
Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya
Pendahuluan
Nyeri merupakan salah satu keluhan paling umum di berbagai layanan kesehatan, mulai dari IGD hingga bangsal rawat inap. Di antara jenis-jenis nyeri, Nyeri Akut adalah kondisi yang sering dialami pasien, terutama pasca trauma, cedera, atau operasi. Penanganan nyeri akut yang tepat menjadi sangat penting agar proses penyembuhan optimal, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien. Oleh karena itu artikel ini membahas secara mendalam definisi, penyebab, karakteristik, penilaian, dan penatalaksanaan nyeri akut, sehingga tenaga kesehatan maupun masyarakat bisa lebih memahami dan mengambil tindakan sesuai bukti ilmiah terkini.
Definisi Nyeri Akut
Definisi Nyeri Akut Secara Umum
Nyeri akut umumnya digambarkan sebagai sensasi nyeri yang muncul secara tiba-tiba atau mendadak setelah terjadi cedera, penyakit, pembedahan atau intervensi fisik lain. Durasi nyeri tidak lama, biasanya hilang dalam waktu relatif singkat setelah penyebabnya teratasi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Menurut literatur keperawatan, nyeri akut bisa berkisar dari intensitas ringan hingga berat, tergantung pada tingkat keparahan cedera atau kondisi penyebab. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]
Definisi Nyeri Akut dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nyeri didefinisikan sebagai “perasaan sakit atau tidak enak badan karena luka, kerusakan, penyakit, dan sebagainya.” Dalam konteks “nyeri akut”, makna “nyeri” ini merujuk pada perasaan sakit yang muncul sebagai reaksi terhadap kerusakan jaringan atau gangguan fisiologis, dan dalam konteks akut, sifatnya tiba-tiba dan sementara. (Definisi KBBI dapat ditemukan di laman resmi KBBI untuk entri “nyeri”.)
Definisi Nyeri Akut Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi nyeri akut dari literatur dan ahli:
-
Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah “pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan” terkait kerusakan jaringan aktual atau potensial. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Sebagai bagian dari klasifikasi nyeri menurut standar keperawatan di Indonesia, nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang terjadi dengan onset mendadak atau lambat, intensitas ringan sampai berat, dan berlangsung tidak terlalu lama, berbeda dengan nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam sebuah skripsi keperawatan, disebutkan bahwa nyeri akut muncul setelah cedera akut, penyakit, atau intervensi bedah, dengan proses onset cepat dan intensitas yang dapat bervariasi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Literatur manajemen nyeri menyatakan bahwa nyeri akut bisa dianggap sebagai mekanisme protektif, bertujuan memberi sinyal bahwa ada kerusakan jaringan sehingga tubuh menyadari untuk melindungi area yang cedera atau sakit. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Dengan demikian, definisi nyeri akut menggabungkan aspek sensorik dan emosional, temporal (tiba-tiba dan jangka pendek), dan etiologis (terkait kerusakan atau gangguan jaringan/fungsi).
Karakteristik Nyeri Akut
Nyeri akut memiliki sejumlah karakteristik khas yang membedakannya dari nyeri kronis:
-
Onset segera atau cepat, nyeri muncul tiba-tiba setelah cedera, pembedahan, atau insult akut pada jaringan/fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Durasi relatif singkat, nyeri biasanya berlangsung hanya sampai penyebabnya teratasi, dan bersifat self-limiting. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Intensitas bervariasi, bisa dari ringan sampai berat, tergantung pada tingkat kerusakan atau kondisi penyebab. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]
-
Lokalisasi spesifik, sering terasa di lokasi cedera atau area organ yang terkena; terkadang menjalar tergantung jenis nyeri dan penyebabnya. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Respons sistem saraf simpatik, dapat disertai tanda vital seperti peningkatan denyut jantung, tekanan darah, frekuensi napas, dan gejala seperti meringis, gelisah, perubahan perilaku atau ekspresi wajah. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Fungsi tubuh terganggu sementara, nyeri dapat membatasi mobilitas, pernapasan, konsumsi makanan, aktivitas sehari-hari, dan memperlambat proses penyembuhan jika tidak dikelola baik. [Lihat sumber Disini - jurnal-d3per.uwhs.ac.id]
Karakteristik ini membantu tenaga kesehatan dalam membedakan nyeri akut dari nyeri kronis, sehingga strategi intervensi dapat disesuaikan.
Faktor Penyebab Terjadinya Nyeri Akut
Beberapa penyebab umum nyeri akut meliputi:
-
Cedera fisik / trauma, seperti luka, patah tulang, terkilir, luka bakar. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Intervensi medis / pembedahan / prosedur invasif, misalnya operasi, perawatan luka, pemasangan kateter, tindakan bedah. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Penyakit akut, seperti peradangan, infeksi, kondisi organ dalam akut seperti akut abdomen (misalnya radang usus buntu), serangan batu ginjal, pankreatitis, atau gangguan organ lain. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
-
Kerusakan atau ancaman kerusakan jaringan / fungsi, baik yang nyata maupun potensial, termasuk kerusakan saraf, otot, kulit, atau organ internal. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Stimulus nociceptif (fisik, mekanik, kimiawi, termal), seperti luka, tekanan, panas atau bahan kimia yang memicu reseptor nyeri. [Lihat sumber Disini - repository.universitasalirsyad.ac.id]
Karena penyebabnya beragam, identifikasi penyebab sangat penting agar tatalaksana nyeri bisa spesifik dan efektif.
Penilaian Nyeri
Penilaian nyeri adalah langkah awal dan sangat penting dalam manajemen nyeri akut. Dua aspek penting dalam penilaian adalah intensitas dan karakteristik nyeri. Berikut metode dan alat yang umum digunakan:
Skala Numerik (Numeric Rating Scale, NRS)
Skala numerik, sering disebut Numeric Rating Scale (NRS), adalah metode paling sederhana dan umum digunakan untuk mengukur intensitas nyeri secara subjektif. Pasien diminta memilih angka dari 0 sampai 10: 0 berarti tidak ada nyeri, 1, 3 nyeri ringan, 4, 6 nyeri sedang, dan 7, 10 nyeri berat hingga sangat berat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Metode ini banyak digunakan karena mudah, cepat, dan tidak memerlukan alat khusus, cocok untuk klinik, IGD, maupun rawat inap. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Mnemonik PQRST
Untuk mengevaluasi nyeri secara lebih komprehensif, bukan hanya intensitas tetapi juga karakteristik nyeri, digunakan metode PQRST: Provoke/Palliating, Quality, Region/Radiation, Severity, Time. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Provoke / Palliate, Apa yang memicu nyeri? Apa yang mengurangi nyeri?
-
Quality, Bagaimana karakter nyerinya? (misalnya tajam, menusuk, terbakar, tumpul)
-
Region / Radiation, Di mana lokasi nyeri? Apakah menyebar ke bagian lain?
-
Severity, Seberapa berat nyeri (sering dikombinasikan dengan NRS)
-
Time, Kapan mulai? Berapa lama? Apakah terus menerus atau periode nyeri dan bebas nyeri?
Metode PQRST membantu tenaga kesehatan menggali informasi penting sebelum menentukan intervensi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pendekatan Observasi (untuk pasien yang sulit berkomunikasi)
Pada pasien yang tidak bisa menyampaikan keluhan nyeri, misalnya dalam kondisi tidak sadar atau kritis, penilaian bisa dilakukan dengan observasi. Misalnya: ekspresi wajah, gerakan tubuh, respons terhadap stimuli, perubahan tanda vital, ketegangan otot, gelisah, atau perilaku protektif. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
Beberapa alat alternatif seperti CPOT (Critical Care Pain Observation Tool) atau BPS (Behavioral Pain Scale) sering direkomendasikan di unit perawatan intensif untuk pasien yang tidak mampu self-report. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]
Intervensi Keperawatan pada Nyeri Akut
Setelah nyeri dinilai, langkah selanjutnya adalah merencanakan dan melakukan intervensi sesuai kondisi pasien. Berikut pendekatan keperawatan yang umum dilakukan:
-
Pengkajian nyeri secara lengkap, mengumpulkan data subjektif (keluhan pasien) dan objektif (tanda vital, ekspresi, perilaku) menggunakan skala dan metode penilaian seperti NRS atau PQRST, atau observasi jika pasien tidak mampu berbicara.
-
Analisis dan diagnosis keperawatan, berdasarkan hasil pengkajian, menentukan diagnosis keperawatan (misalnya “Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik/perubahan jaringan”) agar intervensi tepat sasaran. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
-
Intervensi farmakologis, pemberian analgesik sesuai protokol dan kebutuhan, dengan mempertimbangkan waktu pemberian. Studi terbaru menunjukkan bahwa pemberian analgesik cepat pada pasien nyeri akut di IGD sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
-
Intervensi non-farmakologis, seperti terapi relaksasi, distraksi, musik, guided imagery, atau terapi perilaku lainnya. Pendekatan ini mendukung penurunan intensitas nyeri tanpa efek samping obat, serta membantu aspek psikologis dan emosional pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
-
Edukasi dan komunikasi, memberi informasi kepada pasien tentang nyeri, penyebab, dan strategi manajemen, melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan, serta mendokumentasikan respons terhadap intervensi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Evaluasi dan monitoring, setelah intervensi, lakukan penilaian ulang terhadap nyeri menggunakan skala yang sama, dan catat perubahan, lalu sesuaikan tindakan lanjutan jika perlu. Ini penting untuk memastikan efektivitas penatalaksanaan nyeri.
Terapi Non-Farmakologis untuk Mengurangi Nyeri
Tidak selalu analgesik menjadi pilihan utama. Terapi non-farmakologis memiliki peran penting, terutama untuk membantu menurunkan nyeri, mengurangi kecemasan, dan mempercepat pemulihan. Beberapa metode yang didukung bukti:
-
Musik terapi / Distraksi dengan musik, mendengarkan musik dapat mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri, memberikan rasa relaksasi, dan melepaskan endorfin sehingga menurunkan persepsi nyeri. Contoh penerapan pada pasien pasca operasi appendektomi menunjukkan pengurangan nyeri setelah terapi musik klasik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
-
Relaksasi pernapasan (deep breathing relaxation), teknik pernapasan dalam yang terstruktur terbukti menurunkan skala nyeri pada pasien post-operasi. Dalam studi kasus pasca mastektomi, setelah 3 hari relaksasi pernapasan intensitas nyeri menurun signifikan. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
-
Guided imagery (imajinasi terarah / visualisasi relaksasi), pasien membayangkan suasana yang menenangkan untuk membantu mengalihkan fokus dari nyeri dan menenangkan sistem saraf. Studi pada pasien dispepsia dan thalasemia menunjukkan penurunan nyeri setelah penerapan guided imagery dua kali sehari selama beberapa hari. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Distraksi atau terapi perilaku lainnya, tergantung kondisi dan preferensi pasien, intervensi non-farmakologis bisa disesuaikan, seperti manipulasi posisi tubuh, pijat ringan, kompres hangat/dingin, teknik relaksasi otot, atau edukasi untuk coping terhadap nyeri. Banyak penelitian menyarankan kombinasi pendekatan fisik dan psikososial untuk hasil optimal. [Lihat sumber Disini - repository.stikesbcm.ac.id]
Pendekatan non-farmakologis penting karena minim efek samping, dapat mendukung penyembuhan, serta mempertimbangkan aspek holistik pasien (fisik, emosional, sosial).
Contoh Kasus Penatalaksanaan Nyeri Akut
Berikut ilustrasi nyata penerapan manajemen nyeri akut dalam praktik keperawatan berdasarkan penelitian:
Kasus 1, Pasien post-mastektomi (pembedahan payudara):
Pasien diberikan terapi relaksasi pernapasan intensif selama 3 hari setelah operasi. Hasilnya: skala nyeri menurun sekitar 3 poin (misalnya dari 6 ke 3 atau dari 5 ke 2), dan pasien mampu bergerak serta memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri. [Lihat sumber Disini - thejnp.org]
Kasus 2, Pasien pasca appendektomi (operasi usus buntu):
Intervensi termasuk pemberian analgesik sesuai kebutuhan dan terapi musik klasik sebagai terapi non-farmakologis. Pendekatan ini membantu menurunkan skala nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien selama proses pemulihan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa kombinasi intervensi, farmakologis dan non-farmakologis, serta penilaian dan monitoring yang tepat, dapat menghasilkan penurunan nyeri signifikan dan mendukung pemulihan pasien secara lebih cepat.
Kesimpulan
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, muncul tiba-tiba akibat kerusakan atau potensi kerusakan jaringan/fungsi, dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Karena sifat dan penyebabnya yang bervariasi, dari trauma, pembedahan, sampai penyakit, maka penilaian nyeri harus dilakukan secara sistematis menggunakan metode seperti NRS atau PQRST, atau observasi jika pasien tidak bisa memberi laporan.
Penatalaksanaan nyeri akut idealnya mengombinasikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis, edukasi dan komunikasi dengan pasien, serta evaluasi dan monitoring secara berkala. Pendekatan non-farmakologis seperti relaksasi pernapasan, musik, atau guided imagery terbukti efektif menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan pasien, serta mendukung penyembuhan secara holistik. Dengan manajemen nyeri yang baik, komplikasi bisa dicegah, penyembuhan dipercepat, dan kualitas hidup pasien meningkat.
Semoga artikel ini bermanfaat sebagai referensi klinis maupun edukatif, dan mendukung upaya agar setiap pasien mendapatkan penanganan nyeri yang tepat dan manusiawi.