
Pengetahuan Ibu tentang Komplikasi Persalinan
Pendahuluan
Persalinan dipandang sebagai salah satu momen paling krusial dalam kehidupan seorang perempuan dan keluarganya. Meskipun banyak persalinan berlangsung normal tanpa masalah, komplikasi persalinan tetap menjadi ancaman serius bagi keselamatan ibu dan bayi. Data menunjukkan bahwa komplikasi persalinan, termasuk perdarahan, hipertensi, infeksi, serta persalinan tersumbat, menjadi salah satu kontributor utama kematian ibu secara global dan di Indonesia. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Pengetahuan ibu tentang potensi komplikasi serta tanda bahaya persalinan memegang peran penting dalam deteksi dini, kesiapsiagaan, dan upaya penanganan. Tanpa pemahaman yang memadai, seorang ibu dan keluarga bisa saja gagal mengenali tanda bahaya, terlambat mencari bantuan medis, atau tidak siap mengambil keputusan penting. Oleh karena itu, pengetahuan ibu bukan sekadar informasi, melainkan bagian dari strategi pencegahan dan keselamatan maternal.
Artikel ini bertujuan mengeksplorasi aspek pengetahuan ibu mengenai komplikasi persalinan, mencakup definisi, jenis komplikasi umum, faktor yang mempengaruhi pengetahuan, cara deteksi, sumber informasi, serta hambatan dan dampak dari pengetahuan tersebut terhadap kesiapsiagaan ibu.
Definisi “Komplikasi Persalinan”
Definisi Secara Umum
Komplikasi persalinan merujuk pada segala kondisi abnormal atau bahaya yang terjadi selama proses persalinan, dari fase pembukaan serviks hingga proses pengeluaran bayi, yang mengancam kesehatan atau keselamatan ibu, janin, atau keduanya. Komplikasi ini bisa ringan sampai berat, akut hingga kronis, dan memerlukan penanganan medis cepat agar dapat mengurangi risiko morbiditas atau mortalitas.
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “komplikasi” diartikan sebagai “kesukaran atau keadaan yang mempersulit (misalnya dalam penyakit, persalinan, dan sebagainya)”. Maka, “komplikasi persalinan” adalah kesukaran atau keadaan yang mempersulit berlangsungnya persalinan secara normal.
Definisi Menurut Para Ahli
Dalam literatur obstetri dan kesehatan maternal, definisi komplikasi persalinan dapat berbeda-beda tergantung konteks (morbiditas, mortalitas, risiko maternal/neonatal). Berikut beberapa definisi dari para ahli:
-
Menurut World Health Organization (WHO), komplikasi obstetri, termasuk persalinan, mencakup perdarahan (hemoragik), hipertensi (pre-eklamsia/eklamsia), infeksi, persalinan tersumbat serta sepsis maternal. [Lihat sumber Disini - dhsprogram.com]
-
Komplikasi Pada Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Bayi Baru Lahir: Literature Review menyebut bahwa komplikasi persalinan bisa terdeteksi melalui asuhan kebidanan komprehensif, dan meliputi gangguan pada ibu maupun bayi baru lahir. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Penelitian Gambaran Karakteristik Persalinan Spontan (Spontaneous Labour) (2025) menyebut komplikasi pada persalinan normal bisa berbeda-beda pada tiap kala persalinan (I, IV), seperti partus lama, distosia, retensio plasenta, dan lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Menurut Komplikasi Maternal dan Neonatal Akibat Persalinan Macet (2022), persalinan tersumbat (obstructed labour) di masyarakat dengan sumber daya terbatas tetap menjadi komplikasi langsung yang signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
Dengan demikian, “komplikasi persalinan” mencakup segala kondisi kritis, abnormal, atau risiko tinggi yang dapat terjadi selama persalinan, baik yang berdampak pada ibu, bayi, maupun keduanya, yang memerlukan penanganan medis dan kesiapsiagaan.
Jenis Komplikasi Persalinan yang Sering Terjadi
Berikut beberapa komplikasi persalinan yang paling sering terjadi, berdasarkan literatur terkini dan studi di Indonesia maupun global:
-
Perdarahan (Postpartum Haemorrhage / Hemoragik), perdarahan berat setelah melahirkan adalah penyebab utama kematian ibu secara global. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Persalinan lama / persalinan tersumbat (Prolonged Labour / Obstructed Labour / Dystosia), ketika proses persalinan berlangsung sangat lama atau jalan lahir terhambat, ini bisa menyebabkan infeksi, ruptur rahim, perdarahan, trauma persalinan, hingga kebutuhan tindakan operasi. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
-
Pre-eklamsia / Eklamsia / Gangguan hipertensi kehamilan, hipertensi kehamilan atau komplikasi seperti pre-eklamsia dapat memburuk selama persalinan dan menimbulkan risiko tinggi bagi ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - thelancet.com]
-
Infeksi / Sepsis / Komplikasi infeksi jalan lahir, infeksi maternal terutama ketika asuhan persalinan atau nifas kurang memadai dapat berujung pada sepsis, komplikasi serius yang mengancam nyawa. [Lihat sumber Disini - dhsprogram.com]
-
Gangguan plasenta (misalnya retensio plasenta, placenta previa/abnormal, walaupun data spesifik di tiap setting bisa berbeda), meskipun di literatur lokal sulit selalu tersedia, gangguan plasenta tetap menjadi bagian dari komplikasi persalinan yang berpotensi menyebabkan perdarahan atau kebutuhan intervensi khusus.
-
Komplikasi neonatal akibat persalinan, misalnya fetal distress, bayi lahir sangat besar atau sangat kecil (BBLR), kelahiran prematur, asfiksia, atau kematian neonatal, walaupun fokus utama adalah ibu, komplikasi persalinan juga dapat berdampak besar pada bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
Data dari penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pada kelompok ibu berisiko (misalnya usia ≥ 35 tahun), persentase komplikasi bisa sangat tinggi: termasuk pre-eklamsia berat, partus lama, persalinan tersumbat, fetal distress, serta BBLR. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu tentang komplikasi persalinan tidak datang secara otomatis, banyak faktor memengaruhi seberapa baik seorang ibu memahami potensi risiko. Berikut faktor-faktornya:
-
Asuhan antenatal / ANC (Antenatal Care), Asuhan antenatal yang terpenuhi secara baik bisa membantu mendeteksi dini risiko kehamilan/persalinan dan memberi edukasi kepada ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Riwayat kehamilan atau persalinan sebelumnya, Ibu yang sebelumnya pernah mengalami komplikasi atau memiliki riwayat risiko lebih mungkin mendapatkan edukasi atau memiliki pengalaman yang membuat pengetahuan mereka lebih baik. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
-
Jarak kehamilan / interval kelahiran, Studi menunjukkan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat (atau terlalu jauh) meningkatkan risiko komplikasi persalinan, hal ini dapat mempengaruhi bagaimana ibu dan tenaga kesehatan berdiskusi atau mempersiapkan persalinan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
-
Usia ibu saat hamil / melahirkan, Ibu pada usia remaja (< 20 tahun) maupun usia lanjut (≥ 35 tahun) memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi persalinan; kesadaran terhadap risiko ini bisa mempengaruhi tingkat pengetahuan dan kewaspadaan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kualitas layanan kesehatan dan akses informasi, Tempat bersalin, ketersediaan tenaga kesehatan terlatih, kualitas edukasi antenatal, serta akses ke layanan kesehatan mempengaruhi pengetahuan ibu dan kesiapsiagaan. [Lihat sumber Disini - ejurnalskalakesehatan-poltekkesbjm.com]
-
Sosial ekonomi, pendidikan, dan lingkungan keluarga / komunitas, Faktor sosial-ekonomi dan pendidikan ibu maupun pasangan bisa berperan besar dalam kemampuan memahami informasi kesehatan, mengambil keputusan, dan kesiapsiagaan. [Lihat sumber Disini - ejurnalskalakesehatan-poltekkesbjm.com]
Tanda Bahaya dan Deteksi Dini Komplikasi
Agar pengetahuan ibu mengenai komplikasi persalinan benar-benar berguna, penting juga mengetahui tanda bahaya dan cara mendeteksinya sedini mungkin. Berikut beberapa tanda dan indikator umum:
-
Perdarahan berlebihan setelah melahirkan, perdarahan besar atau terus menerus setelah bayi lahir bisa mengindikasikan hemorragia postpartum. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Persalinan berlangsung terlalu lama atau jalan lahir macet / terasa sakit abnormal / tidak ada kemajuan dalam pembukaan serviks, ini bisa menjadi indikasi persalinan tersumbat atau distosia. [Lihat sumber Disini - physio-pedia.com]
-
Tanda-tanda hipertensi atau pre-eklamsia/eklamsia, seperti tekanan darah tinggi, pembengkakan ekstrem, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian atas, meski sebagian besar literatur berbasis klinik menekankan pentingnya pemeriksaan antenatal dan Ibu harus memahami risiko ini.
-
Demam, nyeri, atau gejala infeksi pada ibu atau bayi (misalnya setelah ketuban pecah, pecah ketuban lama, intervensi persalinan), bisa menandakan infeksi jalan lahir atau puerperal, memerlukan penanganan segera. [Lihat sumber Disini - dhsprogram.com]
-
Perubahan kondisi janin/bayi, seperti gerakan janin menurun, detak jantung janin abnormal, stres janin, bayi tampak lemah, berat lahir rendah, napas terganggu, komplikasi persalinan dapat memengaruhi bayi, sehingga ibu dan tenaga kesehatan harus waspada. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]
Dengan pengetahuan tentang tanda bahaya ini, ibu dan keluarga bisa segera mengambil tindakan, seperti segera ke fasilitas kesehatan, memberi tahu tenaga kesehatan, atau mempersiapkan rujukan, sehingga risiko fatal bisa dikurangi.
Sumber Informasi yang Memengaruhi Pengetahuan
Pengetahuan ibu tentang komplikasi persalinan berasal dari beragam sumber. Berikut beberapa sumber utama:
-
Tenaga kesehatan & layanan antenatal / bidan / dokter kandungan, konseling selama kunjungan antenatal, kelas ibu hamil, dan edukasi oleh tenaga kesehatan menjadi sumber utama pengetahuan.
-
Informasi dari fasilitas kesehatan/puskesmas/RS, leaflet, poster, materi edukasi kehamilan/persalinan, banyak fasilitas memberikan materi informasi bagi ibu hamil.
-
Media massa dan digital, internet, sosial media, forum ibu hamil, web kesehatan, video edukasi, artikel kesehatan, dalam era digital, ini menjadi semakin penting sebagai sumber informasi (meskipun akurasi dan kualitas perlu dikritisi).
-
Pengalaman pribadi atau komunitas, cerita dari teman, keluarga, ibu lain yang pernah melahirkan / mengalami komplikasi, pengalaman nyata sering kali membuat ibu lebih waspada.
-
Kelompok pendukung / komunitas ibu, kelas antenatal, posyandu, kader kesehatan, kelompok ibu hamil bersama, interaksi dan berbagi pengalaman dapat meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan.
Tingkat dan kualitas sumber informasi ini sangat menentukan seberapa baik pengetahuan ibu, informasi dari profesional cenderung lebih valid daripada rumor atau informasi tidak jelas dari media sosial.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Komplikasi
Tenaga kesehatan, bidan, dokter kandungan, perawat, petugas puskesmas, punya peran sentral dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan ibu terhadap komplikasi persalinan:
-
Memberikan asuhan antenatal (ANC) secara rutin dan komprehensif, ini memungkinkan deteksi dini faktor risiko, monitoring kehamilan, serta edukasi potensi komplikasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id]
-
Menyediakan konseling dan edukasi tentang tanda bahaya, proses persalinan, persiapan persalinan, serta rencana persalinan dan rujukan jika terjadi komplikasi, sehingga ibu dan keluarga siap mental dan logistik.
-
Melakukan skrining dan identifikasi risiko berdasarkan riwayat ibu, umur, jarak kehamilan, status kesehatan (misalnya anemia, hipertensi), sehingga ibu yang berisiko bisa dipantau lebih intensif. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
-
Membina komunikasi dan keterlibatan ibu dan keluarga, memberi pemahaman bahwa ibu punya hak dan tanggung jawab dalam memantau kondisi kehamilan dan mengenali tanda bahaya.
-
Memastikan akses pelayanan rujukan dan kesiapan fasilitas, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas, agar bila terjadi komplikasi, penanganan bisa cepat dan tepat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Peran ini penting agar pengetahuan tidak hanya teoritis, tapi juga diikuti tindakan nyata untuk menjaga keselamatan ibu dan bayi.
Hambatan dalam Pemahaman Informasi Persalinan
Meskipun banyak informasi tersedia, tidak semua ibu memperoleh atau memahami dengan baik. Berikut hambatan yang sering muncul:
-
Rendahnya akses antenatal atau layanan kesehatan, di daerah terpencil / dengan layanan kesehatan terbatas, sehingga ibu mungkin tidak mendapat edukasi atau skrining risiko secara optimal.
-
Rendahnya tingkat pendidikan atau literasi kesehatan ibu/pasangan, jika ibu atau keluarga sulit memahami terminologi medis atau pentingnya tanda bahaya, pengetahuan bisa terbatas.
-
Minimnya waktu kunjungan ke kader/bidan atau ketidakteraturan ANC, membuat kesempatan untuk edukasi dan deteksi dini menjadi kurang.
-
Informasi tidak konsisten atau tidak terverifikasi, misalnya dari mitos, tradisi, atau sumber yang kurang kredibel, ini bisa menyebabkan miskonsepsi atau penolakan terhadap saran medis.
-
Cultural / sosial / ekonomi, stigma, kepercayaan tradisional, ketergantungan pada pengalaman lama, ketakutan terhadap intervensi medis, bisa menghambat penerimaan informasi kesehatan modern.
-
Keterbatasan fasilitas dan infrastruktur, transportasi, jarak ke rumah sakit, kesiapan rujukan, biaya, meskipun ibu dan keluarga sudah tahu risiko, implementasi kesiapsiagaan bisa sulit dilakukan.
Akibat hambatan ini, meskipun ada informasi, tidak menjamin pengetahuan diterima dan direspon dengan tindakan yang tepat.
Dampak Pengetahuan terhadap Kesiapsiagaan Ibu
Pengetahuan ibu tentang komplikasi persalinan memiliki dampak nyata terhadap kesiapsiagaan dan hasil persalinan:
-
Ibu yang mengetahui risiko dan tanda bahaya lebih cenderung melakukan kunjungan antenatal rutin, mengikuti rekomendasi kesehatan, dan mempersiapkan rencana persalinan (termasuk pilihan tempat bersalin, rujukan, transportasi).
-
Deteksi dini dan respons cepat terhadap tanda bahaya (perdarahan, persalinan lama, hipertensi, infeksi) dapat mencegah komplikasi serius, mengurangi risiko morbiditas maupun mortalitas.
-
Pengetahuan dapat mempengaruhi keputusan ibu dan keluarga, misalnya memilih persalinan di fasilitas kesehatan dengan tenaga terlatih, sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin.
-
Kesadaran akan risiko juga dapat memicu partisipasi keluarga dan komunitas dalam mendukung ibu, dukungan moral, logistik, persiapan rujukan, serta membantu pengawasan selama kehamilan, persalinan, dan nifas.
-
Sebaliknya, kurangnya pengetahuan bisa menyebabkan kesiapsiagaan rendah, keterlambatan dalam mendapat bantuan medis, dan peningkatan risiko komplikasi, terutama di daerah dengan layanan kesehatan terbatas.
Kesimpulan
Komplikasi persalinan, seperti perdarahan berat, persalinan tersumbat, hipertensi kehamilan, infeksi, atau kombinasi kondisi lain, tetap menjadi ancaman serius terhadap kesehatan dan keselamatan ibu serta bayi. Definisi medis dan kultural memang beragam, tetapi esensinya sama: komplikasi persalinan adalah kondisi abnormal atau berisiko tinggi yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus.
Pengetahuan ibu tentang komplikasi dan tanda bahaya persalinan memegang peran strategis dalam deteksi dini, kesiapsiagaan, dan keputusan persalinan. Faktor seperti asuhan antenatal, riwayat kehamilan, usia, jarak kehamilan, akses layanan kesehatan, serta kualitas edukasi dari tenaga kesehatan sangat memengaruhi seberapa baik pengetahuan itu terbentuk. Namun, berbagai hambatan, mulai dari akses, literasi, budaya, hingga infrastruktur, bisa menghalangi pemberdayaan pengetahuan itu.
Oleh karena itu, upaya peningkatan kesehatan maternal harus melibatkan edukasi berkelanjutan, akses antenatal yang merata, keterlibatan keluarga dan komunitas, serta layanan kesehatan yang responsif. Dengan demikian, pengetahuan ibu tidak hanya menjadi teori, melainkan bekal nyata untuk melahirkan dengan aman, terencana, dan selamat.