Terakhir diperbarui: 15 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 15 December). Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/hubungan-kualitas-tidur-dengan-nafsu-makan-anak  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak - SumberAjar.com

Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak

Pendahuluan

Kualitas tidur merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak. Tidur bukan sekadar waktu istirahat, tetapi juga detik-detik penting bagi proses fisiologis dan psikologis tubuh untuk berfungsi optimal, termasuk dalam regulasi hormon dan metabolisme. Anak yang tidur dengan pola dan durasi yang cukup cenderung memiliki keseimbangan hormon yang baik, daya konsentrasi yang optimal, serta mampu mengatur energi tubuh secara efektif. Dalam dunia yang semakin modern, banyak anak menghadapi tantangan tidur, mulai dari penggunaan gadget di malam hari, jadwal tidur yang tidak teratur, hingga pola hidup yang kurang sehat, yang menjadi pemicu gangguan tidur dan, selanjutnya, dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan seperti nafsu makan dan status gizi anak. Berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas tidur memiliki hubungan erat dengan perilaku makan, regulasi hormon nafsu makan, hingga risiko obesitas pada anak. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam bagaimana kualitas tidur berkaitan dengan nafsu makan anak dan implikasinya terhadap kesehatan mereka.


Definisi Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak

Definisi Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Secara Umum

Hubungan kualitas tidur dengan nafsu makan anak secara umum merujuk pada keterkaitan antara seberapa baik seorang anak tidur (termasuk durasi, kontinuitas, dan kenyamanan tidur) dengan bagaimana tubuhnya mengatur rasa lapar dan konsumsi makanan sehari-hari. Kualitas tidur yang baik berarti tidur cukup lama dan nyenyak tanpa sering terjaga pada malam hari, yang berfungsi mendukung keseimbangan fisiologis tubuh termasuk hormon yang mengatur rasa lapar seperti leptin dan ghrelin. Ketidakseimbangan tidur dapat memengaruhi hormon-hormon ini sehingga berdampak pada nafsu makan anak; misalnya, anak yang kurang tidur bisa saja mengalami hunger cues yang lebih sering atau respon makan yang kurang terkontrol dibanding anak yang tidur cukup. Penelitian juga menunjukkan bahwa kualitas tidur yang buruk dapat berhubungan dengan pola makan yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula atau tinggi kalori yang lebih sering terjadi pada anak yang tidur kurang optimal [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

Definisi Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tidur berarti keadaan berhenti (mengaso) badan dan kesadarannya (biasanya dengan memejamkan mata), waktu ketika tubuh dan otak beristirahat untuk regenerasi dan pemulihan fungsi tubuh [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]. Kata makan berarti memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya; dalam konteks fisiologis, makan merupakan proses biologis untuk memperoleh energi dan nutrisi [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]. Ketika digabungkan dalam satu hubungan konsep, kualitas tidur mendapatkan makna tambahan sebagai kondisi tidur yang mendukung fungsi tubuh optimal, termasuk dalam proses makan dan regulasi nafsu makan yang sehat.

Definisi Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Menurut Para Ahli

  1. Guyton & Hall (1997) menyatakan bahwa tidur adalah keadaan bawah sadar di mana tubuh masih dapat dibangunkan oleh rangsang tertentu, namun secara fisiologis menjadikan tubuh pulih dan mengatur sistem hormon tubuh termasuk yang memengaruhi rasa lapar dan kenyang [Lihat sumber Disini - inthebox.net].

  2. Hermes et al. (2022) dalam penelitiannya menemukan bahwa kurangnya jam tidur dan kualitas tidur yang buruk dikaitkan dengan preferensi makanan rendah gizi serta konsumsi makanan yang lebih tinggi energi, yang pada akhirnya berdampak pada keseimbangan nafsu makan anak dan risiko obesitas [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

  3. Ramírez-Contreras et al. (2022) menjelaskan bahwa gangguan pada dimensi tidur, seperti durasi yang pendek dan gangguan tidur, berhubungan dengan perilaku makan obesogenik pada anak-anak, termasuk responsivitas terhadap makanan yang tinggi dan kualitas diet yang buruk [Lihat sumber Disini - frontiersin.org].

  4. Zhang et al. (2024) mencatat bahwa tidur yang pendek sering dikaitkan dengan peningkatan respons terhadap makanan pada anak, yang berarti bahwa anak lebih sensitif terhadap sinyal makanan dan cenderung makan lebih banyak, sehingga menghubungkan kualitas tidur dengan nafsu makan yang meningkat [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov].


Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur Anak

Kualitas tidur pada anak dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari aspek biologis, lingkungan, hingga perilaku sehari-hari. Salah satu faktor utama adalah durasi tidur; anak yang tidur kurang dari kebutuhan umumnya memiliki risiko gangguan tidur lebih tinggi serta mengalami gangguan keseimbangan energi yang memengaruhi nafsu makan dan perilaku makan mereka. Studi menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek berkaitan dengan peningkatan konsumsi makanan berenergi tinggi dan kelebihan asupan kalori pada anak kecil, terutama ketika tidur kurang dari jumlah jam yang direkomendasikan bagi kelompok usia mereka [Lihat sumber Disini - nccor.org].

Faktor lain yang turut memengaruhi kualitas tidur adalah lingkungan tidur. Faktor seperti kebisingan, penggunaan gadget sebelum tidur, atau pencahayaan yang tidak mendukung dapat mengganggu ritme sirkadian anak sehingga membuat tidur menjadi tidak nyenyak atau terlalu pendek. Fenomena ini diperkuat oleh sejumlah laporan yang menunjukkan prevalensi masalah tidur pada anak yang menggunakan perangkat elektronik di malam hari, yang pada akhirnya juga berdampak pada metabolisme termasuk pengaturan nafsu makan [Lihat sumber Disini - theguardian.com].

Pola aktivitas fisik harian juga berpengaruh terhadap kualitas tidur. Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung lebih sulit mencapai tidur yang nyenyak dibandingkan dengan anak yang aktif bergerak sepanjang hari. Selain itu, kebiasaan makan seperti konsumsi makanan tinggi gula atau minuman berkafein dekat dengan waktu tidur dapat menghambat kemampuan anak untuk tertidur dengan cepat dan mendalam. Faktor psikologis seperti stres atau kecemasan juga dapat memengaruhi tidur anak melalui mekanisme saraf dan hormon, yang kemudian berpotensi memengaruhi pola makan mereka karena tubuh memicu makan sebagai respon koping terhadap stres.

Kualitas tidur yang buruk berkaitan dengan disregulasi hormon nafsu makan seperti leptin dan ghrelin, di mana leptin yang biasanya memberi sinyal kenyang berkurang, sementara ghrelin yang memicu rasa lapar meningkat; perubahan hormon ini akhirnya memengaruhi pola makan anak, membuat mereka lebih sering merasa lapar dan cenderung memilih makanan yang tinggi energi dan rendah nutrisi [Lihat sumber Disini - e-jurnal.iphorr.com].


Mekanisme Tidur terhadap Regulasi Nafsu Makan

Di tingkat fisiologis, tidur memainkan peran penting dalam keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan. Dua hormon penting yang terlibat adalah leptin dan ghrelin. Leptin diproduksi oleh sel lemak dan memberi sinyal ke otak bahwa tubuh telah cukup mendapatkan energi, sehingga menekan rasa lapar, sedangkan ghrelin diproduksi di lambung dan memberi sinyal lapar kepada otak. Ketika anak mengalami kualitas tidur yang buruk atau durasi tidur yang tidak adekuat, produksi leptin menurun sementara produksi ghrelin meningkat, mendorong peningkatan rasa lapar dan konsumsi makanan yang lebih tinggi daripada kebutuhan energi sesungguhnya [Lihat sumber Disini - e-jurnal.iphorr.com].

Selain itu, sleep deprivation atau kurang tidur juga berdampak pada pusat pengaturan energi di otak dan keterlibatannya dalam pengambilan keputusan makan. Tidur yang tidak cukup dapat memengaruhi area reward otak yang membuat anak menjadi lebih responsif terhadap makanan tinggi energi dan rasa, sehingga lebih sulit untuk mengontrol pilihan makanan mereka. Studi menunjukkan bahwa anak yang tidur kurang cenderung memiliki respons makan yang lebih tinggi terhadap makanan palatable, makanan yang tinggi gula, lemak, atau kalori, sehingga meningkatkan risiko asupan kalori berlebih yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

Disregulasi ritme sirkadian akibat tidur yang tidak optimal juga berkontribusi terhadap gangguan metabolisme, di mana ritme tidur-bangun yang tidak stabil berdampak pada mekanisme pengaturan energi tubuh, termasuk metabolisme glukosa, sekresi insulin, dan penggunaan energi, yang keseluruhannya berkontribusi terhadap regulasi nafsu makan yang kurang sehat.


Hubungan Kurang Tidur dengan Pola Makan

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kurang tidur pada anak berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat dan peningkatan risiko konsumsi makanan tinggi energi. Sebagai contoh, anak yang tidur lebih sedikit pada malam hari cenderung memiliki preferensi makanan karena tubuh mencari energi cepat dari sumber makanan manis atau berlemak. Penelitian pada populasi anak usia sekolah menunjukkan adanya hubungan antara durasi tidur yang pendek dan peningkatan responsivitas makanan serta perilaku makan emosional yang lebih tinggi, yang semuanya merupakan indikator pola makan yang kurang sehat dan berisiko terhadap kelebihan energi atau obesitas [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

Selain itu, bukti penelitian lain menunjukkan bahwa anak dengan kualitas tidur buruk dan durasi tidur yang pendek memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula, yang merupakan ciri pola makan tidak sehat. Pola makan ini tidak hanya meningkatkan asupan energi berlebih tetapi juga menurunkan asupan makanan bernutrisi seperti buah dan sayuran, yang pada gilirannya dapat memengaruhi keseimbangan nutrisi dan status gizi mereka secara keseluruhan [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].

Faktor lain seperti kebiasaan makan larut malam juga lebih sering ditemui pada anak yang tidur terlambat, di mana tubuh melalui mekanisme hormon lapar cenderung meminta asupan makanan di luar jam makan utama sehingga mengubah pola makan normal mereka. Konsumsi makanan pada malam hari sering kali terdiri dari makanan ringan yang tinggi kalori dan rendah serat serta nutrisi, sehingga berkontribusi pada pola makan yang kurang ideal yang berhubungan dengan masalah metabolik seperti resistensi insulin dan peningkatan risiko obesitas jangka panjang.


Dampak Kualitas Tidur terhadap Status Gizi

Status gizi anak merupakan gambaran dari keseimbangan asupan energi dan nutrisi dibanding kebutuhan tubuh. Kualitas tidur yang buruk dapat menjadi faktor risiko yang memengaruhi status gizi, terutama melalui mekanisme yang berdampak pada pola makan, pilihan makanan, dan metabolisme energi. Penelitian di lingkungan pendidikan menengah menunjukkan bahwa kualitas tidur buruk dikaitkan dengan overweight atau kelebihan berat badan. Hal ini disebabkan oleh perubahan dalam kebiasaan makan, seperti peningkatan konsumsi energi serta respons makan yang berlebihan sebagai respon terhadap kurangnya tidur [Lihat sumber Disini - jurnal.polkesban.ac.id].

Selain itu, pada anak usia sekolah, kualitas tidur yang buruk terkait dengan diet berkualitas rendah, respons makanan yang tinggi terhadap isyarat makanan, dan rendahnya kemampuan untuk merasakan kenyang, semuanya berkontribusi terhadap ketidakseimbangan energi dan perkembangan masalah status gizi seperti obesitas atau kelebihan berat badan [Lihat sumber Disini - frontiersin.org].

Mekanisme lain yang termasuk adalah gangguan pada ritme metabolik tubuh akibat kurang tidur, yang dapat memengaruhi sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa. Ketika metabolisme energi tidak seimbang, anak memiliki kecenderungan untuk menyimpan kalori sebagai lemak tubuh, yang memengaruhi status gizi menjadi kurang ideal atau obesitas. Selain itu, asupan nutrisi makro dan mikro yang kurang optimal juga terlihat pada anak yang tidak tidur cukup, yang pada akhirnya mengganggu pertumbuhan dan perkembangan mereka secara keseluruhan.


Peran Orang Tua dalam Mengatur Pola Tidur

Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola tidur anak yang sehat. Struktur rutinitas jadwal tidur yang konsisten setiap hari penting untuk mengatur ritme sirkadian anak sehingga tubuh mengetahui kapan waktunya beristirahat dan kapan waktunya bangun. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidur yang konsisten membantu anak mencapai tidur yang lebih nyenyak dan durasi tidur yang ideal, yang berdampak positif pada regulasi hormon dan pola makan mereka.

Selain itu, lingkungan tidur yang mendukung seperti kamar yang tenang, tidak terlalu terang, serta bebas dari gangguan gadget atau televisi, membantu anak mencapai tidur lebih berkualitas. Anak yang tidur tanpa gangguan perangkat elektronik cenderung memiliki tidur yang lebih baik dibandingkan mereka yang menggunakan gadget di kamar tidur menjelang waktu tidur malam, faktor yang telah dikaitkan dengan gangguan tidur secara umum.

Pendidikan mengenai nutrisi dan pola makan sehat juga harus disertakan oleh orang tua sebagai bagian dari pembelajaran rutin anak. Karena pola makan yang sehat membantu memperbaiki kualitas tidur dan sebaliknya, perhatian orang tua terhadap apa yang dikonsumsi anak pada sore menjelang malam dan memastikan tidak ada konsumsi makanan berat atau tinggi gula dekat dengan waktu tidur dapat membantu anak tidur lebih nyenyak dan menjaga keseimbangan nafsu makan serta status gizi mereka.


Kesimpulan

Hubungan antara kualitas tidur dan nafsu makan anak sangat kompleks dan melibatkan banyak mekanisme biologis dan perilaku. Kualitas tidur yang baik mendukung regulasi hormon leptin dan ghrelin, membantu anak mengontrol rasa lapar dan kenyang secara efektif, serta berhubungan dengan pola makan yang lebih sehat. Sebaliknya, kurang tidur dapat memicu peningkatan respons terhadap makanan dan konsumsi energi yang berlebihan, serta perubahan dalam pilihan makanan yang berkontribusi terhadap status gizi yang kurang ideal seperti overweight atau obesitas. Berbagai faktor seperti durasi tidur, lingkungan tidur, aktivitas fisik, dan kebiasaan makan ikut menentukan kualitas tidur anak. Peran orang tua dalam mengatur pola tidur dan kebiasaan makan anak sangat penting untuk mendukung perkembangan anak secara keseluruhan, baik dari segi tumbuh kembang maupun keseimbangan nutrisi. Penanganan dan pencegahan masalah tidur melalui rutinitas tidur yang baik, pembatasan penggunaan gadget, serta pendidikan gizi dapat menjadi langkah efektif dalam menjaga kesehatan anak secara menyeluruh.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kualitas tidur pada anak adalah kondisi tidur yang mencakup durasi tidur yang cukup, tidur yang nyenyak tanpa gangguan, serta waktu tidur dan bangun yang teratur sesuai kebutuhan usia anak.

Kualitas tidur berhubungan erat dengan nafsu makan anak karena tidur memengaruhi keseimbangan hormon lapar dan kenyang. Anak dengan kualitas tidur buruk cenderung mengalami peningkatan rasa lapar dan pola makan yang kurang terkontrol.

Kurang tidur dapat meningkatkan hormon pemicu lapar dan menurunkan hormon penekan nafsu makan, sehingga anak lebih sering merasa lapar dan cenderung mengonsumsi makanan berkalori tinggi.

Ya, kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada status gizi anak karena memengaruhi pola makan, metabolisme energi, serta risiko terjadinya kelebihan berat badan atau obesitas.

Orang tua berperan penting dalam mengatur jadwal tidur yang konsisten, menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, serta mengatur pola makan anak agar mendukung kualitas tidur yang baik.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengetahuan Ibu tentang Pola Tidur Bayi Pengetahuan Ibu tentang Pola Tidur Bayi Kualitas Tidur Pasien: Konsep dan Contoh Intervensi Kualitas Tidur Pasien: Konsep dan Contoh Intervensi Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Kualitas Tidur Pasien: Gangguan Umum dan Implikasi Keperawatan Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur Bayi Baru Lahir Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Tidur Bayi Baru Lahir Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Masyarakat tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pola Tidur Ibu Selama Kehamilan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penambah Nafsu Makan Pola Istirahat dan Tidur Pasien Pola Istirahat dan Tidur Pasien Pola Istirahat dan Tidur Pasien: Konsep, Gangguan, dan Dampaknya Pola Istirahat dan Tidur Pasien: Konsep, Gangguan, dan Dampaknya Pola Tidur Ibu Hamil: Konsep, Gangguan Tidur, dan Dampaknya Pola Tidur Ibu Hamil: Konsep, Gangguan Tidur, dan Dampaknya Hubungan Pola Tidur dengan Respons Terapi Hubungan Pola Tidur dengan Respons Terapi Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pola Tidur Masyarakat Perkotaan Pola Tidur Masyarakat Perkotaan Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Asupan Magnesium dengan Kualitas Tidur Hubungan Asupan Magnesium dengan Kualitas Tidur Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…