Terakhir diperbarui: 29 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 29 November). Pengujian Autokorelasi Durbin-Watson. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengujian-autokorelasi-durbinwatson  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengujian Autokorelasi Durbin-Watson - SumberAjar.com

Pengujian Autokorelasi Durbin-Watson

Pendahuluan

Kapan pun seorang peneliti menggunakan model regresi linier untuk menganalisis data, penting untuk memeriksa asumsi klasik agar estimasi yang dihasilkan valid dan dapat diandalkan. Salah satu asumsi tersebut adalah bahwa residual (kesalahan) dari model tidak berkorelasi satu sama lain, artinya error pada satu observasi tidak dipengaruhi oleh error pada observasi lain. Jika asumsi ini dilanggar, maka terjadi autokorelasi, yang dapat membuat hasil uji statistik (seperti uji t, uji F) menjadi tidak valid. Untuk mendeteksi keberadaan autokorelasi dalam residual model regresi, digunakan uji statistik yakni Durbin–Watson test. Artikel ini akan membahas definisi, dasar teori, interpretasi, serta penerapan uji tersebut dalam penelitian.


Definisi Durbin-Watson

Definisi Durbin-Watson Secara Umum

Durbin-Watson test adalah metode statistik yang digunakan untuk mendeteksi adanya autokorelasi (serial correlation) dalam residual dari analisis regresi. Autokorelasi, atau yang kadang disebut autokorelasi serial (serial correlation), terjadi bila residual (error) pada observasi ke-t berhubungan dengan residual pada observasi ke-(t−1). Dengan demikian, residual tidak independen satu sama lain, melanggar asumsi klasik regresi. Durbin-Watson merupakan alat untuk memeriksa apakah model regresi menunjukkan tanda-tanda autokorelasi residual. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Durbin-Watson dalam KBBI

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “autokorelasi” memiliki arti “korelasi dari suatu variabel dengan dirinya sendiri pada periode waktu berbeda”. Meskipun KBBI tidak secara spesifik mendefinisikan “Durbin-Watson test”, pengertian autokorelasi dalam KBBI mendasari makna dari uji tersebut, yaitu mendeteksi korelasi serial dalam data. Dengan demikian, Durbin-Watson test dapat diartikan sebagai “uji statistik untuk mendeteksi korelasi serial antar residual dalam model regresi”.

Definisi Durbin-Watson Menurut Para Ahli

Berikut definisi menurut beberapa ahli / sumber referensi statistik/regresi:

  • Durbin & Watson (1950, 1951), menurut definisi klasik, statistik DW dirancang untuk menguji apakah residual dari regresi linier menunjukkan autokorelasi orde-pertama (lag 1). Statistik ini diperoleh dari rasio kuadrat selisih residual berturut-turut terhadap kuadrat residual total. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Dalam literatur ekonometrika kontemporer, uji Durbin-Watson dijelaskan sebagai alat formal untuk memeriksa kebebasan galat dalam regresi linier; jika residual tidak independen, maka asumsi klasik dilanggar. [Lihat sumber Disini - rstudio-pubs-static.s3.amazonaws.com]
  • Dalam penjelasan praktis dari sumber edukasi statistik, disebutkan bahwa uji Durbin-Watson efektif untuk mendeteksi autokorelasi first-order pada data deret waktu (time-series) ketika model regresi memenuhi syarat tertentu (misalnya model menyertakan konstanta). [Lihat sumber Disini - statistikian.com]
  • Menurut artikel metodologi regresi dalam konteks penelitian di Indonesia, uji autokorelasi dengan Durbin-Watson penting untuk memastikan bahwa kesalahan penganggu (error term) tidak saling berhubungan, hal ini krusial agar estimator OLS (ordinary least squares) memiliki sifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

Prinsip dan Interpretasi Uji Durbin-Watson

Dalam pelaksanaannya, Durbin-Watson test menghasilkan suatu statistik yang disebut nilai DW. Nilai DW diperoleh dengan membandingkan perbedaan residual berturut-turut terhadap total residual:

  • Nilai DW berada dalam rentang 0 sampai 4. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Interpretasi kasar: nilai DW ≈ 2 menunjukkan tidak ada autokorelasi; nilai DW jauh di bawah 2 (mendekati 0) menunjukkan adanya autokorelasi positif (residual cenderung sama berurutan); nilai DW jauh di atas 2 (mendekati 4) menunjukkan kemungkinan autokorelasi negatif (residual cenderung berlawanan tanda secara berurutan). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
  • Untuk keputusan statistik formal, nilai DW dibandingkan dengan nilai kritis dari tabel DW, yaitu lower critical value (d_L) dan upper critical value (d_U), yang tergantung pada jumlah observasi (n) dan jumlah variabel independen dalam model. Jika d_L < DW < d_U, hasil disebut “inconclusive” (tidak bisa disimpulkan dengan pasti); jika DW < d_L, ada autokorelasi positif; jika DW > 4 – d_L, ada autokorelasi negatif; jika d_U ≤ DW ≤ 4 – d_U, maka tidak ada autokorelasi. [Lihat sumber Disini - it.wikipedia.org]

Sebagai contoh penerapan nyata: dalam sebuah penelitian pada periode 2018–2020 di perusahaan perbankan Indonesia, peneliti menggunakan uji Durbin-Watson untuk memastikan bahwa model regresi bebas dari autokorelasi sehingga hasil regresi dapat diandalkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]


Kapan dan Mengapa Uji Durbin-Watson Digunakan

Uji Durbin-Watson umumnya digunakan dalam analisis regresi linier, terutama bila data berbentuk deret waktu (time-series), yakni observasi dilakukan secara berurutan sepanjang waktu. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]

Pentingnya melakukan uji ini antara lain karena:


Kelebihan dan Keterbatasan Durbin-Watson Test

Kelebihan:

Keterbatasan:


Contoh Penerapan dalam Penelitian Empiris

Beberapa penelitian di Indonesia dan publikasi akademik menggunakan uji Durbin-Watson sebagai bagian dari rangkaian uji asumsi klasik. Misalnya:

  • Sebuah penelitian tahun 2021 menggunakan DW test untuk memeriksa autokorelasi dalam analisis regresi data perusahaan, dan memasukkan hasil DW dalam tabel uji autokorelasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.lmiimedan.net]
  • Penelitian lain yang menganalisis pengaruh variabel X terhadap Y di perusahaan terdaftar di BEI (periode 2017–2020) juga memakai uji DW untuk memastikan model regresi bebas autokorelasi sebelum menginterpretasikan hasil. [Lihat sumber Disini - jurnal.buddhidharma.ac.id]
  • Dalam sebagian panduan metodologi penelitian, uji Durbin-Watson disebut sebagai tahap wajib ketika menggunakan data deret waktu karena kemampuannya mendeteksi autokorelasi first-order. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

Rekomendasi & Catatan Praktis untuk Peneliti

  • Pastikan model regresi menyertakan konstanta (intercept) sebelum menjalankan uji Durbin-Watson, karena tanpa konstanta, hasil DW bisa bias atau tidak valid. [Lihat sumber Disini - statistikian.com]
  • Gunakan uji DW terutama jika data berbentuk deret waktu; untuk data cross-section (observasi variabel pada satu waktu tunggal per entitas), autokorelasi residual umumnya tidak relevan. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
  • Jika uji DW menunjukkan autokorelasi positif atau negatif, pertimbangkan metode alternatif seperti regresi dengan model autoregresif, transformasi data, atau uji lain seperti Breusch–Godfrey test atau Ljung–Box test, tergantung konteks penelitian. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Kesimpulan

Uji Durbin-Watson adalah alat penting dalam analisis regresi linear, karena membantu mendeteksi autokorelasi residual, pelanggaran asumsi klasik yang bisa merusak validitas estimasi. Dengan menerapkan uji ini secara tepat, peneliti dapat memastikan bahwa model regresi yang digunakan memenuhi asumsi, sehingga hasil analisis dapat dipercaya. Namun, karena keterbatasannya (hanya mendeteksi autokorelasi lag-1, tergantung pada data dan struktur model), uji DW hendaknya digunakan bersama metode diagnostik lain bila diperlukan.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Pengujian Autokorelasi Durbin-Watson adalah metode statistik yang digunakan untuk mendeteksi apakah residual dalam model regresi mengalami autokorelasi, terutama autokorelasi orde pertama. Nilai Durbin-Watson berada pada rentang 0 hingga 4.

Nilai Durbin-Watson yang mendekati 2 menunjukkan tidak adanya autokorelasi. Nilai di bawah 2 cenderung menunjukkan autokorelasi positif, sementara nilai di atas 2 mengarah ke autokorelasi negatif.

Uji Durbin-Watson penting karena autokorelasi pada residual dapat menyebabkan estimasi regresi menjadi bias dan tidak efisien. Hal ini berdampak pada kesalahan pengambilan keputusan dalam penelitian.

Uji Durbin-Watson biasanya digunakan pada data deret waktu (time series), ketika kemungkinan besar residual saling berkorelasi antar periode.

Jika ditemukan autokorelasi, peneliti dapat menggunakan model alternatif seperti regresi dengan autoregressive term, transformasi data, atau uji lanjutan seperti Breusch-Godfrey.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perilaku Caring dalam Keperawatan Perilaku Caring dalam Keperawatan Pengujian & Quality Assurance Sistem Pengujian & Quality Assurance Sistem Pengujian Hipotesis: Langkah, Jenis, dan Contoh Pengujian Hipotesis: Langkah, Jenis, dan Contoh Metode Pengujian Sistem Berbasis Risiko Metode Pengujian Sistem Berbasis Risiko Pengujian Keamanan Sistem Informasi Pengujian Keamanan Sistem Informasi White Box Testing: Ciri dan Contoh White Box Testing: Ciri dan Contoh Pengujian Load Test pada Sistem Web Pengujian Load Test pada Sistem Web Analisis Regresi Linear: Langkah dan Contoh Analisis Regresi Linear: Langkah dan Contoh Black Box Testing dalam Pengujian Sistem Black Box Testing dalam Pengujian Sistem Uji Hipotesis Satu Arah dan Dua Arah: Pengertian dan Contoh Uji Hipotesis Satu Arah dan Dua Arah: Pengertian dan Contoh Teori Behavioral: Konsep dan Aplikasi Teori Behavioral: Konsep dan Aplikasi Desain Time Series dalam Penelitian Desain Time Series dalam Penelitian Model ARIMA: Definisi dan Implementasi Model ARIMA: Definisi dan Implementasi Hipotesis Nol: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Hipotesis Nol: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Validitas Konstruk: Pengertian dan Pengujian Validitas Konstruk: Pengertian dan Pengujian Pengujian User Acceptance Test (UAT) Pengujian User Acceptance Test (UAT) Perilaku Caring Perawat: Makna dan Implikasi Pelayanan Perilaku Caring Perawat: Makna dan Implikasi Pelayanan Pengujian Multikolinearitas: Langkah dan Interpretasi Pengujian Multikolinearitas: Langkah dan Interpretasi Hipotesis Alternatif: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Hipotesis Alternatif: Pengertian, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Cara Menguji Hipotesis dalam Penelitian Eksperimen Cara Menguji Hipotesis dalam Penelitian Eksperimen
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…