
Kurikulum Merdeka di SD: konsep, prinsip, dan implementasi
Pendahuluan
Kurikulum Merdeka merupakan inovasi pendidikan terbesar di Indonesia yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21 serta meningkatkan kualitas belajar peserta didik di sekolah dasar. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan kebebasan lebih besar kepada sekolah dan guru dalam menyusun proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswa, sekaligus mempertahankan karakter kebangsaan melalui Profil Pelajar Pancasila yang kuat. Inovasi ini menjadi respons terhadap perubahan lingkungan pendidikan pasca pandemi COVID-19 serta tuntutan masyarakat terhadap pendidikan yang lebih relevan, kreatif, dan efektif dalam menyiapkan generasi masa depan Indonesia yang kompeten dan adaptif. Penelitian akademik menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka berfokus pada penguatan karakter, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan pembelajaran yang lebih fleksibel serta kontekstual sesuai kebutuhan peserta didik. ([Lihat sumber Disini - jonedu.org])
Definisi Kurikulum Merdeka
Definisi Kurikulum Merdeka Secara Umum
Kurikulum Merdeka secara umum adalah sebuah kerangka kurikulum pendidikan di Indonesia yang memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum dan strategi pembelajaran sesuai dengan konteks lokal, kebutuhan peserta didik, dan tuntutan abad ke-21. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis kompetensi yang mencakup kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Selain itu, Kurikulum Merdeka juga mendorong peran aktif peserta didik dalam mengatur proses belajarnya, serta memberikan fleksibilitas pada guru dan sekolah untuk memilih metode, materi, dan asesmen yang tepat. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Definisi Kurikulum Merdeka dalam KBBI
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah kurikulum merujuk pada rangkaian rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ketika digabung dengan istilah merdeka, yakni kebebasan atau otonomi, maka Kurikulum Merdeka dapat diartikan sebagai pendekatan kurikulum yang memberi otonomi lebih besar kepada pihak sekolah untuk merancang dan mengelola pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik dan karakter daerah masing-masing. Definisi ini mendasari pendekatan kurikulum yang fleksibel dan berpusat pada murid. (definisi istilah kurikulum dalam KBBI sesuai laman resmi KBBI Online).
Definisi Kurikulum Merdeka Menurut Para Ahli
Menurut Syafriani dkk., Kurikulum Merdeka adalah kebijakan pendidikan yang menekankan pembelajaran berbasis kompetensi, diferensiasi, dan penguatan Profil Pelajar Pancasila untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. ([Lihat sumber Disini - journal.abdurraufinstitute.org])
Lestari menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan sebuah upaya pemerintah untuk merevitalisasi pendidikan dasar agar lebih relevan, kreatif, inovatif, dan responsif terhadap perubahan zaman serta kebutuhan peserta didik. ([Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id])
Berdasarkan penelitian Hasan Hasibuan dan rekan lainnya, prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka menekankan fleksibilitas, inklusivitas, dan konteks pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sehingga mengembangkan potensi masing-masing siswa secara optimal. ([Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id])
Menurut Umar (2025), Kurikulum Merdeka juga dipandang sebagai bentuk reformasi pendidikan yang berfokus pada pemulihan kualitas belajar melalui pendekatan yang lebih adaptif terhadap gaya belajar siswa dan keberagaman kebutuhan mereka. ([Lihat sumber Disini - edupij.com])
Prinsip-Prinsip Kurikulum Merdeka
Prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka berakar dari kebutuhan untuk menyesuaikan pendidikan dengan tuntutan global sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya nasional. Beberapa prinsip utama Kurikulum Merdeka antara lain:
Fleksibilitas pembelajaran merupakan prinsip yang memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan untuk menentukan materi, metode pembelajaran, dan asesmen sesuai kebutuhan siswa, sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang relevan dan bermakna. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Pembelajaran berbasis kompetensi menjadi dasar utama, di mana kurikulum tidak hanya menekankan penguasaan konten, tetapi pengembangan kompetensi yang mencakup berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, dan keterampilan interpersonal. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila menjadi landasan moral dan kebangsaan Kurikulum Merdeka. Profil ini mencakup dimensi seperti keimanan, keberagaman, gotong royong, kemandirian, bernalar kritis, dan kreativitas, yang semuanya diintegrasikan dalam proses pembelajaran. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa menempatkan guru sebagai fasilitator yang mendampingi proses belajar siswa secara aktif serta mendorong eksplorasi dan refleksi peserta didik sesuai dengan potensi mereka. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Prinsip inklusivitas dan diferensiasi di mana pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa, sehingga setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang secara optimal. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Karakteristik Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar
Kurikulum Merdeka di SD menunjukkan karakteristik khas dibandingkan kurikulum terdahulu, terutama Kurikulum 2013, melalui beberapa aspek berikut:
Pertama, adanya pembelajaran yang lebih fleksibel berdasarkan minat dan kebutuhan peserta didik, sehingga sekolah dapat menyesuaikan materi ajar dan strategi pembelajaran secara kontekstual. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Kedua, penekanan kuat pada kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, yang menjadi fokus utama dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Ketiga, integrasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menjadi bagian penting dari struktur pembelajaran, di mana siswa terlibat dalam proyek-proyek nyata yang memperkuat karakter dan keterampilan mereka. ([Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org])
Keempat, pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan kegiatan belajar dengan perbedaan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa, sehingga setiap anak merasa dihargai dan terpacu untuk berkembang. ([Lihat sumber Disini - rayyanjurnal.com])
Kelima, perpaduan antara pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang tetap relevan dengan tuntutan kurikulum, serta memberi ruang bagi eksplorasi minat dan bakat siswa. ([Lihat sumber Disini - proceeding.unnes.ac.id])
Struktur Kurikulum Merdeka di SD
Struktur Kurikulum Merdeka di SD dibangun secara sistematis untuk memastikan pencapaian tujuan pembelajaran sesuai fase pertumbuhan siswa. Struktur ini dibagi menjadi tiga fase besar:
Fase A untuk siswa kelas I dan II, Fase B untuk siswa kelas III dan IV, serta Fase C untuk siswa kelas V dan VI. Setiap fase memiliki pembagian alokasi jam pembelajaran berdasarkan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan oleh kebijakan kurikulum. ([Lihat sumber Disini - jurnal.stkippersada.ac.id])
Struktur kurikulum ini tidak lagi mengacu pada pembagian jam pelajaran per minggu seperti tradisi sebelumnya, tetapi menggunakan alokasi jam per tahun yang memberi ruang bagi fleksibilitas dan inovasi pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. ([Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org])
Selain itu, struktur kurikulum tidak hanya mencakup pembelajaran intrakurikuler tetapi juga mencakup kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan layanan pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhan sekolah. ([Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id])
Mata pelajaran wajib seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS tetap dipertahankan, namun sekolah memiliki keleluasaan untuk menambah muatan lokal, program karakter, dan kegiatan inovatif lain yang relevan dengan visi sekolah. ([Lihat sumber Disini - researchhub.id])
Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran
Implementasi Kurikulum Merdeka di SD menuntut perubahan pola pikir dan pendekatan praktik pembelajaran dari guru dan sekolah. Beberapa strategi implementasi yang sering ditemukan dalam penelitian akademik meliputi penggunaan pembelajaran yang berpusat pada siswa, diferensiasi strategi belajar, proyek kolaboratif, dan asesmen formatif yang komprehensif. ([Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id])
Dalam praktiknya, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam mengeksplorasi materi dan keterampilan secara mandiri. Ini termasuk pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar yang beragam di kelas serta penerapan pendekatan kontekstual yang relevan dengan kehidupan peserta didik. ([Lihat sumber Disini - pgmi.uin-malang.ac.id])
Selain itu, sekolah yang berhasil mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif biasanya memberikan dukungan yang kuat berupa pelatihan guru, penyediaan sumber daya teknologi, dan keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran. ([Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id])
Tantangan Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar
Banyak studi mengungkapkan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka memiliki banyak potensi, implementasinya di sekolah dasar menghadapi sejumlah tantangan nyata. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman dan kesiapan guru serta tenaga pendidik dalam menerapkan pendekatan pembelajaran baru yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. ([Lihat sumber Disini - ejournal.undiksha.ac.id])
Penelitian lain juga menunjukkan adanya kesulitan dalam menyesuaikan administrasi kurikulum dan dokumentasi sekolah dengan tuntutan reflektif dan pembelajaran mendalam yang diharapkan oleh Kurikulum Merdeka. ([Lihat sumber Disini - ejournal.stai-tbh.ac.id])
Tantangan lain termasuk kebutuhan infrastruktur pendidikan yang memadai, seperti fasilitas teknologi dan informasi, untuk mendukung metode pembelajaran modern; serta dukungan orang tua dan komunitas dalam memahami perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih partisipatif. ([Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id])
Selain itu, evaluasi dan monitoring kurikulum yang efektif juga menjadi isu penting, karena kurikulum ini menuntut asesmen yang lebih autentik dan kontekstual, yang sering kali memerlukan pelatihan khusus bagi guru untuk menerapkannya dengan benar. ([Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id])
Kesimpulan
Kurikulum Merdeka di sekolah dasar merupakan sebuah inovasi kurikulum yang mengedepankan fleksibilitas, pembelajaran berbasis kompetensi, dan penguatan karakter peserta didik melalui Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum ini memberi keleluasaan bagi sekolah dan guru untuk merancang strategi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa dan kondisi lokal, sehingga memberikan ruang bagi kreativitas dan kemajuan dalam proses pembelajaran. Struktur kurikulum terbagi dalam beberapa fase yang disesuaikan dengan pertumbuhan siswa serta mencakup pembelajaran intrakurikuler dan kegiatan proyek yang memperkuat karakter.
Implementasi Kurikulum Merdeka membawa banyak peluang seperti peningkatan kualitas pembelajaran, pengembangan kompetensi abad ke-21, serta keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Namun, tantangan seperti kesiapan guru, kebutuhan fasilitas, dan dukungan administrasi tetap menjadi perhatian penting agar kurikulum ini dapat terlaksana secara efektif. Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka memiliki potensi besar untuk mentransformasi pendidikan dasar di Indonesia menuju pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan responsif terhadap perubahan zaman.