
Penelitian Etnometodologi: Ciri dan Implementasi
Pendahuluan
Etnometodologi telah menjadi sebuah pendekatan penting dalam kajian sosiologi dan ilmu sosial karena menawarkan perspektif unik dalam memahami bagaimana kenyataan sosial dibentuk dalam kehidupan sehari-hari. Dengan fokus pada interaksi, percakapan, dan praktik sehari-hari, etnometodologi membantu mengungkap pola, makna, dan struktur sosial yang sering luput dari analisis tradisional. Pada artikel ini dibahas definisi etnometodologi secara umum, menurut KBBI (jika tersedia), dan dalam pandangan para ahli; kemudian dijabarkan ciri-ciri khas etnometodologi serta implementasinya dalam penelitian kontemporer, terutama dari studi empiris di Indonesia, sehingga pembaca memperoleh pemahaman mendalam tentang manfaat dan aplikasi metode ini.
Definisi Etnometodologi
Definisi Etnometodologi Secara Umum
Etnometodologi secara harfiah berasal dari kata Yunani: etnos (manusia/kelompok), metodos (metode), dan logos (ilmu atau studi). Dengan demikian, etnometodologi dapat dipahami sebagai studi mengenai metode yang digunakan individu atau anggota masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tujuan utamanya adalah untuk memahami bagaimana orang-orang “biasa” membangun, meresapi, dan menata realitas sosial mereka melalui praktik, interaksi, dan pemahaman bersama. Dengan kata lain, etnometodologi melihat realitas sosial bukan sebagai sesuatu yang sudah pasti dan objektif dari luar, melainkan sebagai produk dari tindakan, interpretasi, dan kesepakatan sosial yang terus-menerus dibentuk oleh individu dalam kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - academia.edu]
Menurut pendekatan ini, perhatian utama bukan pada struktur sosial abstrak atau norma formal semata, tetapi pada bagaimana anggota masyarakat mengonstruksi “tatanan sosial” melalui praktik dan interaksi rutin, perbuatan sederhana yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele, namun sesungguhnya memuat makna sosial mendalam. Etnometodologi membuka ruang untuk melihat “dunia akal sehat” (common-sense world) sebagaimana dijalani sehari-hari oleh pelaku masyarakat. [Lihat sumber Disini - repository.uin-malang.ac.id]
Definisi Etnometodologi dalam KBBI
Sejauh penelusuran terhadap literatur dan referensi daring, istilah “etnometodologi” tidak ditemukan sebagai entri resmi dalam versi daring KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) publik. Banyak literatur menggunakan istilah tersebut dalam konteks akademis atau teori sosiologi, bukan sebagai kosakata umum yang diadministrasikan dalam KBBI. Oleh karena itu, kita tidak dapat menyediakan definisi resmi dari KBBI untuk etnometodologi.
Definisi Etnometodologi Menurut Para Ahli
Berikut adalah pandangan beberapa ahli dan peneliti mengenai etnometodologi:
- Menurut pendiri pendekatan ini, Harold Garfinkel (1967), etnometodologi muncul sebagai cara untuk memahami bagaimana individu-individu, terutama anggota masyarakat awam, membentuk dan memelihara tatanan sosial melalui metode-metode “sederhana” dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangannya, tindakan sehari-hari bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari konstruksi sosial yang sistematis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Etnometodologi didefinisikan sebagai sebuah kajian terhadap proses di mana individu menciptakan dan memahami kehidupan sehari-hari mereka. Fokusnya bukan pada budaya besar atau struktur makro, melainkan pada interaksi mikro dan praktik rutin yang sering terabaikan oleh pendekatan tradisional. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
- Menurut tinjauan dalam literatur Indonesia, etnometodologi dianggap sebagai bagian dari penelitian kualitatif yang menekankan interpretasi terhadap tindakan praktis, percakapan, dan pengorganisasian sosial oleh aktor dalam konteks sosial mereka sendiri, bukan dengan menggunakan kerangka teori eksternal secara apriori. [Lihat sumber Disini - repository.upi.edu]
- Etnometodologi disebut berbeda dari etnografi ataupun fenomenologi tradisional karena subjek kajiannya bukan budaya atau makna abstrak semata, melainkan realitas sosial sebagaimana dialami dan dijalani oleh manusia “biasa” dalam aktivitas keseharian, dengan menekankan “sense-making practices” (praktek membuat makna sosial) secara empiris. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Dengan demikian, etnometodologi bukan semata-mata metode pengumpulan data, melainkan sebuah kerangka teoretis dan konseptual yang menuntun peneliti untuk melihat dunia sosial dari perspektif “pelaku”, bagaimana mereka memberikan makna, menata interaksi, dan memproduksi tatanan sosial melalui aktivitas rutin sehari-hari. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Ciri-Ciri Etnometodologi
Fokus pada Praktik Sehari-hari dan “Sense-Making” oleh Aktor
Etnometodologi menekankan bahwa kehidupan sehari-hari manusia, termasuk percakapan biasa, rutinitas kerja, interaksi sosial kecil, dan tindakan keseharian, adalah ladang kajian penting, karena melalui hal-hal ini, individu membangun dan menjalankan struktur sosial. Tidak hanya fenomena besar seperti politik atau ekonomi, tetapi interaksi kecil dan “normal” juga dianggap signifikan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memahami bagaimana anggota masyarakat menafsirkan realitas mereka sendiri, bagaimana mereka memberi makna atas tindakan mereka, mengorganisir interaksi, dan mempertahankan keteraturan sosial melalui “akal sehat bersama” (common sense). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Empiris dan Deskriptif, Bukan Prediktif
Berbeda dengan pendekatan tradisional yang sering mencari generalisasi atau teori besar, etnometodologi adalah kajian empiris dan deskriptif. Ia berusaha menggambarkan bagaimana tatanan sosial diproduksi oleh aktor, bukan menjelaskan dengan teori besar atau memprediksi perilaku berdasarkan teori. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Peneliti dalam etnometodologi dituntut untuk “memahami dari dalam”, yakni memiliki kompetensi vulgar (kemampuan dasar sebagai anggota biasa dalam masyarakat yang diteliti), sehingga bisa menangkap nuansa makna, konteks, dan interpretasi yang dilakukan aktor sosial dalam realitas mereka. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Sensibilitas terhadap Indexikalitas dan Refleksivitas
Konsep kunci dalam etnometodologi termasuk “indexicality” dan “reflexivity”: ungkapan, tindakan, atau percakapan sering bergantung pada konteks spesifik, sehingga maknanya tidak bisa dipahami tanpa memperhatikan siapa, kapan, dan dalam situasi apa ia diucapkan. Apa yang dianggap “normal” oleh satu kelompok bisa berbeda bagi kelompok lain. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Karena itu, peneliti etnometodologi mesti peka terhadap konteks lokal, latar belakang sosial, dan perspektif aktor, bukan hanya mengandalkan teori abstrak atau norma universal. [Lihat sumber Disini - repository.upi.edu]
Penolakan terhadap Pendekatan Sosial Tradisional yang Struktural-Fungsional atau Normatif
Etnometodologi sering dipandang sebagai kritik terhadap sosiologi tradisional, terutama aliran struktural-fungsionalisme atau teori sosial makro yang menekankan struktur besar dan norma. Sebaliknya, etnometodologi menekankan bahwa tatanan sosial bukan sesuatu yang stabil dan diberikan, melainkan dibentuk terus-menerus oleh aktor melalui praktik sosial mereka sendiri. [Lihat sumber Disini - spi.uin-alauddin.ac.id]
Dengan demikian, etnometodologi memandang bahwa realitas sosial itu bersifat dinamis dan kontekstual, tergantung pada bagaimana aktor membangun, menafsirkan, dan menjalankan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Fleksibilitas Metodologis: Observasi, Wawancara, Dokumentasi, Analisis Percakapan
Dalam praktik penelitian, etnometodologi tidak dibatasi pada satu metode baku. Para peneliti dapat menggunakan observasi langsung, wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman percakapan, atau bahkan eksperimen pelanggaran tatanan (breaching experiments) untuk mengungkap bagaimana tatanan sosial dibentuk dan dipertahankan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas dalam menangkap fenomena sosial yang kompleks dan kontekstual, karena realitas sosial pada dasarnya bukanlah sesuatu yang statis atau objektif secara eksternal, melainkan sesuatu yang dibangun dan dirawat oleh aktor sosial itu sendiri. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Implementasi Etnometodologi dalam Penelitian Kontemporer
Dalam konteks Indonesia maupun global, etnometodologi telah digunakan dalam berbagai penelitian empiris untuk mengeksplorasi praktek sosial sehari-hari, interaksi dalam institusi, budaya informal, dan dinamika sosial mikro. Berikut beberapa contoh implementasinya:
- Dalam penelitian berjudul “Menyibak Problematika Badan Usaha Milik Desa: Studi Etnometodologi” di Indonesia tahun 2024, peneliti menggunakan paradigma interpretif dengan pendekatan etnometodologi untuk memahami permasalahan pengelolaan BUM Desa melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa isu internal BUM Desa (misalnya penyusunan laporan keuangan, mekanisme pergantian ketua, potensi konflik kepentingan) bukan semata-mata akibat struktur formal, melainkan juga berasal dari praktik sosial, persepsi, dan interaksi antara aktor lokal. [Lihat sumber Disini - journal.stieamm.ac.id]
- Studi dengan pendekatan etnometodologi juga digunakan untuk menelaah struktur sosial mahasiswa dalam ruang kelas, bagaimana interaksi, komunikasi, dan norma informal berkembang di luar regulasi formal kampus, membentuk “struktur sosial tersendiri” berdasarkan konsensus sosial antar mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa struktur sosial tidak selalu berasal dari institusi formal, melainkan juga dari praktik interaksi keseharian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.undana.ac.id]
- Etnometodologi juga diaplikasikan dalam penelitian manajemen anggaran berbasis proyek di institusi kesehatan (contoh: riset di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, 2023), untuk memahami bagaimana aktor di institusi tersebut melakukan praktik anggaran secara informal, melalui interpretasi bersama, komunikasi internal, dan praktik kerja sehari-hari, bukan semata berdasarkan dokumen atau regulasi formal. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
- Pendekatan etnometodologi makin relevan dalam era modern dan digital: ada konsep seperti “etnometodologi digital/media” yang mempelajari bagaimana masyarakat di era informasi membentuk makna, interaksi, dan realitas sosial melalui media digital, misalnya interaksi daring, praktik komunikasi online, dan konstruksi identitas di dunia maya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dari contoh-contoh tersebut, jelas bahwa etnometodologi tidak hanya cocok untuk kajian tradisional seperti komunitas lokal atau interaksi tatap muka, tetapi juga relevan untuk konteks modern, institusi, organisasi, ruang pendidikan, dan media digital. Fleksibilitas ini menjadikannya alat penelitian yang powerful untuk memahami realitas sosial yang kompleks dan kontekstual.
Keunggulan dan Keterbatasan Etnometodologi
Keunggulan
- Memberi perhatian pada aspek kehidupan sehari-hari dan realitas “normal”, sehingga mampu menangkap dinamika sosial mikro yang sering diabaikan oleh pendekatan makro atau struktural.
- Membuka perspektif bahwa tatanan sosial bukan sesuatu yang tetap, melainkan produk kolektif dari interaksi dan makna bersama antar individu dalam kehidupan sosial mereka.
- Fleksibel dalam metode, memungkinkan penggunaan observasi, wawancara, dokumen, analisis percakapan, atau eksperimen sosial (breaching) sesuai konteks penelitian.
- Relevan dengan konteks modern, termasuk organisasi, institusi, media, ruang digital, sehingga cocok untuk memahami perubahan sosial kontemporer.
Keterbatasan
- Karena fokus pada konteks spesifik dan praktik lokal, hasil penelitian etnometodologi sering sulit digeneralisasi ke populasi luas atau situasi berbeda.
- Membutuhkan kedalaman pengamatan dan pemahaman kontekstual, peneliti harus “masuk” ke dalam dunia sosial aktor, memiliki kompetensi sebagai anggota awam di setting tersebut, yang bisa sulit terutama jika peneliti eksternal atau asing dengan budaya lokal.
- Waktu dan sumber daya bisa besar, observasi jangka panjang, wawancara mendalam, dokumentasi intensif sering diperlukan agar mendapatkan data yang valid dan kaya makna.
- Interpretasi bisa bersifat subjektif, karena bergantung pada perspektif aktor dan proses “sense-making”, sehingga bisa berbeda antara peneliti; penting menjaga reflexivity dan transparansi analisis.
Kesimpulan
Etnometodologi adalah pendekatan penelitian sosial yang menekankan studi atas praktik sehari-hari dan cara manusia “biasa” membangun realitas sosial melalui interaksi, interpretasi, dan makna bersama. Berbeda dengan pendekatan sosiologi tradisional yang cenderung menekankan struktur besar atau teori sosial abstrak, etnometodologi melihat bahwa tatanan sosial adalah hasil dari aktivitas dan “sense-making practices” yang terus-menerus dilakukan oleh anggota masyarakat.
Dengan ciri khas seperti fokus pada praktik keseharian, sensitivitas terhadap konteks dan makna lokal, fleksibilitas metode, serta orientasi empiris-deskriptif, etnometodologi telah terbukti relevan untuk berbagai bidang kajian, dari komunitas lokal, institusi, pendidikan, hingga organisasi modern dan ruang digital.
Namun, pendekatan ini juga memiliki keterbatasan, terutama dalam hal generalisasi hasil, kebutuhan sumber daya besar, dan keterlibatan mendalam peneliti dalam setting sosial. Oleh karena itu, etnometodologi paling ideal digunakan ketika peneliti ingin memahami secara mendalam aspek mikro interaksi sosial, budaya informal, atau dinamika sosial yang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari.
Secara keseluruhan, etnometodologi menawarkan perspektif berharga bagi peneliti sosial untuk melihat dunia bukan sebagai struktur tetap dan objektif, tetapi sebagai konstruksi kolektif yang terus dibentuk, sebuah alat penting untuk memahami kompleksitas realitas sosial manusia.