
Nyeri Persalinan: Jenis dan Penanganan
Pendahuluan
Persalinan adalah proses alamiah yang dialami banyak wanita pada saat akan melahirkan. Salah satu aspek terpenting dalam persalinan adalah nyeri, sensasi sakit yang dialami ibu ketika terjadi kontraksi uterus dan pembukaan serviks. Nyeri persalinan bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan dapat mempengaruhi fisik dan psikologis ibu, durasi persalinan, serta jalannya proses persalinan. Oleh karena itu, memahami berbagai jenis nyeri persalinan, faktor yang mempengaruhi intensitasnya, serta cara-cara menanganinya dengan pendekatan ilmiah menjadi sangat penting. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif tentang nyeri persalinan, definisinya, faktor-faktornya, serta metode penanganan baik non-farmakologis maupun farmakologis, berdasarkan literatur dan penelitian terkini.
Definisi Nyeri Persalinan
Definisi Nyeri Persalinan Secara Umum
Nyeri persalinan dapat diartikan sebagai sensasi sakit atau tidak nyaman yang dirasakan ibu selama proses persalinan, terutama saat kontraksi uterus, pembukaan (dilatasi) serviks, dan penurunan kepala bayi. Nyeri ini muncul sebagai bagian dari reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan struktural dan mekanik dalam rahim dan jalan lahir. Intensitas dan karakteristik nyeri dapat berbeda-beda pada tiap individu, tergantung berbagai faktor, termasuk kondisi fisik, emosional, dan pengalaman sebelumnya.
Definisi Nyeri Persalinan dalam KBBI
Menurut kamus resmi, istilah “persalinan” merujuk pada proses melahirkan. Istilah “nyeri” berarti rasa sakit atau sakit fisik. Maka, “nyeri persalinan” secara harfiah berarti rasa sakit yang terjadi saat proses persalinan. Definisi ini konsisten dengan makna umum, menggambarkan bahwa nyeri persalinan merupakan bagian dari pengalaman melahirkan.
Definisi Nyeri Persalinan Menurut Para Ahli
-
Menurut penelitian oleh Aviva dkk. (2025), nyeri persalinan adalah gejala fisiologis yang muncul terutama pada fase laten dan fase aktif persalinan, disebabkan oleh kontraksi uterus yang menyebabkan serviks melebar dan menipis. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
-
Dalam kajian oleh Ratih (2024), disebutkan bahwa nyeri persalinan muncul akibat kontraksi otot rahim yang menyebabkan pemendekan dan penarikan otot, sehingga menimbulkan rasa sakit di perut, pinggang, dan dapat menjalar ke paha. [Lihat sumber Disini - jurnal.univrab.ac.id]
-
Dalam tinjauan sistematik mengenai metode relaksasi dan analgesia non-farmakologis pada persalinan, disebutkan bahwa nyeri persalinan dapat dikelola melalui teknik relaksasi, posisi, dan mobilitas ibu, tanpa selalu mengandalkan obat. [Lihat sumber Disini - scielo.isciii.es]
-
Dalam laporan review mengenai manajemen nyeri persalinan non-farmakologis modern, disebutkan bahwa metode seperti pijat, akupresur, TENS, serta mobilitas dan posisi ibu selama persalinan mampu membantu wanita mengatasi rasa sakit persalinan sesuai kebutuhan dan preferensi individu. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Tahapan dan Karakteristik Nyeri Persalinan
Persalinan umumnya dibagi dalam beberapa tahapan, dan setiap tahap memiliki karakteristik nyeri yang berbeda.
-
Fase Laten, pada awal kontraksi dan pembukaan serviks kecil (misalnya serviks mulai melebar), nyeri seringkali berupa kram ringan atau rasa tidak nyaman di perut/punggung; bisa datang dan pergi mengikuti kontraksi. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
-
Fase Aktif (Kala I aktif), saat serviks melebar lebih cepat (misalnya 4, 10 cm), kontraksi menjadi lebih kuat dan lebih sering. Nyeri pada fase ini bisa intens, terasa di perut bagian bawah, pinggang, menjalar ke paha atau punggung. [Lihat sumber Disini - jurnal.univrab.ac.id]
-
Fase Persalinan/Desensus & Kala II, ketika bayi mulai turun lewat jalan lahir dan kepala bayi menekan panggul dan jalur lahir, nyeri bisa berubah sifat (termasuk tekanan, rasa panas, perih, sensasi terbakar/tekan). Sering ibu merasakan kuat di area perineum, pelvis, tulang belakang bagian bawah.
Karakteristik nyeri juga sangat dipengaruhi oleh masing-masing ibu: ada ibu yang merasakan nyeri sedang, ada juga yang sangat berat. Misalnya dalam sebuah penelitian di puskesmas, 43, 5% ibu melaporkan nyeri sedang dan 33, 9% melaporkan nyeri berat pada kala I. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
Faktor yang Mempengaruhi Intensitas Nyeri
Beberapa faktor bisa mempengaruhi seberapa kuat atau parah nyeri persalinan yang dirasakan ibu, antara lain:
-
Faktor fisik dan fisiologis, kontraksi uterus, kecepatan dan kekuatan kontraksi, penurunan kepala bayi, posisi janin, kondisi panggul dan jalan lahir; semua ini mempengaruhi beban mekanis pada tubuh ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.univrab.ac.id]
-
Pengalaman masa lalu dan kehamilan sebelumnya, ibu yang pernah melahirkan mungkin memiliki persepsi nyeri berbeda dibanding primigravida; pengalaman sebelumnya dapat membentuk kesiapan psikis dan coping terhadap nyeri. [Lihat sumber Disini - europeanjournalofmidwifery.eu]
-
Status emosional, kecemasan, ketakutan, stres, penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dapat meningkatkan persepsi nyeri; nyeri dan kecemasan saling mempengaruhi dalam proses persalinan. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
-
Lingkungan dan dukungan selama persalinan, kehadiran pendamping/petugas/bidan, suasana ruang bersalin, komunikasi, posisi dan mobilitas ibu, serta kenyamanan psikologis bisa mempengaruhi bagaimana ibu merespon nyeri. [Lihat sumber Disini - reproductive-health-journal.biomedcentral.com]
-
Pengetahuan dan kesiapan ibu terhadap manajemen nyeri, ibu yang memahami teknik-teknik manajemen nyeri (non-farmakologis maupun farmakologis) serta dilatih untuk menggunakannya cenderung bisa menghadapi nyeri dengan lebih baik. [Lihat sumber Disini - europeanjournalofmidwifery.eu]
Teknik Non-Farmakologis dalam Manajemen Nyeri
Banyak penelitian menunjukkan bahwa metode non-farmakologis dapat membantu mengurangi persepsi nyeri persalinan. Berikut teknik-tekniknya:
-
Pijatan / Back Massage / Deep Back Massage, misalnya teknik “deep back massage” terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri pada kala I persalinan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Penggunaan Birth Ball / Gym Ball / Sabuk Bola (Belt Ball), studi menunjukkan bahwa penggunaan birth ball atau belt ball dapat mengurangi nyeri persalinan, terutama dengan mengurangi tekanan pada punggung/bagian bawah dan membantu posisi ibu lebih nyaman. [Lihat sumber Disini - callforpaper.unw.ac.id]
-
Teknik relaksasi: pernapasan, mobilitas, perubahan posisi, relaksasi otot, gerakan tubuh, relaksasi, perubahan posisi, dan mobilitas ibu selama persalinan terbukti membantu mengurangi rasa sakit. [Lihat sumber Disini - scielo.isciii.es]
-
Aromaterapi, music therapy, lingkungan relaks, distraksi psikologis, kombinasi teknik seperti aromaterapi (misalnya inhalasi minyak esensial), musik, dan suasana relaksasi dapat menurunkan persepsi nyeri serta meningkatkan kenyamanan ibu. [Lihat sumber Disini - journal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Teknik tradisional lokal / budaya (jika tersedia & sesuai praktik kebidanan), seperti pijat tradisional, rebozo, dukungan emosional, kehadiran pendamping, dan metode berbasis keluarga/dukungan sosial, misalnya studi di Indonesia menunjukkan bahwa teknik Rebozo Technique pada kala I fase aktif dapat menurunkan intensitas nyeri secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.kolibi.org]
Banyak literatur modern menyebut metode-metode ini sebagai NPPM (non-pharmacological pain management). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penggunaan Analgesik pada Persalinan
Selain metode non-farmakologis, analgesik farmakologis juga sering digunakan dalam proses persalinan, terutama pada kasus persalinan dengan kebutuhan medis khusus, komplikasi, atau ketika nyeri sangat intens dan ibu memerlukan bantuan medis.
Salah satu metode analgesia neuraksial modern adalah Dural Puncture Epidural (DPE), teknik ini memungkinkan blok sensorik yang optimal dengan stabilitas hemodinamik, dan dapat menjadi pilihan aman bahkan untuk ibu hamil dengan kondisi khusus seperti penyakit jantung bawaan. [Lihat sumber Disini - jurnalanestesiobstetri-indonesia.id]
Namun, penggunaan analgesik farmakologis harus mempertimbangkan kondisi ibu dan janin, serta risiko dan kontraindikasi. Oleh karena itu penting untuk mendapatkan penilaian medis oleh tenaga kesehatan profesional.
Peran Pendamping Persalinan dalam Mengelola Nyeri
Pendamping persalinan, bisa suami, anggota keluarga, doula, atau tenaga kesehatan, punya peran besar dalam membantu ibu menghadapi nyeri persalinan. Berikut kontribusinya:
-
Memberikan dukungan emosional dan psikologis: kehadiran pendamping bisa mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, yang pada gilirannya dapat menurunkan persepsi nyeri. Banyak studi menyebut bahwa dukungan kontinu dari pendamping atau bidan meningkatkan pengalaman persalinan. [Lihat sumber Disini - scielo.isciii.es]
-
Membantu penerapan teknik non-farmakologis: seperti membantu ibu melakukan relaksasi, pijat, perubahan posisi, penggunaan birth ball, serta memastikan ibu tetap bergerak atau bernafas dengan benar. [Lihat sumber Disini - reproductive-health-journal.biomedcentral.com]
-
Meningkatkan rasa kontrol dan kenyamanan: kehadiran pendamping yang memahami manajemen nyeri bisa memberi ibu rasa aman, dukungan moral, serta membantu ibu merasa terlibat dalam proses persalinan, bukan hanya sebagai penerima sakit. Hal ini mempengaruhi persepsi subjektif terhadap nyeri. [Lihat sumber Disini - europeanjournalofmidwifery.eu]
Pengaruh Kecemasan terhadap Persepsi Nyeri
Kecemasan, rasa takut, stres, dan faktor psikologis lainnya punya peran signifikan dalam bagaimana ibu merasakan nyeri persalinan. Beberapa poin penting:
-
Studi menunjukkan bahwa nyeri persalinan dan kecemasan saling mempengaruhi: semakin tinggi kecemasan, semakin besar kemungkinan persepsi nyeri dirasakan intens. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]
-
Kondisi kecemasan tidak hanya mempengaruhi persepsi nyeri, tetapi juga dapat mempengaruhi durasi persalinan, respon kontraksi, dan kesejahteraan ibu secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.univrab.ac.id]
-
Oleh karena itu, manajemen nyeri persalinan idealnya juga harus mencakup aspek psikologis, bukan hanya fisik. Teknik relaksasi, dukungan pendamping, lingkungan nyaman, komunikasi, informasi yang jelas, dan rasa aman bisa membantu mereduksi kecemasan dan menurunkan rasa nyeri.
Efektivitas Metode Penanganan Nyeri Persalinan
Berdasarkan berbagai penelitian dan tinjauan sistematis, efektivitas metode penanganan nyeri, khususnya non-farmakologis, cukup menjanjikan:
-
Sebuah tinjauan sistematis terbaru (2018, 2025) menemukan bahwa intervensi seperti musik, pijat (endorphin massage, deep back massage), relaksasi, aromaterapi, dan kombinasi terapi secara signifikan menurunkan nyeri persalinan (p < 0, 05). [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Metode non-farmakologis juga terbukti meningkatkan kenyamanan psikologis dan kepuasan ibu terhadap pengalaman persalinan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Misalnya, penggunaan birth ball pada kala I fase aktif menunjukkan pengurangan nyeri dan durasi persalinan dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Teknik pijat seperti deep back massage atau pijat endorphin juga memberikan penurunan intensitas nyeri dan membantu adaptasi ibu terhadap kontraksi dan pembukaan serviks. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Meski demikian, efektivitas metode non-farmakologis bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor: pengetahuan dan keterampilan penyedia layanan (bidan/perawat), kesiapan ibu, lingkungan ruang bersalin, dan dukungan pendamping. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Dalam beberapa kasus, terutama jika persalinan komplikatif atau ibu punya kondisi medis, analgesia farmakologis seperti DPE bisa menjadi pilihan yang efektif dan aman ketika dilakukan oleh tenaga medis terlatih. [Lihat sumber Disini - jurnalanestesiobstetri-indonesia.id]
Kesimpulan
Nyeri persalinan adalah bagian tak terpisahkan dari proses melahirkan, sensasi yang muncul akibat kontraksi uterus, pembukaan dan penipisan serviks, serta penurunan bayi melalui jalan lahir. Intensitas dan karakter nyeri sangat bervariasi, dipengaruhi oleh faktor fisiologis, kondisi tubuh ibu, pengalaman masa lalu, serta aspek psikologis seperti kecemasan dan stres.
Penanganan nyeri persalinan bisa dilakukan dengan pendekatan non-farmakologis maupun farmakologis. Metode non-farmakologis, seperti pijat, penggunaan birth ball, teknik relaksasi, mobilitas/posisi ibu, aromaterapi, musik, dan kehadiran pendamping, telah terbukti efektif dalam mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan serta kepuasan ibu. Sementara itu, analgesia farmakologis seperti DPE tetap punya tempat, terutama pada persalinan dengan kebutuhan medis khusus.
Peran pendamping (bidan, suami, keluarga) dan lingkungan persalinan juga sangat krusial, dukungan emosional, informasi, kenyamanan, dan komunikasi baik bisa membantu ibu mengatasi nyeri lebih baik. Karena aspek psikologis (kecemasan, ketakutan) sangat mempengaruhi persepsi nyeri, maka manajemen yang efektif harus holistik, mencakup fisik dan psikologis.
Dengan demikian, pemahaman terhadap berbagai jenis nyeri persalinan, faktor yang mempengaruhinya, serta metode penanganan, disertai dukungan dan pilihan sesuai kondisi ibu, dapat membantu menciptakan pengalaman persalinan yang lebih manusiawi, berkualitas, dan aman.