
Pengetahuan tentang Bahaya Lemak Trans
Pendahuluan
Lemak trans telah menjadi salah satu topik penting dalam kesehatan masyarakat modern karena efek negatifnya terhadap kesehatan, khususnya penyakit jantung dan metabolik. Konsumsi makanan rendah gizi dan tinggi lemak khususnya lemak trans sangat umum di banyak masyarakat urban maupun pedesaan, terutama yang berkaitan dengan peningkatan konsumsi makanan cepat saji, pangan olahan, dan jajanan siap santap. Banyak orang yang belum memahami sepenuhnya apa itu lemak trans, bagaimana lemak ini terbentuk dalam makanan, serta dampaknya terhadap tubuh manusia. Artikel ini akan membahas pengetahuan tentang bahaya lemak trans dari berbagai aspek, mulai dari definisi, sumber sehari-hari, dampaknya terhadap kesehatan jantung, tingkat pemahaman masyarakat, hubungan antara pengetahuan dengan pola konsumsi, hingga peran edukasi gizi dalam pencegahan risiko kesehatan yang berkaitan dengan lemak trans.
Definisi Pengetahuan tentang Bahaya Lemak Trans
Definisi Secara Umum
Lemak trans merupakan jenis asam lemak tak jenuh yang memiliki konfigurasi trans pada ikatan ganda karbonnya. Lemak ini bisa berasal dari proses industri seperti hidrogenasi parsial minyak sayur guna membuatnya lebih padat dan tahan lama atau dari sumber alami dalam produk hewani tertentu seperti susu dan daging. Lemak trans buatan biasanya terdapat dalam makanan olahan dan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) sekaligus menurunkan kolesterol HDL (kolesterol baik), yang secara bersama-sama meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tidak ada manfaat kesehatan yang diketahui dari trans fat dan konsumsi tinggi trans fat dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung yang lebih tinggi. WHO merekomendasikan pembatasan asupan trans fat kurang dari 1% dari total energi harian atau kurang dari sekitar 2, 2 gram per hari pada diet 2000 kalori.[Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi lemak trans secara istilah ilmiah adalah “asam lemak tak jenuh yang memiliki konfigurasi trans pada ikatan kimianya, yang umumnya dihasilkan melalui proses hidrogenasi parsial dan sering ditemukan dalam produk olahan”. KBBI menegaskan bahwa lemak ini tergolong lemak jenuh yang sering tidak bermanfaat untuk kesehatan bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Definisi Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO): Menyatakan bahwa “trans fat adalah asam lemak tak jenuh yang berasal dari sumber industri maupun alami, tetapi baik trans fat yang dihasilkan secara industri maupun alami sama-sama tidak memiliki manfaat kesehatan dan konsumsi yang tinggi meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.”[Lihat sumber Disini - who.int]
-
Davit Pipoyan dkk. (2021, Foods): Menjelaskan bahwa TFAs (Trans Fatty Acids) adalah jenis asam lemak yang struktur molekulnya berbeda karena memiliki ikatan trans, yang menghasilkan dampak negatif terhadap kesehatan jantung bila dikonsumsi secara berlebihan.[Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
V Dhaka (2011): Lemak trans dihasilkan terutama dari proses hidrogenasi parsial minyak sayur; konsumsi lemak trans berkorelasi dengan peningkatan LDL dan trigliserida serta penurunan HDL, yang memicu risiko kardiovaskular.[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia): Menyatakan bahwa lemak trans berpotensi lebih berbahaya dibanding lemak jenuh karena mampu meningkatkan LDL sekaligus menurunkan HDL, sehingga memicu risiko penyakit jantung koroner.[Lihat sumber Disini - ylki.or.id]
Sumber Lemak Trans dalam Makanan Sehari-hari
Lemak trans dapat ditemukan dalam makanan yang sering kita konsumsi sehari-hari, terutama yang diolah secara industri atau digoreng pada suhu tinggi. Banyak produk olahan mengandung minyak terhidrogenasi parsial (PHO) yang merupakan sumber utama lemak trans dalam diet manusia. WHO mencatat bahwa margarin, shortening, makanan goreng dan produk panggang komersial seperti biskuit, kue, dan pastry sering mengandung lemak trans dalam jumlah tinggi.[Lihat sumber Disini - who.int]
Kajian di Indonesia juga menunjukkan bahwa kategori makanan yang banyak dikonsumsi, termasuk biskuit, wafer, kue, pastry, serta jajanan jalanan seperti martabak dan roti maryam, seringkali memiliki kandungan lemak trans yang tinggi, khususnya karena penggunaan shortening dan margarin dalam persiapannya.[Lihat sumber Disini - aji.or.id]
Selain itu, makanan cepat saji seperti ayam goreng, kentang goreng, dan camilan goreng lainnya sering menggunakan minyak yang telah mengalami pemanasan berulang, yang dapat meningkatkan konsentrasi lemak trans. Lemak trans juga bisa terbentuk secara alami dalam produk hewani tertentu seperti daging dan produk susu, meskipun dalam jumlah yang relatif kecil dibanding lemak trans industri.[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Karena alasan-alasan ini, makanan sehari-hari yang seolah aman pun dapat menjadi sumber lemak trans jika proses pengolahannya tidak sehat atau jika menggunakan bahan baku berlemak trans tinggi.
Dampak Lemak Trans terhadap Kesehatan Jantung
Konsumsi lemak trans memiliki dampak yang serius terhadap kesehatan jantung dan sistem kardiovaskular. Lemak trans diketahui menaikkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan kadar kolesterol HDL (kolesterol baik). Ketidakseimbangan ini mempercepat proses aterosklerosis, penumpukan plak dalam arteri, yang secara langsung meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan serangan jantung.[Lihat sumber Disini - who.int]
Menurut WHO, konsumsi trans fat yang tinggi secara signifikan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung serta penyakit kardiovaskular lainnya. Implikasi klinisnya termasuk peningkatan insiden serangan jantung dan gangguan sirkulasi darah yang dapat menyebabkan stroke.[Lihat sumber Disini - who.int]
Selain itu, studi menunjukkan bahwa lemak trans juga berkaitan dengan peningkatan resistensi insulin dan gangguan metabolik lainnya, yang secara tidak langsung juga mengganggu kesehatan jantung melalui efek pada metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin.[Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Kombinasi efek-efek ini membuat lemak trans menjadi salah satu faktor risiko dapat dicegah terbesar untuk penyakit jantung koroner di masyarakat modern.
Tingkat Pemahaman Masyarakat tentang Lemak Trans
Pengetahuan masyarakat mengenai lemak trans masih bervariasi dan banyak yang belum menyadari keberadaan serta bahayanya. Laporan lokal di Indonesia menunjukkan bahwa banyak konsumen yang tidak memahami istilah lemak trans atau tidak menyadari kehadirannya dalam makanan sehari-hari yang mereka konsumsi, termasuk jajanan dan makanan kemasan populer. Narasumber lokal bahkan melaporkan bahwa beberapa orang berasumsi hanya lemak dari gorengan saja yang berbahaya, tanpa menyadari lemak trans juga hadir dalam makanan panggang kemasan.[Lihat sumber Disini - aji.or.id]
Secara global, penelitian juga menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan pengetahuan tentang trans fats serta keterampilan penggunaan label nutrisi terkait masih perlu ditingkatkan agar konsumen dapat membuat pilihan makanan yang lebih sehat, karena banyak konsumen tidak menggunakan informasi nilai gizi atau tidak memahami artinya.[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Survei-survei lain di berbagai negara juga menemukan bahwa meskipun sebagian responden telah mendengar istilah trans fat, pemahaman rinci tentang dampaknya terhadap kesehatan dan bagaimana menghindarinya dalam diet masih rendah, menunjukkan perlunya edukasi gizi terstruktur untuk meningkatkan kesadaran ini.[Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
Hubungan Pengetahuan dengan Pola Konsumsi
Pengetahuan tentang lemak trans berperan penting dalam menentukan pola konsumsi individu. Semakin tinggi tingkat literasi gizi seseorang, semakin besar kemungkinan mereka membuat pilihan makanan yang lebih sehat, termasuk mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak trans. Bukti dari kajian perilaku konsumen menunjukkan bahwa konsumen yang memahami risiko kesehatan dari lemak trans cenderung menghindari makanan yang mengandung PHO serta lebih teliti dalam membaca label nutrisi produk.
Menurut artikel penelitian tentang pendidikan konsumen dan penggunaan informasi nutrisi, konsumen yang mampu memanfaatkan informasi ini memiliki pola konsumsi yang lebih sehat dan cenderung memilih produk dengan kadar lemak trans rendah atau tanpa PHO.[Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Di konteks Indonesia, kurangnya pemahaman tentang lemak trans juga menyebabkan pola konsumsi yang kurang sehat, di mana banyak individu masih sering mengonsumsi jajanan pasar atau snack olahan yang tinggi lemak trans tanpa menyadari dampaknya. Ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara pengetahuan rendah dan konsumsi lemak trans yang tinggi, yang pada gilirannya berdampak negatif pada status kesehatan masyarakat secara umum.[Lihat sumber Disini - aji.or.id]
Peran Edukasi Gizi dalam Pencegahan Risiko
Edukasi gizi memiliki peran sentral sebagai tindakan pencegahan risiko yang terkait dengan konsumsi lemak trans. Program pendidikan yang efektif dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang definisi lemak trans, sumber-sumber makanan yang mengandung lemak ini, serta bagaimana membacanya pada label nutrisi produk. Program tersebut juga harus mencakup strategi konsumsi makanan sehat yang menggantikan lemak trans dengan lemak yang lebih sehat, seperti lemak tak jenuh dari kacang-kacangan, ikan, dan minyak nabati yang tidak dihidrogenasi.
WHO sendiri mengembangkan paket aksi REPLACE untuk membantu negara-negara mengeliminasi trans fat dari pasokan makanan melalui strategi kebijakan, reformulasi produk, serta edukasi konsumsi.[Lihat sumber Disini - who.int]
Di tingkat lokal, kampanye kesadaran dan edukasi yang melibatkan sekolah, media massa, fasilitas kesehatan, dan komunitas dapat menjangkau berbagai kelompok demografis untuk menyebarkan informasi tentang bahaya lemak trans dan praktik diet sehat. Intervensi semacam ini penting untuk membantu masyarakat membuat pilihan makanan yang lebih sehat dan menurunkan beban penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan diabetes.
Kesimpulan
Lemak trans merupakan jenis asam lemak tak jenuh yang terbentuk baik secara alami maupun melalui proses industri. Meski ditemukan dalam produk alami tertentu, lemak trans buatan yang berasal dari minyak terhidrogenasi parsial merupakan sumber utama yang berisiko terhadap kesehatan, khususnya penyakit jantung dan gangguan metabolik. Lemak trans dapat ditemukan dalam berbagai makanan sehari-hari seperti makanan cepat saji, makanan panggang kemasan, margarin, serta makanan gorengan yang sering dikonsumsi publik. Konsumsi lemak trans meningkatkan kolesterol LDL, menurunkan kolesterol HDL, dan berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, penyakit jantung koroner, serta gangguan metabolik lainnya.
Tingkat pemahaman masyarakat tentang lemak trans saat ini masih perlu ditingkatkan melalui edukasi gizi yang efektif, karena banyak individu belum sepenuhnya memahami sumber atau bahaya lemak trans dalam diet mereka. Hubungan pengetahuan yang rendah dengan pola konsumsi yang tidak sehat menunjukkan pentingnya kampanye edukasi dan kebijakan gizi yang kuat untuk mendorong perilaku konsumsi makanan yang lebih sehat. Edukasi gizi yang sistematis dapat memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengenali makanan tinggi lemak trans dan memilih alternatif yang lebih sehat, sehingga membantu mengurangi risiko penyakit tidak menular di masyarakat secara keseluruhan.