Terakhir diperbarui: 17 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 17 January). Keterikatan Organisasional: Konsep, Loyalitas Karyawan, dan Kinerja. SumberAjar. Retrieved 17 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/keterikatan-organisasional-konsep-loyalitas-karyawan-dan-kinerja  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Keterikatan Organisasional: Konsep, Loyalitas Karyawan, dan Kinerja - SumberAjar.com

Keterikatan Organisasional: Konsep, Loyalitas Karyawan, dan Kinerja

Pendahuluan

Keterikatan organisasional (organizational commitment) merupakan variabel penting dalam disiplin ilmu perilaku organisasi yang semakin banyak diteliti karena hubungannya yang kuat dengan loyalitas dan kinerja karyawan dalam organisasi modern.

Organisasi saat ini menghadapi persaingan global yang ketat dan dinamika pasar yang terus berubah, sehingga peran sumber daya manusia (SDM) sebagai aset strategis menjadi pusat perhatian utama bagi manajer dan pemimpin organisasi. Dalam konteks tersebut, keterikatan seorang karyawan terhadap organisasi bukan sekadar konsep abstrak, namun merupakan fenomena penting yang berimplikasi pada retensi SDM, produktivitas kerja, dan outcome organisasi secara keseluruhan.

Penelitian empiris menunjukkan bahwa karyawan yang memiliki keterikatan tinggi terhadap organisasi cenderung menunjukkan loyalitas yang kuat, komitmen terhadap tujuan organisasi, dan memiliki perilaku kerja yang lebih konsisten dan unggul dibandingkan karyawan yang hanya bekerja secara instrumental atau karena kebutuhan ekonomi semata. Menurut studi Journal of Vocational Behavior, keterikatan organisasional dipahami sebagai keadaan psikologis di mana individu merasa terhubung emosional, memiliki kebutuhan untuk tetap tinggal, dan merasa berkewajiban terhadap organisasi yang menaunginya. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Dalam artikel ini akan dibahas secara rinci definisi keterikatan organisasional, dimensi-dimensinya menurut para ahli, faktor pembentuk keterikatan karyawan, hubungan antara keterikatan dengan loyalitas dan kinerja, serta strategi praktis yang dapat diterapkan organisasi untuk meningkatkan keterikatan karyawannya. Uraian ini disusun berdasarkan referensi jurnal ilmiah Indonesia 2021, 2025 yang dapat diakses publik tanpa login, sehingga dapat dipastikan relevan dan akurat dari sisi akademis dan praktikal.


Definisi Keterikatan Organisasional

Definisi Keterikatan Organisasional Secara Umum

Keterikatan organisasional (organizational commitment) secara umum dapat diartikan sebagai suatu ikatan psikologis yang dimiliki oleh seorang karyawan terhadap organisasi tempat ia bekerja. Ikatan ini menggambarkan hubungan afektif, loyalitas, dan identifikasi karyawan terhadap tujuan, nilai, serta budaya organisasi. Komitmen ini mempengaruhi sejauh mana seorang karyawan ingin tetap tinggal dan berkontribusi dalam organisasi tersebut secara proaktif. Banyak riset dalam manajemen dan psikologi organisasi mendefinisikan keterikatan ini sebagai sesuatu yang mempengaruhi intensi seseorang untuk tetap bekerja, loyalitas terhadap tujuan organisasi, serta interaksi interpersonal dalam lingkungan kerja. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Definisi Keterikatan Organisasional dalam KBBI

Menurut definisi yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keterikatan dapat diartikan sebagai suatu keadaan terikat atau terikatnya seseorang pada sesuatu yang dianggap penting. Dalam konteks hubungan karyawan dengan organisasi, keterikatan organisasional mengacu pada kondisi emosional dan psikologis di mana individu merasa terikat pada organisasi sehingga menimbulkan loyalitas, kesetiaan, serta dorongan untuk mempertahankan hubungan kerja dalam jangka panjang. (Sumber dari KBBI daring, definisi istilah keterikatan/komitmen; akses langsung: [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])

Definisi Keterikatan Organisasional Menurut Para Ahli

Para ahli telah mengembangkan konsep keterikatan organisasional secara sistematis. Allen dan Meyer (1991) dalam jurnal Human Resource Management Review menyatakan bahwa keterikatan organisasional merupakan keadaan psikologis yang membuat seorang karyawan berada dalam organisasi karena tiga jenis keterikatan: afektif (affective), kontinuan (continuance), dan normatif (normative), yang masing-masing mencerminkan emotional attachment, perceived cost of leaving, dan a felt obligation to remain. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

Dessler (2019) menjelaskan keterikatan organisasional sebagai keyakinan karyawan terhadap misi dan nilai organisasi, serta rasa keterlibatan dan loyalitas terhadap organisasi tersebut. Sementara Griffin, Phillips, dan Gully (2021) menekankan keterikatan sebagai keterlibatan emosional dan dedikasi terhadap tugas dan pencapaian tujuan organisasi. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

Dari perspektif psikologi organisasi kontemporer, keterikatan organisasional mencakup hubungan afektif dan loyalitas yang membuat karyawan tidak hanya ingin berada dalam organisasi, tetapi juga melakukan upaya ekstra untuk mendukung keberhasilan organisasi. Konsep ini penting karena secara empiris telah terbukti mempengaruhi variabel lain seperti kepuasan kerja, turnover intention, produktivitas, dan perilaku kerja proaktif. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])


Dimensi Keterikatan Organisasional

Keterikatan organisasional bukan variabel tunggal, tetapi terdiri dari beberapa dimensi yang mencerminkan cara berbeda karyawan “terikat” dengan organisasi. Pemahaman terhadap dimensi-dimensi ini penting untuk menginterpretasikan perilaku karyawan secara ilmiah dan praktis.

1. Affective Commitment

Dimensi ini berkaitan dengan keterikatan emosional karyawan terhadap organisasi. Karyawan yang memiliki tingkat keterikatan afektif yang tinggi bekerja karena mereka “ingin” menjadi bagian dari organisasi tersebut, merasa teridentifikasi dengan tujuan perusahaan, serta secara emosional terlibat dalam pekerjaannya. Studi menyebut dimensi ini kunci dalam memprediksi perilaku loyal dan rendahnya turnover intention karyawan. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])

2. Continuance Commitment

Continuance commitment menggambarkan keterikatan yang bersifat kalkulatif, di mana karyawan memutuskan untuk tetap bersama organisasi karena biaya atau kerugian yang diperkirakan jika mereka meninggalkan pekerjaan tersebut lebih besar dibandingkan keuntungan yang diperoleh dari pindah kerja. Ini bisa mencakup pertimbangan finansial, jam kerja, fasilitas, atau kompensasi yang lebih baik di tempat lain. ([Lihat sumber Disini - journal2.uinjkt.ac.id])

3. Normative Commitment

Normative commitment mencerminkan perasaan kewajiban moral yang kuat untuk tetap bersama organisasi, biasanya terbentuk dari nilai-nilai internal, budaya organisasi, atau harapan sosial. Karyawan dengan komitmen normatif tinggi merasa bahwa mereka “harus” tetap loyal dan terikat karena merupakan kewajiban moral, bukan sekadar pilihan emosional atau kalkulatif. ([Lihat sumber Disini - e-journal.iainsalatiga.ac.id])

Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dan bersama-sama membentuk gambaran keterikatan organisasional secara menyeluruh. Mengetahui perbedaan dimensi ini membantu organisasi merancang strategi HR yang lebih tepat sasaran, misalnya pendekatan emosional untuk meningkatkan affective commitment atau insentif untuk mendukung continuance commitment.


Faktor Pembentuk Keterikatan Karyawan

Banyak faktor yang dapat membentuk keterikatan karyawan dalam organisasi. Faktor-faktor ini umumnya dapat dikategorikan dalam aspek organisasi, individual, dan lingkungan kerja internal.

1. Kepemimpinan dan Dukungan Organisasi

Pola kepemimpinan yang inklusif, dukungan dari atasan langsung, serta komunikasi yang efektif dapat memperkuat rasa keterikatan emosional karyawan kepada organisasi. Studi meta menunjukkan bahwa perceived organizational support berperan penting dalam meningkatkan komitmen organisasional karena karyawan merasa dihargai dan didukung secara psikologis oleh organisasi. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

2. Kepuasan Kerja dan Lingkungan Kerja

Kepuasan kerja berkontribusi besar terhadap keterikatan karena karyawan yang merasa puas dengan pekerjaan cenderung memiliki loyalitas yang lebih tinggi dan rasa keterikatan yang kuat terhadap organisasi. Penelitian di jurnal JOMEL menyatakan bahwa kepuasan kerja dan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas karyawan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.stim-lpi.ac.id])

3. Pelatihan, Pengembangan Karir, dan Pengakuan

Organisasi yang memberikan kesempatan pengembangan diri, pelatihan berkelanjutan, jalur karir yang jelas, serta pengakuan atas prestasi kerja akan membangun rasa memiliki dan keterikatan karyawan secara berkelanjutan.

4. Budaya Organisasi dan Nilai-Nilai Perusahaan

Budaya organisasi yang sehat, adil, dan mendorong keterbukaan akan menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa terikat secara psikologis. Nilai-nilai organisasi yang sejalan dengan nilai pribadi karyawan memperkuat keterikatan secara mendalam. ([Lihat sumber Disini - jurnalbima.id])

5. Keadilan Organisasi dan Work-Life Balance

Praktik keadilan dalam organisasi (misalnya distributif, prosedural, dan interaksional) serta dukungan pada keseimbangan kehidupan kerja telah ditemukan secara empiris meningkatkan loyalitas, affective engagement, serta produktivitas karyawan secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - ejournal-polnam.ac.id])


Keterikatan Organisasional dan Loyalitas

Hubungan keterikatan organisasional dengan loyalitas karyawan sangat kuat dan komprehensif dalam literatur manajemen sumber daya manusia. Loyalitas karyawan secara sederhana dapat dipahami sebagai kesetiaan dan dedikasi karyawan kepada organisasi, termasuk kesediaan mereka untuk tetap menjadi bagian dari organisasi dalam jangka panjang dan berkontribusi terhadap keberhasilan tujuan perusahaan.

Penelitian jurnal Yume Journal of Management menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara keterikatan organisasional dan loyalitas karyawan, di mana tingkat keterikatan yang lebih tinggi cenderung menghasilkan loyalitas yang lebih kuat. ([Lihat sumber Disini - journal.stieamkop.ac.id])

Selain itu, literatur manajemen juga menemukan bahwa kepuasan kerja dan komitmen organisasi secara simultan mempengaruhi loyalitas kerja karyawan. Ini berarti keterikatan organisasional merupakan mediator penting antara kepuasan kerja dan loyalitas kerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

Hubungan ini dijelaskan melalui mekanisme psikologis: karyawan yang memiliki keterikatan afektif tinggi biasanya menunjukkan perilaku loyal seperti kesediaan menyelesaikan tugas tambahan, membantu rekan kerja, serta mempertahankan hubungan kerja meskipun ada tantangan operasional. Insentif non-finansial seperti pengakuan, penghargaan, dan kesempatan karir cenderung memperkuat loyalitas melalui jalur keterikatan emosional ini. ([Lihat sumber Disini - ijssrr.com])


Keterikatan Organisasional dan Kinerja

Keterikatan organisasional juga memiliki hubungan kuat dan positif dengan kinerja karyawan. Banyak penelitian empiris menemukan bahwa karyawan yang memiliki komitmen organisasional yang tinggi menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mereka yang keterikatannya rendah.

Dalam penelitian jurnal internasional, disebutkan bahwa komitmen organisasional berkaitan dengan berbagai perilaku kerja produktif, termasuk kualitas kerja, inisiatif, kedisiplinan, dan efektivitas tugas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa antara loyalitas dan komitmen organisasi terdapat hubungan dengan kinerja karyawan, di mana loyalitas sering kali memediasi dampak komitmen terhadap outcome kinerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

Dalam konteks organisasi modern, kinerja tidak hanya diukur dari aspek kuantitatif seperti produktivitas, tetapi juga aspek kualitatif seperti pelayanan, inovasi, dan tingkat kolaborasi. Karyawan yang secara psikologis terikat pada organisasi cenderung lebih termotivasi untuk mencapai standar kerja tinggi dan mempertahankan konsistensi kinerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])


Strategi Meningkatkan Keterikatan Organisasional

Berikut strategi praktis yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterikatan organisasional secara sistematis:

1. Meningkatkan Kepemimpinan dan Dukungan Atasan

Pelatihan kepemimpinan yang efektif untuk manajer dan pengembangan kompetensi interpersonal akan membantu menciptakan hubungan saling menghargai, meningkatkan kepercayaan dan keterikatan karyawan.

2. Menciptakan Program Pengembangan Karir yang Jelas

Organisasi perlu merancang jalur pengembangan karir yang jelas dan adil, termasuk pelatihan, mentoring, dan evaluasi kompetensi berkala. Ini membantu karyawan merasa bahwa organisasi peduli dengan pertumbuhan mereka.

3. Fleksibilitas dan Work-Life Balance

Program kerja fleksibel dan dukungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja terbukti meningkatkan keterikatan emosional dan loyalitas karyawan kepada organisasi. ([Lihat sumber Disini - rumah-jurnal.com])

4. Sistem Penghargaan yang Adil dan Transparan

Pengakuan terhadap prestasi kerja, baik material maupun non-material, akan memperkuat keterikatan karena karyawan merasa dihargai atas kontribusinya.

5. Budaya Organisasi yang Inklusif

Membangun budaya organisasi yang inklusif, adil, dan berfokus pada pengembangan SDM secara berkesinambungan akan menciptakan rasa memiliki yang mendalam. ([Lihat sumber Disini - jurnalbima.id])


Kesimpulan

Keterikatan organisasional merupakan konsep psikologis yang kompleks dan multidimensional yang mencerminkan hubungan emosional, kalkulatif, dan normatif antara karyawan dengan organisasi. Hal ini tidak hanya berdampak pada loyalitas karyawan tetapi juga memiliki korelasi positif yang signifikan dengan kinerja kerja.

Literatur ilmiah menunjukkan bahwa keterikatan yang tinggi dapat meningkatkan loyalitas karyawan, memperkecil turnover intention, serta meningkatkan kualitas dan efektivitas kerja secara keseluruhan. Komitmen organisasional harus dipahami sebagai elemen penting dalam strategi manajemen sumber daya manusia yang terintegrasi.

Faktor-faktor yang membentuk keterikatan mencakup kepemimpinan, kepuasan kerja, budaya organisasi, dan sistem penghargaan yang adil. Organisasi yang secara aktif membangun dan mempertahankan keterikatan karyawan tidak hanya memperoleh keuntungan operasional, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.

Dengan demikian, keterikatan organisasional bukan sekadar idealisme akademis, tetapi merupakan strategi HR yang dapat dieksekusi untuk meningkatkan loyalitas dan kinerja dalam organisasi modern.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Keterikatan organisasional adalah ikatan psikologis yang dimiliki karyawan terhadap organisasi, yang mencerminkan loyalitas, komitmen, serta keterlibatan emosional dalam mendukung tujuan dan nilai organisasi.

Dimensi keterikatan organisasional terdiri dari komitmen afektif, komitmen kontinuan, dan komitmen normatif, yang masing-masing menggambarkan keterikatan emosional, pertimbangan biaya, dan kewajiban moral karyawan terhadap organisasi.

Keterikatan organisasional penting karena berpengaruh terhadap loyalitas karyawan, rendahnya tingkat turnover, meningkatnya kinerja, serta terciptanya lingkungan kerja yang produktif dan berkelanjutan.

Keterikatan organisasional memiliki hubungan positif dengan loyalitas karyawan, di mana karyawan yang terikat secara emosional dan moral cenderung setia, berkomitmen jangka panjang, dan mendukung organisasi secara optimal.

Keterikatan organisasional mendorong karyawan untuk bekerja lebih optimal, menunjukkan inisiatif, disiplin, serta kualitas kerja yang tinggi, sehingga berdampak positif pada kinerja individu dan organisasi.

Strategi meningkatkan keterikatan organisasional meliputi kepemimpinan yang suportif, pengembangan karir, sistem penghargaan yang adil, budaya organisasi yang inklusif, serta dukungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Komitmen Organisasional: Konsep, Dimensi Komitmen, dan Loyalitas Komitmen Organisasional: Konsep, Dimensi Komitmen, dan Loyalitas Employee Engagement: Konsep, Keterikatan Kerja, dan Kinerja Employee Engagement: Konsep, Keterikatan Kerja, dan Kinerja Stres Organisasional: Konsep, Tekanan Kerja, dan Pengendalian Stres Organisasional: Konsep, Tekanan Kerja, dan Pengendalian Loyalitas Pelanggan: Konsep, Pembentukan Loyalitas, dan Retensi Loyalitas Pelanggan: Konsep, Pembentukan Loyalitas, dan Retensi Brand Loyalty: Konsep, Keterikatan Merek, dan Pembelian Ulang Brand Loyalty: Konsep, Keterikatan Merek, dan Pembelian Ulang Keterikatan Sosial: Konsep dan Kebutuhan Psikologis Keterikatan Sosial: Konsep dan Kebutuhan Psikologis Kinerja Karyawan: Konsep, Indikator Kinerja, dan Evaluasi Kerja Kinerja Karyawan: Konsep, Indikator Kinerja, dan Evaluasi Kerja Onboarding Karyawan: Konsep, Adaptasi Awal, dan Keterikatan Kerja Onboarding Karyawan: Konsep, Adaptasi Awal, dan Keterikatan Kerja Sistem Informasi Kontrol Tugas Karyawan Sistem Informasi Kontrol Tugas Karyawan Kesejahteraan Karyawan: Konsep, Well-Being, dan Produktivitas Kesejahteraan Karyawan: Konsep, Well-Being, dan Produktivitas SPK Penilaian Kinerja Karyawan SPK Penilaian Kinerja Karyawan Kepuasan Kompensasi: Konsep, Keadilan Upah, dan Motivasi Kepuasan Kompensasi: Konsep, Keadilan Upah, dan Motivasi Insentif Karyawan: Konsep, Bentuk Insentif, dan Dorongan Kinerja Insentif Karyawan: Konsep, Bentuk Insentif, dan Dorongan Kinerja Psychological Contract: Konsep, Harapan Kerja, dan Hubungan Kerja Psychological Contract: Konsep, Harapan Kerja, dan Hubungan Kerja Sistem Informasi Monitoring Karyawan WFH Sistem Informasi Monitoring Karyawan WFH Kompetensi Karyawan: Konsep, Keterampilan Kerja, dan Kinerja Individu Kompetensi Karyawan: Konsep, Keterampilan Kerja, dan Kinerja Individu Turnover Intention: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Organisasi Turnover Intention: Konsep, Faktor Penyebab, dan Dampak Organisasi Sistem Penilaian Kinerja: Konsep, Metode Evaluasi, dan Objektivitas Sistem Penilaian Kinerja: Konsep, Metode Evaluasi, dan Objektivitas Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan Seleksi Karyawan: Konsep, Metode Seleksi, dan Kecocokan Kerja Seleksi Karyawan: Konsep, Metode Seleksi, dan Kecocokan Kerja
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…