukan akun piutang, utang, atau penyesuaian periode. Ini memungkinkan usaha kecil atau individu tanpa latar belakang akuntansi yang kuat untuk menerapkan sistem pencatatan ini dengan lebih mudah dibandingkan metode lain. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Ketiga, basis kas tidak mematuhi prinsip matching seperti pada akrual, sehingga biaya dan pendapatan tidak selalu dicatat pada periode ketika sebenarnya terjadi hubungan sebab-akibatnya. Misalnya, pendapatan yang dihasilkan pada akhir tahun tetapi dibayar pada awal tahun berikutnya akan dicatat pada periode berikutnya, meskipun ekonominya terjadi di periode saat pendapatan tersebut dihasilkan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Keempat, metode ini tidak cocok untuk entitas yang memiliki piutang atau utang dalam jumlah signifikan, karena tidak mencerminkan kewajiban yang akan datang atau pendapatan yang telah diperoleh tetapi belum dibayar kasnya. ([Lihat sumber Disini - artikel.pajakku.com])
Pengakuan Pendapatan dan Beban Berbasis Kas
Dalam basis kas, pengakuan pendapatan dan beban adalah murni bergantung pada arus kas yang diterima atau dibayarkan.
Pendapatan diakui hanya ketika kas benar-benar diterima, tanpa memperhatikan kapan transaksi atau penjualan jasa/barang itu terjadi. Oleh karena itu, jika sebuah perusahaan menyelesaikan pekerjaan pada akhir tahun tetapi baru menerima pembayaran di awal tahun berikutnya, pendapatan tersebut baru akan diakui di periode kas diterima. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Demikian pula, beban dicatat hanya ketika kas betul-betul dibayarkan. Jika sebuah entitas menerima faktur untuk biaya yang terjadi di tahun ini tetapi belum dibayar hingga tahun berikutnya, beban tersebut baru akan diakui saat pembayaran dilakukan. Hal ini dapat menyebabkan distorsi dalam pengukuran kinerja ekonomi yang sesungguhnya dalam suatu periode tertentu, terutama jika ada perbedaan waktu antara terjadinya transaksi ekonomi dan pembayaran kasnya. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Karena pengakuan berbasis kas sangat bergantung pada transaksi kas saja, metode ini tidak melibatkan akun seperti piutang atau utang yang khas pada akuntansi berbasis akrual. Akibatnya, laporan keuangan yang dihasilkan cenderung lebih sederhana dan kurang mencerminkan kewajiban jangka panjang atau hak tagih di masa depan. ([Lihat sumber Disini - ksap.org])
Kelebihan dan Keterbatasan Basis Kas
Kelebihan Basis Kas
Salah satu keunggulan utama basis kas adalah kesederhanaannya, sehingga mudah dipahami dan diterapkan tanpa kebutuhan penyesuaian atau akun kompleks lainnya. Metode ini cocok bagi usaha kecil, pemilik tunggal, atau bisnis jasa yang operasi transaksinya sederhana. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Selain itu, karena pengakuan pendapatan dan beban didasarkan pada kas aktual yang diterima atau dibayarkan, laporan keuangan memberikan gambaran nyata mengenai kondisi arus kas perusahaan. Ini sangat berguna dalam pengelolaan kas harian dan perencanaan arus kas jangka pendek. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Metode ini juga dapat membantu dalam perencanaan pajak karena pendapatan hanya dikenakan pajak saat kas diterima, dan pengeluaran hanya dikurangkan saat dibayar, memberikan fleksibilitas dalam manajemen pajak. ([Lihat sumber Disini - artikel.pajakku.com])
Keterbatasan Basis Kas
Namun demikian, basis kas memiliki keterbatasan signifikan dalam menyajikan gambaran komprehensif tentang performa keuangan entitas. Karena hanya melibatkan kas masuk dan keluar, metode ini sering kali gagal mengakui pendapatan yang telah diperoleh tetapi belum dibayar dan beban yang belum dibayar, sehingga dapat memberikan gambaran yang kurang informatif mengenai kesehatan finansial suatu entitas, terutama dalam jangka panjang. ([Lihat sumber Disini - ksap.org])
Keterbatasan lain terletak pada ketidakmampuannya mencerminkan kewajiban jangka panjang atau aset seperti piutang yang belum ditagih. Hal ini membuat basis kas kurang cocok untuk perusahaan besar atau entitas yang memiliki volume transaksi kredit signifikan atau operasi jangka panjang. ([Lihat sumber Disini - artikel.pajakku.com])
Perbandingan Basis Kas dan Basis Akrual
Perbedaan paling mendasar antara basis kas dan basis akrual terletak pada waktu pengakuan transaksi. Dalam basis kas, pendapatan diakui saat kas diterima dan beban diakui saat kas dibayarkan. Sebaliknya, basis akrual mengakui pendapatan saat transaksi terjadi dan beban saat kewajiban muncul, tanpa memperhatikan kapan kas berpindah tangan. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Akuntansi berbasis akrual umumnya memberikan gambaran yang lebih akurat tentang situasi keuangan suatu entitas karena melibatkan penyesuaian terhadap piutang dan utang serta mengikuti prinsip matching yang mengaitkan pendapatan dengan beban yang terkait dalam periode yang sama. Ini membuat laporan akrual lebih informatif untuk pengambilan keputusan jangka panjang dibandingkan basis kas yang berpijak pada arus kas aktual saja. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Namun, basis akrual juga lebih kompleks dan memerlukan sistem pencatatan yang lebih lengkap dan terstruktur. Di banyak yurisdiksi, terutama untuk perusahaan besar dan entitas publik, standar pelaporan keuangan seperti GAAP atau IFRS mengharuskan penggunaan basis akrual untuk memastikan transparansi dan konsistensi laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id])
Sebagai ringkasan:
-
Basis Kas: sederhana, mengutamakan kas aktual, cocok untuk usaha kecil.
-
Basis Akrual: lebih kompleks, mencerminkan semua transaksi ekonomi terlepas dari aliran kas, memberikan gambaran menyeluruh tentang performa keuangan. ([Lihat sumber Disini - artikel.pajakku.com])
Penggunaan Basis Kas dalam Praktik Akuntansi
Basis kas umumnya diterapkan oleh usaha kecil, organisasi nirlaba, atau entitas mikro yang memiliki volume transaksi sederhana dan sedikit piutang atau utang. Karena pencatatannya bergantung langsung pada aliran kas, sistem ini memberikan kontrol yang baik terhadap pengelolaan kas dan memudahkan perencanaan kas jangka pendek. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])
Selain itu, basis kas sering digunakan untuk tujuan internal dalam usaha kecil yang tidak diwajibkan mengikuti standar pelaporan keuangan formal. Misalnya, usaha dagang kecil, toko ritel, atau penyedia jasa yang menerima pembayaran tunai, sering memilih metode ini karena tidak memerlukan penyesuaian piutang atau utang. ([Lihat sumber Disini - artikel.pajakku.com])
Namun demikian, ketika entitas tumbuh dan memiliki kompleksitas transaksi yang lebih besar, seperti penjualan kredit, inventaris, atau investasi jangka panjang, basis kas menjadi kurang memadai karena tidak mencatat piutang yang belum dibayar atau kewajiban yang belum dilunasi. Dalam situasi seperti ini, banyak entitas akhirnya beralih ke basis akrual untuk menyajikan laporan yang lebih akurat dan informatif bagi pemangku kepentingan. ([Lihat sumber Disini - ksap.org])
Kesimpulan
Basis kas merupakan metode pencatatan akuntansi yang mengakui pendapatan hanya saat kas diterima dan beban hanya saat kas dibayarkan, sehingga memberikan gambaran langsung arus kas entitas dalam suatu periode. Metode ini cocok untuk usaha kecil dan operasi sederhana, tetapi kurang efektif dalam mencerminkan gambaran keuangan yang menyeluruh karena tidak mencatat piutang atau utang. Berbeda dengan basis akrual yang mengakui transaksi saat terjadinya peristiwa ekonomi terlepas dari aliran kas, basis kas memiliki keterbatasan dalam menyajikan informasi jangka panjang yang komprehensif. Oleh karena itu, pilihan basis akuntansi harus disesuaikan dengan kompleksitas operasi dan kebutuhan pengguna laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - klikpajak.id])