
Faktor Risiko Preeklampsia
Pendahuluan
Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang serius dan masih menjadi tantangan kesehatan maternal maupun perinatal di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Meskipun telah banyak penelitian, preeklampsia tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta bayi. [Lihat sumber Disini - jurnalanestesiobstetri-indonesia.id] Kondisi ini seringkali muncul setelah trimester kedua kehamilan dan memerlukan deteksi dini serta manajemen tepat agar risiko terhadap ibu dan janin dapat diminimalkan. Artikel ini bertujuan menjelaskan definisi preeklampsia, faktor risiko, mekanisme terjadinya, dampaknya serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan, agar ibu hamil dan tenaga kesehatan lebih sadar akan pentingnya pemantauan kehamilan (ANC) secara konsisten.
Definisi Preeklampsia
Definisi Preeklampsia Secara Umum
Preeklampsia adalah suatu kondisi kehamilan di mana terjadi tekanan darah tinggi (hipertensi) yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya tidak hipertensi, disertai dengan tanda disfungsi organ maternal atau fungsi plasenta, atau adanya proteinuria (protein dalam urin). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Preeklampsia dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), preeklampsia diartikan sebagai “komplikasi kehamilan berupa hipertensi dan kadang disertai pembengkakan atau adanya protein dalam urin setelah 20 minggu kehamilan.” Definisi ini mencerminkan ciri khas klinis: hipertensi yang baru muncul pada kehamilan dan perubahan pada urin. (Anda bisa merujuk ke versi daring KBBI untuk definisi persisnya.)
Definisi Preeklampsia Menurut Para Ahli
-
Menurut World Health Organization (WHO), preeklampsia adalah gangguan tekanan darah tinggi yang khas terjadi setelah 20 minggu kehamilan dan dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu maupun bayi jika tidak ditangani. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Dalam tinjauan literatur oleh StatPearls, preeklampsia (dengan atau tanpa fitur berat) dijelaskan sebagai kondisi kehamilan dengan hipertensi onset baru, umumnya disertai proteinuria, biasanya terjadi setelah 20 minggu dan sering mendekati waktu persalinan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurut tinjauan komprehensif di jurnal internasional, definisi preeklampsia mencakup hipertensi gestasional pada gestasi ≥20 minggu yang disertai proteinuria atau disfungsi maternal/uteroplacental. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beberapa literatur keperawatan di Indonesia mendefinisikan preeklampsia sebagai sindrom kehamilan yang ditandai peningkatan tekanan darah dan proteinuria yang muncul pada trimester kedua kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
Dengan demikian, baik secara umum, di KBBI, maupun menurut literatur/kasus klinis, preeklampsia didefinisikan sebagai kondisi hipertensi kehamilan baru dengan kemungkinan komplikasi organ dan/atau plasenta setelah 20 minggu kehamilan.
Pengertian Preeklampsia dan Mekanisme Terjadinya
Preeklampsia termasuk dalam kelompok gangguan hipertensi kehamilan yang terkait dengan disfungsi multisistem, bukan hanya tekanan darah tinggi sederhana. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Secara fisiopatologis, meskipun penyebab pasti belum sepenuhnya dipahami, banyak bukti menunjukkan bahwa masalah perkembangan (implantasi dan vascularisasi) plasenta memainkan peran utama. [Lihat sumber Disini - nhs.uk] Salah satu hipotesis utama adalah proses abnormal dalam pembentukan pembuluh darah plasenta, yang menyebabkan perfusi plasenta tidak adekuat, dengan demikian timbul stres oksidatif, aktivasi sistem inflamasi, dan cedera endotel (selaput pembuluh darah). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Ketidakseimbangan antara senyawa vasokonstriktor dan vasodilator serta disfungsi endotel meningkatkan resistensi pembuluh darah maternal, menyebabkan hipertensi serta komplikasi organ dan plasenta. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com] Disfungsi plasenta ini juga bisa menyebabkan gangguan aliran darah ke janin, sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]
Faktor Genetik dan Medis
Banyak penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor predisposisi genetik dan kondisi medis pada ibu yang meningkatkan risiko berkembangnya preeklampsia. [Lihat sumber Disini - msdmanuals.com] Berikut beberapa faktor penting:
-
Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya atau dalam keluarga, ibu dengan riwayat keluarga preeklampsia memiliki risiko lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.biges.ac.id]
-
Hipertensi kronis sebelum kehamilan, penyakit ginjal, atau kondisi medis seperti diabetes mellitus. [Lihat sumber Disini - msdmanuals.com]
-
Penyakit autoimun atau kelainan pembekuan darah (misalnya sindrom antifosfolipid), yang dapat mempengaruhi vaskularisasi plasenta. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kehamilan dengan kehamilan kembar atau multipel, yang memberi beban lebih pada sistem plasenta dan vaskularisasi. [Lihat sumber Disini - msdmanuals.com]
-
Usia ibu: kehamilan di usia ≥ 35 tahun atau kehamilan pertama (primigravida) dilaporkan sebagai faktor risiko. [Lihat sumber Disini - msdmanuals.com]
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa preeklampsia juga lebih mungkin terjadi jika ada hipertensi kronis yang tidak diobati dengan baik sebelum atau selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
Pengaruh Pola Hidup dan Nutrisi
Selain faktor genetik dan medis, gaya hidup dan status nutrisi juga berkontribusi terhadap risiko preeklampsia:
-
Obesitas atau indeks massa tubuh (BMI) tinggi sebelum kehamilan atau selama kehamilan meningkatkan risiko preeklampsia. [Lihat sumber Disini - acog.org]
-
Kurang asupan nutrisi penting (misalnya kalsium) di area dengan konsumsi rendah kalsium telah dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklampsia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gaya hidup dengan kontrol tekanan darah, manajemen penyakit kronis, serta pemeriksaan kehamilan rutin dapat mempengaruhi kemungkinan preeklampsia. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Faktor lingkungan dan kondisi kesehatan sebelum hamil, seperti obesitas, konsumsi gizi kurang seimbang, serta penyakit kronis, secara kumulatif dapat meningkatkan risiko. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Deteksi Dini Risiko Preeklampsia
Deteksi dini preeklampsia sangat krusial untuk mencegah progres ke kondisi berat. Kriteria diagnosis klasik meliputi: hipertensi onset baru (tekanan darah ≥ 140/90 mmHg) setelah 20 minggu kehamilan, dikombinasikan dengan proteinuria atau disfungsi organ maternal atau plasenta. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com]
Selain itu, pemantauan rutin tekanan darah dan pemeriksaan urin di setiap kunjungan antenatal (ANC) menjadi langkah penting. Studi di Indonesia menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya kesadaran terhadap pemeriksaan kehamilan berkontribusi pada tingginya kejadian preeklampsia. [Lihat sumber Disini - digilib.itskesicme.ac.id]
Deteksi faktor risiko, seperti riwayat medis, usia, obesitas, multipara/primigravida, kehamilan kembar, pada awal kehamilan memungkinkan intervensi dini, seperti pengelolaan tekanan darah, konsultasi gizi, dan pemantauan ketat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Hubungan ANC dengan Pencegahan Preeklampsia
Kunjungan antenatal (ANC) secara rutin memegang peranan penting dalam pencegahan dan deteksi preeklampsia. Melalui ANC, tenaga kesehatan dapat memantau tanda vital seperti tekanan darah, memeriksa urin untuk indikasi proteinuria, serta mengevaluasi faktor risiko lain (gizi, riwayat penyakit, berat badan, kehamilan ganda, dll). [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]
Penelitian di Indonesia memperlihatkan bahwa kelompok ibu hamil dengan pemahaman rendah terhadap preeklampsia kurang memanfaatkan ANC secara optimal, sehingga terjadi deteksi terlambat dan komplikasi lebih berat. [Lihat sumber Disini - digilib.itskesicme.ac.id]
Dengan ANC teratur, tenaga kesehatan bisa memberikan edukasi, memantau gejala, serta meresepkan tindakan preventif atau pengobatan jika diperlukan, yang semuanya meningkatkan peluang kehamilan aman.
Dampak Preeklampsia terhadap Ibu dan Janin
Preeklampsia dapat berdampak serius, baik terhadap ibu maupun janin. Pada ibu, komplikasi potensial termasuk disfungsi organ (ginjal, hati), gangguan pembekuan darah, risiko kejang jika berkembang menjadi Eklampsia, serta kematian maternal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesalmaarif.ac.id]
Menurut salah satu studi di Indonesia, preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi serius seperti solusio plasenta, perdarahan, edema paru, hemodinamik terganggu, serta risiko kematian jika tidak tertangani segera. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]
Bagi janin, dampaknya termasuk gangguan pertumbuhan intrauterin (IUGR), prematuritas, oligohidramnion, gangguan fungsi plasenta, bahkan kematian janin atau kematian perinatal. [Lihat sumber Disini - ejournal.abdinus.ac.id]
Preeklampsia juga meningkatkan risiko jangka panjang bagi ibu, misalnya peningkatan risiko penyakit kardiovaskular di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - acog.org]
Upaya Pencegahan dan Manajemen Risiko
Beberapa strategi pencegahan dan manajemen risiko preeklampsia yang direkomendasikan berdasarkan bukti ilmiah:
-
Pemantauan kehamilan rutin melalui ANC, termasuk pemeriksaan tekanan darah, protein urin, dan evaluasi faktor risiko sejak awal kehamilan.
-
Identifikasi dan manajemen kondisi medis predisposisi, seperti hipertensi kronis, penyakit ginjal, diabetes, obesitas, sebelum atau sejak awal kehamilan.
-
Penerapan pola hidup sehat: menjaga berat badan ideal, nutrisi seimbang (cukup asupan mikronutrien seperti kalsium bila diperlukan), aktivitas fisik sesuai anjuran, serta pengendalian penyakit penyerta.
-
Edukasi bagi ibu hamil dan keluarga mengenai tanda/ gejala preeklampsia dan pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, agar deteksi dini bisa dilakukan.
-
Jika ibu hamil tergolong berisiko tinggi (misalnya riwayat preeklampsia sebelumnya, kehamilan kembar, hipertensi kronis), dokter bisa merencanakan pemantauan lebih intensif, pengobatan preventif jika sesuai, serta persiapan persalinan terencana.
Kesimpulan
Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan multisistem yang serius, ditandai oleh hipertensi onset baru setelah 20 minggu kehamilan, dan sering disertai proteinuria atau disfungsi organ/plasenta. Faktor risiko bersifat multifaktorial, mencakup genetika, kondisi medis, gaya hidup, dan status nutrisi. Deteksi dini melalui kunjungan antenatal rutin dan identifikasi faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi serius bagi ibu dan janin. Upaya pencegahan meliputi manajemen kondisi medis, pola hidup sehat, edukasi, serta pemantauan kehamilan secara konsisten. Dengan pendekatan komprehensif, risiko preeklampsia dan dampak negatifnya bisa diminimalkan, sehingga kehamilan dan persalinan dapat berjalan lebih aman.