
Metode Scrum: Peran, Sprint, dan Contoh Implementasi
Pendahuluan
Metode pengembangan perangkat lunak terus berevolusi mengikuti kebutuhan dunia digital yang dinamis. Salah satu pendekatan yang banyak diadopsi terutama dalam pengembangan aplikasi modern adalah Scrum, sebuah kerangka kerja (framework) yang memungkinkan tim bekerja secara adaptif, iteratif, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan. Dengan Scrum, proses pengembangan tidak lagi dilakukan secara linear tradisional, tetapi melalui siklus pendek dan berulang yang memungkinkan produk terus diperbaiki dan disesuaikan, hingga menghasilkan produk yang sesuai harapan secara optimal. Artikel ini membahas secara mendalam definisi Scrum, peran utama di dalamnya, mekanisme sprint, artefak Scrum, contoh implementasi nyata, serta kelebihan dan tantangannya.
Definisi Scrum
Definisi Scrum Secara Umum
Scrum adalah kerangka kerja (framework) untuk mengelola dan mengembangkan produk kompleks dengan cara yang adaptif dan iteratif. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
Dalam Scrum, proyek dipecah ke dalam bagian-bagian kecil yang dikerjakan dalam periode singkat bernama sprint. Hasil tiap sprint berupa peningkatan (increment) terhadap produk, memungkinkan tim untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki secara berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - scrumguides.org]
Karena sifatnya iteratif dan inkremental, Scrum memberi fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan perubahan kebutuhan pengguna atau stakeholder kapan saja sepanjang siklus proyek. [Lihat sumber Disini - dicoding.com]
Definisi Scrum dalam KBBI
Saat ini, istilah “Scrum” lebih dikenal sebagai nama framework / metodologi dalam manajemen proyek/perangkat lunak, bukan sebagai kata baku dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sehingga tidak ada definisi resmi “Scrum” di KBBI. Oleh karena itu, penggunaan istilah Scrum dalam konteks ini merujuk pada pemahaman umum dalam dunia teknologi dan manajemen proyek.
Definisi Scrum Menurut Para Ahli
Berikut pendapat beberapa ahli / literatur mengenai Scrum:
-
Menurut Ken Schwaber dan Jeff Sutherland, dua figur utama di balik Scrum, Scrum didefinisikan sebagai “kerangka kerja ringan (lightweight framework) yang membantu orang, tim, dan organisasi menghasilkan nilai melalui solusi adaptif untuk masalah kompleks.” [Lihat sumber Disini - scrumguides.org]
-
Universitas Gunadarma dalam laporan akademisnya mendefinisikan Scrum sebagai bagian dari metode Agile, yang menggabungkan pendekatan iteratif dan incremental untuk menyelesaikan permasalahan kompleks secara adaptif. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Penelitian di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyebut bahwa Scrum mempermudah pengembangan sistem informasi dengan cara yang sederhana dan efisien melalui sprint, memungkinkan deliverable terus disempurnakan secara bertahap. [Lihat sumber Disini - repository.uin-malang.ac.id]
-
Sebuah studi di SMA Negeri 1 Sigli menunjukkan bahwa Agile, termasuk Scrum, dipilih karena fleksibilitasnya dalam menyesuaikan sistem sesuai kebutuhan pengguna secara iteratif. [Lihat sumber Disini - journal.unigha.ac.id]
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Scrum bukan sekadar metodologi tradisional, melainkan framework adaptif yang mengutamakan fleksibilitas, kolaborasi, dan iterasi dalam menciptakan produk bernilai tinggi.
Peran Utama dalam Scrum: Product Owner, Scrum Master, Development Team
Dalam Scrum terdapat tiga peran utama yang saling melengkapi:
Product Owner
-
Bertugas menjadi wakil stakeholder atau pemangku kepentingan, menjaga agar produk yang dikembangkan selaras dengan kebutuhan bisnis atau pengguna. [Lihat sumber Disini - dicoding.com]
-
Mengelola backlog produk (product backlog), yaitu daftar kebutuhan, fitur, perbaikan, atau prioritas yang akan dikerjakan tim. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Bertanggung jawab memaksimalkan nilai (value) produk dan membuat keputusan prioritas terhadap fitur. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
Scrum Master
-
Berperan sebagai fasilitator, pendamping tim, dan “pelindung” agar praktik Scrum berjalan efektif sesuai aturan Scrum. [Lihat sumber Disini - jurnal.polindra.ac.id]
-
Membantu tim mengatasi hambatan (impediments), mengatur proses, dan memastikan tim tetap produktif sesuai kerangka Scrum. [Lihat sumber Disini - jurnal.polindra.ac.id]
-
Mendorong penerapan nilai-nilai Scrum seperti transparansi, inspeksi, dan adaptasi dalam tim. [Lihat sumber Disini - scrumguides.org]
Development Team (Tim Pengembang / Tim Dev)
-
Tim multidisiplin yang bertanggung jawab merancang, mengembangkan, dan menghasilkan increment produk tiap sprint. [Lihat sumber Disini - dicoding.com]
-
Memiliki otonomi dalam menentukan cara kerja (self-organizing), sehingga meningkatkan efisiensi dan kolaborasi tim. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Bekerja erat dengan Product Owner dan Scrum Master untuk mengimplementasikan backlog, menyelesaikan sprint, dan deliver produk yang bisa langsung digunakan atau diuji. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pengertian Sprint dan Prosesnya
Sprint adalah periode waktu terbatas (time-boxed) di mana tim mengerjakan bagian tertentu dari produk berdasarkan backlog yang telah disepakati. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Durasi sprint biasanya antara satu hingga empat minggu; dua minggu adalah durasi yang paling umum digunakan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Proses sprint umumnya meliputi beberapa tahapan:
-
Sprint Planning: tim bersama Product Owner memilih item backlog yang akan dikerjakan, menetapkan tujuan sprint (sprint goal), dan merencanakan pekerjaan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Daily Scrum (Daily Stand-up): pertemuan singkat harian (biasanya 15 menit) untuk sinkronisasi progres, kendala, dan rencana hari ini. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Development Work: tim mengerjakan backlog, coding, testing, dokumentasi, dsb, hingga increment siap. (meskipun tahapan teknis ini tidak diatur detail oleh Scrum, tim bebas memilih cara kerjanya) [Lihat sumber Disini - scrumguides.org]
-
Sprint Review: di akhir sprint, tim menunjukkan hasil kerja (increment) kepada stakeholder / Product Owner untuk mendapatkan umpan balik (feedback). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sprint Retrospective: tim mengevaluasi proses kerja selama sprint, apa yang berjalan baik, apa masalahnya, dan bagaimana diperbaiki ke sprint berikutnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dengan cara ini, setiap sprint menghasilkan deliverable yang dapat dievaluasi dan dikembangkan lebih lanjut, sehingga produk berkembang secara bertahap dan memenuhi kebutuhan yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Artefak Scrum: Backlog, Increment, Burn-down Chart
Dalam Scrum, terdapat artefak, dokumen atau representasi kerja, yang membantu tim mengatur, memonitor, dan mengevaluasi pekerjaan. Tiga artefak penting adalah:
Product Backlog
Daftar prioritas fitur, perbaikan, bug fix, dan kebutuhan produk secara keseluruhan, dikelola oleh Product Owner. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Sprint Backlog & Increment
Sprint Backlog adalah bagian dari Product Backlog yang dipilih untuk dikerjakan di satu sprint. Sedangkan Increment adalah hasil kerja yang sudah selesai pada akhir sprint, berupa fitur/fungsi baru, perbaikan, atau peningkatan produk yang siap diuji/dirilis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Burn-down Chart (dan/atau alat pelacakan progres lainnya)
Grafik atau alat visual yang menunjukkan sisa pekerjaan (backlog) terhadap waktu sprint, membantu tim memonitor kemajuan, melihat apakah mereka berada di jalur yang tepat, dan mengambil tindakan jika ada risiko keterlambatan. Meskipun tidak semua penelitian selalu menyebut Burn-down chart secara eksplisit, grafik progres semacam ini sering digunakan dalam praktik Scrum. [Lihat sumber Disini - ejournal.pelitaindonesia.ac.id]
Contoh Implementasi Scrum dalam Proyek
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bagaimana Scrum diterapkan dalam proyek nyata, dari pengembangan sistem informasi, website, hingga marketplace atau aplikasi akuntansi. Berikut sejumlah contoh:
-
Di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Scrum diterapkan dalam pengembangan sistem informasi untuk manajemen penelitian, pengabdian, dan publikasi (SIP3). Pendekatan ini dipilih karena sifat Scrum yang sederhana dan mudah diimplementasikan, memudahkan tim menyelesaikan proyek secara bertahap. [Lihat sumber Disini - repository.uin-malang.ac.id]
-
Pada sebuah proyek di SMAN 4 Malang, penggunaan Scrum mampu memecah pekerjaan besar (pengolahan data keuangan) menjadi sprint-sprint kecil dalam lima siklus, sehingga proyek bisa diselesaikan dengan lebih efisien. [Lihat sumber Disini - journal3.um.ac.id]
-
Di pengembangan aplikasi e-commerce Diabeats, Scrum terbukti meningkatkan adaptabilitas tim, mempercepat alur kerja, serta memaksimalkan manajemen backlog meskipun tim menghadapi perubahan kebutuhan dan tantangan komunikasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.pelitaindonesia.ac.id]
-
Dalam pengembangan sistem informasi perpustakaan berbasis web di SMA Negeri 1 Sigli, tim memilih metode Agile (termasuk Scrum) karena fleksibilitasnya dalam menyesuaikan kebutuhan pengguna secara iteratif dan deliver produk secara optimal. [Lihat sumber Disini - journal.unigha.ac.id]
Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa Scrum tidak hanya cocok untuk proyek besar, tetapi juga bisa diterapkan pada proyek skala menengah maupun kecil, selama tim bisa berkomitmen pada prinsip kolaborasi, iterasi, dan adaptasi.
Kelebihan dan Tantangan Scrum
Kelebihan
-
Fleksibilitas dan adaptabilitas tinggi: Karena sprint dan backlog bisa disesuaikan, tim bisa merespon perubahan kebutuhan pengguna atau stakeholder dengan cepat. [Lihat sumber Disini - dicoding.com]
-
Delivery bertahap dan konsisten: Scrum memungkinkan increment produk dirilis secara berkala, sehingga pengguna bisa mendapatkan fitur lebih cepat, dan tim bisa segera mendapat umpan balik. [Lihat sumber Disini - repository.uin-malang.ac.id]
-
Kolaborasi tim yang kuat & transparansi: Semua anggota tim (Product Owner, Scrum Master, Development Team) bekerja sama, berkomunikasi rutin, dan memiliki tanggung jawab jelas, meminimalkan miskomunikasi. [Lihat sumber Disini - aws.amazon.com]
-
Cocok untuk proyek dengan ketidakpastian / kebutuhan berubah-ubah: Karena sifatnya iteratif, Scrum sangat pas untuk proyek di mana requirement tidak stabil atau mudah berubah, seperti aplikasi web, startup, atau sistem informasi dinamis. [Lihat sumber Disini - jurnal.bsi.ac.id]
Tantangan
-
Butuh komitmen dan disiplin tim tinggi: Semua anggota harus paham peran dan tanggung jawabnya; tanpa itu, implementasi Scrum bisa gagal. [Lihat sumber Disini - jurnal.polindra.ac.id]
-
Perlu pemahaman mendalam terhadap proses Scrum: Tanpa pemahaman yang baik terhadap nilai-nilai Scrum serta praktik seperti daily scrum, retrospective, backlog grooming, dsb., tim bisa tersesat atau implementasi jadi asal-asalan. [Lihat sumber Disini - journal.uii.ac.id]
-
Manajemen backlog bisa sulit jika stakeholder sering berubah keinginan: Jika Product Owner tidak konsisten atau terlalu sering mengganti prioritas, tim bisa kewalahan. Banyak penelitian mencatat adaptasi backlog sebagai tantangan potensial. [Lihat sumber Disini - ejournal.pelitaindonesia.ac.id]
-
Tidak semua proyek cocok untuk Scrum: Untuk proyek dengan requirement yang sangat stabil dan sedikit perubahan, metode tradisional bisa lebih sederhana dan efisien; penggunaan Scrum bisa jadi overkill. [Lihat sumber Disini - jurnal.bsi.ac.id]
Kesimpulan
Scrum merupakan framework manajemen proyek yang sangat cocok untuk pengembangan produk atau sistem dengan karakter dinamis, kompleks, dan membutuhkan fleksibilitas tinggi. Dengan membagi pekerjaan menjadi sprint-sprint pendek dan menghasilkan increment secara bertahap, Scrum memungkinkan tim untuk terus beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan dan memperoleh umpan balik secara cepat. Peran jelas seperti Product Owner, Scrum Master, dan Development Team memastikan tanggung jawab terbagi dan kolaborasi terjaga agar proyek berjalan efektif. Namun keberhasilan Scrum tergantung pada komitmen tim, pemahaman mendalam terhadap praktik Scrum, serta konsistensi dalam manajemen backlog. Oleh karena itu, sebelum mengadopsi Scrum, penting bagi organisasi atau tim untuk mempertimbangkan karakteristik proyek dan kesiapan tim secara matang. Jika dilakukan dengan benar, Scrum menjadi alat yang powerful, bukan hanya untuk pengembangan perangkat lunak, tetapi juga untuk berbagai jenis proyek kompleks yang menuntut respons cepat terhadap perubahan.