
Gangguan Koping Keluarga
Pendahuluan
Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat sering dihadapkan pada berbagai stressor, baik internal maupun eksternal, seperti penyakit anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, masalah ekonomi, konflik interpersonal, maupun krisis sosial. Kemampuan keluarga untuk menghadapi stressor ini sangat tergantung pada bagaimana keluarga melakukan “koping” atau upaya adaptasi mental dan perilaku. Namun, tidak semua cara koping bersifat adaptif atau sehat. Ketika suatu keluarga menggunakan mekanisme koping yang tidak efektif atau maladaptif, hal itu dapat memicu apa yang bisa disebut “gangguan koping keluarga”. Gangguan koping ini berpotensi mengganggu fungsi keluarga, menurunkan kesejahteraan anggota keluarga, dan mempengaruhi kesehatan, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu penting untuk memahami konsep koping keluarga, faktor-faktor yang memengaruhi, dan bagaimana intervensi (khususnya dalam keperawatan dan dukungan sosial) dapat membantu memperkuat koping keluarga agar tetap adaptif dan sehat.
Definisi Koping Keluarga
Definisi Koping Keluarga secara Umum
Secara umum, “koping” (coping) adalah upaya seseorang, baik secara kognitif maupun perilaku, untuk mengelola tuntutan atau stres dari lingkungan serta mengurangi beban psikologis yang muncul akibat situasi tersebut. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Saat diterapkan dalam konteks keluarga, “koping keluarga” merujuk pada mekanisme adaptasi yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga (bukan individu tunggal), untuk menghadapi stressor yang mempengaruhi keluarga sebagai suatu sistem, misalnya krisis kesehatan, ekonomi, konflik, maupun perubahan besar dalam kehidupan keluarga. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Definisi Koping Keluarga dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “koping” kemungkinan besar diterjemahkan sebagai “cara mengatasi” atau “upaya mengatasi tekanan/masalah”. (Catatan: meskipun istilah “koping keluarga” mungkin tidak tercantum secara spesifik di KBBI, definisi “koping” sebagai mekanisme mengatasi stres bisa diadaptasi untuk konteks keluarga).
Definisi Koping Keluarga Menurut Para Ahli
-
Richard S. Lazarus & Susan Folkman, menurut mereka, koping adalah usaha (baik kognitif maupun perilaku) individu dalam menghadapi tuntutan internal dan eksternal yang dianggap menekan, melebihi sumber daya individu, dan mengancam kesejahteraan. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Stuart A. & Sundeen, dalam kajian mereka disebutkan bahwa dalam coping stress ada dua bentuk utama: coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) dan coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping). [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Penelitian dalam konteks keperawatan dan keluarga (misalnya studi pada caregiver keluarga pasien skizofrenia) menunjukkan bahwa koping keluarga menjadi strategi penting dalam manajemen stres keluarga, dan pemilihan strategi coping berpengaruh pada tingkat stres dan fungsi keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Kajian literatur mendukung bahwa sumber daya koping (coping resources) yang dimiliki individu atau keluarga, seperti dukungan sosial, keterampilan problem solving, stabilitas emosional, mempengaruhi jenis strategi koping yang dipilih. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan demikian, koping keluarga dapat dipahami sebagai proses adaptasi kolektif, baik kognitif maupun perilaku, yang dilakukan keluarga dalam menghadapi stres/krisis, dengan tujuan meminimalkan dampak negatif dan mempertahankan fungsi keluarga secara optimal.
Faktor yang Mempengaruhi Koping Keluarga
Beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana keluarga mengatasi stresor atau krisis, sehingga menentukan apakah kopingnya adaptif atau tidak:
-
Sumber daya internal keluarga, misalnya kemampuan problem solving, komunikasi, keterampilan manajemen konflik, stabilitas emosional. Keluarga dengan sumber daya internal yang baik cenderung mengadopsi strategi problem-focused coping. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
-
Dukungan sosial eksternal, seperti dukungan dari kerabat, teman, masyarakat, lembaga sosial/keagamaan, dapat memperkuat koping keluarga. Penelitian menunjukkan korelasi positif antara dukungan keluarga/lingkungan dengan strategi koping adaptif. [Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]
-
Jenis dan intensitas stressor, beban seperti penyakit kronis, konflik berat, beban caregiving, ketidakpastian ekonomi atau PHK (pemutusan hubungan kerja) dapat mempengaruhi tingkat stres dan menentukan strategi koping yang dipilih. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Kondisi psikologis anggota keluarga, kesehatan mental, kemampuan regulasi emosi, serta persepsi terhadap situasi dapat mengubah cara keluarga memandang stresor, dan kemudian menentukan cara koping. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Pengetahuan dan keterampilan, pengertian tentang masalah, kemampuan mencari informasi/solusi, literasi kesehatan/keperawatan jika penyakit fisik atau mental menjadi stressor. Keluarga dengan pengetahuan/keterampilan lebih baik biasanya lebih mampu melakukan coping adaptif. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
-
Dukungan institusional dan layanan kesehatan, akses ke layanan kesehatan, edukasi, serta intervensi keperawatan dapat membantu keluarga dalam menghadapi stressor terutama yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan kesehatan. (lihat bagian intervensi nanti)
Tanda dan Gejala Koping Tidak Efektif
“Koping tidak efektif” atau maladaptif, yaitu ketika upaya adaptasi keluarga gagal mengatasi stresor dengan sehat, dapat menunjukkan beberapa tanda/indikator, antara lain:
-
Komunikasi keluarga memburuk: konflik meningkat, anggota keluarga enggan berbagi masalah, merasa terisolasi, atau saling menyalahkan.
-
Penurunan fungsi keluarga: anggota keluarga tampak lelah secara emosional, kurang perhatian, fungsi peran terganggu (misalnya peran sebagai orang tua, pasangan, caregiver).
-
Masalah kesehatan fisik atau mental muncul atau memburuk, stres kronis dapat memicu hipertensi, gangguan tidur, depresi, cemas, beban caregiving yang berat, gangguan kesehatan lainnya. Penelitian menunjukkan koping keluarga memiliki hubungan dengan pencegahan keparahan hipertensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
-
Ketidakmampuan mengelola beban perawatan jangka panjang: dalam kasus keluarga caregiving untuk pasien dengan gangguan jiwa, stres tinggi dan koping buruk bisa membuat beban caregiving terasa berat, menurunkan kualitas perawatan, dan memperburuk kondisi psikologis caregiver maupun pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Rendahnya resiliensi dan ketahanan keluarga: ketika stresor bertambah, keluarga menjadi rentan terhadap disfungsi, kurang dukungan emosional, dan tidak mampu bangkit kembali secara adaptif. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
Dengan demikian, “gangguan koping keluarga” tidak selalu berarti ada penyakit psikiatrik, tetapi bisa tercermin dalam pola maladaptif dalam cara keluarga menghadapi stresor, yang berdampak pada fungsi dan kesehatan keluarga.
Dampak Masalah Kesehatan terhadap Fungsi Keluarga
Masalah kesehatan, terutama kronis, mental, atau berat, sering menjadi stressor utama bagi keluarga. Dampak terhadap fungsi keluarga bisa signifikan jika koping tidak efektif, antara lain:
-
Beban caregiving jangka panjang: Anggota keluarga harus mengalokasikan waktu, energi, emosi, dan sumber daya finansial untuk merawat anggota sakit, ini bisa menyebabkan kelelahan fisik, kelelahan emosional, penurunan kesejahteraan caregiver, konflik keluarga, bahkan burnout. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Penurunan kualitas relasi interpersonal: stres, ketidakpastian, rasa takut atau malu dapat mengganggu komunikasi dan kepercayaan di antara anggota keluarga, menimbulkan konflik, isolasi emosional, atau perasaan terbebani.
-
Resiko penyakit keluarga lainnya: stres kronis, pola hidup terganggu, beban psikologis dapat meningkatkan risiko penyakit fisik, seperti hipertensi, gangguan tidur, gangguan mental (depresi, cemas), dan masalah kesehatan lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa koping keluarga berhubungan dengan pencegahan keparahan hipertensi pada keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikbis.ac.id]
-
Menurunnya ketahanan dan stabilitas keluarga: jika koping buruk terus-menerus, keluarga bisa kehilangan kapasitas adaptasi saat menghadapi stresor lain di masa depan, sehingga rentan terhadap krisis, disfungsi, atau putus dukungan.
-
Dampak psikososial dan sosial: stigma (terutama untuk penyakit mental), kelelahan caregiver, beban ekonomi, dan kurangnya dukungan sosial bisa memperburuk isolasi sosial dan menurunkan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.
Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Koping
Intervensi keperawatan, baik di tingkat primer, keluarga, maupun masyarakat, dapat membantu memperkuat koping keluarga agar tetap adaptif dan sehat. Beberapa pendekatan penting:
-
Pendidikan dan konseling keluarga: memberikan informasi tentang penyakit/ kondisi (fisik maupun mental), proses perawatan, dan ekspektasi realistis; membantu keluarga memahami beban caregiving dan belajar strategi coping yang sehat. Hal ini mendukung peningkatan literasi kesehatan dan keterampilan coping.
-
Pendampingan dan dukungan psikososial: perawat atau tenaga kesehatan bisa memfasilitasi ruang dialog terbuka, dukungan emosional, meyakinkan caregiver bahwa beban mereka diakui, sehingga membantu mengurangi beban emosional.
-
Promosi komunikasi efektif dalam keluarga: mendorong anggota keluarga untuk berkomunikasi terbuka, berbagi beban, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan saling mendukung, ini membantu menjaga kohesi keluarga dan mencegah konflik.
-
Optimalisasi sumber daya kesehatan dan layanan: menghubungkan keluarga dengan layanan kesehatan, rehabilitasi, kelompok support, layanan sosial atau komunitas, agar keluarga tidak merasa sendirian dalam merawat anggota sakit.
-
Pemberdayaan coping adaptif: mendorong penggunaan strategi coping adaptif seperti coping fokus masalah ketika memungkinkan, dan coping emosi sehat (misalnya relaksasi, aktivitas positif, dukungan sosial) ketika situasi sulit. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Monitoring dan evaluasi secara berkala: perawat perlu mengevaluasi kondisi fisik dan psikologis caregiver dan anggota keluarga, mendeteksi tanda-tanda koping maladaptif atau kejenuhan, serta memberikan intervensi dini bila diperlukan.
Strategi Dukungan Sosial dan Edukasi
Strategi dukungan sosial dan edukasi bisa memperkuat koping keluarga melalui pendekatan komunitas dan lingkungan luas:
-
Kelompok pendukung (support group): membentuk kelompok keluarga dengan pengalaman serupa, misalnya caregiver pasien kronis atau gangguan jiwa, agar bisa saling berbagi pengalaman, strategi, dan dukungan. Ini meningkatkan rasa kelegaan dan mengurangi beban psikologis.
-
Kegiatan edukasi masyarakat: melakukan sosialisasi tentang stres, koping, kesehatan mental dan fisik, serta pentingnya dukungan keluarga di komunitas, agar stigma berkurang dan kesadaran meningkat.
-
Pelibatan lembaga dan institusi sosial/keagamaan: lembaga keagamaan, LSM, puskesmas, dan institusi kesehatan bisa memberikan dukungan, baik materiil, emosional, maupun psikoedukasi, untuk keluarga yang menghadapi krisis.
-
Penguatan jejaring sosial: memfasilitasi akses keluarga ke layanan kesehatan, konseling, rehabilitasi, bantuan ekonomi atau sosial, agar beban tidak hanya ditanggung keluarga secara individu.
-
Penyuluhan kesehatan dan perilaku hidup sehat: edukasi mengenai manajemen stres, pola hidup sehat, pemeliharaan kesehatan fisik & mental, agar keluarga lebih siap menghadapi stresor, dan mengurangi risiko penyakit akibat stres kronis.
Contoh Kasus Gangguan Koping Keluarga
Berikut satu contoh kasus ilustratif berdasarkan hasil penelitian:
Sebuah keluarga menjadi caregiver bagi anggota keluarga dengan gangguan jiwa (misalnya skizofrenia). Penelitian pada keluarga caregiver menunjukkan bahwa keluarga yang tidak mampu menerapkan strategi koping yang tepat, atau dominan menggunakan coping emosi tanpa disertai problem solving, menghadapi stres tinggi, beban perawatan berat, dan fungsi keluarga terganggu. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
Sebaliknya, keluarga yang mampu menggunakan koping adaptif (kombinasi coping fokus masalah untuk mengelola perawatan, misalnya mendapatkan informasi, dukungan layanan, dan coping emosi sehat untuk regulasi stres) cenderung lebih stabil secara emosional dan mampu menjaga fungsi keluarga, merawat pasien dengan lebih baik, serta menjaga kesehatan anggota keluarga lain. [Lihat sumber Disini - jkp.fkep.unpad.ac.id]
Contoh kasus lain: keluarga yang mengalami PHK di masa pandemi, tanpa adanya dukungan sosial atau keterampilan adaptasi, melaporkan stres berat, penurunan ketahanan keluarga, dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dalam studi, coping emosi adaptif dan dukungan sosial terbukti membantu meningkatkan ketahanan keluarga dalam situasi krisis ekonomi. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
Kesimpulan
Koping keluarga adalah proses adaptasi kolektif, baik kognitif maupun perilaku, yang dilakukan keluarga untuk menghadapi stresor, krisis, atau perubahan signifikan dalam kehidupan. Pilihan strategi koping (baik problem-focused maupun emotion-focused), serta sumber daya internal dan eksternal (dukungan sosial, literasi, layanan kesehatan), sangat menentukan apakah koping itu adaptif atau malah berujung pada gangguan koping keluarga.
Gangguan koping keluarga, tercermin dari komunikasi buruk, fungsi keluarga menurun, stress kronis, beban caregiver, atau masalah kesehatan fisik/mental, dapat berdampak luas pada kesejahteraan dan stabilitas keluarga. Oleh karena itu, intervensi keperawatan, dukungan sosial, edukasi, dan pemberdayaan keluarga sangat penting untuk memperkuat koping adaptif.
Dengan strategi dukungan sosial yang baik, edukasi yang tepat, serta pemanfaatan layanan kesehatan dan komunitas, keluarga dapat membangun ketahanan psikologis dan sosial, sehingga meskipun mengalami krisis, mereka tetap mampu menjaga fungsi keluarga dan kualitas hidup.