Terakhir diperbarui: 10 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 10 December). Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/persepsi-remaja-putri-terhadap-kb-pasca-nikah  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah - SumberAjar.com

Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah

Pendahuluan

Keluarga Berencana (KB) menjadi isu penting dalam konteks kesehatan reproduksi, terutama untuk pasangan muda yang baru menikah. Persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah memegang peran sentral dalam keputusan penggunaan kontrasepsi, yang pada akhirnya berdampak pada perencanaan keluarga, kesehatan ibu, dan masa depan keluarga. Walaupun program KB telah digencarkan di Indonesia, berbagai faktor, pengetahuan, budaya, sosial, pendidikan, serta mitos, dapat mempengaruhi bagaimana remaja memandang dan memilih KB. Oleh sebab itu, penting untuk memahami bagaimana remaja putri melihat KB setelah menikah: apa yang mereka tahu, bagaimana sikap dan keyakinan mereka, serta faktor apa saja yang membentuk persepsi tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah melalui beberapa aspek: pengetahuan, faktor sosial budaya, pendidikan seks, sikap, mitos, peran tenaga kesehatan, dan dampaknya pada perilaku penggunaan KB.


Definisi Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah

Definisi Persepsi Remaja Putri terhadap KB Secara Umum

“Persepsi” dalam konteks ini merujuk pada cara pandang, keyakinan, sikap, dan penilaian subjektif remaja putri terhadap konsep dan praktik KB, khususnya kontrasepsi, setelah menikah. Persepsi mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (emosi, keyakinan), dan konatif (niat atau kecenderungan tindakan). Bagi remaja putri yang memasuki fase perkawinan, persepsi ini sangat menentukan keputusan apakah mereka memilih atau menolak menggunakan metode KB.

Definisi Persepsi Remaja Putri terhadap KB dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “KB” adalah singkatan dari Keluarga Berencana, gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. [Lihat sumber Disini - daldukkbpppa.bulelengkab.go.id] Persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah, jika dikombinasikan dengan definisi ini, berarti bagaimana remaja memandang kebijakan/program KB dan penggunaannya dalam konteks membentuk keluarga sehat dan ideal sesuai definisi resmi KB.

Definisi Persepsi Remaja Putri terhadap KB Menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi dari literatur maupun kajian akademik yang relevan:

  • Menurut definisi dalam literatur kesehatan reproduksi, KB adalah upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas dan sejahtera. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  • Dalam konteks akseptor KB, istilah “akseptor” merujuk pada pasangan yang dengan sadar memutuskan jumlah dan jarak kelahiran serta waktu kehamilan dengan memakai alat atau metode kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - digilib.itb.ac.id]

  • Persepsi terhadap kontrasepsi pada remaja putri secara spesifik dikaji dalam penelitian seperti oleh Herinawati Marhamah dkk, penelitian mereka menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswi mengetahui arti kontrasepsi, persepsi positif terhadap penggunaannya belum merata. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

  • Penelitian lain menunjukkan bahwa remaja di daerah pedesaan memaknai praktik kontrasepsi (meskipun pranikah dalam studi mereka) sebagai cara untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, menandakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya di mana mereka tinggal. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Dari berbagai definisi ini, dapat disimpulkan bahwa “persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah” mencakup pengetahuan, sikap, nilai budaya, serta keputusan sadar menggunakan atau tidak menggunakan kontrasepsi setelah menikah.


Pengetahuan Remaja Putri tentang KB Pasca Nikah

Pengetahuan menjadi dasar utama bagaimana seorang individu membentuk persepsi. Untuk remaja putri, terutama mereka yang berstatus sebagai calon atau pengantin baru, pemahaman terhadap konsep KB dan kontrasepsi menentukan kesiapan mereka mengambil keputusan reproduksi.

Penelitian oleh Marhamah dkk di SMA 8 Rengas Bandung (2021) menunjukkan bahwa 75% siswi mengaku mengetahui apa itu kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org] Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan, terutama mengenai manfaat kontrasepsi, risiko kehamilan, efektivitas metode, tetap relatif rendah. Dari 204 responden, 158 remaja (sekitar 77, 5%) tidak mengetahui penyebab pasangan tidak memakai kontrasepsi, dan sebagian besar belum memahami kemungkinan gagal kontrasepsi atau efek sampingnya. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Pengetahuan tentang jenis-jenis metode kontrasepsi juga penting. Secara umum, kontrasepsi meliputi metode hormonal (pil KB, suntik), metode jangka panjang (AKDR / IUD), hingga metode permanen. [Lihat sumber Disini - repo.setiabudi.ac.id] Pengetahuan yang memadai membantu remaja putri dalam memilih metode yang sesuai dengan kondisi dan rencana kehidupannya.

Namun, tidak selalu pengetahuan tinggi berbanding lurus dengan persepsi dan penggunaan KB. Dalam penelitian yang sama, meskipun banyak yang mengaku mengetahui kontrasepsi, tidak ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan persepsi positif terhadap kontrasepsi (p = 0, 705). [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Artinya: pengetahuan saja belum cukup, faktor lain (sosial, budaya, nilai agama, pendidikan seks, mitos, pengalaman keluarga) turut membentuk persepsi.


Faktor Sosial dan Budaya yang Mempengaruhi Persepsi

Budaya dan norma sosial di lingkungan tempat tinggal remaja memiliki peran besar dalam membentuk bagaimana mereka memandang KB. Beberapa aspek:

  • Nilai budaya lokal: Dalam sebuah studi di daerah pedesaan, praktik kontrasepsi dianggap biasa dan diterima, bahkan sebelum menikah (meskipun berada di luar konteks pernikahan formal). Hal ini menunjukkan bahwa budaya komunitas memengaruhi interpretasi remaja terhadap kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan akses terhadap informasi serta layanan KB turut mempengaruhi keputusan penggunaan kontrasepsi. Menurut penelitian di Denpasar (2023), umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan ketersediaan edukasi/informasi (KIE) secara signifikan mempengaruhi pemilihan metode kontrasepsi oleh wanita menikah. [Lihat sumber Disini - ejournal1.unud.ac.id]

  • Tekanan atau ekspektasi sosial terhadap peran sebagai istri atau ibu: di masyarakat dengan nilai tradisional, pernikahan dan cepat punya anak kadang dianggap normatif, ini bisa mempengaruhi bagaimana remaja putri memandang KB, apakah sebagai sesuatu yang positif atau tabuh. Meskipun sulit menemukan literatur dalam rentang 2021, 2025 yang eksplisit mengaitkan nilai budaya dengan persepsi KB pasca nikah, banyak kajian terkait kesehatan reproduksi menekankan pentingnya konteks kultural dalam mencapai penerimaan KB. [Lihat sumber Disini - repo.mrhj.ac.id]

  • Dukungan atau penolakan dari pasangan, keluarga, maupun masyarakat sekitar, hal ini bisa sangat menentukan apakah remaja putri merasa nyaman menggunakan kontrasepsi setelah menikah. Sebagai contoh, penelitian mengenai partisipasi suami dalam penggunaan kontrasepsi menunjukkan bahwa dukungan suami, pengetahuan kesehatan reproduksi suami, serta norma agama dan budaya mempengaruhi keputusan pasangan remaja dalam menggunakan kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.upnb.ac.id]

Karena itu, persepsi terhadap KB tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya di mana remaja tumbuh dan menikah.


Pengaruh Pendidikan Seksual terhadap Persepsi

Pendidikan seks, atau pendidikan kesehatan reproduksi, merupakan elemen kunci dalam membentuk pemahaman dan persepsi yang sehat terhadap KB.

Pelayanan kesehatan reproduksi yang komprehensif biasanya mencakup pendidikan tentang kontrasepsi dan perencanaan keluarga. [Lihat sumber Disini - repo.mrhj.ac.id] Remaja putri yang mendapatkan pendidikan seks komprehensif lebih berpeluang memahami manfaat kontrasepsi, risiko kehamilan tidak diinginkan, serta pentingnya kesehatan reproduksi dalam jangka panjang.

Namun dalam beberapa kajian, kurangnya pendidikan seks di sekolah atau layanan kesehatan membuat pengetahuan dan sikap tentang kontrasepsi tetap lemah. Dalam penelitian di SMA 8 Rengas Bandung, peneliti mencatat bahwa praktik penyuluhan atau sosialisasi tentang alat kontrasepsi di sekolah sangat minim, sehingga siswi memiliki pemahaman terbatas terhadap KB. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Pendidikan seks yang baik tidak hanya memberi informasi tentang metode kontrasepsi, tetapi juga membangun kesadaran akan hak reproduksi, pentingnya merencanakan keluarga, serta kemampuan mengambil keputusan secara dewasa. Hal ini selaras dengan prinsip layanan kesehatan reproduksi yang inklusif, aman, dan adil. [Lihat sumber Disini - repo.mrhj.ac.id]

Dengan demikian, kurangnya pendidikan seks dapat menjadi salah satu faktor utama mengapa persepsi remaja terhadap KB pasca nikah bisa bias, negatif, atau hanya parsial.


Sikap Remaja terhadap Penggunaan Kontrasepsi

Sikap adalah bagian dari persepsi yang mencerminkan kecenderungan atau niat untuk mendukung atau menolak penggunaan KB. Beberapa temuan penelitian:

Dalam studi Marhamah dkk (2021), dari 204 siswi SMA 8 Rengas Bandung, sebanyak 61, 8% responden “sangat setuju” bahwa kontrasepsi sebaiknya digunakan oleh pasangan suami-istri yang sah. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org] Ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan sikap positif terhadap kontrasepsi jika digunakan dalam konteks pernikahan sah.

Meski demikian, pada poin lain, misalnya keyakinan terhadap efektivitas kontrasepsi, risiko kehamilan yang tidak diinginkan, atau efek samping, banyak remaja yang masih kurang memahami, atau bahkan skeptis. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

Penelitian terbaru (2025) yang mengevaluasi persepsi remaja terhadap kontrasepsi menunjukkan bahwa sekitar 75% remaja percaya bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan infertilitas. [Lihat sumber Disini - ejournal-aipkema.or.id] Keyakinan seperti ini dapat menekan niat atau sikap positif terhadap KB meskipun pengetahuan dasar tersedia.

Dengan demikian, sikap remaja terhadap kontrasepsi dipengaruhi tidak hanya oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kepercayaan, kekhawatiran, dan mitos yang berkembang di masyarakat.


Mitos dan Kesalahpahaman tentang KB

Mitos dan kesalahpahaman merupakan faktor penting yang membentuk persepsi negatif atau ragu terhadap KB, bahkan ketika pengetahuan dasar sudah ada. Beberapa mispersepsi umum:

  • Keyakinan bahwa kontrasepsi hormonal menyebabkan infertilitas jangka panjang, seperti ditemukan dalam penelitian 2025, sekitar 75% remaja menyatakan hal ini. [Lihat sumber Disini - ejournal-aipkema.or.id]

  • Ketidakpahaman bahwa tidak ada metode kontrasepsi yang 100% efektif, dalam penelitian Marhamah dkk, banyak responden yang tidak mengetahui bahwa kontrasepsi bisa gagal atau punya risiko kehamilan meskipun sudah dipakai. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

  • Kurangnya kesadaran bahwa kontrasepsi bukan hanya soal menunda kehamilan, tapi juga perencanaan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta kualitas hidup keluarga. Hal ini disebabkan minimnya sosialisasi atau edukasi yang komprehensif di sekolah maupun layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - repo.mrhj.ac.id]

Mitos-mitos ini dapat menyebabkan ketakutan, enggan menggunakan kontrasepsi, atau menolak KB sama sekali, terutama jika remaja baru menikah dan belum memiliki pengalaman langsung.


Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi KB

Tenaga kesehatan, seperti dokter, bidan, konselor KRR, memiliki peran penting dalam memberikan edukasi KB, terutama kepada remaja dan pasangan muda.

Dalam kerangka layanan kesehatan reproduksi, pelayanan KB termasuk bagian dari upaya terpadu untuk kesehatan reproduksi, kesehatan ibu dan anak, serta pencegahan komplikasi kehamilan. [Lihat sumber Disini - repo.mrhj.ac.id] Melalui konseling, informasi, dan pelayanan yang ramah remaja, tenaga kesehatan bisa membantu remaja putri memahami metode kontrasepsi, manfaat dan risikonya, serta membantu memilih metode yang sesuai.

Penelitian di Denpasar (2023) menyebut bahwa ketersediaan edukasi, informasi dan komunikasi (KIE) berkaitan signifikan dengan keputusan wanita menikah dalam memilih metode kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - ejournal1.unud.ac.id] Hal ini menunjukkan bahwa bila tenaga kesehatan aktif melakukan penyuluhan, memberikan akses, dan mendampingi, kemungkinan remaja putri menggunakan KB lebih besar.

Oleh karena itu, peran tenaga kesehatan tidak bisa diremehkan, mereka adalah jembatan antara program kebijakan KB dengan individu, khususnya generasi muda.


Dampak Persepsi terhadap Penggunaan KB pada Masa Awal Pernikahan

Persepsi yang terbentuk, berdasarkan pengetahuan, sikap, mitos, dan dukungan sosial, akan sangat mempengaruhi apakah remaja putri akan menggunakan kontrasepsi setelah menikah.

Penelitian dari data nasional menunjukkan bahwa dari remaja perempuan kawin, sekitar 54, 2% dan pasangannya menggunakan kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - neliti.com] Faktor seperti umur, tingkat pendidikan, status sosio-ekonomi, dan akses pelayanan kesehatan berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - repository.badankebijakan.kemkes.go.id]

Di sisi lain, jika persepsi negatif atau mispersepsi, misalnya takut infertilitas, tidak percaya efektivitas, atau merasa kontrasepsi tidak penting, maka kemungkinan besar remaja putri akan menolak atau menunda KB. Hal ini berdampak pada risiko kehamilan tidak terencana, kehamilan terlalu dini, atau jarak kelahiran yang tidak ideal, yang pada jangka panjang dapat mempengaruhi kesehatan ibu, anak dan kualitas keluarga.

Dengan demikian, persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah mempunyai konsekuensi nyata terhadap perilaku kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga.


Keterbatasan Literatur dan Perluannya Penelitian Lebih Lanjut

Meskipun ada sejumlah penelitian tentang pengetahuan dan persepsi remaja terhadap kontrasepsi atau KB, banyak studi:

  • dilakukan pada remaja belum menikah, atau pada remaja pra-nikah/pra-usia subur, sehingga data spesifik tentang “remaja putri yang baru menikah” relatif terbatas. Contoh: penelitian tentang pengetahuan dan persepsi di SMA. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]

  • menggabungkan variabel pengetahuan dan persepsi, tapi tidak mengeksplorasi secara dalam pengaruh budaya, agama, norma gender, atau dinamika keluarga terhadap keputusan pasca nikah.

  • kurang menjangkau periode terkini, meskipun ada studi baru (2023, 2025) terkait faktor, tetapi perlu lebih banyak data lapangan untuk menggambarkan kondisi terkini di berbagai daerah di Indonesia, termasuk daerah pedesaan vs perkotaan, suku/etnis, status ekonomi, dan akses layanan.

Karena itu, penelitian lanjutan yang fokus pada remaja putri pasca nikah, dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, sangat relevan untuk memahami persepsi dan praktik KB di Indonesia saat ini.


Kesimpulan

“Persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah” merupakan konsep kompleks yang dibentuk oleh pengetahuan, sikap, nilai budaya, pendidikan seksual, serta dukungan sosial dan akses layanan.

Meskipun banyak remaja putri mengetahui istilah kontrasepsi, pemahaman terhadap manfaat, risiko, serta efektivitasnya masih sering kurang. Hal ini diperparah oleh mitos, kesalahpahaman, dan norma sosial yang bisa membuat sikap terhadap KB beragam, dari sangat mendukung sampai skeptis.

Peran tenaga kesehatan dan pendidikan seks komprehensif sangat penting untuk membentuk persepsi yang sehat dan informatif. Jika persepsi dibentuk dengan baik, kemungkinan besar remaja putri pasca nikah akan menggunakan kontrasepsi secara bijak, yang pada akhirnya membantu mereka merencanakan keluarga, menjaga kesehatan reproduksi, serta menghindari kehamilan tidak terencana.

Namun karena literatur spesifik terkait remaja putri pasca nikah masih terbatas, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran yang lebih representatif dan kontekstual di berbagai daerah.

Semoga artikel ini bisa jadi referensi & bahan pemikiran bagi pembaca, khususnya mereka yang tertarik pada kesehatan reproduksi, KB, dan peran generasi muda dalam perencanaan keluarga.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Persepsi remaja putri terhadap KB pasca nikah adalah cara pandang, penilaian, dan pemahaman mereka mengenai penggunaan kontrasepsi setelah menikah. Persepsi ini dipengaruhi oleh pengetahuan, pendidikan seksual, lingkungan sosial, budaya, serta pengalaman pribadi dan keluarga.

Faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi pengetahuan, pendidikan seksual, nilai budaya, norma sosial, dukungan pasangan atau keluarga, paparan informasi kesehatan, serta mitos atau miskonsepsi mengenai kontrasepsi.

Pendidikan seksual memberikan pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi, metode kontrasepsi, efektivitas, dan risikonya. Dengan pendidikan yang tepat, remaja putri dapat membentuk persepsi yang positif dan membuat keputusan yang lebih sehat terkait penggunaan KB setelah menikah.

Persepsi yang positif mendorong pasangan muda untuk menggunakan kontrasepsi secara tepat sehingga dapat merencanakan kehamilan dengan baik. Sebaliknya, persepsi negatif atau dipengaruhi mitos dapat menyebabkan penolakan atau ketakutan menggunakan KB, sehingga meningkatkan risiko kehamilan tidak terencana.

Tenaga kesehatan berperan dalam memberikan konseling, informasi yang akurat, edukasi yang ramah remaja, dan pendampingan dalam memilih metode kontrasepsi. Penyuluhan yang baik dapat mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan sikap positif terhadap KB.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sikap Remaja terhadap Seks Pra Nikah Sikap Remaja terhadap Seks Pra Nikah Status Gizi Remaja Putri Status Gizi Remaja Putri Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Faktor Risiko Kehamilan Remaja Faktor Risiko Kehamilan Remaja Pengetahuan Remaja tentang Dampak Pernikahan Dini Pengetahuan Remaja tentang Dampak Pernikahan Dini Kesehatan Remaja Kesehatan Remaja Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Anemia pada Remaja Anemia pada Remaja Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Perilaku Minum Obat Remaja Perilaku Minum Obat Remaja Perilaku Hidup Sehat pada Remaja Perilaku Hidup Sehat pada Remaja Kesehatan Mental Remaja Kesehatan Mental Remaja Perilaku Swamedikasi di Kalangan Remaja Perilaku Swamedikasi di Kalangan Remaja Pengetahuan Gizi Remaja tentang Makanan Seimbang Pengetahuan Gizi Remaja tentang Makanan Seimbang
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…