Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Kualitas Tidur Pasien: Konsep dan Contoh Intervensi. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kualitas-tidur-pasien-konsep-dan-contoh-intervensi  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kualitas Tidur Pasien: Konsep dan Contoh Intervensi - SumberAjar.com

Kualitas Tidur Pasien: Konsep dan Contoh Intervensi

Pendahuluan

Tidur adalah kebutuhan biologis dasar manusia dan krusial untuk pemulihan fisik, mental, dan emosional setelah aktivitas harian. Dalam konteks klinis dan keperawatan, kualitas tidur pasien menjadi aspek penting karena sangat memengaruhi proses penyembuhan, stabilitas kondisi kesehatan, dan keefektifan perawatan. Namun di lingkungan rumah sakit atau institusi kesehatan, banyak pasien mengalami gangguan tidur akibat berbagai faktor, lingkungan, penyakit, stres, nyeri, intervensi medis, hingga kebiasaan buruk sebelum tidur. Oleh karena itu, memahami konsep kualitas tidur, faktor-faktor yang mempengaruhi, dampaknya terhadap kesehatan, metode penilaian, serta intervensi keperawatan menjadi krusial untuk meningkatkan kualitas hidup dan hasil penyembuhan pasien. Artikel ini membahas secara mendalam definisi kualitas tidur dalam keperawatan, faktor yang mempengaruhi, dampak gangguan tidur, teknik penilaian, serta intervensi keperawatan termasuk terapi non-farmakologis dan contoh kasus intervensi.


Definisi Kualitas Tidur

Definisi Kualitas Tidur Secara Umum

Kualitas tidur secara umum merujuk pada seberapa baik seseorang mendapatkan istirahat melalui tidur, baik dari segi durasi, kontinuitas, kenyamanan, maupun efektivitas dalam memulihkan kondisi fisik dan mental. Tidur yang berkualitas biasanya ditandai dengan mudah tertidur, tidur tanpa terbangun berkali-kali, durasi tidur yang cukup, dan bangun dengan perasaan segar serta mampu beraktivitas optimal keesokan harinya.

Definisi Kualitas Tidur menurut KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kualitas tidur bisa dipahami sebagai mutu atau taraf baik-buruknya tidur, meliputi aspek ketenangan, kontinuitas, dan kesegaran saat bangun. (Catatan: definisi spesifik “kualitas tidur” dalam KBBI tidak selalu disebut dengan istilah ilmiah; dalam praktik keperawatan biasanya definisi dikembangkan melalui literatur keilmuan.)

Definisi Kualitas Tidur menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi kualitas tidur menurut literatur dan ahli:

  • Menurut penelitian keperawatan paling baru, kualitas tidur pada pasien di rumah sakit didefinisikan sebagai kemampuan pasien untuk mendapatkan tidur yang memadai dalam hal durasi, efisiensi, kontinuitas, dan kenyamanan, sehingga tidur tersebut dapat mendukung proses penyembuhan. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Dalam literatur tentang hygienitas tidur, kualitas tidur diartikan sebagai tidur yang tidak hanya cukup lama (kuantitas), tetapi juga efektif, artinya tidur menghasilkan restorasi fisik dan psikologis, dan tidak terjadi gangguan tidur seperti terbangun berkali-kali atau merasa ngantuk berat siang harinya. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]

  • Penelitian pada populasi lanjut usia menyebut bahwa kualitas tidur buruk ditandai dengan latensi tidur panjang (butuh waktu lama untuk tertidur), sering terbangun malam hari, dan bangun terlalu awal, menyimpulkan bahwa kualitas tidur mencakup aspek subjektif kenyamanan serta objektif pola tidur. [Lihat sumber Disini - jidmr.com]

  • Menurut uji klinis pada pasien dengan kondisi medis kronis (misalnya gagal jantung kongestif), kualitas tidur digambarkan sebagai tidur yang mendukung proses regenerasi sel otot jantung dan fungsi fisik, sehingga kualitas tidur menjadi bagian dari manajemen penyakit secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.ipinternasional.com]


Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur Pasien

Kualitas tidur pasien dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bisa dikategorikan sebagai faktor internal (individu/pasien) maupun faktor eksternal (lingkungan dan situasional). Beberapa faktor penting:

  • Lingkungan tidur: kebisingan, cahaya, ventilasi, kenyamanan tempat tidur, di rumah sakit, seringkali peralatan medis, lampu, suara perawat/pasien lain, kunjungan, dan intervensi membuat lingkungan tidur tidak ideal. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Pola dan kebiasaan tidur / hygiene tidur: kebiasaan buruk sebelum tidur, irama tidur-bangun yang tidak teratur, aktivitas stimulatif dekat waktu tidur. Penelitian menunjukkan bahwa hygiene tidur sangat berhubungan dengan kualitas tidur: individu dengan hygiene tidur buruk memiliki peluang jauh lebih besar mengalami kualitas tidur buruk. [Lihat sumber Disini - academia.edu]

  • Kondisi fisik atau penyakit: pasien dengan penyakit kronis (misalnya gagal jantung, nyeri, gangguan pernapasan), kondisi klinis, rasa sakit, stres, efek samping pengobatan, semuanya ini dapat mengganggu tidur, menyebabkan latensi panjang, fragmentasi tidur, atau tidur tidak nyenyak. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Faktor psikologis: kecemasan, stres, depresi, kekhawatiran tentang kondisi kesehatan atau perawatan, dapat menghambat relaksasi yang dibutuhkan untuk tidur berkualitas. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Rutinitas kerja atau perawatan (terutama pada perawat/pasien rawat inap): shift kerja, intervensi perawatan malam hari, gangguan istirahat karena tindakan medis, obat-obatan atau prosedur, hal ini sering menyebabkan pola tidur yang terfragmentasi atau tidak sesuai ritme sirkadian. Studi pada perawat menunjukkan prevalensi kualitas tidur buruk cukup tinggi terkait shift kerja dan beban kerja. [Lihat sumber Disini - ejournal.upnvj.ac.id]


Dampak Gangguan Tidur terhadap Kondisi Kesehatan

Gangguan tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat membawa konsekuensi serius bagi kesehatan fisik dan mental, terutama bagi pasien. Berikut beberapa dampaknya:

  • Memperlambat proses penyembuhan / penyembuhan optimal: Tidur berkualitas berperan dalam regenerasi sel, pemulihan energi, dan pemeliharaan fungsi imun. Sebaliknya, tidur buruk menghambat regenerasi, memperlambat penyembuhan luka atau pemulihan penyakit. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Risiko komplikasi kesehatan meningkat: Gangguan tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri, melemahkan respons imun, memperparah kondisi penyakit kronis, dan mengganggu stabilitas fisiologis. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Gangguan kognitif, emosional, dan psikologis: Pasien bisa mengalami kelelahan, sulit konsentrasi, mood labil, stress, atau gangguan mental. Khususnya jika tidur buruk berlangsung lama. [Lihat sumber Disini - ojs.mahadewa.ac.id]

  • Penurunan kualitas hidup dan fungsi harian: Tidur yang tidak memadai membuat pasien merasa lelah di siang hari, mengurangi motivasi, produktivitas, dan partisipasi dalam rehabilitasi atau aktivitas sehari-hari. Studi pada mahasiswa menunjukkan gangguan kualitas tidur berhubungan dengan penurunan konsentrasi dan fungsi akademik, analoginya ini berlaku juga untuk pasien dalam konteks pemulihan. [Lihat sumber Disini - ojs.mahadewa.ac.id]

  • Kelelahan pada tenaga keperawatan dan dampak perawatan: Bukan hanya pasien, dalam literatur keperawatan, kualitas tidur yang buruk juga dialami perawat, terutama dengan beban kerja berat dan shift malam, yang dapat menurunkan kualitas perawatan dan meningkatkan risiko kesalahan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Teknik Penilaian Kualitas Tidur (PSQI, Epworth, dll.)

Penilaian kualitas tidur dalam praktik keperawatan dan penelitian biasanya dilakukan menggunakan instrumen baku, antara lain:

  • Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), instrumen paling populer untuk menilai kualitas tidur pada 7 domain: kualitas subjektif tidur, latensi (waktu untuk tertidur), durasi tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan disfungsi di siang hari. [Lihat sumber Disini - ojs.mahadewa.ac.id]

  • Epworth Sleepiness Scale (ESS), digunakan untuk mengukur tingkat kantuk di siang hari atau “daytime sleepiness”, sebagai indikator disfungsi tidur/hipersomnia. Sering digunakan bersamaan dengan PSQI dalam studi korelasi kualitas tidur dan kantuk. [Lihat sumber Disini - ejurnalstikeskesdamudayana.ac.id]

  • Metode penilaian lain / tambahan: Selain kuesioner subjektif, dalam penelitian (khususnya untuk gangguan tidur serius) bisa digunakan metode objektif seperti polisomnografi (PSG) atau monitoring bio-sinyal, meskipun dalam konteks perawatan sehari-hari di rumah sakit, kuesioner lebih praktis. Namun literatur modern menunjukkan upaya otomatisasi dan deteksi menggunakan data sinyal (misalnya ECG/EMG + deep learning) untuk mengenali gangguan tidur seperti sleep apnea, restless leg syndrome, atau gangguan pernapasan saat tidur. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Pengamatan klinis dan dokumentasi keperawatan: Selain instrumen, perawat juga dapat melakukan observasi terhadap pola tidur pasien, waktu tidur, frekuensi terbangun, keluhan nyeri, efek obat, kondisi lingkungan; serta mencatat klien melaporkan nyeri, kecemasan, atau gangguan tidur, sebagai bagian dari penilaian komprehensif.


Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Kualitas Tidur

Dalam konteks keperawatan, intervensi untuk memperbaiki kualitas tidur pasien penting dilakukan, terutama di lingkungan rumah sakit atau institusi perawatan. Berikut berbagai strategi intervensi:

  • Optimalisasi lingkungan tidur: mengurangi kebisingan, mengatur pencahayaan, memastikan ventilasi dan suhu nyaman, menyediakan tempat tidur nyaman, hal ini membantu mengurangi gangguan tidur karena faktor eksternal. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Sleep hygiene (higiene tidur): edukasi pasien untuk membangun kebiasaan tidur yang sehat, termasuk jadwal tidur-bangun yang konsisten, menghindari stimulasi berat sebelum tidur, mengatur waktu istirahat, dan menghindari konsumsi stimulan. Studi pada pasien gagal jantung menunjukkan bahwa penerapan sleep hygiene signifikan meningkatkan skor kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - ejournal.ipinternasional.com]

  • Relaksasi dan teknik non-farmakologis: perawatan seperti relaksasi otot progresif, pijat ringan, terapi musik, aromaterapi, teknik pernapasan (breathing exercises), meditasi, semua ini dapat membantu pasien lebih mudah tertidur, tidur lebih nyenyak, dan bangun dengan lebih segar. [Lihat sumber Disini - repository.stikestulungagung.ac.id]

  • Pemakaian alat bantu tidur: terapi dengan ear-plugs, eye-mask, atau pembatas cahaya/keramaian malam hari di lingkungan rumah sakit sebagai bagian dari protokol “quiet time / waktu tenang” untuk pasien rawat inap. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Pengesahan pola perawatan dan jadwal intervensi medis: menyesuaikan jadwal tindakan medis, pemberian obat, pemeriksaan malam agar tidak terus-menerus mengganggu tidur pasien, misalnya menjadwalkan ulang intervensi non-darurat agar tidak menginterupsi tidur. Ini penting dalam setting ICU atau perawatan intensif. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Intervensi edukatif dan konseling: memberikan pendidikan kepada pasien (dan keluarga) tentang pentingnya tidur, dampak gangguan tidur, dan strategi menjaga kualitas tidur, serta mendukung perubahan perilaku.


Terapi Non-Farmakologis pada Gangguan Tidur

Terapi non-farmakologis sering menjadi pilihan utama dalam keperawatan karena relatif aman, mudah diterapkan, dan mendukung proses natural pemulihan. Berikut jenis-jenis terapi non-farmakologis yang efektif berdasarkan literatur:

  • Relaksasi otot progresif & teknik relaksasi, membantu menurunkan ketegangan fisik dan mempermudah transisi ke tidur. Beberapa studi systematic review menunjukkan efektivitas teknik relaksasi dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien rawat inap. [Lihat sumber Disini - repository.stikestulungagung.ac.id]

  • Terapi musik, mendengarkan musik menenangkan sebelum tidur dapat membantu menenangkan pikiran dan memfasilitasi tidur nyenyak. Meta-analisis menunjukkan bahwa musik terapi memberi efek positif pada skor tidur pasien. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Aromaterapi / terapi alternatif non-invasif, penggunaan minyak aromatik, pijat ringan, sentuhan terapeutik, dan akupresur sebagai intervensi untuk memperbaiki kualitas tidur. Beberapa penelitian menunjukkan hasil meningkatnya kualitas tidur pada pasien dengan intervensi ini. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

  • Sleep hygiene & edukasi perilaku tidur, penerapan kebiasaan tidur sehat serta rutinitas konsisten, menghindari stimulasi/obat stimulan sebelum tidur, menjaga lingkungan tenang. Studi pada pasien gagal jantung menunjukkan intervensi sleep hygiene meningkatkan PSQI secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.ipinternasional.com]

  • Pengaturan lingkungan tidur & waktu tenang (quiet time protocol), di rumah sakit, protokol ini mencakup meredupkan lampu, meminimalkan suara dan gangguan, menetapkan waktu tenang malam hari bagi pasien, terbukti meningkatkan kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]


Contoh Kasus Intervensi Kualitas Tidur

Misalkan ada pasien rawat inap dengan diagnosa gagal jantung kongestif (CHF), yang menurut studi memiliki gangguan tidur akibat kondisi jantung, nyeri, dan stres, penelitian pada tahun 2024 menunjukkan bahwa penerapan intervensi sleep hygiene (edukasi tidur sehat, rutinitas tidur, pengaturan lingkungan) pada pasien CHF secara signifikan memperbaiki skor kualitas tidur menurut PSQI (perbedaan rata-rata signifikan, p < 0, 01). [Lihat sumber Disini - ejournal.ipinternasional.com]

Contoh lain: pada pasien dewasa rawat inap di rumah sakit (bukan ICU kritis), intervensi keperawatan seperti pemberian ear-plug, eye-mask, musik terapi, relaksasi dan pengaturan lingkungan (pengurangan cahaya, suara) menunjukkan perbaikan nyata dalam kualitas tidur dibanding kelompok kontrol tanpa intervensi. [Lihat sumber Disini - yapindo-cdn.b-cdn.net]

Bisa juga kasus pada mahasiswa keperawatan (meskipun bukan pasien), namun relevan sebagai ilustrasi bahwa perubahan pola hidup, hygiene tidur, pengelolaan stres dan rutinitas tidur mampu memperbaiki kualitas tidur dan menurunkan kelelahan atau kantuk berlebihan di siang hari. [Lihat sumber Disini - eprints.umm.ac.id]


Kesimpulan

Kualitas tidur pasien adalah aspek fundamental dalam keperawatan yang mencakup bukan hanya durasi tidur, tetapi juga efektivitas, kontinuitas, kenyamanan, dan kemampuan tidur memulihkan kondisi fisik dan mental. Banyak faktor, baik internal (kondisi kesehatan, psikologis) maupun eksternal (lingkungan, rutinitas perawatan), yang mempengaruhi kualitas tidur. Gangguan tidur dapat membawa dampak negatif pada proses penyembuhan, stabilitas fisiologis, kesehatan mental, dan kualitas hidup pasien maupun tenaga keperawatan.

Penilaian kualitas tidur yang sistematis menggunakan instrumen seperti PSQI dan ESS sangat penting untuk mengidentifikasi masalah tidur. Berdasarkan penilaian, intervensi keperawatan, terutama terapi non-farmakologis seperti hygiene tidur, relaksasi, musik, aromaterapi, pengaturan lingkungan, dan edukasi, terbukti efektif meningkatkan kualitas tidur pasien.

Oleh karena itu, perawat dan tenaga kesehatan sebaiknya menjadikan promosi tidur berkualitas sebagai bagian integral dari perawatan pasien, bukan hanya fokus pada perawatan medis, tetapi juga mendukung aspek holistik: fisik, psikologis, dan lingkungan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kualitas tidur pasien adalah kondisi tidur yang ditandai dengan durasi yang cukup, kenyamanan, kontinuitas, dan kemampuan tidur dalam mendukung pemulihan fisik maupun mental. Dalam keperawatan, kualitas tidur menjadi indikator penting yang memengaruhi proses penyembuhan.

Faktor yang memengaruhi kualitas tidur pasien meliputi lingkungan tidur, kondisi fisik dan penyakit, faktor psikologis seperti stres atau kecemasan, penggunaan obat-obatan, serta kebiasaan tidur yang kurang baik.

Kualitas tidur pasien dapat dinilai menggunakan instrumen baku seperti Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), Epworth Sleepiness Scale, observasi klinis, serta wawancara mengenai pola tidur dan keluhan tidur.

Intervensi keperawatan untuk meningkatkan kualitas tidur meliputi pengaturan lingkungan tidur, edukasi sleep hygiene, teknik relaksasi, terapi musik, aromaterapi, serta penyesuaian jadwal tindakan medis agar tidak mengganggu tidur pasien.

Contoh terapi non-farmakologis termasuk relaksasi otot progresif, terapi musik, aromaterapi, pijat ringan, meditasi, pengaturan rutinitas tidur, dan penggunaan alat bantu seperti ear-plug atau eye-mask.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Ibu tentang Pola Tidur Bayi Pengetahuan Ibu tentang Pola Tidur Bayi Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Pola Istirahat dan Tidur Pasien Pola Istirahat dan Tidur Pasien Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur Bayi Baru Lahir Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur Bayi Baru Lahir Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pola Istirahat dan Tidur Pasien: Konsep, Gangguan, dan Dampaknya Pola Istirahat dan Tidur Pasien: Konsep, Gangguan, dan Dampaknya Pola Tidur Ibu Hamil: Konsep, Gangguan Tidur, dan Dampaknya Pola Tidur Ibu Hamil: Konsep, Gangguan Tidur, dan Dampaknya Hubungan Pola Tidur dengan Respons Terapi Hubungan Pola Tidur dengan Respons Terapi Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pola Tidur Masyarakat Perkotaan Pola Tidur Masyarakat Perkotaan Hubungan Asupan Magnesium dengan Kualitas Tidur Hubungan Asupan Magnesium dengan Kualitas Tidur Pengetahuan Pasien tentang Obat Hipnotik Pengetahuan Pasien tentang Obat Hipnotik Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…