
Pengujian User Acceptance Test (UAT)
Pendahuluan
User Acceptance Testing (UAT) adalah tahap penting dalam pengembangan perangkat lunak, proses akhir yang menentukan apakah sistem sudah benar-benar siap digunakan oleh pengguna akhir dalam kondisi nyata. UAT tidak hanya memeriksa apakah fungsi teknis bekerja, tetapi apakah sistem sesuai dengan kebutuhan bisnis dan ekspektasi pengguna. Tanpa UAT, ada risiko besar bahwa perangkat lunak meskipun “bebas bug”, bisa gagal memenuhi kebutuhan nyata pengguna, menyebabkan penolakan atau ketidakpuasan setelah peluncuran.
UAT menjadi jembatan antara pengembangan teknis dan penerimaan nyata di lapangan, sehingga pelaksanaan UAT secara benar, terdokumentasi, dan disertai analisis hasil sangat krusial untuk keberhasilan implementasi sistem.
Definisi User Acceptance Test (UAT)
Definisi UAT Secara Umum
User Acceptance Test, disingkat UAT, adalah fase pengujian akhir dalam siklus pengembangan perangkat lunak di mana pengguna akhir (end-user) melakukan pengujian terhadap sistem/aplikasi dalam kondisi yang menyerupai lingkungan operasional sesungguhnya, untuk memastikan bahwa fungsi dan fitur telah sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna. [Lihat sumber Disini - splunk.com]
UAT berbeda dari pengujian teknis seperti unit testing, integration testing, atau system testing; fokus UAT bukan pada bug teknis semata, melainkan pada validasi bahwa sistem mendukung alur bisnis, usability, dan kebutuhan nyata pengguna. [Lihat sumber Disini - panaya.com]
Definisi UAT dalam KBBI
Menurut definisi resmi (misalnya dalam kamus istilah sistem elektronik dari instansi pemerintahan), UAT didefinisikan sebagai “uji penerimaan terhadap Sistem Elektronik yang dilakukan oleh pemilik proses bisnis dan pengguna”. [Lihat sumber Disini - jdih.kemenkeu.go.id]
Artinya, dalam konteks formal pemerintahan atau sistem enterprise, UAT bukan hanya tugas tim teknis, melainkan melibatkan pemangku kepentingan bisnis dan pengguna akhir agar dapat memastikan sistem layak digunakan sebelum go-live. [Lihat sumber Disini - jdih.kemenkeu.go.id]
Definisi UAT Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur dan penelitian ilmiah:
-
Menurut ATASI (2025), UAT adalah metode untuk mengevaluasi seberapa jauh sistem yang dikembangkan mampu memenuhi ekspektasi dan kebutuhan pengguna akhir. [Lihat sumber Disini - e-journals2.unmul.ac.id]
-
Dalam kajian UNESA (2024) tentang kualitas dan kepuasan pengguna website, UAT dipakai untuk menguji kegunaan (usability) dan kepuasan pengguna terhadap sistem. [Lihat sumber Disini - journal.unesa.ac.id]
-
Menurut penelitian Universitas Teknologi Akba, UNITAMA (2025), UAT berguna untuk menilai fungsionalitas dan kegunaan (usability) sistem informasi akademik dari perspektif pengguna seperti mahasiswa, dosen, staf administrasi. [Lihat sumber Disini - ejournal.tsb.ac.id]
-
Sedangkan dalam studi implementasi sistem di lingkungan perpustakaan oleh MTs Negeri 7 Kuningan (2023), UAT digunakan untuk menilai aspek desain dan kemudahan penggunaan (usability), dengan hasil menunjukkan tingkat penerimaan pengguna terhadap aplikasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.umkuningan.ac.id]
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa UAT adalah proses validasi akhir yang melibatkan pengguna nyata untuk memastikan bahwa software tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan, ekspektasi, dan konteks pengguna.
Tujuan dan Fungsi UAT
Tujuan utama UAT meliputi:
-
Memastikan bahwa sistem memenuhi kebutuhan bisnis dan harapan pengguna akhir, tidak sekadar spesifikasi teknis. [Lihat sumber Disini - splunk.com]
-
Menguji apakah seluruh alur kerja dan fitur (end-to-end business flow) bekerja dengan baik dalam skenario nyata sebelum sistem diluncurkan. [Lihat sumber Disini - panaya.com]
-
Menyediakan validasi dari pengguna akhir, sebagai bentuk penerimaan (acceptance) bahwa sistem layak digunakan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Mengidentifikasi masalah usability, antarmuka, performa, dan aspek non-teknis lainnya (misalnya kenyamanan pengguna, efisiensi kerja, kemudahan navigasi), yang mungkin tidak terdeteksi di tahap pengujian teknis. [Lihat sumber Disini - scholar.ummetro.ac.id]
-
Mengurangi risiko peluncuran sistem yang gagal di lingkungan operasional nyata, dengan meminimalkan ketidakpuasan pengguna, kesalahan operasional, dan kebutuhan perbaikan besar setelah implementasi. [Lihat sumber Disini - binus.ac.id]
Fungsi UAT dalam siklus pengembangan perangkat lunak juga meliputi formalitas dokumentasi penerimaan sistem, sebagai bukti bahwa sistem telah diverifikasi pengguna sebelum go-live. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Jenis-Jenis UAT
Dalam praktik pengembangan perangkat lunak/ sistem informasi, UAT dapat dikategorikan berdasarkan konteks pelaksanaannya. Berikut jenis-jenis UAT yang umum dijumpai:
-
Alpha Testing, pengujian awal oleh pengguna internal (misalnya tim pengembang, staf QA, pengguna internal organisasi) sebelum diberikan ke pengguna eksternal. Jenis ini berguna untuk mendeteksi masalah awal dan mempersiapkan sistem agar lebih stabil sebelum diuji oleh pengguna nyata. (Catatan: beberapa literatur mengelompokkan alpha testing sebagai bagian dari acceptance testing internal). [Lihat sumber Disini - jurnal.ciptamediaharmoni.id]
-
Beta Testing (Beta UAT / External UAT), pengujian dilakukan oleh pengguna eksternal atau target pengguna asli (end-user) dalam kondisi sesungguhnya, seringkali di lingkungan operasional atau produksi semu (pre-production), untuk mengevaluasi apakah sistem benar-benar siap dilepas. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Business UAT, pengujian fokus pada aspek bisnis/ proses bisnis: memastikan bahwa sistem mendukung alur kerja organisasi, kebutuhan bisnis, dan operasional sesuai spesifikasi bisnis. UAT jenis ini penting jika sistem dibangun untuk mendukung proses bisnis tertentu dan membutuhkan validasi dari pemangku kepentingan (stakeholder), bukan hanya pengguna teknis. (Meski istilah “Business UAT” tidak selalu disebut dalam semua literatur, konsep testing berbasis kebutuhan bisnis ini menjadi bagian dari UAT secara umum). [Lihat sumber Disini - panaya.com]
Dalam praktik banyak penelitian di Indonesia, UAT dilakukan setelah pengujian teknis selesai, sebagai bagian akhir sebelum sistem diterima dan diimplementasikan secara penuh. [Lihat sumber Disini - ojs.mmtc.ac.id]
Kriteria Keberhasilan UAT
Untuk menyatakan bahwa UAT berhasil (sistem diterima), beberapa kriteria yang umum digunakan:
-
Sistem memenuhi semua requirement fungsional dan non-fungsional sesuai spesifikasi kebutuhan pengguna, fitur utama berjalan dengan benar. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Sistem dapat dijalankan dalam kondisi nyata dengan performa yang memadai: responsif, stabil, tidak crash, mampu menangani beban pengguna sesuai skenario. [Lihat sumber Disini - scholar.ummetro.ac.id]
-
Usabilitas dan antarmuka sistem diterima oleh pengguna: navigasi intuitif, tampilan sesuai ekspektasi, kemudahan penggunaan, serta kenyamanan dalam operasional. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Efisiensi dan produktivitas meningkat, pengguna merasa sistem mendukung proses kerja lebih cepat atau lebih mudah dibanding metode lama. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kepuasan pengguna cukup tinggi, umumnya diukur melalui kuesioner atau skala likert, dengan persentase penerimaan di atas threshold tertentu (misalnya > 80% atau kategori “Setuju/ Sangat Setuju”). Banyak penelitian menggunakan hasil skor rata-rata dari kuesioner sebagai indikator keberhasilan UAT. [Lihat sumber Disini - e-journals2.unmul.ac.id]
Jika semua kriteria ini terpenuhi, maka sistem dianggap “layak” dan “siap digunakan”, dan pengguna akhir/ stakeholder dapat menerima sistem tersebut.
Langkah Pelaksanaan UAT
Berikut langkah-langkah umum dalam pelaksanaan UAT berdasarkan best practice dan literatur:
-
Persiapan Perencanaan UAT, mendefinisikan tujuan UAT, memilih tim pengguna/pengguna akhir (end-user), menentukan skenario penggunaan (use-case), membuat rencana test (test plan), dan menyusun kuesioner atau metode evaluasi. [Lihat sumber Disini - testrail.com]
-
Pembuatan dan Penyusunan Test Case / Test Script, membuat skenario nyata yang mencerminkan alur bisnis dan tugas pengguna; test case harus menggambarkan situasi penggunaan sesungguhnya. (Nanti bagian ini dibahas lebih detil di bagian “Penyusunan Test Case untuk UAT”). [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pelaksanaan UAT oleh Pengguna Akhir, pengguna menjalankan sistem sesuai skenario, melakukan aktivitas seperti dalam kondisi operasional nyata, lalu memberikan penilaian/feedback melalui kuesioner, wawancara, observasi, atau metode lain. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pengumpulan dan Analisis Data, hasil test (feedback, skor kuesioner, catatan bug/issue, usabilitas, efektivitas, efisiensi) dikumpulkan dan dianalisis untuk menentukan apakah sistem memenuhi kriteria penerimaan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Perbaikan Sistem (Jika Diperlukan), jika ada masalah (misalnya fitur gagal, antarmuka tidak intuitif, performa buruk), tim pengembang memperbaiki sistem dan kembali melakukan UAT (iterasi) sampai sistem memenuhi kriteria. (Sering terjadi dalam metode agile atau prototyping) [Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]
-
Dokumentasi dan Persetujuan Akhir, hasil UAT direkam, laporan disusun, dan stakeholder/pemilik bisnis menyatakan penerimaan (acceptance), sebagai dasar for go-live atau implementasi resmi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penyusunan Test Case untuk UAT
Dalam menyusun test case untuk UAT, beberapa hal perlu diperhatikan agar test dapat mencerminkan penggunaan nyata dan memberikan hasil valid:
-
Test case harus berbasis skenario nyata (use-case / business flow), misalnya: “user login → input data → submit → generate laporan → logout”, sesuai alur kerja sehari-hari pengguna.
-
Test case mencakup aspek fungsional dan non-fungsional: fungsionalitas fitur, performa sistem, usability/antarmuka, produktivitas, keamanan (jika relevan), dan kemudahan penggunaan.
-
Gunakan data yang representatif, data nyata atau dummy yang menyerupai kondisi produksi, bukan data “ideal” atau “sederhana saja”.
-
Petakan kriteria penerimaan (acceptance criteria) per test case, misalnya: fitur harus berjalan tanpa error, response time di bawah threshold, tampilan antarmuka sesuai desain, navigasi mudah, dan pengguna dapat menyelesaikan tugas dengan sukses.
-
Setelah setiap test case, sediakan form feedback/kuesioner atau checklist bagi pengguna untuk menilai aspek usability, kenyamanan, dan kepuasan (misalnya skala Likert).
-
Jika memungkinkan, dokumentasikan hasil test + catatan bug/perbaikan + rekomendasi, supaya bila iterasi diperlukan, tim pengembang tahu area mana yang harus diperbaiki.
-
Ulangi test jika ada perubahan setelah perbaikan, UAT ideal dilakukan hingga semua acceptance criteria terpenuhi sebelum go-live.
Contoh Laporan dan Hasil UAT
Beberapa penelitian di Indonesia memberikan gambaran nyata bagaimana laporan UAT disusun dan hasil yang diperoleh:
-
Dalam studi “Implementasi UAT pada website e-commerce UMKM BBHealthy” (2025), hasil menunjukkan skor penerimaan pengguna sebesar 84, 6% dan dikategorikan sebagai “Sangat Setuju / Sangat Penerimaan”. [Lihat sumber Disini - e-journals2.unmul.ac.id]
-
Pada penelitian sistem informasi manajemen kos (2025), setelah UAT dilakukan, sistem dianggap memenuhi kebutuhan pengguna dan siap diimplementasikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itn.ac.id]
-
Studi pada aplikasi sistem pengiriman barang menggunakan UAT (jenis open beta testing) melibatkan 50 responden; hasil menunjukkan akurasi pengujian sekitar 85%, dan keputusan “Setuju” terhadap penerimaan sistem. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisbablitar.ac.id]
-
Untuk sistem informasi e-commerce berbasis website dari sebuah studi (2024), hasil UAT memperoleh nilai rata-rata 92, 3%, menunjukkan bahwa sistem sesuai dengan kebutuhan pengguna. [Lihat sumber Disini - jurnal.ciptamediaharmoni.id]
-
Penelitian pada sistem informasi akademik (SIAKAD) di universitas (2025) menunjukkan bahwa UAT digunakan untuk menilai fungsionalitas dan usability sistem, dan hasilnya menunjukkan sistem diterima dan layak dipakai oleh mahasiswa, dosen, staf admin. [Lihat sumber Disini - ejournal.tsb.ac.id]
Dalam laporan UAT biasanya disajikan dalam bentuk ringkasan hasil (persentase, skor rata-rata), tabel evaluasi per aspek (fungsionalitas, user interface, performa, efisiensi, usability), serta rekomendasi perbaikan jika dibutuhkan.
Kesimpulan
User Acceptance Test (UAT) merupakan fase krusial dalam siklus pengembangan perangkat lunak, bertujuan memastikan bahwa sistem tidak hanya bekerja secara teknis, tetapi juga sesuai kebutuhan dan ekspektasi pengguna akhir. UAT berfungsi sebagai validasi akhir sebelum sistem diluncurkan, mengevaluasi fungsionalitas, performa, usability, efisiensi, dan kepuasan pengguna.
Pelaksanaan UAT melibatkan pengguna nyata, skenario operasional, serta penyusunan test case realistis dan kriteria penerimaan yang jelas. Keberhasilan UAT diukur melalui hasil evaluasi pengguna, baik kuantitatif (skor, persentase) maupun kualitatif (feedback, observasi).
Berdasarkan literatur dan penelitian periode 2021, 2025, banyak sistem informasi, baik akademik, e-commerce, manajemen inventaris, maupun aplikasi mobile, yang berhasil “lulus” UAT dan diterima pengguna setelah memenuhi kriteria penerimaan. Hal ini menegaskan bahwa UAT bukan sekadar formalitas, tetapi bagian krusial untuk menjamin kualitas dan keberhasilan implementasi sistem.
Dengan demikian, bagi siapa pun yang mengembangkan sistem informasi, melakukan UAT dengan benar dan terstruktur sangat disarankan, agar sistem yang dibangun benar-benar relevan, usable, dan diterima oleh pengguna nyata.