
Pola Istirahat dan Tidur Pasien
Pendahuluan
Periode istirahat dan tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan pasien selama rawat inap. Tidur yang cukup dan berkualitas mendukung fungsi fisiologis, mempercepat penyembuhan, serta menjaga stabilitas psikologis pasien. Namun di lingkungan rumah sakit, dengan intervensi medis, perawatan intensif, kebisingan, dan gangguan lingkungan, pasien rawat inap sering kali mengalami kesulitan tidur atau pola tidur yang tidak optimal. Oleh sebab itu, pemahaman tentang pola istirahat dan tidur pasien serta intervensi keperawatan yang tepat menjadi hal krusial guna mendukung pemulihan dan kenyamanan pasien. Artikel ini membahas pengertian, faktor yang memengaruhi, gangguan tidur yang umum, cara menilai kualitas tidur, intervensi keperawatan, dampak tidur buruk, serta contoh gangguan tidur pada pasien rawat inap.
Definisi Pola Istirahat dan Tidur
Definisi Pola Istirahat dan Tidur Secara Umum
Secara umum, pola istirahat dan tidur merujuk pada ritme biologis harian seseorang yang mencakup periode tidur dan bangun, waktu tidur, durasi, serta kualitas tidur. Pola ini mencakup aspek kuantitas, seperti berapa jam tidur, dan aspek kualitas, misalnya seberapa nyenyak tidur, gangguan saat tidur, waktu terbangun, dan perasaan segar saat bangun. Bagi pasien, pola ini sangat penting karena tidur berperan dalam proses penyembuhan fisik, penguatan sistem imun, memulihkan energi, serta stabilitas mental.
Definisi Pola Istirahat dan Tidur dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “istirahat” berarti kegiatan berhenti sejenak dari bekerja atau aktivitas untuk memulihkan tenaga dan pikiran, sedangkan “tidur” berarti keadaan tidak sadar yang bersifat fisiologis di mana fungsi tubuh terendapkan untuk regenerasi. Oleh karena itu, pola istirahat dan tidur menggambarkan bagaimana seseorang menjadwalkan dan menjalani periode istirahat dan tidur secara teratur untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikiran.
Definisi Pola Istirahat dan Tidur Menurut Para Ahli
Dibawah ini beberapa pengertian menurut para ahli dan literatur keperawatan/ilmu tidur:
-
Menurut tinjauan sistematis oleh Nursing Interventions to Improve the Sleep Quality of Hospitalized Patients: A Systematic Review and Meta‑analysis (2024), pola tidur meliputi aspek kuantitas dan kualitas tidur pasien rawat inap, yaitu jumlah jam tidur, terfragmentasi tidur, serta tidur yang tidak nyenyak akibat gangguan eksternal seperti kebisingan atau intervensi medis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam studi A Determinants of Sleep Quality Among Postoperative Patients in Surgical Wards tahun 2025, pola tidur pada pasien pasca operasi dipengaruhi oleh intensitas rasa sakit, kecemasan, serta kenyamanan lingkungan, menekankan bahwa tidur berkualitas bukan hanya soal durasi, tetapi juga kenyamanan fisik dan psikologis. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Menurut penelitian Gambaran Kenyamanan dan Kualitas Tidur pada Pasien Rawat Inap (2024), pola tidur juga berkaitan erat dengan tingkat kenyamanan dan persepsi subjektif pasien terhadap lingkungan rumah sakit, jika pasien merasa tidak nyaman, kualitas tidur bisa menurun secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Dalam kerangka keperawatan, istilah pola tidur sering diasosiasikan dengan kebutuhan dasar manusia menurut teori kebutuhan dasar, di mana tidur dan istirahat termasuk kebutuhan fundamental untuk homeostasis dan kesejahteraan pasien. Meskipun literatur spesifik di konteks Indonesia terbatas, kerangka ini umum dipakai dalam praktik keperawatan.
Faktor yang Mempengaruhi Tidur Pasien
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada banyak faktor, internal maupun eksternal, yang dapat memengaruhi pola tidur dan kualitas tidur pasien rawat inap. Berikut faktor-faktornya:
-
Nyeri dan kondisi fisik: Pada pasien pasca operasi, intensitas nyeri berhubungan signifikan dengan gangguan tidur. Dalam studi 2025, sekitar 68, 3% pasien melaporkan nyeri sedang-berat, 55% merasakan lingkungan ruang rawat tidak nyaman, dan 65% melaporkan tidur tidak tercukupi. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Kecemasan dan stres psikologis: Kecemasan sebelum atau pasca prosedur, ketidakpastian kondisi, serta stres emosional dapat mengganggu tidur. Studi yang sama menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kecemasan dengan kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Lingkungan ruang rawat inap: Faktor seperti kebisingan, cahaya, frekuensi interaksi pasien (misalnya vital sign, perawatan), serta kenyamanan kamar (suhu, kebersihan, privasi) dapat memengaruhi tidur. Dalam penelitian di ruang ICU/ruang rawat, kebisingan dan ketidaknyamanan lingkungan secara konsisten disebut sebagai penyebab gangguan tidur. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Ritme perawatan dan intervensi medis: Jadwal perawatan, pemeriksaan rutin, obat-obatan, serta intervensi medis dapat memecah tidur pasien sehingga tidur menjadi terfragmentasi dan tidak kontinu. Beberapa literatur menyebut bahwa rutinitas rumah sakit sering menjadi pemicu gangguan tidur pada pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Karakteristik individu: Faktor usia, jenis kelamin, status fisiologis (misalnya pasca bedah, penyakit kronis), serta kondisi komorbiditas dapat mempengaruhi kebutuhan dan kemampuan tidur pasien. Misalnya, perubahan kondisi fisik atau adanya rasa sakit akan mempengaruhi durasi dan kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
Gangguan Tidur pada Pasien Rawat Inap
Pada pasien rawat inap, gangguan tidur, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, cukup umum terjadi. Beberapa gangguan yang sering ditemukan:
-
Tidur terfragmentasi / sering terbangun, banyak pasien melaporkan bahwa tidur mereka terpotong karena intervensi medis, pemeriksaan, atau perawatan berkala. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Insomnia atau kesulitan memulai/tidur nyenyak, rasa sakit, kecemasan, atau ketidaknyamanan ruang sering menyebabkan pasien sulit memulai tidur atau tetap tertidur. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Tidur yang tidak memadai secara durasi, beberapa pasien melaporkan jumlah jam tidur jauh di bawah kebutuhan, terutama di ruang intensif atau pasca operasi. [Lihat sumber Disini - janh.candle.or.id]
-
Gangguan tidur karena lingkungan / kebisingan / intervensi, suara dari peralatan medis, aktivitas perawatan, pencahayaan ruangan, serta mobilisasi pasien bisa mengganggu proses tidur. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Gangguan tidur terkait faktor psikologis, kecemasan, stres, ketidakpastian kondisi, atau rasa sakit yang berkepanjangan bisa menurunkan kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
Penilaian Kualitas Tidur
Penilaian kualitas tidur pada pasien rawat inap biasanya dilakukan dengan menggunakan instrumen standar dan skala subjektif, serta observasi klinis. Beberapa metode dan pendekatan:
-
Skor dari instrumen standar seperti Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) atau kuesioner tidur lainnya, sebagaimana dipergunakan dalam meta-analisis intervensi keperawatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kuesioner evaluasi kenyamanan lingkungan dan persepsi subjektif pasien terhadap lingkungan tidur, untuk menilai apakah aspek eksternal seperti kebisingan, cahaya, suhu, dan intervensi mengganggu tidur. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Observasi langsung oleh perawat atau tim medis, seperti frekuensi terbangun, durasi tidur, waktu tidur, terutama pada unit intensif atau pasien dengan risiko tinggi gangguan tidur. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Riwayat medis dan kondisi pasien, termasuk nyeri, kecemasan, penggunaan obat, kondisi pasca operasi, yang dapat memengaruhi tidur; evaluasi menyeluruh diperlukan agar intervensi bisa tepat sasaran. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Kualitas Tidur
Intervensi keperawatan terbukti dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur pasien rawat inap. Beberapa intervensi efektif berdasarkan literatur:
-
Relaksasi, musik terapi, dan penggunaan penutup telinga / penutup mata, meta-analisis tahun 2024 menunjukkan bahwa teknik relaksasi, musik, serta earplugs/eye masks memiliki efek positif terhadap peningkatan kualitas tidur (menurunkan skor PSQI/SMHSQ). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Foot massage (pijat kaki), studi pada pasien rawat inap menunjukkan bahwa pemberian foot massage membantu memperbaiki kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespantiwaluya.ac.id]
-
Pengaturan lingkungan ruang rawat inap, mengurangi kebisingan, mengoptimalkan pencahayaan, menjaga kenyamanan suhu, serta mengatur jadwal intervensi agar tidak mengganggu tidur dapat membantu. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Perhatian terhadap faktor psikologis: manajemen nyeri, kecemasan, dan stres, karena nyeri, kecemasan, dan ketidaknyamanan berhubungan signifikan dengan gangguan tidur. Oleh karena itu, perawatan holistik yang mencakup manajemen nyeri dan dukungan psikologis penting diterapkan. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Pendekatan individual sesuai kondisi pasien, karena tiap pasien berbeda: usia, kondisi, jenis penyakit, serta respons terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, intervensi harus disesuaikan secara personal. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
Dampak Tidur Buruk terhadap Pemulihan
-
Perlambatan penyembuhan dan pemulihan fisik: Tidur yang tidak mencukupi atau kurang berkualitas menyebabkan gangguan proses regenerasi sel, menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan luka atau kondisi pasca operasi. Studi pada pasien post-operasi menunjukkan bahwa gangguan tidur dapat memperparah persepsi nyeri dan memperpanjang masa pemulihan. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Penurunan kenyamanan dan kualitas hidup pasien: Gangguan tidur dapat membuat pasien merasa lelah, gelisah, cemas, dan tidak nyaman, sehingga mengurangi kualitas hidup dan kenyamanan selama rawat inap. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Dampak psikologis: kecemasan, stres, penurunan mood: Tidur buruk berkepanjangan dapat memengaruhi kondisi mental, memperparah kecemasan, stres, dan kemungkinan depresi, yang pada gilirannya memengaruhi pemulihan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Gangguan fungsi harian dan mobilisasi: Kurang tidur dapat menurunkan energi, membuat pasien mudah lelah, kurang bersemangat untuk mobilisasi atau rehabilitasi, sehingga memperpanjang masa rawat inap. [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
Contoh Gangguan Tidur pada Pasien
Berikut beberapa contoh nyata gangguan tidur yang sering terjadi pada pasien rawat inap:
-
Pasien post-operasi yang sulit tidur karena nyeri dan ketidaknyamanan ruang, sehingga tidur lebih sedikit dan terfragmentasi (misalnya pasien di penelitian 2025). [Lihat sumber Disini - junic.professorline.com]
-
Pasien di ruang ICU dengan gangguan tidur akibat kebisingan, pemeriksaan rutin, intervensi medis, tidur sering terputus dan tidak nyenyak. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Pasien yang cemas atau stres akibat kondisi penyakit atau ketidakpastian masa pemulihan, menghambat proses tidur atau menyebabkan insomnia ringan-berat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Pasien yang harus sering dibangunkan untuk pemeriksaan vital sign atau perawatan, sehingga pola tidur menjadi tidak teratur dan kualitas tidur menurun. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kesimpulan
Pola istirahat dan tidur pada pasien rawat inap merupakan aspek penting dalam proses pemulihan, kesehatan fisik, dan kestabilan psikologis. Faktor internal (nyeri, kecemasan, kondisi fisik) dan eksternal (lingkungan ruang, intervensi medis, kebisingan) dapat secara signifikan memengaruhi kualitas dan kuantitas tidur pasien. Gangguan tidur pada pasien rawat inap sering terjadi, dan dapat berdampak buruk terhadap pemulihan, kenyamanan, serta kesejahteraan pasien. Oleh karena itu, intervensi keperawatan yang tepat, seperti relaksasi, musik terapi, foot massage, pengaturan lingkungan, serta manajemen nyeri dan stres, sangat penting untuk meningkatkan kualitas tidur pasien. Penilaian kualitas tidur melalui instrumen standar serta observasi klinis juga penting dilakukan rutin. Keperawatan holistik dan berbasis kebutuhan individu perlu diimplementasikan agar pasien mendapatkan istirahat dan tidur yang optimal sehingga mendukung penyembuhan dan pemulihan secara maksimal.