
Risiko Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Pendahuluan
Dalam praktik keperawatan dan perawatan kesehatan pernapasan, kebersihan jalan napas merupakan aspek krusial untuk menjaga patensi (kelancaran) saluran pernapasan dan mendukung ventilasi serta oksigenasi yang baik. Jika mekanisme pembersihan jalan napas terganggu, entah karena sekresi berlebihan, obstruksi, atau gangguan refleks batuk, maka seperti halnya “kemacetan” pada jalan vital bagi udara dan udara bernapas bisa menumpuk, memicu hipoksia, infeksi, serta komplikasi serius. Kondisi ini dikenal sebagai ketidakefektifan bersihan jalan napas (ineffective airway clearance) dan menjadi prioritas penanganan dalam keperawatan, terutama pada pasien dengan penyakit paru, infeksi saluran napas, atau pada pasien kritis.
Studi dan laporan kasus di Indonesia menunjukkan bahwa ketidakefektifan bersihan jalan napas banyak terjadi pada pasien dengan penyakit seperti pneumonia, ISPA, TB paru, atau PPOK. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-notokusumo.ac.id] Oleh karena itu, penting untuk memahami definisi, faktor risiko, tanda-gejala, penilaian, intervensi keperawatan, serta teknik terapi jalan napas untuk mengidentifikasi dan menangani kondisi ini secara tepat.
Definisi Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Definisi ini dibagi dalam tiga perspektif: secara umum, dalam (bahasa) definisi resmi, dan menurut para ahli.
Definisi Secara Umum
Secara umum, ketidakefektifan bersihan jalan napas merujuk pada kondisi di mana seseorang tidak mampu membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas sehingga jalan napas tidak dapat dipertahankan dalam kondisi paten (terbuka), yang mengganggu ventilasi dan oksigenasi. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com] Penyebab dapat bervariasi: produksi lendir berlebihan, sekret kental, penurunan refleks batuk, kerusakan fungsi mukosiliar, atau keberadaan airway artifisial (misalnya trakeostomi, intubasi). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Definisi dalam KBBI
Menurut definisi istilah dalam Bahasa Indonesia seperti tertuang di KBBI (atau rujukan terminologi keperawatan di Indonesia), “bersihan jalan napas” merujuk pada “pembuangan sekret/lendir dan menjaga agar saluran napas tetap bersih”, sehingga “ketidakefektifan bersihan jalan napas” berarti kegagalan atau gangguan dalam proses pembersihan tersebut, entah karena sekret tidak dapat dikeluarkan, obstruksi jalan napas, atau gangguan mekanisme pembersihan. Beberapa literatur keperawatan Indonesia menyebut kondisi ini sebagai “ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.” [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut definisi dari sejumlah ahli / literatur keperawatan / publikasi ilmiah:
-
Menurut NANDA (dan dikutip dalam berbagai panduan keperawatan internasional serta teks keperawatan), NANDA International (NANDA-I), “Ineffective airway clearance” didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk mengosongkan saluran pernapasan dari sekret, rembesan, atau obstruksi agar mempertahankan jalan napas tetap paten. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam review skop keperawatan terkini, “airway clearance impairment” didefinisikan sebagai retensi sekret, produksi lendir berlebihan, obstruksi jalan napas, atau gangguan mekanisme pembersihan (misalnya batuk yang tidak efektif). [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Penelitian kasus di Indonesia: dalam penelitian oleh Ken Utari Ekowati dkk (2022) dijelaskan bahwa “bersihan jalan napas tidak efektif” adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas sehingga pertukaran udara dan ventilasi menjadi terganggu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-notokusumo.ac.id]
-
Dalam konteks perawatan pasien paru kronis atau akut (misalnya penyakit bronkitis, PPOK), definisi yang sama diaplikasikan yaitu ketidakmampuan untuk mempertahankan patensi jalan napas akibat sekret berlebihan, produk lendir, obstruksi, atau refleks batuk yang melemah. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketidakefektifan bersihan jalan napas mencakup fenomena fisiologis (sekret, obstruksi, refleks batuk) dan merupakan kondisi klinis dengan dampak pada ventilasi, oksigenasi, serta risiko komplikasi pernapasan.
Faktor Risiko Ketidakefektifan Jalan Nafas
Banyak faktor dapat menyebabkan atau meningkatkan risiko terjadinya gangguan dalam bersihan jalan napas. Faktor-faktor utama meliputi:
-
Produksi sekret yang berlebihan atau lendir kental, misalnya akibat infeksi saluran napas (ISPA, pneumonia, bronkitis), peradangan, alergi, atau iritasi saluran napas. [Lihat sumber Disini - journals.umkaba.ac.id]
-
Penurunan atau hilangnya refleks batuk efektif, bisa akibat lemah otot pernapasan, neuromuskular, kelumpuhan, kelemahan, anestesi, sedasi, atau pasien pasca operasi/trakeostomi. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com]
-
Obstruksi jalan napas, baik oleh sekret, lendir, atau benda asing, maupun karena airway artifisial seperti tabung intubasi atau trakeostomi yang melewati mekanisme pertahanan mukosiliar. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Kondisi penyakit kronis pernapasan, seperti PPOK, asma, bronkitis kronis, tuberkulosis paru, atau penyakit paru lain yang meningkatkan sekresi serta memperlambat pembersihan sekret. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Infeksi akut saluran napas, seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), pneumonia, bronkopneumonia, TB, yang menyebabkan peradangan, lendir berlebih, serta retensi sekret. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Faktor kelemahan fisik atau penurunan kesadaran, pasien yang tidak mampu batuk, berkooperasi, atau memiliki gangguan kesadaran atau kekuatan otot pernapasan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Faktor-faktor ini bisa tunggal atau kombinasi, dan semakin banyak faktor yang muncul, semakin besar risiko terjadi ketidakefektifan bersihan jalan napas.
Tanda dan Gejala Gangguan Bersihan Jalan Nafas
Ketika seseorang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas, akan muncul gejala dan tanda klinis yang bisa diamati atau dilaporkan, antara lain:
-
Suara napas abnormal seperti suara tambahan (ronchi, wheezing, mengi), suara napas melemah, atau suara napas menurun. [Lihat sumber Disini - scielo.br]
-
Batuk tidak efektif atau batuk susah mengeluarkan dahak; sering batuk tapi dahak tidak keluar atau terasa kental/seperti sulit dikeluarkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-notokusumo.ac.id]
-
Dispnea atau sesak nafas, napas cepat, penggunaan otot bantu pernapasan, atau kesulitan bernapas. [Lihat sumber Disini - simplenursing.com]
-
Produksi sputum atau dahak berlebihan, dahak kental, atau retensi sekret, serta kesulitan expectorasi (mengeluarkan dahak). [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Penurunan saturasi oksigen (jika tekanan oksigen dan ventilasi sangat terganggu), kebiruan pada kulit/mukosa (pada kasus berat), atau tanda-tanda hipoksia. [Lihat sumber Disini - simplenursing.com]
Tanda-tanda ini bisa subjektif (keluhan pasien: sesak, batuk, kesulitan mengeluarkan dahak) maupun objektif (temuan auskultasi, frekuensi napas, saturasi, ventilasi).
Penilaian Jalan Nafas dan Pola Pernapasan
Dalam asuhan keperawatan dan manajemen klinis, penting dilakukan penilaian jalan napas dan pola pernapasan secara menyeluruh untuk mendeteksi ketidakefektifan bersihan jalan napas. Langkah-langkah penilaian meliputi:
-
Anamnesis / observasi subjektif: menanyakan keluhan seperti batuk, dahak, kesulitan batuk, sesak, keinginan batuk, frekuensi batuk, dan apakah dahak bisa dikeluarkan atau tidak.
-
Pemeriksaan fisik: auskultasi suara napas (mendeteksi ronchi, wheezing, atau suara napas abnormal), memeriksa pergerakan dada, penggunaan otot bantu, warna kulit/mukosa, saturasi oksigen, frekuensi napas, pola napas. Literatur menunjukkan bahwa temuan “suara napas tambahan”, “inefektif cough”, dan "peredupan suara napas" merupakan karakteristik yang kuat untuk diagnosis Ineffective Airway Clearance. [Lihat sumber Disini - scielo.br]
-
Evaluasi sekresi: jumlah sputum/dahak, karakteristik (kental, banyak, sulit dikeluarkan), warna, bau, frekuensi expectorasi.
-
Evaluasi kemampuan batuk dan refleks batuk, apakah pasien dapat batuk efektif atau tidak; apakah perlu bantuan (fisioterapi dada, suction, posisi, alat bantu).
-
Monitoring vital sign dan parameter oksigenasi: frekuensi napas, saturasi oksigen, tingkat kesulitan bernapas, kerja napas.
-
Dokumentasi dan pencatatan pola pernapasan serta respons terhadap intervensi: perubahan suara napas, kemampuan expectorasi, kenyamanan napas, saturasi, dan penurunan sekret.
Intervensi Keperawatan untuk Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
Setelah penilaian dilakukan dan diagnosis (nursing diagnosis) ditetapkan, intervensi keperawatan dibutuhkan untuk membantu memulihkan/pemeliharaan patensi jalan napas serta memfasilitasi pembersihan sekret. Berdasarkan literatur keperawatan dan penelitian di Indonesia maupun internasional, intervensi penting meliputi:
-
Posisionalisasi pasien, misalnya posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan drainase sekret dan mengoptimalkan ventilasi. Banyak laporan kasus menggunakan posisi semi-Fowler sebagai bagian dari manajemen jalan napas. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Edukasi dan pelatihan batuk efektif (effective cough), mengajarkan pasien teknik batuk yang benar dan efektif untuk membantu expectorasi dahak/sekret. Studi kasus di pasien TB paru dan PPOK menunjukkan batuk efektif sebagai intervensi dasar. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Fisioterapi dada (chest physiotherapy), teknik seperti postural drainage, perkusi (clapping), vibrasi, dan drainase posisi, terbukti membantu mobilisasi sekret dan meningkatkan pembersihan jalan napas, terutama pada anak dengan pneumonia atau bronkopneumonia. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Suctioning (hisap lendir), pada pasien dengan sekresi banyak, tidak efektif batuk, atau obstruksi jalan napas, suction lendir dapat dilakukan (oral/nasofaring/laring/trakea sesuai indikasi) untuk mengeluarkan sekret dan membuka jalan napas. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Terapi inhalasi/nebulizer jika ada lendir keras/kental atau sekresi sulit dikeluarkan, untuk membantu mengencerkan sekret dan mempermudah expectorasi. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Oxygenasi dan ventilasi bila diperlukan, memantau saturasi, memberi oksigen jika hipoksia, dan mendukung pernapasan agar oksigenasi optimal sambil sekret dibersihkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Pendidikan dan dukungan pasien/keluarga, menjelaskan pentingnya drainase sekret, batuk efektif, posisi, teknik pernapasan, serta mengenali tanda komplikasi (sesak berat, penurunan saturasi) sehingga bisa bertindak cepat. Literatur review menyebut edukasi sebagai bagian penting dalam intervensi airway clearance. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Teknik Terapi Jalan Nafas
Beberapa teknik spesifik yang sering digunakan untuk membantu membersihkan jalan napas pada pasien dengan ketidakefektifan jalan napas antara lain:
-
Suctioning (Hisap Lendir), Melakukan hisap sekret melalui alat hisap (oral/nasal/trakeal) untuk mengeluarkan dahak atau sekret yang tidak bisa dikeluarkan secara spontan. Hal ini penting terutama pada pasien dengan batuk tidak efektif, penurunan kesadaran, atau airway artifisial. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Nebulizer / Terapi Inhalasi, Penggunaan nebulizer untuk mengencerkan sekret, mengurangi kekentalan lendir, dan memudahkan ekspektorasi. Terapi ini sering digunakan pada penyakit dengan produksi lendir berlebih, seperti bronkitis, PPOK, pneumonia, TB, atau asma. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Latihan Pernapasan & Batuk Efektif (Breathing Exercises dan Effective Cough Techniques), Mengajarkan pasien cara bernapas dalam, batuk efektif, dan teknik pernapasan yang mendukung mobilisasi sekret. Kombinasi latihan pernapasan, batuk efektif, dan posisi sering menjadi intervensi nonfarmakologi utama. [Lihat sumber Disini - kesans.rifainstitute.com]
-
Fisioterapi Dada (Chest Physiotherapy), Teknik postural drainage, perkusi (clapping), vibrasi dada, serta posisi tubuh tertentu untuk membantu drainase sekret dari bronkus ke jalan napas pusat sehingga bisa dikeluarkan. Banyak penelitian kasus di Indonesia menunjukkan efektivitas fisioterapi dada dalam meningkatkan pembersihan jalan napas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Contoh Kasus: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Nafas
Berikut contoh kasus nyata berdasarkan literatur di Indonesia:
Pada studi oleh Ken Utari Ekowati dkk (2022) terhadap pasien pneumonia di RSUD Ajibarang yang mengalami ketidakefektifan bersihan jalan napas: pasien menunjukkan tanda seperti suara napas tambahan (ronchi), frekuensi napas 26 x/menit, batuk berdahak namun dahak sulit dikeluarkan, dan pasien mengeluh susah bernapas saat batuk. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-notokusumo.ac.id] Intervensi yang dilakukan meliputi fisioterapi dada dan batuk efektif, hasilnya menunjukkan peningkatan pembersihan jalan napas.
Dalam kasus pasien dengan Tuberkulosis Paru, sebuah penelitian kasus deskriptif menunjukkan bahwa setelah intervensi berupa posisi semi-Fowler, latihan batuk efektif, dan suction lending, pada hari ke-3 pasien menunjukkan penurunan sesak napas dan jalan napas kembali paten. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Kasus lain pada pasien PPOK menggunakan kombinasi fisioterapi dada dan batuk efektif; hasil menunjukkan sputum lebih encer, dahak lebih mudah dikeluarkan, frekuensi batuk menurun, dan sesak napas berkurang. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Kesimpulan
Ketidakefektifan bersihan jalan napas adalah kondisi klinis yang serius di mana seseorang tidak mampu membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas, sehingga jalan napas tidak paten dan ventilasi serta oksigenasi terganggu. Kondisi ini bisa terjadi akibat berbagai faktor: produksi lendir berlebihan, sekresi kental, refleks batuk melemah, obstruksi, atau kondisi kronis paru seperti PPOK, TB paru, pneumonia, infeksi saluran napas.
Tanda-tanda gangguan meliputi batuk tidak efektif, sputum berlebih, napas berupa suara tambahan, sesak, napas cepat, dan kesulitan expectorasi. Oleh karena itu penilaian menyeluruh sangat penting: melalui anamnesis, auskultasi, pengamatan sekresi, saturasi oksigen, dan kemampuan batuk.
Intervensi keperawatan, termasuk posisi, latihan batuk efektif, fisioterapi dada, suctioning, terapi nebulizer, edukasi, terbukti efektif dalam membantu pembersihan jalan napas dan memulihkan patensi jalan napas. Teknik-teknik tersebut harus diterapkan secara sistematis, berdasarkan penilaian klinis, dengan observasi dan evaluasi berkelanjutan.
Dengan pemahaman yang baik dan penerapan intervensi yang tepat, risiko komplikasi (seperti hipoksia, infeksi, gagal napas) dapat diminimalkan, sehingga meningkatkan hasil keperawatan dan kesehatan pernapasan pasien.