
Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi
Pendahuluan
Masa remaja merupakan fase penting dalam perkembangan individu, fase transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, dengan perubahan fisik, emosional, sosial, dan psikologis yang cepat. Dalam fase ini, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi menjadi sangat krusial sebagai dasar bagi remaja untuk menjaga kesehatan, membuat keputusan yang matang, dan membentuk perilaku seksual serta reproduksi yang sehat. Namun pada kenyataannya, banyak remaja yang memiliki pengetahuan yang terbatas atau tidak memadai tentang aspek-aspek reproduksi, organ reproduksi, masa subur, kehamilan, pencegahan penyakit menular seksual, hingga akses informasi. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan, pernikahan dini, penyakit menular seksual, dan berbagai konsekuensi negatif lainnya. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi sejauh mana remaja memahami kesehatan reproduksi, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan tersebut, serta bagaimana peran media, sekolah, dan pendekatan edukasi agar pengetahuan tersebut bisa meningkat. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh tentang “Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi”, ruang lingkup, tingkat pengetahuan, faktor pengaruh, risiko, dan upaya peningkatannya.
Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja
Definisi secara umum
Kesehatan reproduksi remaja mencakup keadaan sehat secara fisik, mental, sosial terkait sistem reproduksi, termasuk proses pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi, pubertas, fertilitas, kehamilan, serta aspek pencegahan penyakit dan perawatan reproduksi. Istilah ini menekankan bahwa reproduksi bukan sekadar fungsi biologis, namun juga aspek psikososial yang memengaruhi kualitas hidup dan keputusan reproduksi seseorang.
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “reproduksi” diartikan sebagai “perkembangan atau penggandaan keturunan/nasab” serta “pembuahan dan pertumbuhan janin.” Oleh karena itu, “kesehatan reproduksi” dapat diartikan sebagai kondisi baik dalam proses reproduksi, baik dari sisi organ, fungsi, maupun aspek keturunan.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa definisi dari para ahli/penelitian terkait kesehatan reproduksi remaja:
-
Menurut penelitian di Indonesia oleh W Adnin dkk., kesehatan reproduksi remaja mencakup kondisi sehat secara fisik, mental, dan sosial, bebas dari penyakit atau gangguan reproduksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uym.ac.id]
-
S Saparini dalam studinya menyebut bahwa akses informasi dan pengetahuan kepada remaja menentukan kemampuan mereka dalam menjalani praktik kesehatan reproduksi secara benar, meliputi pencegahan penyakit dan pemahaman fungsi reproduksi. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
-
MSFH Kusnianto dalam penelitian 2025 menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kesehatan reproduksi juga terkait dengan persepsi terhadap isu seperti pernikahan dini, pengetahuan yang baik bisa mempengaruhi sikap remaja dalam memahami resiko pernikahan usia muda. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
-
Dalam literatur review oleh H Hasdiana & Asep Barkah (2025), kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai aspek biologis dan sosial yang memerlukan pengetahuan serta kesadaran untuk menjaga kesehatan reproduksi selama masa remaja. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi Remaja
Aspek-aspek yang termasuk dalam ruang lingkup kesehatan reproduksi remaja meliputi:
-
Pengetahuan tentang organ reproduksi dan fungsinya (sistem reproduksi laki-laki maupun perempuan)
-
Pemahaman masa pubertas, masa subur, menstruasi, mimpi basah, dan perubahan fisik serta hormonal
-
Pengetahuan tentang kehamilan, pencegahan kehamilan tidak diinginkan, serta konsekuensi kehamilan pada usia remaja
-
Informasi tentang penyakit menular seksual (PMS), cara pencegahan, dan pentingnya hygiene reproduksi
-
Akses terhadap informasi kesehatan reproduksi, melalui media, sekolah, layanan kesehatan remaja, konsultasi
-
Sikap dan perilaku terkait seksual sehat, keputusan pernikahan usia tepat, dan kebersihan reproduksi
Ruang lingkup ini menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi remaja bukan sekadar pengetahuan biologis, melainkan juga aspek psikososial, pendidikan, serta akses informasi dan layanan kesehatan.
Tingkat Pengetahuan Remaja dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
Banyak penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi beragam, dari rendah hingga tinggi, tergantung konteks, akses informasi, dan edukasi.
-
Dalam sebuah studi di Jawa Timur dengan sampel 1.768 remaja, pengetahuan reproduksi remaja belum semuanya baik, indeks pengetahuan belum mencapai 50%. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Studi di SMAN 2 Padang Panjang (2022) mengindikasikan bahwa meskipun sebagian besar remaja memahami definisi dasar, organ reproduksi, dan masa subur/kehamilan, pengetahuan tentang akses informasi dan masalah kesehatan reproduksi hanya mencapai ~66.6%. [Lihat sumber Disini - ejournal.umnyarsi.ac.id]
-
Namun di sisi lain, ada data di mana sebagian besar siswa menunjukkan tingkat pengetahuan tinggi, misalnya penelitian di SMU tertentu menunjukkan 97, 54% siswa memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang reproduksi remaja. [Lihat sumber Disini - publications.inschool.id]
Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan:
-
Akses informasi: Remaja yang memiliki akses ke media edukasi, internet, atau informasi melalui sekolah dan layanan kesehatan cenderung memiliki pengetahuan lebih baik. Studi oleh Saparini dkk. menyatakan bahwa keterbatasan akses informasi menjadi salah satu hambatan utama rendahnya pengetahuan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]
-
Lingkungan sosial dan budaya: Norma budaya, tabu tentang seksual/reproduksi, serta dukungan keluarga atau masyarakat memengaruhi seberapa jauh remaja bisa memperoleh informasi dan berdiskusi tentang reproduksi. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]
-
Peran sekolah dan edukasi formal: Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan kesehatan reproduksi secara baik, melalui kurikulum, konseling, penyuluhan, menghasilkan remaja dengan pengetahuan lebih baik. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Inisiatif individu dan teman sebaya: Remaja yang aktif mencari informasi, berdiskusi dengan teman, atau mendapat pengaruh positif dari teman sebaya lebih mungkin memiliki pengetahuan memadai. [Lihat sumber Disini - jnp.uds.ac.id]
Pengaruh Media dan Teman Sebaya
Media, baik media cetak, daring, internet, maupun media sosial, dan teman sebaya memiliki peran besar dalam membentuk pengetahuan serta sikap reproduksi remaja.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media informasi berkorelasi dengan pengetahuan dan sikap reproduksi. [Lihat sumber Disini - jnp.uds.ac.id] Program edukasi berbasis media daring, seperti website khusus edukasi remaja, terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan sikap sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkmumi.ac.id]
Lebih jauh, pendekatan “teman sebaya” (peer-mentoring / peer-education) juga efektif, remaja cenderung menerima informasi dari teman lebih terbuka, sehingga intervensi melalui peer mentoring meningkatkan pengetahuan dan sikap seputar reproduksi. [Lihat sumber Disini - ejournal.lucp.net]
Namun, jika informasi melalui media atau teman sebaya bersifat keliru atau bias (misalnya mitos, info tidak benar, hoaks), maka bisa memunculkan sikap atau perilaku berisiko, misalnya keputusan prematur terhadap seks, kehamilan tak diinginkan, atau pernikahan dini. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Peran Sekolah dalam Edukasi Reproduksi
Sekolah memiliki posisi strategis sebagai lingkungan edukatif resmi yang bisa menjangkau banyak remaja secara sistematis.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi pendidikan reproduksi di sekolah, melalui kurikulum, kelas khusus, penyuluhan, edukasi dengan media interaktif, berdampak positif pada peningkatan pengetahuan remaja. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]
Contohnya, program berbasis remaja dan layanan kesehatan remaja (seperti “posyandu remaja”) dapat memberikan edukasi, informasi, dan layanan kesehatan reproduksi secara terjangkau dan ramah remaja. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Selain itu, sekolah juga bisa bekerja sama dengan orang tua, tenaga kesehatan, dan komunitas untuk membangun lingkungan yang mendukung diskusi terbuka tentang reproduksi, sehingga mengurangi stigma dan tabu seputar pembicaraan reproduksi. Faktor ini juga krusial agar pendidikan reproduksi bisa efektif dan berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]
Risiko Kurangnya Pengetahuan Reproduksi
Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi pada remaja bisa membawa berbagai risiko nyata, antara lain:
-
Perilaku seksual berisiko: tanpa pengetahuan cukup tentang dampak, pencegahan PMS, dan konsekuensi kehamilan, remaja rentan melakukan seks pranikah, seks tidak aman, atau perilaku seksual tidak sehat. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]
-
Kehamilan tidak diinginkan dan pernikahan dini: Salah satu penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan berkorelasi dengan meningkatnya dukungan/perilaku terhadap pernikahan usia dini. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Risiko kesehatan reproduksi: remaja bisa lebih rentan terhadap infeksi menular seksual, komplikasi reproduksi, serta masalah kesehatan fisik dan mental jika tidak memiliki informasi dan pemahaman yang benar. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-notokusumo.ac.id]
-
Kurang kesiapan dan tanggung jawab: Tanpa edukasi yang tepat, remaja mungkin gagal mengambil keputusan matang terkait seks, kehamilan, dan kesehatan reproduksi, berdampak pada masa depan mereka.
Metode Efektif untuk Peningkatan Pengetahuan
Berdasarkan penelitian terkini, beberapa metode efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi antara lain:
-
Edukasi formal di sekolah dan program posyandu remaja, melalui kelas, penyuluhan, konseling, dan layanan reproduksi ramah remaja. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Media digital dan daring, seperti website edukasi, modul daring, video, dan konten interaktif; terbukti meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap reproduksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkmumi.ac.id]
-
Pendekatan teman sebaya (peer-education / peer-mentoring), remaja cenderung lebih terbuka terhadap informasi dari teman sebayanya; metode ini efektif meningkatkan pemahaman dan sikap sehat. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Keterlibatan orang tua dan komunitas, mendukung komunikasi terbuka, memberikan informasi benar, dan mendampingi remaja dalam proses tumbuh kembang mereka. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]
-
Pendekatan berkelanjutan dan kontekstual, edukasi yang berkesinambungan, relevan dengan kondisi lokal/lingkungan remaja, dan sensitif terhadap budaya supaya bisa diterima dan diresapi oleh remaja. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]
Dampak Pengetahuan terhadap Perilaku Seksual Sehat
Penelitian telah menunjukkan bahwa remaja dengan pengetahuan cukup tentang kesehatan reproduksi cenderung memiliki sikap dan perilaku yang lebih sehat, menunda seks pranikah, menghindari pernikahan dini, memahami pentingnya hygiene dan pencegahan penyakit, serta mengambil keputusan reproduksi dengan lebih bijak. [Lihat sumber Disini - jqwh.org]
Sebaliknya, remaja yang kurang pengetahuan berisiko lebih tinggi melakukan perilaku seksual berisiko, seks tidak aman, kurang paham konsekuensi, risiko kehamilan, atau penyakit menular. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Dengan demikian, peningkatan literasi reproduksi pada remaja tidak hanya penting dari aspek kesehatan, tetapi juga dari aspek keputusan hidup, pendidikan, dan masa depan remaja secara keseluruhan.
Kesimpulan
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi merupakan fondasi penting untuk membentuk perilaku seksual dan reproduksi yang sehat, pencegahan risiko kehamilan dini, pernikahan dini, penyakit menular, serta mendukung kesehatan fisik dan mental di masa remaja.
Namun banyak remaja di Indonesia yang pengetahuannya masih terbatas, dipengaruhi oleh keterbatasan akses informasi, norma sosial/budaya, dan kurangnya edukasi formal. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya terpadu: sekolah, media digital, layanan kesehatan remaja, peran orang tua dan komunitas, serta metode peer-education.
Dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, diharapkan remaja bisa memperoleh pengetahuan memadai, sikap positif, serta perilaku reproduksi sehat, yang akan berdampak positif bagi masa depan individu dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.