
Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial
Pendahuluan
Masa remaja merupakan fase perkembangan penting dalam kehidupan yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial secara intensif. Pada periode ini, individu mulai memperoleh identitas diri yang lebih jelas, memperluas jaringan sosialnya, sekaligus menjadi lebih sensitif terhadap pengaruh teman sebaya. Perkembangan sosial yang pesat dalam fase ini menyebabkan remaja sering mencari pengalaman, pola interaksi, dan hubungan yang baru, yang selanjutnya dapat membentuk karakter, moral, dan perilaku mereka di masyarakat dewasa nantinya. Interaksi sosial atau pergaulan remaja merupakan unsur fundamental dalam proses sosialisasi yang dapat berdampak positif ketika dikendalikan secara baik, namun dapat juga menimbulkan risiko perilaku menyimpang ketika berada di luar kendali dan norma-norma sosial. Oleh karena itu, mempelajari konsep pergaulan remaja, faktor yang mempengaruhinya, serta bagaimana kontrol sosial bekerja dalam konteks tersebut menjadi sangat penting dalam upaya mengoptimalkan pertumbuhan kepribadian dan sosial remaja di tengah dinamika masyarakat modern. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Pergaulan Remaja
Definisi Pergaulan Remaja Secara Umum
Pergaulan remaja secara umum dapat diartikan sebagai proses interaksi sosial yang dilakukan oleh individu dalam kelompok umur remaja untuk saling bertukar pengalaman, pandangan, nilai-nilai sosial, dan membentuk hubungan interpersonal. Interaksi ini seringkali berpusat pada teman sebaya, kegiatan bersama, dan eksplorasi identitas yang sedang berlangsung. Peer group atau kelompok sebaya menjadi arena pokok di mana remaja mulai membentuk nilai dan sikapnya terhadap masyarakat luas, serta memahami lebih jauh batas-batas sosial yang berlaku. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Pergaulan Remaja dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pergaulan ialah proses bergaul, yaitu proses interaksi sosial antara dua individu atau lebih untuk saling berkomunikasi, bertukar pikiran, atau melakukan hubungan timbal balik yang melibatkan nilai sosial dan norma. Walau KBBI tidak secara eksplisit mendefinisikan “pergaulan remaja”, konsep pergaulan ini diterapkan kepada remaja sebagai fase usia yang aktif dalam interaksi sosial yang kompleks. (Definisi pergaulan, KBBI), link KBBI bisa dicari langsung di [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id].
Definisi Pergaulan Remaja Menurut Para Ahli
-
Depdikbud (2024) menyatakan pergaulan sebagai proses bergaul, sedangkan “bebas” menunjukkan suatu kondisi interaksi sosial tanpa batasan atau aturan yang membatasi perilaku individu dalam hubungan tersebut. Dalam konteks remaja, ini menunjukkan dinamika interaksi yang dapat berjalan di luar batas norma dan nilai sosial apabila tidak dikontrol dengan efektif. ([Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net])
-
Mbayang (2024) dalam jurnal risetnya menjelaskan bahwa pergaulan bebas pada remaja merupakan bentuk aktivitas sosial yang dilakukan tanpa kontrol, sering mengarah pada perilaku yang bertentangan dengan norma moral dan sosial masyarakat, seperti hubungan seksual tanpa ikatan, penyalahgunaan alkohol dan narkoba. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
-
Soekanto (2006) melalui kajian interaksi sosial menyatakan bahwa ketika memasuki usia remaja, individu mulai mengembangkan kelompok teman sebaya yang memiliki peran penting dalam proses penyesuaian diri, pembentukan nilai, serta identitas sosial yang lebih kompleks. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id])
-
Brown, Eicher & Petrie (1986) menyatakan bahwa kelompok besar atau “crowds” di masa remaja menyediakan konteks sosial yang mempengaruhi norma dan ekspektasi perilaku, yang secara langsung mendorong remaja untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan standar kelompoknya. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Pola Pergaulan Remaja
Pola pergaulan remaja terus berkembang dan dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada di sekitar mereka. Pada fase awal remaja, interaksi sering difokuskan pada kegiatan bersama dalam kelompok kecil (clique) di mana hubungan individu bersifat intens dan erat. Seiring bertambahnya usia, remaja mulai berinteraksi dalam kelompok yang lebih luas (crowds) yang mencerminkan identifikasi sosial berdasarkan nilai atau stereotip tertentu. Perubahan bentuk kelompok ini juga berpengaruh terhadap cara remaja memandang dirinya dan interaksinya dengan dunia luar, termasuk dengan aturan sosial yang berlaku. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Dalam pola interaksi tersebut, remaja cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan teman sebayanya dibanding dengan pengawasan orang dewasa. Hal ini memberikan ruang bagi mereka untuk membentuk identitas sosial dan nilai-nilai mereka sendiri, tetapi juga meningkatkan risiko pengaruh negatif apabila kelompok tersebut mendorong norma yang menyimpang dari nilai sosial umum. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Pola pergaulan remaja juga dipengaruhi oleh media digital dan teknologi informasi modern, yang menyediakan wadah amplifikasi interaksi sosial di luar ruang fisik. Akses tanpa batas ini dapat menyebabkan remaja mendapatkan contoh perilaku yang tidak sehat, serta meningkatkan kecenderungan untuk mencoba dan meniru gaya hidup yang berisiko. ([Lihat sumber Disini - linguanusa.com])
Faktor yang Mempengaruhi Pergaulan Remaja
Beragam faktor mempengaruhi pola pergaulan dan kualitas interaksi sosial remaja, di antaranya:
1. Teman Sebaya (Peer Group)
Kelompok teman sebaya menjadi entitas sosial utama yang mempengaruhi kepribadian remaja. Time spent dengan teman sebaya meningkat drastis pada fase remaja, sehingga norma dan tingkah laku kelompok dapat memengaruhi sikap dan keputusan individu secara signifikan. Tekanan teman sebaya (peer pressure) dapat pula memotivasi remaja untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan standar kelompok, baik itu positif maupun negatif. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
2. Peran Keluarga dan Pengawasan Orang Tua
Pengawasan, akseptasi, dan keterlibatan keluarga dalam kehidupan remaja dapat menurunkan kecenderungan perilaku menyimpang. Penelitian menunjukkan bahwa kontrol sosial orang tua yang kuat berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang lebih baik, sedangkan kurangnya pengawasan dapat meningkatkan perilaku yang kurang sesuai dengan norma sosial. ([Lihat sumber Disini - jptam.org])
3. Media dan Teknologi
Perkembangan teknologi informasi membuat remaja lebih mudah terpapar berbagai contoh perilaku sosial, baik positif maupun negatif. Akses tanpa pengawasan terhadap konten berisiko seperti pornografi, gaya hidup bebas, kekerasan, dan konsumsi zat terlarang dapat meningkatkan minat untuk meniru perilaku tersebut. ([Lihat sumber Disini - linguanusa.com])
4. Lingkungan Sosial dan Budaya
Nilai budaya lokal dan struktur sosial komunitas di mana remaja berada juga turut mempengaruhi pola pergaulan mereka. Lingkungan yang memberikan ruang positif bagi partisipasi remaja dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan budaya cenderung membentuk perilaku sosial yang sehat.
Pergaulan Remaja dan Kontrol Sosial
Kontrol sosial merupakan mekanisme yang digunakan masyarakat untuk mengatur perilaku anggotanya agar sesuai dengan nilai, norma, dan aturan yang berlaku. Dalam konteks remaja, kontrol sosial dapat diterapkan melalui keluarga, sekolah, lembaga agama, dan lingkungan masyarakat lainnya.
Menurut teori kontrol sosial yang dikembangkan oleh Travis Hirschi, perilaku menyimpang atau kenakalan remaja sering terjadi karena lemahnya ikatan sosial dengan institusi sosial seperti keluarga dan sekolah. Hirschi menyatakan bahwa empat elemen penting ikatan sosial, kelekatan (attachment), komitmen (commitment), keterlibatan (involvement), dan keyakinan (belief), sangat menentukan apakah individu akan mengikuti norma sosial atau menyimpang dari aturan yang berlaku. Ketika elemen-elemen ini kuat, remaja cenderung mematuhi norma sosial, sebaliknya, lemahnya ikatan sosial meningkatkan risiko perilaku menyimpang. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id])
Kontrol sosial juga dapat dilihat dari tindakan langsung masyarakat dan keluarga untuk mengawasi dan membimbing remaja agar tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang. Peran orang tua, misalnya, mencakup sosialisasi nilai moral, bimbingan perilaku, serta partisipasi aktif dalam kegiatan anak, yang terbukti dapat menurunkan jumlah kenakalan remaja. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id])
Dampak Pergaulan terhadap Perilaku Remaja
Pergaulan remaja dapat membawa dampak yang kompleks, baik positif maupun negatif:
1. Dampak Positif
-
Membantu pembentukan identitas sosial dan rasa percaya diri.
-
Menumbuhkan keterampilan kerja sama, komunikasi, dan pemecahan masalah dalam kelompok.
-
Menjadi sumber dukungan emosional dan pembelajaran sosial.
2. Dampak Negatif
Pergaulan yang tidak terkendali atau pergaulan bebas dapat menimbulkan sejumlah risiko sosial dan kesehatan. Fenomena pergaulan bebas sering dikaitkan dengan:
-
Penyalahgunaan zat seperti alkohol dan narkoba.
-
Perilaku seksual berisiko, termasuk hubungan seksual tanpa pengawasan.
-
Penurunan prestasi akademik dan motivasi belajar. ([Lihat sumber Disini - linguanusa.com])
Dampak ini muncul terutama saat remaja tidak memiliki kontrol sosial yang kuat dari keluarga dan lingkungan pendidikan, sehingga mereka lebih rentan terhadap norma kelompok yang menolak aturan sosial umum. ([Lihat sumber Disini - jurnal.peneliti.net])
Peran Keluarga dan Sekolah dalam Pengawasan
Peran Keluarga
Keluarga adalah lembaga sosial pertama yang membentuk perilaku dan sikap remaja. Kontrol sosial yang efektif melalui nilai moral, pendidikan perilaku, serta keterlibatan emosional terbukti dapat mengurangi risiko perilaku menyimpang. Orang tua yang peduli memberikan bimbingan, pengawasan, dan dukungan sosial memiliki peran penting dalam mengarahkan remaja pada pola pergaulan yang sehat dan aman. ([Lihat sumber Disini - jptam.org])
Peran Sekolah
Sekolah memainkan peran penting sebagai institusi yang mendukung pembentukan karakter dan perilaku remaja. Kurikulum pendidikan yang mencakup pengembangan moral, etika, keterampilan sosial, dan kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi wadah positif untuk pergaulan sosial yang tertata baik. Lingkungan sekolah yang aman dan mendukung juga membantu memperkuat kontrol sosial formal dan informal terhadap perilaku remaja.
Kesimpulan
Pergaulan remaja adalah proses sosial penting yang mencerminkan interaksi, eksplorasi identitas, dan pembentukan nilai dalam fase perkembangan antara masa kanak-kanak menuju dewasa. Pergaulan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kelompok teman sebaya, peran keluarga dan sekolah, serta akses terhadap media dan lingkungan sosial budaya. Kontrol sosial, baik melalui keluarga, sekolah, maupun masyarakat, memainkan peran krusial dalam membimbing perilaku remaja agar tetap dalam koridor norma dan nilai sosial. Pergaulan yang sehat dapat memperkuat keterampilan sosial dan perkembangan diri, sedangkan pergaulan yang tidak terkendali dapat menyebabkan dampak negatif seperti perilaku menyimpang, penurunan prestasi, dan risiko sosial lainnya. Dengan hasil kajian jurnal dan studi empiris, penguatan kontrol sosial sejak dini menjadi strategi utama dalam mengoptimalkan tumbuh kembang remaja menuju individu yang bertanggung jawab dan berintegritas.