
Desain Cross-Sectional: Penerapan dan Contoh
Pendahuluan
Dalam dunia penelitian kuantitatif dan sosial, pemilihan rancangan penelitian (desain penelitian) memegang peranan sangat penting untuk menjawab pertanyaan penelitian secara tepat dan efisien. Salah satu desain yang sering digunakan adalah rancangan potong-lintang atau cross-sectional design, yang banyak dimanfaatkan karena relatif cepat, biaya yang tidak terlalu besar, dan kemampuannya memberikan gambaran “pada saat tertentu” dari fenomena yang diteliti. Artikel ini akan membahas secara mendalam Desain Cross-Sectional, mulai dari definisi secara umum, definisi menurut kamus dan KBBI (jika tersedia), definisi menurut para ahli, karakteristik, keunggulan & keterbatasan, penerapan dalam penelitian, serta contoh konkret yang dapat dijadikan referensi bagi peneliti, khususnya di konteks Indonesia.
Definisi Desain Cross-Sectional
Definisi secara umum
Desain cross-sectional pada dasarnya adalah suatu rancangan penelitian observasional di mana data dikumpulkan dari subjek pada salah satu titik waktu saja,atau disebut juga point time approach. Dalam rancangan ini, variabel-variabel penelitian (baik variabel bebas maupun variabel terikat) diukur secara simultan dalam satu periode pengamatan, tanpa pelacakan atau pengulangan pengukuran dalam jangka panjang. Sebagai contoh: sebuah survei yang membagikan kuesioner kepada responden hari ini, dan kemudian menggunakan hasil tersebut untuk menganalisis hubungan faktor-risiko (independen) dengan suatu hasil/efek (dependen).
Beberapa literatur menyebut bahwa rancangan ini “memberikan potret” suatu kondisi atau fenomena pada satu titik waktu saja. [Lihat sumber Disini - sampoernauniversity.ac.id]
Contoh dari jurnal Indonesia: pada penelitian “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Daring …” disebut bahwa: “Desain cross-sectional dijelaskan sebagai jenis yang menekankan waktu pengukuran atau mengobservasi data variabel independen dan dependen pada waktu yang bersamaan.” [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
Definisi dalam KBBI
Setelah pencarian, tidak ditemukan secara langsung entri dalam KBBI yang menggunakan terminologi “desain cross-sectional” sebagai istilah mandiri dalam kamus bahasa Indonesia. Namun, konsep “potong-lintang” atau “potong lintang” untuk studi observasional dijelaskan sebagai: “mengamati data-data populasi atau sampel satu kali saja pada saat yang sama” (Wikipedia: Kajian potong-lintang) [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
Karena itu, untuk keperluan artikel ini, kita bisa mengadaptasi bahwa dalam KBBI dan penggunaan akademis bahasa Indonesia, istilah “potong-lintang” bisa menjadi padanan untuk cross-sectional study. Meskipun demikian, disarankan merujuk ke literatur metodologi untuk definisi yang lebih operasional.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa definisi menurut tokoh atau sumber metodologi penelitian Indonesia:
- Menurut jurnal “Metode Survey: Explanatory Survey dan Cross Sectional …” yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang dkk (2024):
“Cross sectional merupakan suatu penelitian yang mempelajari korelasi antara paparan atau faktor risiko (independen) dengan akibat atau efek (dependen) dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya (point time approach).” [Lihat sumber Disini - jurnal.permapendis-sumut.org]
- Menurut jurnal “Survey Design: Cross Sectional dalam Penelitian Kualitatif” (2022):
“Desain Cross Sectional merupakan suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan.” [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
- Menurut buku ajar “Metodologi Penelitian Kesehatan” (2021):
“Rancangan atau desain cross sectional merupakan suatu penelitian analitik yang mempelajari korelasi antara paparan atau faktor risiko (independen) dengan akibat atau efek (dependen), dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya.” [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]
- Menurut jurnal “DESAIN CROSS SECTIONAL BAGI PENELITIAN BIDANG KEBIDANAN” (2024):
“Studi cross-sectional mencakup semua jenis penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya satu kali, pada satu saat. … Dalam studi analitik cross-sectional yang mempelajari hubungan antara faktor risiko dengan penyakit (efek), observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan variabel tergantung (efek) dilakukan sekali dan dalam waktu yang bersamaan.” [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Dari keempat definisi tersebut bisa dipahami bahwa titik kunci rancangan cross-sectional adalah: pengumpulan data satu saat saja (snapshot), pengukuran variabel bebas dan terikat secara bersamaan, serta observasional (tanpa intervensi) dalam banyak kasus.
Penerapan Desain Cross-Sectional
Pada bagian ini dijabarkan bagaimana desain cross-sectional diterapkan dalam praktik penelitian: karakteristik, langkah-langkah, keunggulan & keterbatasan, hingga kapan tepat digunakan.
Karakteristik rancangan cross-sectional
Desain ini memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut:
- Data dikumpulkan dari satu titik waktu saja (tidak ada pengulangan pengukuran atau follow-up). Contoh: satu survei lapangan, satu kuesioner yang dibagikan pada satu waktu. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Pengukuran variabel independen (faktor risiko, paparan) dan variabel dependen (hasil/efek) dilakukan secara simultan. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
- Karena pengamatan hanya satu kali, rancangan ini sifatnya deskriptif bisa atau analitik, tetapi tidak ideal untuk menetapkan sebab-akibat secara definitif (karena tidak ada pelacakan waktu). [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
- Umumnya digunakan untuk menentukan prevalensi fenomena atau kondisi dalam populasi pada satu saat. Misalnya prevalensi perilaku, prevalensi penyakit, studi korelasi silang antar variabel. [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
Langkah-langkah dalam penelitian cross-sectional
Berdasarkan literatur Indonesia, berikut langkah-umum yang sering dijumpai:
- Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis (terutama untuk analitik) – misalnya: “Adakah hubungan antara pengetahuan K3 dengan perilaku tidak aman pekerja?” [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
- Mengidentifikasi variabel penelitian – definisikan variabel independen, variabel dependen, dan variabel kontrol jika ada. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
- Menetapkan populasi dan sampel – memilih kelompok responden yang mewakili populasi; teknik sampling dapat random, stratified atau cluster. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
- Melaksanakan pengumpulan data dalam satu waktu – pengukuran dilakukan sekali untuk semua variabel yang diteliti. [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
- Menganalisis data – untuk deskriptif menggambarkan karakteristik populasi, atau untuk analitik menguji hubungan antar variabel (misalnya chi-square, regresi). Contoh: penelitian daring di SD menggunakan uji chi-square. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
- Menarik kesimpulan dengan keterbatasan rancangan ditempatkan – terutama bahwa sebab-akibat tidak dapat dikonfirmasi secara kuat apabila rancangan hanya cross-sectional. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Kapan rancangan ini tepat digunakan
Beberapa kondisi di mana rancangan cross-sectional cocok:
- Ketika peneliti ingin memperoleh gambaran cepat atau awal mengenai suatu fenomena pada satu titik waktu tertentu.
- Ketika sumber daya (waktu, biaya, tenaga) terbatas sehingga pengukuran berulang atau jangka panjang sulit dilakukan.
- Ketika fenomena yang diteliti adalah kondisi prevalensi atau keadaan “saat ini”.
Sebaliknya, rancangan ini tidak cocok bila pertanyaan penelitian menuntut analisis perubahan dari waktu ke waktu (trend) atau menentukan hubungan sebab-akibat secara kuat yang memerlukan pelacakan longitudinal.
Keunggulan dan keterbatasan
Keunggulan:
- Pengumpulan data relatif cepat dan lebih hemat biaya dibandingkan desain longitudinal.
- Pengukuran bisa dilakukan dalam satu kesempatan, memudahkan logistik pengumpulan data.
- Cocok untuk analisis deskriptif dan untuk menggambarkan kondisi pada saat tertentu.
Literatur dalam jurnal kebidanan menyebut: “Peneliti hanya mengumpulkan data pada satu titik waktu, studi cross-sectional relatif murah dan tidak memakan waktu banyak dibandingkan dengan penelitian yang lain.” [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Keterbatasan:
- Karena ukuran waktu adalah satu titik saja, rancangan ini sulit untuk membuktikan urutan sebab-akibat secara temporal (temporal sequence) – sebab variabel dan akibat diukur bersamaan. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
- Tidak mampu menganalisis perubahan atau perkembangan fenomena dari waktu ke waktu. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
- Potensi bias karena “snapshot” mungkin tidak mewakili kondisi yang lebih luas atau yang berubah secara dinamis. [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
Contoh Praktis Penerapan Desain Cross-Sectional
Berikut beberapa contoh penerapan rancangan cross-sectional dalam penelitian di Indonesia yang bisa menjadi acuan.
Contoh 1: Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Daring
Penelitian: “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Prestasi Siswa dalam Pembelajaran Daring pada Masa Pandemi Covid-19 di SD Kanisius Jetis Depok, Sendangsari, Minggir, Sleman, Yogyakarta Tahun 2021” (Palupi E., 2022) [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
- Desain penelitian: kuantitatif dengan desain cross-sectional.
- Data dikumpulkan sekali melalui kuesioner kepada responden (35 responden).
- Analisis dilakukan untuk melihat hubungan faktor-faktor (variabel bebas seperti kondisi rumah, akses internet) terhadap prestasi siswa (variabel dependen).
Contoh ini menunjukkan bagaimana rancangan cross-sectional digunakan untuk studi pada saat tertentu (pandemi) dan variabel-penjelas serta hasil diukur bersamaan.
Contoh 2: Perilaku Tidak Aman pada Pekerja di Industri
Penelitian: “Cross-sectional … perilaku tidak aman (unsafe action) pada pekerja di PT X Kabupaten Cilacap” (2023) [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
- Rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional.
- Variabel bebas: usia, masa kerja, sikap kerja, pengetahuan K3, pengawasan K3, peraturan K3, pelatihan K3, ketersediaan APD.
- Variabel dependen: perilaku tidak aman.
- Data dikumpulkan dalam periode Agustus – Oktober 2022 dan dianalisis secara bersamaan.
Contoh ini menunjukkan penerapan desain dalam konteks industri dan keselamatan kerja.
Contoh 3: Studi di Bidang Kebidanan
Penelitian: “DESAIN CROSS SECTIONAL BAGI PENELITIAN BIDANG KEBIDANAN” (Sari & Legiran, 2024) [Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com]
- Menjelaskan bahwa dalam penelitian kebidanan, sekitar satu-pertiga artikel orisinal menggunakan rancangan cross-sectional.
- Contoh analitik: hubungan antara faktor risiko dan penyakit atau efek dalam satu pengukuran.
Contoh ini memaparkan bahwa rancangan cross-sectional sangat populer dalam bidang kesehatan karena kemudahannya, meskipun tetap memiliki keterbatasan.
Kesimpulan
Rancangan penelitian desain cross-sectional merupakan pilihan yang efisien untuk memperoleh gambaran fenomena atau kondisi pada satu titik waktu saja. Dengan pengukuran variabel bebas dan dependen secara simultan, desain ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi korelasi antara faktor-faktor risiko dengan hasil yang diamati,dengan catatan bahwa aspek sebab-akibat tidak dapat dijamin secara definitif. Dalam konteks akademik Indonesia, sudah banyak penelitian yang mengimplementasikannya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan industri. Saat memilih rancangan ini, peneliti perlu mempertimbangkan tujuan penelitian, sumber daya yang tersedia, serta keterbatasan yang melekat pada satu-waktu pengukuran.