
Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC
Pendahuluan
Kehamilan merupakan fase penting dalam kehidupan seorang wanita, di mana kesehatan ibu dan janin harus dipantau secara berkala untuk mencegah komplikasi. Salah satu cara utama untuk memastikan kehamilan berjalan dengan sehat adalah melalui pemeriksaan kehamilan rutin, yang dikenal dengan istilah Antenatal Care (ANC). Meskipun layanan ANC telah tersedia di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ANC, serta kesadaran dan kepatuhan mereka untuk melakukan kunjungan rutin masih bervariasi. Faktor-faktor seperti pendidikan, dukungan keluarga, dan peran tenaga kesehatan sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan ANC secara optimal. Oleh karena itu penting untuk mengevaluasi bagaimana pengetahuan ibu hamil tentang ANC serta faktor-faktor yang memengaruhi, agar intervensi edukasi kesehatan bisa lebih tepat sasaran.
Definisi Antenatal Care (ANC)
Definisi Antenatal Care Secara Umum
ANC secara umum merujuk pada rangkaian pelayanan kesehatan yang dilakukan kepada ibu hamil sejak awal kehamilan sampai persalinan. Tujuan utama ANC adalah memantau kesehatan ibu dan janin, mendeteksi dini kemungkinan komplikasi, serta mempersiapkan proses persalinan. [Lihat sumber Disini - ojs.akbidbibogor.ac.id]
Definisi Antenatal Care dalam KBBI
Menurut definisi resmi, layanan pemeriksaan kehamilan sebelum persalinan, termasuk pemeriksaan kesehatan ibu, pemantauan janin, dan persiapan persalinan. (Catatan: untuk definisi persis dalam KBBI, bisa merujuk ke laman resmi KBBI.)
Definisi Antenatal Care Menurut Para Ahli
-
Menurut penelitian oleh Siregar (2023), ANC didefinisikan sebagai pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil dari awal kehamilan hingga persalinan, meliputi pemeriksaan fisik, laboratorium, asuhan nutrisi, imunisasi, serta edukasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.aakpekalongan.ac.id]
-
Dalam penelitian analitik di Puskesmas Cikalong 2023, ANC dijelaskan sebagai pengawasan kehamilan dengan tujuan deteksi dini risiko kehamilan, kesehatan ibu dan janin, serta persiapan persalinan agar ibu dan bayi bisa selamat. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Berdasarkan layanan komprehensif di Puskesmas Selemadeg Barat (2024), ANC terpadu mencakup standar pemeriksaan disebut “10 T”, termasuk pemeriksaan fisik, laboratorium, suplementasi, imunisasi, dan konseling. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Dalam kajian terbaru di 2025, layanan ANC diartikan sebagai upaya preventif untuk mendeteksi risiko kehamilan serta menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan janin. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Dengan demikian, ANC bukan sekadar pemeriksaan satu kali, melainkan rangkaian pemeriksaan dan edukasi yang terencana dan berkesinambungan.
Latar Belakang ANC dan Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan
Pelayanan ANC dibutuhkan untuk memastikan kehamilan yang sehat serta meminimalkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi. Tujuan utamanya antara lain memantau kondisi kesehatan ibu, perkembangan janin, mendeteksi dini komplikasi kehamilan, serta mempersiapkan persalinan dan masa nifas. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Beberapa studi menunjukkan bahwa ketika ibu hamil rutin mengikuti pemeriksaan ANC, risiko kematian maternal dan perinatal dapat ditekan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeshusadajombang.ac.id]
Lebih lanjut, layanan ANC tidak hanya bersifat medis (fisik dan laboratorium), tetapi juga memberikan edukasi kesehatan, misalnya nutrisi, deteksi tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, dan asupan gizi, sehingga mendukung keberhasilan kehamilan dan persalinan. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Oleh sebab itu, pengetahuan ibu hamil tentang ANC menjadi sangat penting agar mereka memahami manfaat pemeriksaan dan termotivasi untuk rutin memeriksakan kehamilan.
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ibu
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil tentang ANC dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain:
-
Tingkat pendidikan ibu hamil, ibu dengan pendidikan rendah cenderung memiliki pengetahuan ANC yang terbatas. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
-
Dukungan keluarga, terutama suami, serta dukungan dari tenaga kesehatan, ketika suami dan tenaga kesehatan aktif memberi informasi, pengetahuan dan kunjungan ANC lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Metode edukasi, penelitian di Puskesmas Haliwen (2024) menunjukkan bahwa penyuluhan melalui ceramah dan diskusi efektif meningkatkan pengetahuan ibu, terutama yang berpendidikan rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
-
Akses ke layanan kesehatan dan fasilitas pelayanan, pada area dengan akses terbatas, pengetahuan dan pemanfaatan ANC cenderung lebih rendah. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Sikap dan peran tenaga kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan dan sikap proaktif mereka dalam memberikan edukasi berpengaruh besar pada pengetahuan dan kepatuhan ANC. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi ANC
Tenaga kesehatan, baik bidan, dokter, maupun kader kesehatan, memiliki peran sentral dalam edukasi ANC. Mereka memberikan informasi tentang tujuan pemeriksaan, risiko kehamilan, tanda bahaya, nutrisi, persiapan persalinan, imunisasi, dan asupan zat besi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Dalam upaya meningkatkan pengetahuan ibu hamil, intervensi edukasi di Puskesmas (contohnya di Puskesmas Haliwen) dengan metode ceramah dan diskusi terbukti efektif, terutama bagi ibu dengan latar belakang pendidikan rendah. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
Penelitian di Puskesmas Cikalong (2023) menunjukkan bahwa dukungan nakes (dan suami) berhubungan signifikan dengan cakupan kunjungan ANC yang lengkap. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
Dengan demikian, tenaga kesehatan tidak hanya sebagai pelaksana pemeriksaan, tetapi juga sebagai agen edukasi, penting untuk memberikan informasi yang jelas, mudah dimengerti, dan mendampingi ibu selama kehamilan.
Frekuensi dan Kesesuaian Kunjungan ANC
Standar minimal pemeriksaan ANC ideal menurut sejumlah penelitian adalah minimal 6 kali selama masa kehamilan, dari trimester pertama hingga trimester ketiga. [Lihat sumber Disini - e-journal.sari-mutiara.ac.id]
Pelayanan ANC terpadu biasanya mengikuti standar “10 T”, yang mencakup pemeriksaan fisik, laboratorium, suplementasi, imunisasi, pemeriksaan janin, konseling, dan layanan tambahan sesuai kebutuhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua ibu hamil memenuhi standar kunjungan. Misalnya dalam studi di wilayah tertentu, cakupan K1, K4, dan K6 dari K1 murni masih jauh dari ideal. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
Faktor seperti rendahnya pengetahuan, minimnya edukasi, kurangnya dukungan, dan keterbatasan akses menyebabkan frekuensi dan kesesuaian kunjungan ANC tidak optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
Pengaruh Pengetahuan terhadap Kepatuhan ANC
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil terkait pentingnya ANC berhubungan langsung dengan kepatuhan kunjungan.
Studi di Puskesmas Segala Mider (2025) menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang kegawatdaruratan kehamilan memiliki kepatuhan ANC lebih tinggi (p-value = 0.000). [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Penelitian di Puskesmas Cikalong (2023) juga mendapati bahwa pengetahuan rendah berhubungan dengan kunjungan ANC yang tidak lengkap. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
Selain itu, ketika tenaga kesehatan aktif memberi edukasi dan suami mendukung, kepatuhan ibu untuk melakukan kunjungan dan pemeriksaan rutin meningkat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-pontianak.ac.id]
Dengan demikian, meningkatkan pengetahuan ibu hamil melalui edukasi terpadu, baik dari tenaga kesehatan maupun keluarga, sangat penting agar kunjungan ANC bisa sesuai standar dan membawa manfaat optimal.
Hambatan dalam Pelaksanaan ANC
Beberapa hambatan utama dalam pelaksanaan ANC di Indonesia meliputi:
-
Pengetahuan ibu hamil yang rendah, membuat mereka kurang menyadari pentingnya kunjungan rutin. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
-
Rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya edukasi kesehatan, terutama di wilayah pedesaan atau dengan akses terbatas. [Lihat sumber Disini - ejurnal.unism.ac.id]
-
Minimnya dukungan dari suami atau keluarga serta tenaga kesehatan yang kurang aktif dalam edukasi, mengurangi motivasi ibu untuk kontrol rutin. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
-
Akses fasilitas kesehatan yang sulit atau tidak memadai, di beberapa daerah, keterjangkauan maupun ketersediaan layanan bisa menjadi masalah. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Sikap negatif atau kurang pedulinya ibu terhadap risiko kehamilan, bisa menyebabkan kunjungan ANC diabaikan ketika tidak ada keluhan. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dampak Pengetahuan ANC terhadap Kesehatan Ibu dan Janin
Ketika ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik tentang ANC dan menjalani kunjungan rutin sesuai standar, dampaknya terhadap kesehatan ibu dan janin cukup signifikan:
-
Deteksi dini komplikasi kehamilan, seperti anemia, hipertensi kehamilan, preeklampsia, memungkinkan penanganan lebih awal, sehingga mengurangi risiko kematian maternal dan morbiditas. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeshusadajombang.ac.id]
-
Persiapan persalinan dan pascapersalinan lebih baik, ibu dan keluarga bisa lebih siap secara fisik, mental, dan logistik untuk persalinan, menyusui, dan perawatan bayi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Promosi kesehatan ibu dan janin, edukasi nutrisi, suplemen zat besi, imunisasi, serta gaya hidup sehat dapat membantu pertumbuhan janin optimal dan mencegah komplikasi. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Penurunan angka kematian ibu dan bayi, dengan ANC yang berkualitas dan pendidikan kesehatan yang memadai, risiko kematian maternal dan perinatal bisa ditekan secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeshusadajombang.ac.id]
Kesimpulan
Pengetahuan ibu hamil tentang ANC merupakan faktor kunci dalam menentukan sejauh mana kunjungan dan pemeriksaan kehamilan dilaksanakan secara rutin dan sesuai standar. Definisi ANC menekankan pemeriksaan kehamilan komprehensif sejak trimester awal hingga persalinan, dengan layanan medis dan edukasi kesehatan. Faktor-faktor seperti pendidikan, dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, akses layanan, serta penyuluhan yang tepat sangat memengaruhi pengetahuan dan kepatuhan ANC. Ketika pengetahuan dan kepatuhan tinggi, dampak positif terhadap kesehatan ibu dan janin, dari deteksi dini komplikasi, persiapan persalinan, hingga penurunan risiko kematian, menjadi nyata. Oleh karena itu, upaya meningkatkan edukasi, akses, dan dukungan sosial perlu diperkuat agar layanan ANC dapat dioptimalkan dan kehamilan menjadi fase yang aman dan sehat bagi ibu serta bayi.