
Longsor: Konsep, Faktor Pemicu, dan Dampak Geoteknik
Pendahuluan
Tanah longsor merupakan salah satu bencana geologi yang membahayakan kehidupan manusia dan infrastruktur yang terjadi di banyak wilayah di Indonesia dan dunia. Potensi longsor seringkali meningkat di daerah dengan topografi curam, curah hujan tinggi, serta aktivitas manusia yang mengubah kondisi lereng alam. Fenomena ini tidak hanya menyebabkan kerugian materiil besar tetapi juga ancaman terhadap keselamatan masyarakat karena pergerakan massa tanah atau batuan yang sangat cepat dan masif. Penelitian dan pemahaman mengenai longsor menjadi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan mengembangkan strategi mitigasi yang efektif bagi pemerintah dan masyarakat. ([Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org])
Longsor seringkali dikaitkan dengan proses geoteknik, yang berkaitan dengan kestabilan lereng tanah dan batuan. Analisis geoteknik membantu menentukan bagaimana kondisi tanah dan batuan serta faktor lingkungan lainnya dapat memicu terjadinya longsor, serta apa dampaknya terhadap infrastruktur dan lingkungan. Dengan memahami faktor pemicu, mekanisme gerakan massa tanah, serta jenis-jenis longsor, strategi pengendalian dan mitigasi dapat dioptimalkan agar dampak dari longsor dapat direduksi. Studi ilmiah yang tersedia menunjukkan bahwa faktor alam dan manusia berinteraksi kompleks dalam menyebabkan kejadian longsor, sehingga perlunya pendekatan multidisipliner dalam penanganannya. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Definisi Longsor
Definisi Longsor Secara Umum
Tanah longsor adalah peristiwa geologi yang ditandai oleh pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng akibat gaya gravitasi, yang terjadi ketika keseimbangan lereng terganggu. Pergerakan tersebut melibatkan tanah, batuan, atau material campuran yang bergerak baik secara tiba-tiba maupun lambat, dengan berbagai mekanisme seperti jatuhan, gelinciran, atau aliran. Pergerakan massa ini seringkali berpotensi menimbulkan kerusakan yang signifikan terhadap ekosistem lingkungan dan kehidupan manusia bila terjadi di daerah pemukiman atau infrastruktur penting. ([Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org])
Menurut laman United Nations dan data internasional lainnya, tanah longsor atau landslide mengacu pada berbagai proses yang menyebabkan material pembentuk lereng bergerak turun dan menyebar keluar dari lereng. Proses tersebut dapat terjadi dalam berbagai kondisi medan, termasuk pegunungan, tebing pantai, atau bahkan di bawah laut, tergantung dari gradien lereng dan karakteristik material tanah itu sendiri. ([Lihat sumber Disini - indonesia.un.org])
Definisi Longsor dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “longsor” diartikan sebagai kejadian di mana tanah atau material lain “gugur dan meluncur ke bawah” dari suatu permukaan, khususnya tanah yang tergeser oleh gaya gravitasi sehingga menimbulkan perubahan bentuk permukaan bumi. Definisi ini menunjukkan esensi dasar fenomena longsor sebagai gerakan material lereng secara vertikal atau miring ke bawah. ([Lihat sumber Disini - kbbi.web.id])
Definisi Longsor Menurut Para Ahli
-
Menurut para ahli geologi dan teknik lingkungan, tanah longsor adalah suatu peristiwa gerakan massa tanah dan batuan yang turun di lereng sebagai akibat terganggunya kestabilan material tersebut, terutama ketika gaya penahan tanah lebih kecil dari gaya pendorong yang bekerja (seperti air dan gaya gravitasi). ([Lihat sumber Disini - esdm.go.id])
-
Berdasarkan pemahaman dari sumber internasional, landslide atau longsor didefinisikan sebagai berbagai bentuk pergerakan tanah dan batuan di permukaan bumi yang melibatkan sejumlah besar massa material bergerak akibat gaya gravitasi, seringkali dipicu oleh peristiwa lingkungan tertentu seperti hujan intens atau gempa bumi. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
-
Dalam perspektif rekayasa geoteknik, longsor dipandang sebagai fenomena ketika bidang gelincir dalam tanah atau batuan kehilangan kekuatan gesernya dan menyebabkan struktur lereng menjadi tidak stabil, sehingga massa tanah di atasnya mulai bergerak ke bawah. ([Lihat sumber Disini - indonesia.un.org])
-
Beberapa ahli hazard geologi juga menekankan bahwa longsor melibatkan kombinasi faktor medan, hidrogeologi, dan aktivitas manusia yang secara kolektif memengaruhi kestabilan lereng di suatu daerah tertentu. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Jenis-Jenis Longsor
Longsor dapat dikategorikan berdasarkan mekanisme gerakannya dan jenis material yang terlibat. Salah satu klasifikasi umum yang sering dirujuk dalam literatur geologi adalah pembagian berdasarkan jenis mekanisme pergerakan massa tanah dan batuan. Menurut pengelompokan ini, longsor meliputi beberapa bentuk dasar seperti jatuhan, gelinciran, dan aliran material, yang masing-masing memiliki karakteristik gerak yang berbeda. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Pergerakan tanah atau tanah longsor dapat dibedakan menjadi beberapa tipe, termasuk longsoran translasi dan rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, serta aliran bahan rombakan. Longsoran translasi adalah jenis longsor di mana massa tanah dan batuan bergerak pada bidang gelincir yang relatif datar atau landai, sedangkan longsoran rotasi terjadi pada bidang gelincir yang berupa cekungan. Pergerakan blok terjadi ketika bagian batuan bergerak secara utuh pada sebuah bidang gelincir tertentu. Runtuhan batu merupakan longsor berupa jatuhan besar material batu yang turun bebas dari lereng yang sangat terjal. Rayapan tanah merupakan bentuk longsor yang berlangsung sangat lambat tetapi terus menerus, sementara aliran bahan rombakan adalah gerakan massa tanah yang didorong oleh air sehingga terlihat seperti aliran yang lebih cepat dan jauh mencapai lembah atau sungai di bawahnya. ([Lihat sumber Disini - pusatkrisis.kemkes.go.id])
Selain itu, dalam perspektif internasional, istilah landslide mencakup berbagai bentuk lain seperti toppling (menimpa), spreading (menyebar), serta flows (aliran material), yang menunjukkan kompleksitas pergerakan massa tanah di alam semesta geologi. Klasifikasi yang lebih rinci sering disusun oleh para peneliti dan praktisi geoteknik berdasarkan kombinasi jenis bahan, tingkat kejenuhan air, dan kondisi lereng masing-masing. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Faktor Pemicu Terjadinya Longsor
Faktor yang memicu terjadinya longsor sifatnya sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara kondisi geomorfologi, kondisi tanah dan batuan, serta faktor eksternal seperti cuaca dan aktivitas manusia. Penelitian menunjukkan bahwa fenomena longsor umumnya dipicu oleh kombinasi dari berbagai elemen lingkungan ini. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Salah satu faktor utama adalah curah hujan yang tinggi dan intensitas turun-temurun, di mana infiltrasi air ke dalam tanah menyebabkan peningkatan tekanan pori dan penurunan kekuatan geser tanah sehingga menurunkan kestabilan lereng. Curah hujan juga menjadi pemicu dominan dalam banyak bencana longsor di wilayah tropis. ([Lihat sumber Disini - e-journal.iainsalatiga.ac.id])
Topografi lereng yang curam juga merupakan faktor penting, karena semakin terjal lereng, semakin besar gaya gravitasi yang bekerja pada massa tanah. Lereng yang curam memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk gagal bila kekuatan tanah tidak cukup menahan gaya tersebut. ([Lihat sumber Disini - ejurnal.undana.ac.id])
Jenis tanah dan karakteristik geologi, seperti komposisi mineral, porositas, dan struktur tanah, memengaruhi kemampuan tanah menahan tekanan. Tanah dan batuan yang rapuh, berkontur retakan, atau berlapis-lapis dapat lebih mudah mengalami kegagalan lereng. ([Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id])
Faktor geologi dan hidrogeologi, termasuk naiknya permukaan air tanah atau fluktuasi tingkat air di dalam tanah, juga dapat meningkatkan potensi longsor karena menambah berat massa tanah dan mengurangi kohesi antar partikel tanah. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])
Selain itu, aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, penebangan pohon, pembangunan infrastruktur tanpa perencanaan geoteknik yang baik, dan eksploitasi tanah dapat mempercepat degradasi lereng serta menurunkan kestabilan tanah sehingga memperbesar risiko terjadinya longsor. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id])
Mekanisme Gerakan Massa Tanah
Gerakan massa tanah yang terjadi pada peristiwa longsor dipicu oleh perubahan keseimbangan gaya di lereng. Secara umum, kestabilan lereng dipengaruhi oleh dua gaya utama: gaya penahan yang menjaga massa tanah tetap stabil, dan gaya pendorong yang mendorong massa tanah turun. Ketika gaya pendorong lebih besar daripada gaya penahan, lereng menjadi tidak stabil dan dapat terjadi longsor. ([Lihat sumber Disini - indonesia.un.org])
Mekanisme gerakan tanah yang umum terjadi melibatkan tiga elemen utama: infiltrasi air, tekanan pori tanah, dan perubahan sifat mekanik tanah itu sendiri. Air yang masuk ke dalam struktur tanah menambah berat total tanah serta meningkatkan tekanan air pori, yang pada gilirannya mengurangi gaya geser tanah sehingga mempercepat terjadinya pergerakan massa tanah. ([Lihat sumber Disini - mapid.co.id])
Dalam mekanisme gerakan tanah, interaksi gaya gravitasi dan kondisi lereng sangat penting. Gaya gravitasi cenderung menarik massa tanah ke bawah, sedangkan gaya gesek antar partikel tanah serta kohesi material berupaya menahan gerakan tersebut. Ketika kondisi lingkungan berubah, seperti meningkatnya curah hujan atau gempa bumi yang mengguncang tanah, keseimbangan ini menjadi terganggu dan longsor dapat terjadi. Studi mekanisme ini sering digunakan para ahli geoteknik untuk merancang langkah mitigasi dan perbaikan lereng sehingga risiko longsor dapat ditekan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.baleliterasi.org])
Dampak Longsor terhadap Infrastruktur
Dampak dari fenomena longsor terhadap infrastruktur sangat luas dan merugikan, mulai dari kerusakan jalan, jembatan, bangunan permukiman, hingga jaringan utilities seperti pipa air dan jaringan listrik. Ketika massa tanah dan batuan bergerak secara tiba-tiba, struktur infrastruktur di lereng atau dasar lereng dapat tertimbun, rusak atau bahkan hancur total jika kekuatan material tidak cukup menahan gaya benturan. ([Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org])
Dalam banyak kasus kejadian longsor, kerusakan pada jalan raya dan jalur transportasi utama menyebabkan terputusnya akses logistik dan mobilisasi bantuan darurat, yang dapat memperlambat proses evakuasi dan respon bencana. Selain itu, bangunan permukiman yang terletak di lereng atau kaki lereng menjadi sangat rentan terhadap keruntuhan akibat getaran dan tekanan dari massa tanah yang bergerak. ([Lihat sumber Disini - e-journal.iainsalatiga.ac.id])
Longsor juga berdampak terhadap ketersediaan utilities. Pipa air dapat pecah atau tersumbat oleh material longsor, mengganggu pasokan air bersih, sementara jaringan listrik dan telekomunikasi bisa terputus, menimbulkan gangguan layanan kepada masyarakat. Infrastruktur irigasi, saluran drainase, dan fasilitas publik lain seperti sekolah dan fasilitas kesehatan juga seringkali mengalami kerusakan signifikan ketika longsor terjadi. ([Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org])
Upaya Mitigasi dan Pengendalian Longsor
Upaya mitigasi longsor melibatkan pendekatan teknis dan non-teknis untuk mengurangi risiko terjadinya bencana dan dampaknya. Pendekatan teknis termasuk stabilisasi lereng melalui pemasangan struktur penahan seperti dinding penahan tanah, terasering lereng, dan drainase permukaan yang meminimalkan jumlah air infiltrasi. Dengan mengendalikan aliran air di permukaan dan bawah tanah, tekanan pori tanah dapat dikurangi sehingga meningkatkan kestabilan lereng. ([Lihat sumber Disini - link.springer.com])
Selain itu, penggunaan vegetasi yang kuat berakar pada lereng juga membantu menahan tanah melalui sistem akar yang memperbaiki kekuatan tanah dan mengurangi erosi. Reboisasi dan pelestarian vegetasi alami merupakan strategi jangka panjang yang penting dalam pengendalian longsor, terutama di daerah dengan kemiringan tinggi dan curah hujan besar. ([Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id])
Upaya non-teknis meliputi perencanaan tata ruang yang bijak, di mana kawasan rawan longsor diidentifikasi melalui pemetaan kerawanan dan kemudian diatur agar tidak digunakan untuk pembangunan pemukiman atau fasilitas publik penting. Pemantauan kondisi tanah dan curah hujan secara berkala juga dapat mengaktifkan sistem peringatan dini, sehingga masyarakat dapat dievakuasi sebelum longsor terjadi. ([Lihat sumber Disini - djournals.com])
Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana juga menjadi bagian penting dari mitigasi longsor karena masyarakat dapat mengetahui tanda-tanda awal kegagalan lereng dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko. ([Lihat sumber Disini - journal.umpr.ac.id])
Kesimpulan
Tanah longsor merupakan peristiwa geologi yang kompleks namun sangat penting untuk dipahami secara mendalam karena potensi dampaknya yang besar terhadap kehidupan manusia dan infrastruktur. Secara definisi, longsor adalah gerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng akibat gaya gravitasi dan faktor lingkungan lain. Tanah longsor memiliki berbagai tipe dan mekanisme, seperti translasi, rotasi, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan, yang masing-masing memiliki karakteristik melalui cara pergerakan yang berbeda. Faktor pemicu longsor meliputi kondisi topografi lereng yang curam, curah hujan tinggi, karakteristik tanah dan batuan yang rapuh, serta aktivitas manusia yang mempercepat proses degradasi lereng. Dampak longsor dapat merusak infrastruktur penting dan mengancam keselamatan masyarakat, sehingga strategi mitigasi yang komprehensif diperlukan, termasuk stabilisasi lereng, tata ruang bijak, sistem peringatan dini, serta edukasi dan pemberdayaan masyarakat guna mengurangi risiko kerugian di masa depan.