
Fear of Missing Out (FOMO): Konsep dan Perilaku Sosial
Pendahuluan
Fear of Missing Out (FoMO), atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai ketakutan untuk ketinggalan, merupakan fenomena psikologis yang semakin mengemuka di era digital saat ini. Fenomena ini muncul seiring dengan maraknya penggunaan teknologi dan media sosial yang terus mempermudah akses informasi serta aktivitas sosial. Ketika seseorang merasakan FoMO, mereka khawatir bahwa dirinya tidak ikut serta dalam pengalaman, informasi, atau peristiwa penting yang sedang terjadi di lingkungan sosial mereka, baik secara online maupun offline. Kondisi ini dapat mendorong perilaku pencarian informasi yang berlebihan, kecemasan sosial, hingga ketergantungan pada media digital dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan berbagai platform digital. Fenomena FoMO bukan hanya sekadar isu individu, tetapi juga fenomena sosial yang memengaruhi pola perilaku, interaksi sosial, kesejahteraan psikologis, dan kualitas hubungan interpersonal dalam masyarakat modern. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Fear of Missing Out (FOMO)
Definisi Fear of Missing Out (FOMO) Secara Umum
Fear of Missing Out (FoMO) secara umum dapat dipahami sebagai ketakutan atau kekhawatiran yang dialami seseorang ketika merasa dirinya terlewatkan dari pengalaman, kejadian, atau informasi penting yang dialami orang lain. FoMO sering dikaitkan dengan perasaan cemas yang terus menerus untuk memantau apa yang sedang terjadi di lingkungan sosial, baik melalui percakapan langsung maupun terutama melalui media sosial. Dalam konteks kehidupan digital modern, FoMO menjadi salah satu fenomena yang memengaruhi perilaku banyak individu untuk selalu terhubung dan memastikan diri tidak tertinggal dalam hal pengalaman sosial yang dianggap bernilai. Hal ini menggambarkan bagaimana perasaan sosial dapat memicu kebutuhan untuk melakukan checking atau update terus-menerus terhadap aktivitas dan kehidupan orang lain di jaringan sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Fear of Missing Out (FOMO) dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), FoMO belum tercantum sebagai istilah formal, namun konsepnya dapat dijelaskan melalui definisi istilah psikologis yang sama dalam bahasa Indonesia: perasaan takut atau cemas yang mengarah pada kekhawatiran akan kehilangan pengalaman, informasi, atau kesempatan yang penting dalam konteks sosial. Penyebutan fenomena ini banyak dijumpai dalam literatur psikologi dan komunikasi sebagai refleksi dari perubahan sosial akibat teknologi digital yang semakin kompleks dan intens, terutama di kalangan pengguna internet aktif. (Catatan: definisi KBBI terhadap istilah fear of missing out belum tersedia dalam KBBI daring, sehingga pemaknaan dilakukan melalui terjemahan istilah psikologis).
Definisi Fear of Missing Out (FOMO) Menurut Para Ahli
Przybylski, dkk. (2013)
FoMO didefinisikan sebagai suatu kekhawatiran yang menyeluruh bahwa orang lain mungkin tengah mengalami pengalaman yang lebih baik atau lebih berharga yang tidak diikuti oleh individu tersebut. Fenomena ini ditandai oleh dorongan kuat untuk tetap terhubung secara sosial dan tidak ingin melewatkan informasi atau aktivitas sosial yang penting dalam kehidupan orang lain dan merupakan definisi yang sering dijadikan rujukan dalam studi fenomena ini. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]
Putra & Ariana (2022)
Dalam penelitian yang menelaah peran FoMO sebagai mediator antara kecemasan dan kelelahan akibat penggunaan media sosial, FoMO dijelaskan sebagai salah satu mekanisme psikologis yang meningkatkan keterlibatan media sosial yang intens. Hal ini menunjukkan bagaimana FoMO menjadi faktor psikologis yang memengaruhi perilaku digital akibat kecemasan sosial. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hidayatul Fitri, Hariyono & Arpandy (2024)
FoMO dijelaskan sebagai rasa takut, cemas, atau khawatir yang muncul karena ketinggalan suatu informasi, tren, atau aktivitas orang lain, terutama mereka yang aktif menggunakan media sosial, serta menjelaskan pengaruh self-esteem terhadap intensitas FoMO di kalangan generasi Z. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]
Penelitian dalam Philanthropy: Journal of Psychology (2024)
FoMO dikaitkan dengan kecenderungan kecanduan media sosial dan kesepian yang dialami oleh kelompok dewasa awal, menunjukkan hubungan erat antara FoMO, hubungan sosial, dan kesejahteraan psikologis. [Lihat sumber Disini - journals.usm.ac.id]
Faktor Psikologis Pemicu FOMO
Fear of Missing Out (FoMO) muncul tidak hanya sebagai reaksi terhadap lingkungan sosial digital, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis internal yang membentuk cara individu merasakan dan menanggapi kehadiran sosial di dunia nyata maupun maya. Beberapa faktor psikologis utama yang memicu FoMO meliputi:
1. Kebutuhan untuk Diterima dan Dipahami secara Sosial
Salah satu faktor fundamental yang memicu FoMO adalah kebutuhan kuat manusia untuk merasa diterima dalam kelompok sosialnya. Individu yang memiliki kebutuhan kuat untuk hubungan sosial cenderung lebih rentan mengalami FoMO. Kebutuhan ini mendorong dorongan untuk terus terhubung dan mengikuti pembaruan serta pengalaman orang lain agar tidak merasa ditinggalkan atau terisolasi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Ketidakamanan Diri dan Perbandingan Sosial
Individu yang memiliki tingkat harga diri (self-esteem) yang rendah sering mengalami FoMO lebih intens daripada mereka yang lebih percaya diri dan puas dengan kehidupan mereka sendiri. Faktor ini dikaitkan dengan perilaku social comparison, di mana individu sering membandingkan diri mereka dengan kehidupan orang lain melalui postingan media sosial, memunculkan perasaan inferioritas atau ketidakcukupan. Perbandingan sosial ini juga dapat meningkatkan rasa cemas dan dorongan untuk terus mengetahui aktivitas orang lain. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]
3. Kecemasan Sosial dan Ketergantungan pada Konfirmasi Eksternal
Kecenderungan untuk mencari konfirmasi atau validasi dari orang lain menyumbang pada munculnya FoMO. Ketika individu sangat bergantung pada likes, shares, atau komentar untuk mengukur nilai sosial mereka, ketidakmampuan untuk mengakses pembaruan sosial dapat memicu kecemasan yang intens. Situasi ini sering kali memperkuat perasaan takut tertinggal dari pengalaman penting yang sedang berlangsung di kalangan teman atau komunitasnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
4. Rendahnya Kemampuan Regulasi Emosional
Kemampuan untuk mengatur emosi juga memengaruhi tingkat FoMO seseorang. Individu yang kurang efektif dalam mengelola kecemasan, tekanan sosial, atau rasa cemas akan cenderung bergantung pada penggunaan media sosial sebagai strategi pelarian atau penghiburan, sehingga meningkatkan risiko FoMO. Interaksi antara faktor psikologis ini sering menciptakan lingkaran umpan balik yang memperkuat kekhawatiran akan ketinggalan dan memperpanjang keterlibatan digital sebagai cara meredakan ketakutan tersebut. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
FOMO dan Media Sosial
Fear of Missing Out (FoMO) telah menjadi fenomena yang sangat terkait erat dengan penggunaan media sosial dalam kehidupan modern. Media sosial menyediakan platform di mana individu dapat dengan mudah melihat, membandingkan, dan mengevaluasi kehidupan sosial orang lain secara real-time. Koneksi sosial digital ini menghadirkan banyak keuntungan dalam hal komunikasi dan keterhubungan, namun juga membawa serta potensi risiko psikologis yang signifikan.
1. Eksposur Informasi Sosial yang Konstan
Media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan platform lainnya secara terus-menerus memberikan aliran informasi mengenai aktivitas, pengalaman, atau pencapaian orang lain. Paparan konstan terhadap pembaruan ini dapat menciptakan tekanan sosial bagi individu untuk selalu mengetahui apa yang sedang terjadi dan memastikan bahwa mereka tidak tertinggal dalam berbagai hal, baik itu tren, acara, atau pengalaman sosial yang menarik. Eksposur ini merupakan pemicu kompleks terhadap FoMO di masyarakat modern karena informasi yang sangat cepat berubah sering dirasakan sebagai standar sosial yang harus diikuti. [Lihat sumber Disini - journal.psych.ac.cn]
2. Perbandingan Sosial Digital
Media sosial intens memfasilitasi perbandingan sosial, di mana individu terus memperbandingkan kehidupan mereka dengan yang terlihat dalam postingan orang lain. Ketika seseorang melihat konten yang menunjukkan kesenangan, prestasi, atau pengalaman menarik orang lain, hal ini sering kali memperkuat perasaan tidak memadai atau ketinggalan, yang kemudian memicu FoMO. Perbandingan sosial ini dapat memperkuat rasa kekurangan diri dan meningkatkan keinginan untuk terus mengawasi aktivitas sosial orang lain. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
3. Ketergantungan pada Validasi Sosial
Banyak pengguna media sosial mencari validasi melalui likes, komentar, atau interaksi lainnya. Ketika validasi ini menjadi tolok ukur nilai sosial seseorang, ketidakhadiran dalam konteks pembaruan sosial dapat menyebabkan kecemasan dan kekhawatiran bahwa mereka kehilangan sesuatu yang penting atau bernilai. Ketergantungan ini memperkuat rasa takut ketinggalan dan memicu keterlibatan yang lebih intens pada platform digital. [Lihat sumber Disini - journal.pubmedia.id]
4. Intensifikasi Interaksi Digital
Adanya fitur-fitur yang dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna, seperti notifikasi, unggahan cerita, serta algoritma rekomendasi konten, juga dapat memperkuat perilaku pemantauan sosial yang berlebihan. Akibatnya, pengalaman digital yang dimaksud untuk mempermudah interaksi sosial justru dapat menyebabkan rasa Frustrasi dan tekanan psikologis, terutama ketika individu merasa bahwa mereka tidak dapat mengikuti laju informasi sosial yang terus bergerak. [Lihat sumber Disini - journal.psych.ac.cn]
Dampak FOMO terhadap Perilaku Sosial
Fear of Missing Out (FoMO) tidak hanya merupakan pengalaman internal seseorang, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap perilaku sosial dan interaksi sosial individu di kehidupan sehari-hari. Dampak ini menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari hubungan interpersonal, pola komunikasi, hingga kebiasaan digital serta kesejahteraan umum.
1. Perubahan dalam Pola Interaksi Sosial
Individu yang mengalami FoMO cenderung lebih sering mengecek dan berinteraksi melalui media sosial untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang aktivitas sosial orang lain. Pola ini dapat mengubah cara individu berinteraksi langsung dengan orang lain, karena prioritas perhatian sering dialihkan ke dunia digital daripada pengalaman sosial nyata. Dalam perspektif ini, keterhubungan digital yang berlebihan dapat menggantikan kualitas interaksi sosial di dunia nyata, sehingga menyebabkan hubungan interpersonal yang lebih dangkal atau kurang bermakna. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Penguatan Ketergantungan Digital
FoMO dapat memperkuat ketergantungan pada perangkat digital dan media sosial sebagai alat untuk mengurangi perasaan takut ketinggalan. Akibatnya, beberapa individu mungkin menghabiskan waktu yang signifikan untuk mencari informasi sosial online, yang pada gilirannya dapat mengurangi keterlibatan dalam aktivitas produktif atau interaksi sosial langsung dengan lingkungan terdekat mereka. [Lihat sumber Disini - journal.psych.ac.cn]
3. Kecenderungan Perilaku Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Sebagian besar pengguna media sosial yang mengalami FoMO sering kali terlibat dalam perilaku social comparison. Ketika individu terus membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan pengguna lain yang tampak lebih menarik atau memuaskan, hal ini dapat menciptakan perasaan tidak puas terhadap kehidupan sendiri. Perbandingan sosial ini dapat memicu kecemasan, iri hati, dan perasaan rendah diri yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap hubungan sosial serta cara individu berinteraksi dalam konteks sosial nyata. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
4. Gangguan Terhadap Aktivitas Sehari-hari
FoMO dapat memengaruhi rutinitas harian, seperti penurunan konsentrasi pada tugas akademik atau pekerjaan karena sering mengecek ponsel untuk informasi sosial terbaru. Fenomena ini juga dapat memengaruhi pola tidur, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan, yang semuanya akhirnya berdampak pada keseimbangan perilaku sosial dan kesejahteraan individu. [Lihat sumber Disini - journal.ubaya.ac.id]
FOMO dan Kesejahteraan Psikologis
Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) juga memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan psikologis individu. Efek ini tidak hanya dirasakan secara sosial, tetapi juga memengaruhi kondisi mental dan kesejahteraan emosional.
1. Kecemasan dan Stres
Individu yang mengalami FoMO cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi karena kekhawatiran terus menerus mengenai apa yang terjadi dalam kehidupan sosial orang lain. Pergantian perhatian antara kehidupan nyata dan dunia digital dapat memperkuat stres karena individu merasa perlu terus memantau pembaruan sosial untuk mengurangi rasa takut tertinggal. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
2. Penurunan Kepuasan Hidup
FoMO dapat berkontribusi terhadap menurunnya kepuasan hidup karena individu yang terlalu memfokuskan perhatian pada kehidupan orang lain cenderung tidak bersyukur atau kurang menghargai pengalaman mereka sendiri. Ketika standar sosial ditetapkan oleh kehidupan digital yang tampak sempurna, hal ini dapat memicu perasaan tidak puas dan kurangnya rasa kebahagiaan dalam kehidupan nyata. [Lihat sumber Disini - jicnusantara.com]
3. Hubungan dengan Kesepian dan Isolasi
Penelitian menunjukkan bahwa FoMO dapat menyebabkan perasaan kesepian dan isolasi sosial, karena individu yang terlalu bergantung pada dunia digital sering kali merasa kurang terhubung secara emosional dengan orang-orang di sekitarnya. Ironisnya, meskipun FoMO didorong oleh kebutuhan untuk tetap terhubung, individu yang mengalami FoMO sering mengalami keterasingan emosional yang lebih besar dalam kehidupan nyata. [Lihat sumber Disini - nature.com]
4. Gangguan pada Keseimbangan Psikologis
FoMO dapat memicu tekanan psikologis lanjutan seperti penurunan mood umum, perasaan tidak berdaya, serta gangguan tidur. Hubungan antara FoMO dan kesejahteraan mental telah dibuktikan melalui berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa peningkatan FoMO berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Upaya Mengelola FOMO dalam Kehidupan Sehari-hari
Fear of Missing Out (FoMO) dapat memberikan tekanan psikologis serta memengaruhi kualitas hidup seseorang, tetapi terdapat berbagai strategi yang dapat membantu dalam mengelola dampaknya. Beberapa pendekatan praktis yang efektif melibatkan perubahan perilaku sehari-hari, pengembangan kesadaran diri, serta peningkatan keterampilan emosional.
1. Mengembangkan Kesadaran Diri
Salah satu langkah pertama dalam mengelola FoMO adalah meningkatkan kesadaran terhadap pemicu emosional yang menyebabkan rasa takut ketinggalan. Melalui refleksi diri, individu dapat memperhatikan momen-momen ketika mereka mulai merasa cemas atau cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Latihan kesadaran seperti mindfulness atau meditasi dapat membantu meredakan tekanan emosional dan memperkuat kontrol diri dalam menghadapi stimulus sosial digital. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
2. Membatasi Waktu Media Sosial
Membatasi durasi penggunaan media sosial dapat berdampak besar dalam mengurangi tingkat FoMO. Ketika individu menetapkan batasan pada waktu yang dihabiskan untuk scrolling atau memeriksa feed sosial, hal ini membantu mengurangi ketergantungan psikologis terhadap pembaruan digital dan memberikan ruang bagi pengalaman langsung yang lebih bermakna dan memuaskan. [Lihat sumber Disini - indojurnal.com]
3. Fokus pada Pengalaman Pribadi
Mengalihkan fokus dari kehidupan digital ke pengalaman personal dan hubungan sosial nyata dapat membantu meredakan tekanan untuk selalu terhubung secara online. Meningkatkan keterlibatan dalam aktivitas yang memupuk hubungan interpersonal di dunia nyata, seperti berkumpul dengan teman atau keluarga, dapat memperkuat rasa keterhubungan yang sejati dan mengurangi kebutuhan untuk selalu mengetahui aktivitas sosial orang lain. [Lihat sumber Disini - jurnal.untirta.ac.id]
4. Mengelola Perbandingan Sosial
Kesadaran bahwa kehidupan yang dipamerkan di media sosial sering kali hanya menampilkan sisi positif saja dapat membantu mengkritisi persepsi realitas digital. Individu dapat belajar bahwa perbandingan sosial tidak selalu mencerminkan realitas penuh kehidupan seseorang, sehingga membantu meminimalkan tekanan psikologis yang memicu FoMO. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
5. Meningkatkan Keterampilan Emosional
Kemampuan untuk mengatur emosi, mengekspresikan kebutuhan psikologis secara efektif, serta membangun harga diri yang sehat merupakan keterampilan penting dalam menghadapi FoMO. Individu dengan kemampuan emosional yang lebih baik cenderung mampu menghadapi situasi sosial digital tanpa bergantung berlebihan pada konfirmasi eksternal atau validasi dari orang lain. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kesimpulan
Fear of Missing Out (FoMO) adalah fenomena psikologis yang muncul akibat kekhawatiran akan tertinggal pengalaman, informasi, atau aktivitas penting yang dialami orang lain, khususnya dalam konteks sosial dan digital. Konsep ini bukan hanya sekadar istilah psikologis, tetapi juga fenomena sosial yang kompleks yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti perilaku penggunaan media sosial, pola interaksi sosial, serta kesejahteraan psikologis individu. Faktor-faktor psikologis seperti kebutuhan penerimaan sosial, ketidakamanan diri, serta kecemasan memainkan peran penting dalam memicu FoMO, yang kemudian sering diperkuat oleh eksposur dan dinamika media sosial. Dampak FoMO dapat mencakup perubahan perilaku sosial, gangguan kesejahteraan psikologis, serta ketergantungan digital yang dapat mengurangi kualitas hidup dan hubungan interpersonal. Namun, dengan strategi pengelolaan yang tepat, seperti meningkatkan kesadaran diri, membatasi waktu media sosial, fokus pada pengalaman pribadi, dan meningkatkan keterampilan emosional, individu dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh FoMO. Pengetahuan dan pendekatan yang tepat terhadap fenomena ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hubungan sosial dan kesejahteraan mental di era digital saat ini.