Terakhir diperbarui: 09 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 9 December). Faktor Risiko Preeklampsia. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/faktor-risiko-preeklampsia  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Faktor Risiko Preeklampsia - SumberAjar.com

Faktor Risiko Preeklampsia

Pendahuluan

Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang serius dan masih menjadi tantangan kesehatan maternal maupun perinatal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun telah banyak penelitian, preeklampsia tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta bayi. [Lihat sumber Disini - jurnalanestesiobstetri-indonesia.id] Kondisi ini seringkali muncul setelah trimester kedua kehamilan dan memerlukan deteksi dini serta manajemen tepat agar risiko terhadap ibu dan janin dapat diminimalkan. Artikel ini bertujuan menjelaskan definisi preeklampsia, faktor risiko, mekanisme terjadinya, dampaknya serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan, agar ibu hamil dan tenaga kesehatan lebih sadar akan pentingnya pemantauan kehamilan (ANC) secara konsisten.


Definisi Preeklampsia

Definisi Preeklampsia Secara Umum

Preeklampsia adalah suatu kondisi kehamilan di mana terjadi tekanan darah tinggi (hipertensi) yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya tidak hipertensi, disertai dengan tanda disfungsi organ maternal atau fungsi plasenta, atau adanya proteinuria (protein dalam urin). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Preeklampsia dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), preeklampsia diartikan sebagai “komplikasi kehamilan berupa hipertensi dan kadang disertai pembengkakan atau adanya protein dalam urin setelah 20 minggu kehamilan.” Definisi ini mencerminkan ciri khas klinis: hipertensi yang baru muncul pada kehamilan dan perubahan pada urin. (Anda bisa merujuk ke versi daring KBBI untuk definisi persisnya.)

Definisi Preeklampsia Menurut Para Ahli

  • Menurut World Health Organization (WHO), preeklampsia adalah gangguan tekanan darah tinggi yang khas terjadi setelah 20 minggu kehamilan dan dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu maupun bayi jika tidak ditangani. [Lihat sumber Disini - who.int]

  • Dalam tinjauan literatur oleh StatPearls, preeklampsia (dengan atau tanpa fitur berat) dijelaskan sebagai kondisi kehamilan dengan hipertensi onset baru, umumnya disertai proteinuria, biasanya terjadi setelah 20 minggu dan sering mendekati waktu persalinan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  • Menurut tinjauan komprehensif di jurnal internasional, definisi preeklampsia mencakup hipertensi gestasional pada gestasi ≥20 minggu yang disertai proteinuria atau disfungsi maternal/uteroplacental. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Beberapa literatur keperawatan di Indonesia mendefinisikan preeklampsia sebagai sindrom kehamilan yang ditandai peningkatan tekanan darah dan proteinuria yang muncul pada trimester kedua kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]

Dengan demikian, baik secara umum, di KBBI, maupun menurut literatur/kasus klinis, preeklampsia didefinisikan sebagai kondisi hipertensi kehamilan baru dengan kemungkinan komplikasi organ dan/atau plasenta setelah 20 minggu kehamilan.


Pengertian Preeklampsia dan Mekanisme Terjadinya

Preeklampsia termasuk dalam kelompok gangguan hipertensi kehamilan yang terkait dengan disfungsi multisistem, bukan hanya tekanan darah tinggi sederhana. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Secara fisiopatologis, meskipun penyebab pasti belum sepenuhnya dipahami, banyak bukti menunjukkan bahwa masalah perkembangan (implantasi dan vascularisasi) plasenta memainkan peran utama. [Lihat sumber Disini - nhs.uk] Salah satu hipotesis utama adalah proses abnormal dalam pembentukan pembuluh darah plasenta, yang menyebabkan perfusi plasenta tidak adekuat, dengan demikian timbul stres oksidatif, aktivasi sistem inflamasi, dan cedera endotel (selaput pembuluh darah). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Ketidakseimbangan antara senyawa vasokonstriktor dan vasodilator serta disfungsi endotel meningkatkan resistensi pembuluh darah maternal, menyebabkan hipertensi serta komplikasi organ dan plasenta. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com] Disfungsi plasenta ini juga bisa menyebabkan gangguan aliran darah ke janin, sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]


Faktor Genetik dan Medis

Banyak penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor predisposisi genetik dan kondisi medis pada ibu yang meningkatkan risiko berkembangnya preeklampsia. [Lihat sumber Disini - msdmanuals.com] Berikut beberapa faktor penting:

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa preeklampsia juga lebih mungkin terjadi jika ada hipertensi kronis yang tidak diobati dengan baik sebelum atau selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]


Pengaruh Pola Hidup dan Nutrisi

Selain faktor genetik dan medis, gaya hidup dan status nutrisi juga berkontribusi terhadap risiko preeklampsia:

Faktor lingkungan dan kondisi kesehatan sebelum hamil, seperti obesitas, konsumsi gizi kurang seimbang, serta penyakit kronis, secara kumulatif dapat meningkatkan risiko. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Deteksi Dini Risiko Preeklampsia

Deteksi dini preeklampsia sangat krusial untuk mencegah progres ke kondisi berat. Kriteria diagnosis klasik meliputi: hipertensi onset baru (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) setelah 20 minggu kehamilan, dikombinasikan dengan proteinuria atau disfungsi organ maternal atau plasenta. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com]

Selain itu, pemantauan rutin tekanan darah dan pemeriksaan urin di setiap kunjungan antenatal (ANC) menjadi langkah penting. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya kesadaran terhadap pemeriksaan kehamilan berkontribusi pada tingginya kejadian preeklampsia. [Lihat sumber Disini - digilib.itskesicme.ac.id]

Deteksi faktor risiko, seperti riwayat medis, usia, obesitas, multipara/primigravida, kehamilan kembar, pada awal kehamilan memungkinkan intervensi dini, seperti pengelolaan tekanan darah, konsultasi gizi, dan pemantauan ketat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Hubungan ANC dengan Pencegahan Preeklampsia

Kunjungan antenatal (ANC) secara rutin memegang peranan penting dalam pencegahan dan deteksi preeklampsia. Melalui ANC, tenaga kesehatan dapat memantau tanda vital seperti tekanan darah, memeriksa urin untuk indikasi proteinuria, serta mengevaluasi faktor risiko lain (gizi, riwayat penyakit, berat badan, kehamilan ganda, dll). [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]

Penelitian di Indonesia memperlihatkan bahwa kelompok ibu hamil dengan pemahaman rendah terhadap preeklampsia kurang memanfaatkan ANC secara optimal, sehingga terjadi deteksi terlambat dan komplikasi lebih berat. [Lihat sumber Disini - digilib.itskesicme.ac.id]

Dengan ANC teratur, tenaga kesehatan bisa memberikan edukasi, memantau gejala, serta meresepkan tindakan preventif atau pengobatan jika diperlukan, yang semuanya meningkatkan peluang kehamilan aman.


Dampak Preeklampsia terhadap Ibu dan Janin

Preeklampsia dapat berdampak serius, baik terhadap ibu maupun janin. Pada ibu, komplikasi potensial termasuk disfungsi organ (ginjal, hati), gangguan pembekuan darah, risiko kejang jika berkembang menjadi Eklampsia, serta kematian maternal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]

Menurut salah satu studi di Indonesia, preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti solusio plasenta, perdarahan, edema paru, hemodinamik terganggu, serta risiko kematian jika tidak tertangani segera. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]

Bagi janin, dampaknya termasuk gangguan pertumbuhan intrauterin (IUGR), prematuritas, oligohidramnion, gangguan fungsi plasenta, bahkan kematian janin atau kematian perinatal. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]

Preeklampsia juga meningkatkan risiko jangka panjang bagi ibu, misalnya peningkatan risiko penyakit kardiovaskular di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - acog.org]


Upaya Pencegahan dan Manajemen Risiko

Beberapa strategi pencegahan dan manajemen risiko preeklampsia yang direkomendasikan berdasarkan bukti ilmiah:

  • Pemantauan kehamilan rutin melalui ANC, termasuk pemeriksaan tekanan darah, protein urin, dan evaluasi faktor risiko sejak awal kehamilan.

  • Identifikasi dan manajemen kondisi medis predisposisi, seperti hipertensi kronis, penyakit ginjal, diabetes, obesitas, sebelum atau sejak awal kehamilan.

  • Penerapan pola hidup sehat: menjaga berat badan ideal, nutrisi seimbang (cukup asupan mikronutrien seperti kalsium bila diperlukan), aktivitas fisik sesuai anjuran, serta pengendalian penyakit penyerta.

  • Edukasi bagi ibu hamil dan keluarga mengenai tanda/ gejala preeklampsia dan pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, agar deteksi dini bisa dilakukan.

  • Jika ibu hamil tergolong berisiko tinggi (misalnya riwayat preeklampsia sebelumnya, kehamilan kembar, hipertensi kronis), dokter bisa merencanakan pemantauan lebih intensif, pengobatan preventif jika sesuai, serta persiapan persalinan terencana.


Kesimpulan

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan multisistem yang serius, ditandai oleh hipertensi onset baru setelah 20 minggu kehamilan, dan sering disertai proteinuria atau disfungsi organ/plasenta. Faktor risiko bersifat multifaktorial, mencakup genetika, kondisi medis, gaya hidup, dan status nutrisi. Deteksi dini melalui kunjungan antenatal rutin dan identifikasi faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi serius bagi ibu dan janin. Upaya pencegahan meliputi manajemen kondisi medis, pola hidup sehat, edukasi, serta pemantauan kehamilan secara konsisten. Dengan pendekatan komprehensif, risiko preeklampsia dan dampak negatifnya bisa diminimalkan, sehingga kehamilan dan persalinan dapat berjalan lebih aman.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai meningkatnya tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu, sering disertai proteinuria atau gangguan organ. Kondisi ini dapat membahayakan ibu dan janin jika tidak ditangani dengan cepat.

Faktor risiko meliputi riwayat preeklampsia, hipertensi kronis, diabetes, penyakit ginjal, kehamilan pertama, usia ibu di atas 35 tahun, obesitas, serta faktor genetik dan gaya hidup.

Deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah, pengecekan urin untuk protein, evaluasi gejala seperti sakit kepala dan pembengkakan, serta melakukan kunjungan antenatal care (ANC) secara rutin.

Pada ibu, preeklampsia dapat menyebabkan kerusakan organ, kejang, dan komplikasi kardiovaskular. Pada janin, dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, prematur, gangguan plasenta, bahkan kematian perinatal.

Pencegahan dilakukan dengan kontrol kehamilan rutin, menjaga pola hidup sehat, mengelola penyakit penyerta, mengonsumsi nutrisi seimbang, dan memantau tekanan darah sejak sebelum dan selama kehamilan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir Bayi Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir Bayi Aktivitas Fisik Aman untuk Ibu Hamil Aktivitas Fisik Aman untuk Ibu Hamil Keaktifan Ibu Mengikuti ANC Keaktifan Ibu Mengikuti ANC Pengetahuan Remaja tentang Dampak Pernikahan Dini Pengetahuan Remaja tentang Dampak Pernikahan Dini Persepsi Ibu terhadap Persalinan Operatif Persepsi Ibu terhadap Persalinan Operatif Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC Peran Bidan dalam ANC: Konsep, Edukasi, dan Mutu Pelayanan Peran Bidan dalam ANC: Konsep, Edukasi, dan Mutu Pelayanan Pola Makan Ibu Hamil: Konsep, Prinsip Gizi, dan Dampaknya Pola Makan Ibu Hamil: Konsep, Prinsip Gizi, dan Dampaknya Hubungan Dukungan Suami dengan Kesehatan Ibu Hubungan Dukungan Suami dengan Kesehatan Ibu SPK Penilaian Risiko Proyek Teknologi SPK Penilaian Risiko Proyek Teknologi Persepsi Risiko: Faktor dan Contoh Persepsi Risiko: Faktor dan Contoh Persepsi Risiko Obat: Konsep, Pengaruh Perilaku, dan Keputusan Persepsi Risiko Obat: Konsep, Pengaruh Perilaku, dan Keputusan Metode Pengujian Sistem Berbasis Risiko Metode Pengujian Sistem Berbasis Risiko Sistem Informasi Manajemen Risiko: Konsep dan Penerapan Sistem Informasi Manajemen Risiko: Konsep dan Penerapan SPK Pemetaan Risiko Keamanan Data SPK Pemetaan Risiko Keamanan Data
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…