
Materialitas Akuntansi: Konsep dan Pertimbangan
Pendahuluan
Materialitas akuntansi merupakan salah satu konsep paling penting dalam penyusunan dan pelaporan laporan keuangan. Dalam praktik akuntansi, tidak semua informasi harus disajikan secara lengkap jika informasi tersebut tidak berarti signifikan bagi pengguna laporan keuangan. Materialitas membimbing akuntan dan auditor tentang apa yang harus ditampilkan dalam laporan sehingga informasi tersebut relevan bagi pengambil keputusan ekonomi. Konsep ini menentukan batas antara informasi yang penting dan yang bisa diabaikan, sehingga laporan keuangan tidak hanya akurat tetapi juga efisien dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berpengaruh secara ekonomis. Konsep materialitas tidak hanya berlaku pada aspek kuantitatif berupa nilai angka, tetapi juga mempertimbangkan sifat informasi yang disajikan karena beberapa informasi meskipun kecil secara nominal tetap bisa berdampak besar pada persepsi pengguna laporan. Hal ini membuat materialitas menjadi fondasi penting dalam teori dan praktik akuntansi kontemporer. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Materialitas Akuntansi
Definisi Materialitas Akuntansi Secara Umum
Dalam praktik akuntansi dan audit, materialitas didefinisikan sebagai ukuran pentingnya suatu informasi atau kesalahan dalam laporan keuangan apabila penghilangan atau kekeliruan informasi tersebut memiliki kemungkinan untuk memengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan. Artinya, suatu informasi atau transaksi dianggap “material” apabila kehadiran atau ketidakhadirannya dapat mengubah pertimbangan investor, kreditur, atau pihak lain yang menggunakan laporan keuangan untuk mengambil keputusan ekonomi penting. Konsep ini mencakup evaluasi apakah suatu informasi signifikan atau tidak bagi para pemangku kepentingan dalam konteks ekonomi nyata. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Materialitas Akuntansi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “materialitas” secara umum tidak tercantum secara spesifik, tetapi berasal dari kata “material” yang berarti memiliki kualitas penting atau signifikan dalam konteks tertentu. Dalam konteks akuntansi, materialitas mengimplikasikan bahwa informasi atau angka memiliki arti penting apabila hal tersebut berdampak pada pemahaman pengguna terhadap situasi keuangan suatu entitas. Definisi ini mendukung pandangan bahwa materialitas bukan hanya soal angka besar kecilnya nilai finansial, tetapi juga seberapa besar pengaruhnya terhadap interpretasi dan keputusan. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Definisi Materialitas Akuntansi Menurut Para Ahli
Beberapa ahli telah mengemukakan definisi materialitas akuntansi dengan penekanan pada aspek pentingnya informasi, misalnya:
-
Setiadi (2019) menyatakan bahwa materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi yang dapat mengakibatkan perubahan atau memengaruhi pertimbangan orang yang mengandalkan informasi tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi. ([Lihat sumber Disini - journal.universitassuryadarma.ac.id])
-
Hutami et al. (2025) dalam penelitian mereka menegaskan bahwa materialitas adalah parameter yang digunakan auditor untuk mengevaluasi sejauh mana kesalahan atau kelalaian informasi dapat memengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan, dengan penerapan kuantitatif dan kualitatif berdasarkan indikator keuangan seperti total aset dan pendapatan. ([Lihat sumber Disini - syariah.jurnalikhac.ac.id])
-
Arens (2008) memandang materialitas dalam akuntansi sebagai suatu toleransi atau ambang batas di mana salah saji dalam laporan dapat dianggap material jika pengetahuan atas salah saji tersebut dapat mengubah keputusan pengguna laporan. ([Lihat sumber Disini - ojs.unikom.ac.id])
-
FASB (Financial Accounting Standards Board) juga mendefinisikan materialitas sebagai informasi yang apabila diabaikan atau disalahsajikan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pengguna laporan keuangan, sehingga peran pengungkapan informasi material sangat penting dalam pelaporan. ([Lihat sumber Disini - journal.umg.ac.id])
Tujuan Penerapan Prinsip Materialitas
Prinsip materialitas diterapkan dalam akuntansi untuk memastikan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan dan signifikan bagi pengambil keputusan ekonomi. Tujuan utama dari prinsip materialitas meliputi:
-
Meningkatkan Relevansi Laporan Keuangan
Materialitas memastikan bahwa laporan keuangan tidak dibebani dengan informasi yang tidak penting sehingga mengaburkan informasi yang memiliki dampak keputusan ekonomi. Penyajian data yang hanya material membantu pihak internal dan eksternal memahami kondisi keuangan suatu entitas dengan jelas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]) -
Efisiensi Pelaporan dan Audit
Dengan membatasi fokus pada informasi yang benar-benar material, proses penyusunan laporan keuangan menjadi lebih efisien. Auditor pun dapat mengalokasikan sumber daya audit pada area yang berpengaruh signifikan terhadap kewajaran laporan keuangan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ugj.ac.id]) -
Memenuhi Kebutuhan Pengguna Laporan Keuangan
Prinsip materialitas bertujuan untuk menciptakan laporan yang relevan dengan konteks keputusan yang dibuat oleh para pengguna, termasuk investor, kreditur, dan regulator, sehingga mereka memiliki gambaran yang realistis tentang kondisi ekonomi suatu perusahaan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]) -
Meningkatkan Kredibilitas dan Akuntabilitas
Ketika informasi diklasifikasikan dan disajikan dengan prinsip materialitas yang tepat, maka kredibilitas laporan keuangan meningkat karena hanya informasi yang berdampak signifikan yang muncul. Hal ini juga memperkuat akuntabilitas pengurus perusahaan terhadap pemangku kepentingan. ([Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id])
Pertimbangan Kuantitatif dan Kualitatif Materialitas
Penentuan materialitas tidak semata soal angka besar atau kecil, tetapi juga mempertimbangkan faktor kualitas informasi tersebut. Pertimbangan materialitas dalam akuntansi melibatkan dua aspek utama:
1. Pertimbangan Kuantitatif
Pertimbangan kuantitatif terkait ukuran atau nilai angka yang dianggap material. Pada praktik audit sering ditetapkan ambang tertentu, misalnya persentase terhadap total aset, pendapatan, atau laba sebelum pajak, yang digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi apakah kesalahan laporan cukup signifikan untuk memengaruhi keputusan ekonomi. Meskipun tidak ada aturan baku yang harus diikuti secara seragam, auditor kerap menggunakan pedoman praktis seperti 0, 5, 1% dari total pendapatan untuk menunjukkan titik materialitas. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
2. Pertimbangan Kualitatif
Materialitas kualitatif melihat sifat informasi dan konteksnya. Misalnya suatu informasi yang relatif kecil secara nominal tetapi menyangkut kepatuhan hukum atau hubungan pihak berelasi bisa memiliki dampak besar terhadap reputasi entitas dan persepsi pengguna laporan. Informasi semacam ini dianggap material karena sifatnya dapat mempengaruhi keputusan, meskipun secara kuantitatif nilainya kecil. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Dalam praktik, auditor dan akuntan profesional menggunakan kombinasi kedua pendekatan tersebut sehingga penilaian materialitas menjadi lebih komprehensif dan sesuai kondisi nyata entitas yang diaudit atau dilaporkan. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])
Materialitas dalam Penyajian Laporan Keuangan
Materialitas menjadi pedoman penting dalam penyajian laporan keuangan karena informasi yang disajikan harus relevan dan signifikan bagi pengguna. Dalam penyusunan laporan, materialitas membantu memilih informasi yang akan diungkapkan dan yang dapat diabaikan tanpa mengurangi pemahaman terhadap kondisi keuangan entitas. Misalnya pengungkapan transaksi pihak berelasi atau kejadian setelah periode laporan perlu disajikan jika hal itu dapat memengaruhi keputusan investor, meskipun nominalnya kecil. Fokus pada informasi yang material juga membantu dalam mempertahankan kesederhanaan dan kejelasan laporan sehingga tidak membebani pengguna dengan data yang tidak berdampak pada keputusan mereka. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Materialitas dan Pertimbangan Profesional Akuntan
Profesional akuntan dan auditor memiliki tanggung jawab utama dalam menerapkan prinsip materialitas dalam pekerjaan mereka. Hal ini mengharuskan mereka menggunakan penilaian profesional (professional judgment) untuk menilai apakah suatu informasi material atau tidak dalam konteks laporan keuangan yang sedang disusun atau diaudit. Prinsip ini mensyaratkan akuntan tidak hanya menghitung angka tetapi juga memahami karakteristik informasi dan dampaknya terhadap para pengguna laporan. Penilaian profesional ini mengintegrasikan pengalaman, pemahaman terhadap entitas dan industrinya, serta konteks ekonomi yang relevan. Jadi faktor seperti profesionalisme, pengalaman, dan etika profesi menjadi sangat penting dalam menentukan tingkat materialitas yang tepat. ([Lihat sumber Disini - jurnal.ugj.ac.id])
Dampak Materialitas terhadap Pengambilan Keputusan
Materialitas memiliki dampak langsung terhadap proses pengambilan keputusan bagi berbagai pemangku kepentingan. Pertama, investor dan analis keuangan dapat mengevaluasi apakah laporan keuangan mencerminkan kondisi entitas secara wajar dan lengkap dalam aspek yang paling penting. Dengan informasi yang berbasis materialitas, keputusan investasi menjadi lebih tepat karena data yang disajikan fokus pada hal-hal yang benar-benar berdampak. Kedua, kreditor dan pemberi pinjaman dapat menilai kemampuan entitas dalam memenuhi kewajiban finansialnya. Ketika salah saji material diidentifikasi dan dilaporkan, kreditor dapat mengevaluasi risiko kredit secara lebih akurat. Ketiga, manajemen internal dapat menggunakan informasi material untuk mengarahkan strategi operasional dan keuangan berdasarkan informasi yang benar-benar relevan bagi kelangsungan bisnis. Ringkasnya, materialitas membantu dalam pembuatan keputusan ekonomi yang lebih rasional dan berbasis data signifikan, sehingga kualitas keputusan meningkat. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])
Kesimpulan
Materialitas akuntansi merupakan konsep fundamental dalam penyusunan dan audit laporan keuangan yang membantu membedakan informasi penting dari yang tidak penting berdasarkan kemampuan informasi tersebut memengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan. Materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan kualitatif dan menjadi pedoman utama dalam penyajian laporan keuangan yang relevan dan efisien. Profesional akuntan dan auditor harus menerapkan penilaian profesional yang mendalam ketika menentukan tingkat materialitas. Dampaknya sangat besar terhadap pengambilan keputusan berbagai pemangku kepentingan, termasuk investor, kreditur, dan manajemen internal. Secara keseluruhan, prinsip materialitas memainkan peran penting dalam meningkatkan kredibilitas, relevansi, dan kualitas laporan keuangan yang disajikan kepada publik.