
Eksperimen: Definisi, Jenis, dan Langkah-langkahnya
Pendahuluan
Metode eksperimen merupakan salah satu pendekatan penting dalam penelitian kuantitatif yang berfokus pada pencarian hubungan sebab-akibat antara variabel. Melalui eksperimen, peneliti dapat memberikan perlakuan tertentu kepada subjek, lalu mengamati dampaknya dengan pengendalian variabel luar yang ketat. Hal ini menjadikan eksperimen sebagai metode yang mampu menghasilkan bukti empiris yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam dunia akademik, eksperimen sering digunakan sebagai dasar dalam pengembangan teori, validasi hipotesis, hingga evaluasi efektivitas suatu intervensi. Di bidang pendidikan, eksperimen kerap diterapkan untuk menguji model atau strategi pembelajaran yang inovatif. Di bidang kesehatan, metode ini digunakan untuk menilai efektivitas suatu terapi, obat, atau program intervensi masyarakat. Sementara dalam bidang sosial, eksperimen berperan dalam menilai kebijakan publik, perilaku masyarakat, atau program-program berbasis komunitas.
Keunggulan metode eksperimen terletak pada kemampuannya memberikan bukti kausalitas yang lebih jelas dibandingkan metode deskriptif atau korelasional. Melalui prosedur sistematis seperti randomisasi, penggunaan kelompok kontrol, dan pengukuran pretest-posttest, peneliti dapat meminimalkan bias serta memastikan hasil penelitian lebih valid. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam rentang tahun 2020–2025, penelitian di Indonesia semakin banyak menggunakan eksperimen sebagai metode utama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dalam berbagai bidang ([Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org], [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]).
Definisi Eksperimen
Definisi Eksperimen Secara Umum
Eksperimen adalah salah satu metode penelitian yang dilakukan dengan cara memberikan perlakuan tertentu kepada subjek penelitian untuk mengetahui pengaruhnya terhadap variabel lain. Dalam pelaksanaannya, peneliti berusaha mengendalikan faktor-faktor luar agar hasil yang diperoleh benar-benar menggambarkan hubungan sebab-akibat yang terjadi. Menurut KBBI, eksperimen didefinisikan sebagai kegiatan percobaan yang dilakukan secara sistematis dengan tujuan membuktikan suatu teori atau hipotesis. Dengan kata lain, eksperimen bukan sekadar “mencoba-coba”, melainkan sebuah proses ilmiah yang terencana, terstruktur, serta memiliki aturan baku yang menjamin validitas data. Eksperimen juga sering dipandang sebagai inti dari metode ilmiah karena memungkinkan peneliti memperoleh bukti empiris yang dapat diverifikasi, baik melalui pengulangan maupun pengujian di kondisi yang berbeda ([Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]).
Definisi Eksperimen Menurut Para Ahli
- Irfan Abraham (2022) menjelaskan bahwa eksperimen adalah penelitian yang secara khusus bertujuan menemukan hubungan sebab-akibat. Dalam desainnya, peneliti melakukan manipulasi pada variabel bebas dan mengamati sejauh mana manipulasi tersebut memberikan pengaruh terhadap variabel terikat. Pandangan ini menegaskan bahwa esensi eksperimen terletak pada adanya kontrol yang ketat terhadap kondisi penelitian sehingga kesimpulan yang dihasilkan memiliki kekuatan kausalitas yang tinggi ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).
- Donald Ary, salah satu tokoh metodologi penelitian, menyebut penelitian eksperimen sebagai bentuk penelitian yang paling canggih dalam menguji hipotesis. Hal ini karena eksperimen memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengendalikan hampir semua faktor yang relevan sehingga hasil penelitian benar-benar dapat dikaitkan dengan perlakuan yang diberikan. Ia menekankan bahwa peran eksperimen sangat besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab metode ini mampu menghasilkan bukti empiris yang kuat dan dapat dijadikan dasar inovasi lebih lanjut ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).
- Farhan Arib dkk. (2023) menyatakan bahwa eksperimen merupakan metode yang memungkinkan peneliti mengendalikan variabel penelitian secara optimal. Menurut mereka, eksperimen adalah satu-satunya metode yang secara langsung dapat digunakan untuk menguji hubungan kausalitas, yaitu apakah suatu perlakuan benar-benar memengaruhi hasil yang diteliti. Pandangan ini menunjukkan bahwa keunggulan utama eksperimen dibanding metode lain terletak pada kekuatan pembuktian kausalitas yang tidak bisa disamai oleh desain penelitian deskriptif maupun korelasional ([Lihat sumber Disini - j-innovative.org]).
Dengan mengacu pada berbagai pendapat tersebut, dapat dipahami bahwa eksperimen merupakan metode penelitian yang tidak hanya menguji hipotesis, tetapi juga menghasilkan bukti ilmiah yang kokoh. Melalui proses manipulasi, kontrol, dan observasi yang sistematis, eksperimen memberikan landasan kuat untuk menjawab pertanyaan penelitian yang bersifat sebab-akibat serta mendorong perkembangan ilmu pengetahuan secara berkesinambungan.
Jenis Eksperimen
Berdasarkan literatur penelitian Indonesia periode 2020–2025, eksperimen memiliki beberapa jenis yang dapat dipilih peneliti sesuai dengan tujuan, kondisi lapangan, serta tingkat pengendalian variabel yang dimungkinkan. Setiap jenis eksperimen memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan masing-masing. Berikut penjelasan lebih rinci:
1. True Experimental Design
True experimental design atau desain eksperimen sejati dianggap sebagai bentuk eksperimen yang paling kuat karena memenuhi tiga syarat utama: adanya kelompok kontrol, kelompok perlakuan, dan proses randomisasi dalam penentuan subjek. Dengan adanya randomisasi, setiap subjek memiliki peluang yang sama untuk ditempatkan pada kelompok manapun, sehingga potensi bias dapat diminimalkan. Validitas internal pada desain ini sangat tinggi karena peneliti mampu mengendalikan variabel-variabel luar yang berpotensi memengaruhi hasil. Contoh penerapannya sering ditemukan pada penelitian pendidikan, seperti membandingkan efektivitas dua metode pembelajaran berbeda dengan pembagian kelas yang dilakukan secara acak ([Lihat sumber Disini - repository.ar-raniry.ac.id]).
2. Quasi Experimental Design
Quasi experimental design atau eksperimen semu merupakan bentuk penelitian yang masih menggunakan kelompok kontrol dan perlakuan, tetapi tidak dilakukan randomisasi penuh terhadap subjek penelitian. Kondisi ini biasanya terjadi karena keterbatasan lapangan, misalnya kelas atau kelompok sudah terbentuk sebelumnya sehingga peneliti tidak bisa membagi ulang secara acak. Walaupun validitas internalnya tidak sekuat true experimental, desain ini tetap banyak digunakan karena lebih realistis dan sesuai dengan kondisi pendidikan atau sosial di Indonesia. Beberapa bentuk desain quasi antara lain: time-series design, non-equivalent control group design, serta single subject design. Desain ini sering dipakai pada penelitian tindakan kelas atau evaluasi program yang melibatkan siswa, mahasiswa, maupun masyarakat umum ([Lihat sumber Disini - ejournal.mandalanursa.org]).
3. Pre-Experimental Design
Pre-experimental design sering dianggap sebagai bentuk paling sederhana dari penelitian eksperimen. Desain ini biasanya digunakan pada tahap awal untuk memperoleh gambaran kasar mengenai pengaruh suatu perlakuan, meskipun belum ada kelompok kontrol yang memadai. Ciri khasnya adalah kurangnya pengendalian terhadap variabel luar sehingga hasil penelitian masih rawan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Contoh paling umum adalah one-shot case study atau one group pretest-posttest design. Walaupun keterbatasannya besar, desain ini sering digunakan untuk penelitian pendahuluan yang bertujuan menguji kelayakan perlakuan sebelum dilanjutkan ke eksperimen yang lebih kompleks ([Lihat sumber Disini - repository.ar-raniry.ac.id]).
4. Factorial Design
Factorial design adalah jenis eksperimen yang digunakan ketika peneliti ingin meneliti pengaruh lebih dari satu variabel bebas sekaligus, serta melihat apakah terdapat interaksi antara variabel-variabel tersebut. Misalnya, peneliti ingin menguji pengaruh metode pembelajaran dan tingkat motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa. Dengan factorial design, peneliti bisa mengetahui apakah kedua variabel tersebut hanya berpengaruh secara individu atau juga memiliki efek interaksi yang signifikan. Kelebihan desain ini adalah kemampuannya memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang hubungan antar variabel, meskipun analisisnya lebih kompleks dan membutuhkan jumlah sampel yang lebih besar. Desain ini mulai banyak digunakan dalam penelitian pendidikan dan psikologi di Indonesia, khususnya pada level perguruan tinggi ([Lihat sumber Disini - ejournal.mandalanursa.org]).
Secara keseluruhan, keempat jenis eksperimen ini memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk menyesuaikan desain dengan konteks penelitian. True experimental unggul dari sisi kontrol, quasi experimental lebih fleksibel untuk lapangan, pre-experimental berguna untuk studi awal, sedangkan factorial design membantu memahami pengaruh dan interaksi multi-variabel. Pemilihan desain yang tepat akan menentukan kualitas kesimpulan yang dihasilkan dan relevansi penelitian terhadap persoalan nyata.
Perbedaan Eksperimen dan Observasi dalam Penelitian
Penelitian eksperimen dan observasi merupakan dua pendekatan utama dalam metode penelitian ilmiah, tetapi keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara pengumpulan dan interpretasi data.
1. Definisi dan Tujuan Utama
-
Penelitian Eksperimen adalah studi di mana peneliti secara aktif memanipulasi satu atau lebih variabel (variabel bebas) untuk melihat pengaruhnya terhadap variabel lain (variabel terikat) dalam kondisi yang terkontrol. Tujuan utama eksperimen adalah untuk menentukan hubungan sebab, akibat antara variabel. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
-
Penelitian Observasi adalah studi di mana peneliti mengamati fenomena, perilaku, atau kejadian tanpa melakukan intervensi atau manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Dalam observasi, peneliti hanya mencatat apa yang terjadi secara alami untuk mengidentifikasi pola atau hubungan antar variabel, tetapi tidak dapat secara langsung menyimpulkan hubungan sebab, akibat. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
2. Manipulasi Variabel dan Kontrol
Dalam penelitian eksperimen, peneliti mengendalikan kondisi penelitian, menetapkan kelompok kontrol dan perlakuan, serta mengatur variabel lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian agar validitas internalnya tinggi. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
Sebaliknya, dalam penelitian observasi, tidak ada kontrol atau intervensi langsung; peneliti hanya mencatat kondisi yang muncul secara alami sehingga risiko adanya variabel yang tidak terkontrol lebih besar. ([Lihat sumber Disini - scribbr.com])
3. Penentuan Hubungan Sebab, Akibat vs Korelasi
Eksperimen dirancang untuk menguji hipotesis sebab, akibat dengan mengisolasi variabel bebas yang dimanipulasi. Keyakinan bahwa perubahan pada variabel terikat benar-benar disebabkan oleh manipulasi variabel bebas adalah esensi dari desain eksperimen. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Sebaliknya, penelitian observasional hanya mengungkap hubungan atau asosiasi antar variabel tanpa kemampuan yang kuat untuk mengklaim hubungan sebab, akibat karena tidak adanya manipulasi variabel dan kontrol terhadap faktor lain. ([Lihat sumber Disini - scribbr.com])
4. Contoh Penerapan
-
Eksperimen: Peneliti membagi subjek ke dalam kelompok yang menerima perlakuan tertentu dan kelompok tanpa perlakuan untuk melihat dampaknya, misalnya pada studi obat atau intervensi pendidikan. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
-
Observasi: Peneliti mencatat perilaku subjek atau kejadian yang sudah terjadi dalam lingkungan alami tanpa mengubah variabel penelitian, seperti studi kohort kesehatan. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
Secara ringkas, perbedaan utama antara penelitian eksperimen dan observasi terletak pada ada atau tidaknya manipulasi variabel dan kontrol terhadap variabel lain, serta kemampuan untuk menyimpulkan hubungan sebab, akibat. ([Lihat sumber Disini - iwh.on.ca])
Langkah-langkah Eksperimen
Secara umum, pelaksanaan eksperimen melibatkan serangkaian tahap yang sistematis. Setiap langkah penting dilakukan dengan teliti karena kualitas hasil penelitian sangat dipengaruhi oleh ketepatan prosedur. Berikut uraian langkah-langkah eksperimen secara lebih rinci:
1. Merumuskan Masalah dan Hipotesis
Langkah pertama adalah merumuskan masalah penelitian secara jelas. Masalah yang dipilih harus relevan, dapat diteliti, dan memungkinkan diuji melalui metode eksperimen. Dari masalah tersebut, peneliti kemudian menyusun hipotesis, yaitu dugaan sementara mengenai hubungan sebab-akibat antar variabel. Hipotesis ini akan menjadi pedoman utama dalam menentukan desain dan analisis data. Tanpa perumusan masalah dan hipotesis yang tajam, penelitian berisiko kehilangan arah serta sulit mencapai kesimpulan yang valid ([Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]).
2. Menetapkan Variabel Penelitian
Tahap selanjutnya adalah mengidentifikasi dan menetapkan variabel yang akan diteliti. Variabel bebas (independen) adalah faktor yang dimanipulasi oleh peneliti, sedangkan variabel terikat (dependen) adalah faktor yang diukur untuk melihat dampak perlakuan. Selain itu, peneliti juga perlu memperhatikan variabel kontrol agar pengaruhnya tidak mengganggu hasil, serta variabel moderator yang mungkin memengaruhi kekuatan hubungan antara variabel bebas dan terikat. Penetapan variabel ini sangat penting agar eksperimen fokus dan dapat diuji secara objektif ([Lihat sumber Disini - j-innovative.org]).
3. Memilih Desain Eksperimen
Setelah variabel ditetapkan, peneliti perlu menentukan desain eksperimen yang sesuai. Pemilihan desain ini tergantung pada tujuan penelitian, ketersediaan subjek, serta kondisi lapangan. Jika memungkinkan randomisasi penuh, true experimental design dapat digunakan untuk memperoleh validitas internal yang tinggi. Namun, jika kondisi lapangan tidak memungkinkan, quasi experimental design bisa menjadi alternatif yang tetap memberikan hasil bermakna. Pemilihan desain yang tepat akan menentukan kekuatan kausalitas dari kesimpulan penelitian ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).
4. Melakukan Randomisasi Subjek
Randomisasi merupakan ciri utama dari true experimental design. Dengan randomisasi, setiap subjek memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke kelompok eksperimen maupun kontrol. Teknik ini mencegah bias seleksi dan menjamin bahwa perbedaan hasil lebih mungkin disebabkan oleh perlakuan, bukan karakteristik awal subjek. Dalam praktiknya, randomisasi bisa dilakukan dengan undian, tabel angka acak, atau perangkat lunak statistik ([Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]).
5. Memberikan Perlakuan (Treatment)
Setelah kelompok terbentuk, peneliti memberikan perlakuan khusus pada kelompok eksperimen sesuai dengan hipotesis yang ingin diuji. Sementara itu, kelompok kontrol tidak menerima perlakuan atau mendapatkan perlakuan standar. Tujuan adanya kelompok kontrol adalah untuk menyediakan perbandingan, sehingga dapat dipastikan bahwa perubahan pada kelompok eksperimen benar-benar akibat perlakuan yang diberikan. Perlakuan ini harus dilaksanakan secara konsisten agar hasil dapat dipercaya ([Lihat sumber Disini - j-innovative.org]).
6. Melakukan Pengukuran (Pretest dan Posttest)
Tahap penting lainnya adalah pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan. Pretest dilakukan untuk mengetahui kondisi awal subjek, sedangkan posttest dilakukan setelah perlakuan diberikan. Perbandingan hasil pretest dan posttest antara kelompok eksperimen dan kontrol akan menunjukkan sejauh mana perlakuan memengaruhi variabel terikat. Pengukuran ini dapat menggunakan instrumen tes, kuesioner, observasi, atau alat ukur lainnya sesuai bidang penelitian ([Lihat sumber Disini - ejournal.unib.ac.id]).
7. Mengendalikan Faktor Lain
Dalam eksperimen, peneliti harus memastikan bahwa tidak ada variabel luar yang ikut memengaruhi hasil. Faktor-faktor seperti kondisi lingkungan, motivasi subjek, atau instrumen pengukuran harus dijaga agar tidak menimbulkan bias. Pengendalian ini bisa dilakukan melalui penyamaan kondisi antar kelompok, penggunaan instrumen yang reliabel, serta prosedur yang konsisten. Tanpa kontrol yang memadai, hasil penelitian bisa kehilangan validitas ([Lihat sumber Disini - ejournal.warunayama.org]).
8. Menganalisis Data dengan Teknik Statistik
Data yang diperoleh dari hasil eksperimen perlu dianalisis menggunakan teknik statistik yang tepat. Analisis dapat berupa uji-t, ANOVA, regresi, atau teknik lainnya, tergantung pada jumlah variabel dan desain yang digunakan. Analisis statistik tidak hanya membantu menguji hipotesis, tetapi juga mengukur besarnya pengaruh perlakuan. Dengan analisis yang tepat, peneliti dapat menarik kesimpulan berdasarkan data objektif, bukan sekadar asumsi ([Lihat sumber Disini - repository.ar-raniry.ac.id]).
9. Menarik Kesimpulan
Tahap terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis. Kesimpulan harus menjawab hipotesis penelitian dan menjelaskan hubungan sebab-akibat yang ditemukan. Selain itu, peneliti juga perlu membahas keterbatasan penelitian dan memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya. Dengan demikian, hasil eksperimen dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun praktik di lapangan ([Lihat sumber Disini - j-innovative.org]).
Contoh Penerapan Metode Eksperimen dalam Penelitian (2020–2025)
Beberapa penelitian empiris terbaru membuktikan efektivitas penerapan metode eksperimen dalam konteks pendidikan, terutama untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa:
· Dalam penelitian di SD kelas IV yang membahas materi “Gaya dan Gerak”, penerapan metode eksperimen secara sistematis (pra-siklus → siklus I → siklus II) meningkatkan ketuntasan belajar siswa dari 31,81% di pra-siklus menjadi 95,45% di akhir siklus II. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
· Studi lain di kelas VB (SDN 1 Tawangmangu, tahun ajaran 2020/2021) menunjukkan bahwa metode eksperimen mampu meningkatkan motivasi belajar IPA siswa secara signifikan: nilai motivasi rata-rata meningkat dari 53,68 (kategori “sedang”) menjadi 74,28 (kategori “sangat tinggi”) pada akhir penelitian. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]
· Selain itu, penerapan metode eksperimen juga dipakai di mata pelajaran non-IPA, misalnya di pembelajaran agama pada tingkat SD. Dalam penelitian pada tahun 2024, siswa kelas V yang menggunakan eksperimen (simulasi praktik ibadah, pembelajaran interaktif, dsb.) menunjukkan peningkatan pemahaman konsep agama; nilai rata-rata dari pretest 58 naik menjadi 82 pada posttest, menunjukkan lonjakan pemahaman yang signifikan setelah penerapan metode eksperimen. [Lihat sumber Disini - journal.makwafoundation.org]
Hasil-hasil tersebut mendukung temuan dalam literatur metodologi bahwa desain eksperimen, dengan kontrol, intervensi, dan observasi hasil, merupakan alat riset yang valid dan efektif untuk mengevaluasi dampak intervensi pendidikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kelebihan dan Kelemahan Metode Eksperimen
Kelebihan
- Kendali variabel yang ketat memungkinkan peneliti untuk mengisolasi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dan dengan demikian menarik kesimpulan sebab-akibat yang lebih valid. Sebagai contoh, dalam penelitian pendidikan, metode eksperimen disebut memiliki keunggulan dalam “strong internal validity” dibandingkan metode lain. [Lihat sumber Disini - oapub.org]
- Desain eksperimen yang baik sering mencakup studi pendahuluan (pilot study) yang membantu meminimalkan kesalahan metode sebelum penelitian utama berjalan penuh-skala. [Lihat sumber Disini - oapub.org]
- Dalam bidang penelitian inovasi, penggunaan “lab experiments” dinilai mampu menyediakan situasi kontra-faktual (counterfactual) yang sulit dijangkau oleh metode survei atau studi kasus, sehingga membuka wawasan empiris baru. [Lihat sumber Disini - innovation-entrepreneurship.springeropen.com]
Kelemahan
- Kemampuan generalisasi ke konteks dunia nyata sering menjadi terbatas karena kondisi eksperimen dibuat sangat terkendali sehingga kurang mencerminkan kompleksitas lingkungan alami. [Lihat sumber Disini - wacclearinghouse.org]
- Kesalahan sampling, pengukuran yang tidak akurat, dan keberadaan bias peneliti (researcher bias) dapat merusak validitas hasil eksperimen jika kontrol terhadap variabel lain tidak memadai. [Lihat sumber Disini - oapub.org]
- Dalam praktiknya, eksperimen bisa menjadi invasif atau menuntut kondisi buatan yang menyebabkan partisipan berubah perilakunya hanya karena sadar bahwa mereka bagian dari eksperimen (“Hawthorne effect”). [Lihat sumber Disini - oapub.org]
Implikasi untuk Penelitian
Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kelemahan di atas, peneliti yang menggunakan metode eksperimen disarankan untuk:
- Merancang eksperimen dengan kontrol variabel yang matang dan pilot study agar potensi kesalahan bisa diminimalkan.
- Menyediakan diskusi tentang keterbatasan generalisasi hasil eksperimen ke konteks yang lebih luas.
- Mempertimbangkan kombinasi dengan metode penelitian lain (seperti survei atau studi kasus) untuk meningkatkan validitas eksternal dan kedalaman pemahaman.
Kesimpulan
Eksperimen merupakan salah satu metode penelitian yang paling esensial dalam dunia akademik karena memberikan bukti empiris yang langsung terkait dengan hubungan sebab-akibat. Keunggulannya terletak pada kemampuan peneliti untuk melakukan manipulasi, pengendalian variabel, serta observasi yang sistematis, sehingga kesimpulan yang dihasilkan memiliki validitas tinggi. Dengan berbagai jenis desain, mulai dari true experimental yang menekankan randomisasi dan kontrol ketat, hingga quasi experimental yang lebih fleksibel menyesuaikan kondisi lapangan, peneliti memiliki banyak pilihan untuk menyesuaikan metode dengan kebutuhan penelitian.
Langkah-langkah eksperimen yang terstruktur,mulai dari perumusan masalah, penentuan variabel, pemilihan desain, pelaksanaan perlakuan, hingga analisis data,membuktikan bahwa eksperimen adalah metode paling kuat untuk menguji hipotesis. Dalam konteks penelitian di Indonesia pada periode 2020–2025, metode eksperimen banyak diaplikasikan untuk mengevaluasi efektivitas model pembelajaran, menguji intervensi kesehatan, menilai kebijakan sosial, hingga mengembangkan inovasi teknologi.
Metode eksperimen memiliki kelebihan berupa validitas internal yang tinggi, kemampuan mengisolasi pengaruh variabel bebas, serta prosedur yang memungkinkan peneliti menarik kesimpulan kausal secara lebih pasti. Namun, metode ini juga memiliki kelemahan, seperti keterbatasan generalisasi ke kondisi nyata, potensi munculnya bias partisipan akibat situasi yang terlalu terkendali, serta kebutuhan sumber daya yang besar untuk menjaga konsistensi perlakuan dan kontrol variabel.
Dengan demikian, eksperimen tidak dapat dipandang hanya sebagai kegiatan “percobaan” sederhana. Lebih dari itu, eksperimen adalah fondasi ilmiah yang memastikan pengetahuan dapat diuji, diverifikasi, dan diaplikasikan secara nyata. Penerapan eksperimen yang baik tidak hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi praktik pendidikan, kesehatan, dan pembangunan masyarakat secara luas.