Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Kecukupan Protein Harian pada Remaja. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kecukupan-protein-harian-pada-remaja  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kecukupan Protein Harian pada Remaja - SumberAjar.com

Kecukupan Protein Harian pada Remaja

Pendahuluan

Remaja merupakan fase perkembangan yang cepat dan kompleks, ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik dan perubahan hormonal yang intensif. Pada periode ini, kebutuhan nutrisi terutama protein menjadi sangat penting karena berperan langsung dalam pembentukan jaringan tubuh, massa otot, dan fungsi metabolik lainnya yang esensial untuk perkembangan yang optimal. Protein berfungsi sebagai blok bangunan utama sel, jaringan, hormon, serta enzim, sehingga kekurangannya dapat berdampak luas pada kesehatan dan kualitas hidup remaja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asupan protein remaja sering kali bervariasi, tetapi tetap merupakan faktor kritis dalam menciptakan kondisi gizi yang baik dan mendukung aktivitas hidup sehari-hari serta fase pertumbuhan yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Kecukupan Protein Harian pada Remaja

Definisi Kecukupan Protein Harian pada Remaja Secara Umum

Kecukupan protein harian pada remaja merujuk pada jumlah protein yang harus dikonsumsi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh agar fungsi perkembangan, pertumbuhan, pemeliharaan jaringan, serta sistem imun dapat berjalan dengan baik. Protein adalah makronutrien yang terdiri dari asam amino esensial dan non-esensial yang berperan dalam membangun dan memelihara sel dan jaringan dalam tubuh. Selama masa remaja, kebutuhan protein meningkat dibandingkan masa kanak-kanak karena adanya percepatan dalam sintesis protein baru, terutama untuk pembentukan otot, tulang, dan komponen tubuh lainnya. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]

Definisi Kecukupan Protein Harian pada Remaja dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, protein didefinisikan sebagai kelompok senyawa organik bernitrogen yang struktur kimianya sangat kompleks serta merupakan bahan utama pembentukan sel dan inti sel. Protein dapat berasal dari hewani atau nabati tergantung sumbernya. Definisi ini menekankan pentingnya protein sebagai komponen biologis yang vital bagi kehidupan dan fungsi tubuh. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]

Definisi Kecukupan Protein Harian pada Remaja Menurut Para Ahli

  1. Menurut Garcia-Iborra et al., protein intake mencakup semua protein yang dikonsumsi oleh individu yang berkontribusi terhadap kebutuhan harian untuk mendukung pertumbuhan dan fungsi fisiologis tubuh, khususnya dalam kelompok usia 4-18 tahun yang mencakup remaja. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Para ahli nutrisi klinis menyatakan bahwa protein adalah makronutrien esensial yang diperlukan dalam sintesis jaringan baru dan pemeliharaan metabolisme tubuh yang optimal di masa remaja, termasuk pembentukan otot, enzim, dan sistem imun. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Dalam konteks nutrisi anak dan remaja yang aktif secara fisik, Capra et al. menekankan pentingnya keberadaan protein yang cukup dalam pola makan untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan peningkatan aktivitas fisik tanpa kebutuhan berlebih yang bisa berdampak negatif. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Studi gizi remaja lain menunjukkan bahwa asupan protein yang memadai berhubungan positif dengan status gizi dan pertumbuhan linier serta perkembangan fisik secara keseluruhan pada kelompok usia ini. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]


Sumber Protein Hewani dan Nabati bagi Remaja

Protein dapat diperoleh dari berbagai sumber makanan yang dibagi menjadi dua kategori utama: hewani dan nabati. Sumber protein hewani umumnya berasal dari binatang dan mencakup daging merah, unggas, ikan, telur, serta produk susu seperti susu, keju, dan yogurt. Protein hewani sering disebut memiliki kualitas lebih tinggi karena menyediakan profil asam amino esensial yang lengkap dan mudah diserap tubuh secara efisien. [Lihat sumber Disini - jurnal.arkainstitute.co.id]

Sementara itu, sumber protein nabati berasal dari tumbuhan seperti kacang-kacangan (kacang tanah, kacang kedelai), biji-bijian, polong-polongan, tempe, tahu, quinoa, serta sayuran berprotein tinggi seperti brokoli dan bayam. Walaupun protein nabati sering memiliki profil asam amino yang tidak sekompleks protein hewani, kombinasi berbagai sumber nabati dapat memenuhi kebutuhan semua asam amino esensial jika dikonsumsi dalam pola makan seimbang. [Lihat sumber Disini - jurnal.arkainstitute.co.id]

Konsumsi beragam sumber protein ini penting khususnya untuk remaja yang vegetarian atau memiliki pilihan pola makan tertentu untuk memastikan kecukupan asam amino esensial guna mendukung pertumbuhan optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.arkainstitute.co.id]


Faktor yang Mempengaruhi Kecukupan Asupan Protein

Kecukupan protein harian pada remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Pertama, faktor usia dan fase pertumbuhan. Pada fase pertumbuhan cepat remaja, kebutuhan protein meningkat karena tubuh sedang mensintesis jaringan baru seperti otot, tulang, dan organ. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Kedua, jenis kelamin dan komposisi tubuh juga berpengaruh. Remaja laki-laki cenderung memiliki massa otot lebih besar daripada perempuan, sehingga kebutuhan protein mereka sering lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ndsu.edu]

Ketiga, tingkat aktivitas fisik sangat memengaruhi kebutuhan protein. Remaja yang aktif secara fisik atau terlibat dalam olahraga intensif memerlukan lebih banyak protein untuk perbaikan dan sintesis jaringan otot setelah aktivitas fisik. Studi nutrisi menunjukkan aktivitas fisik yang tinggi berkorelasi signifikan dengan status gizi dan protein intake pada remaja. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]

Keempat, pola makan modern dan akses terhadap makanan olahan turut memengaruhi asupan protein. Pola makan yang tinggi makanan olahan dan rendah variasi nutrisi sering kali berkaitan dengan kurangnya asupan protein dan mikro-nutrien penting lainnya meskipun total energi harian mungkin terpenuhi. Hal ini menekankan pentingnya pendidikan gizi untuk remaja. [Lihat sumber Disini - nature.com]

Faktor sosial-ekonomi dan budaya juga menentukan jenis dan jumlah protein yang tersedia dalam pola makan, di mana remaja dengan akses lebih baik ke makanan berkualitas cenderung memiliki kecukupan protein yang lebih baik pula. [Lihat sumber Disini - nature.com]


Dampak Kekurangan Protein pada Pertumbuhan

Kekurangan protein pada masa remaja dapat berdampak serius terhadap berbagai aspek kesehatan. Salah satu konsekuensi yang paling jelas adalah terganggunya pertumbuhan fisik karena protein merupakan komponen utama pembentukan otot dan jaringan lain. Bila asupan protein tidak mencukupi, pertumbuhan linier dan massa otot dapat terhambat, yang berujung pada tinggi badan kurang dari potensinya serta perkembangan fisik yang lambat. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

Selain itu, kekurangan protein juga dapat mempengaruhi fungsi sistem imun, sehingga remaja menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit karena produksi sel imun yang terganggu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Asupan protein yang buruk juga dapat menimbulkan gangguan metabolik, penurunan konsentrasi dan memori, serta dampak negatif terhadap performa akademik dan kegiatan sehari-hari lainnya, seperti yang didokumentasikan dalam penelitian tentang hubungan status gizi protein dan anemia pada remaja. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]

Secara hormonal, kekurangan protein dapat memengaruhi proses pubertas karena peran protein dalam sintesis hormon dan faktor pertumbuhan seperti insulin-like growth factor (IGF-1) yang merupakan mediator penting dalam pertumbuhan tulang dan jaringan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Peran Pola Makan Modern terhadap Konsumsi Protein

Pola makan modern, terutama di lingkungan urban, sering kali berubah cepat seiring meningkatnya ketersediaan makanan olahan dan minuman tinggi gula yang rendah nutrisi. Tren ini kadang menyebabkan pengurangan konsumsi makanan bergizi tinggi seperti sumber protein alami yang utuh. Praktik konsumsi makanan cepat saji dan snack sering kali menggantikan makanan utama yang kaya protein sehingga remaja mungkin tidak mendapatkan cukup protein berkualitas. [Lihat sumber Disini - nature.com]

Sementara itu, sejumlah remaja yang terpapar tren diet tinggi protein sebagai cara meningkatkan massa otot atau menurunkan berat badan mungkin mengonsumsi protein jauh di atas rekomendasi, yang juga tidak ideal karena keseimbangan diet tetap diperlukan untuk kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Tren konsumsi supplement protein juga meningkat di kalangan remaja, yang dipengaruhi oleh media sosial dan budaya kebugaran. Namun, banyak ahli nutrisi menekankan bahwa sebagian besar remaja dapat memenuhi kebutuhan protein melalui makanan utuh tanpa perlu suplemen, kecuali dalam kondisi aktivitas fisik yang sangat tinggi atau kebutuhan medis khusus. [Lihat sumber Disini - health.com]


Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kebutuhan Protein

Aktivitas fisik berperan penting dalam menentukan kebutuhan protein harian. Pada remaja yang terlibat dalam olahraga atau kegiatan fisik intensif seperti lari, sepak bola, atau angkat beban, tubuh menggunakan protein tidak hanya untuk pertumbuhan dasar tetapi juga untuk perbaikan dan pemulihan jaringan setelah aktivitas tersebut. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat aktivitas fisik, asupan energi, dan protein dengan status gizi pada remaja, menandakan bahwa remaja yang lebih aktif secara fisik memerlukan asupan protein yang lebih tinggi agar mampu memenuhi tuntutan metabolik tubuhnya. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]

Pola aktivitas yang tidak seimbang, misalnya tingginya aktivitas fisik tanpa diikuti asupan protein yang adekuat, berpotensi menyebabkan penurunan massa otot, kelelahan, dan gangguan pemulihan yang dapat berdampak negatif pada performa serta kesehatan remaja secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Kesimpulan

Protein adalah komponen nutrisi esensial yang memainkan peranan sentral dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja. Kecukupan asupan protein harian diperlukan untuk mendukung sintesis jaringan baru, pemeliharaan sistem imun, dan fungsi metabolik lainnya. Definisi protein secara biologis mencakup senyawa kompleks yang mengandung nitrogen dan terdiri atas berbagai asam amino penting, sedangkan kebutuhan protein pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, serta pola makan sehari-hari. Sumber protein yang baik berasal dari protein hewani dan nabati, yang bila dikombinasikan secara bijak dapat memenuhi kebutuhan asam amino esensial remaja. Kekurangan protein dapat menghambat pertumbuhan, melemahkan sistem imun, dan mempengaruhi fungsi kognitif serta hormonal, sedangkan pola makan modern dapat baik membantu maupun menghambat kecukupan protein tergantung pada pilihan makanan. Aktivitas fisik yang tinggi meningkatkan kebutuhan protein karena tubuh memerlukan lebih banyak bahan untuk perbaikan dan pertumbuhan jaringan otot. Secara keseluruhan, edukasi gizi yang tepat dan pola makan seimbang menjadi kunci untuk memastikan remaja mendapatkan kecukupan protein yang optimal agar mendukung pertumbuhan dan kualitas hidup yang baik.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kecukupan protein harian pada remaja adalah jumlah protein yang harus dikonsumsi setiap hari untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan otot, perbaikan jaringan, dan fungsi metabolik tubuh selama masa pubertas.

Sumber protein hewani meliputi daging, ikan, telur, susu, dan produk olahan susu. Sedangkan sumber protein nabati mencakup kacang-kacangan, kedelai, tempe, tahu, quinoa, dan polong-polongan.

Kekurangan protein dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan, penurunan massa otot, gangguan imun, kelelahan, penurunan konsentrasi, serta gangguan hormonal pada remaja.

Beberapa faktor utama meliputi usia, jenis kelamin, fase pertumbuhan, aktivitas fisik, pola makan, serta kondisi sosial ekonomi yang mempengaruhi ketersediaan makanan bergizi.

Remaja yang memiliki aktivitas fisik tinggi membutuhkan lebih banyak protein untuk perbaikan jaringan otot, pemulihan tubuh, dan mendukung peningkatan massa otot akibat latihan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengetahuan Remaja tentang Kebutuhan Protein Pengetahuan Remaja tentang Kebutuhan Protein Pengaruh Diet Tinggi Protein terhadap Massa Otot Pengaruh Diet Tinggi Protein terhadap Massa Otot Diet Tinggi Protein: Konsep, Efek Fisiologis, dan Keamanan Diet Tinggi Protein: Konsep, Efek Fisiologis, dan Keamanan Dampak Suplemen Protein pada Kesehatan Ginjal Dampak Suplemen Protein pada Kesehatan Ginjal Asupan Protein: Konsep, Fungsi Biologis, dan Kebutuhan Asupan Protein: Konsep, Fungsi Biologis, dan Kebutuhan Faktor Risiko Kehamilan Remaja Faktor Risiko Kehamilan Remaja Pengetahuan Ibu tentang Sumber Protein Hewani Pengetahuan Ibu tentang Sumber Protein Hewani Kesehatan Remaja Kesehatan Remaja Kecukupan Energi Harian Kecukupan Energi Harian Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Status Gizi Remaja Putri Status Gizi Remaja Putri Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Kecukupan Energi: Konsep, Kebutuhan Tubuh, dan Keseimbangan Kecukupan Energi: Konsep, Kebutuhan Tubuh, dan Keseimbangan Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…