
Perilaku Ibu dalam Pencegahan Infeksi Masa Nifas
Pendahuluan
Masa nifas, periode pasca melahirkan dimana tubuh ibu mulai kembali ke kondisi sebelum kehamilan, adalah masa kritis bagi kesehatan ibu. Selama masa ini, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan fisiologis dan pemulihan organ reproduksi, sehingga rentan terhadap komplikasi termasuk infeksi. Infeksi masa nifas, jika tidak dicegah dan ditangani dengan baik, dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu, bahkan berdampak pada kesehatan bayi. Oleh karena itu, penting bagi ibu dan tenaga kesehatan untuk memahami jenis infeksi yang sering terjadi, perilaku kebersihan yang dianjurkan, faktor-faktor yang mempengaruhi pencegahan, serta peran edukasi dan dukungan untuk meminimalkan risiko. Artikel ini membahas berbagai aspek terkait perilaku ibu dalam pencegahan infeksi masa nifas berdasarkan literatur terkini dan sumber akademik.
Definisi: Infeksi Masa Nifas
Definisi Secara Umum
Infeksi masa nifas, sering disebut juga infeksi postpartum atau puerperal infection/sepsis, adalah kondisi peradangan dan/atau infeksi yang terjadi pada organ genital atau media lain (misalnya luka persalinan) selama masa nifas, yaitu setelah persalinan hingga proses pemulihan organ reproduksi selesai. [Lihat sumber Disini - repo.polkesraya.ac.id]
Definisi menurut KBBI
Menurut arti umum “nifas” dalam literatur kebidanan Indonesia, masa nifas mengacu pada periode sejak plasenta keluar hingga alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, yang umumnya berlangsung sekitar 6 minggu atau 42 hari. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Namun definisi “infeksi masa nifas” secara spesifik menurut KBBI tidak tersedia, dalam praktik klinis, definisi tersebut berkembang dalam literatur kedokteran/kebidanan.
Definisi menurut Para Ahli
-
Menurut modul asuhan kebidanan, infeksi masa nifas didefinisikan sebagai infeksi pada traktus genital yang terjadi selama persalinan atau masa nifas, sering disertai suhu ≥ 38°C, serta gejala seperti lochea berbau, demam, dan tanda-tanda infeksi lainnya. [Lihat sumber Disini - lensa.unisayogya.ac.id]
-
Dalam tinjauan oleh Lestari (2021), masa nifas adalah periode setelah plasenta lahir sampai alat reproduksi kembali seperti sebelum hamil, dengan masa sekitar 6 minggu, dan infeksi pada masa ini dapat bersifat serius jika penanganan nifas tidak optimal. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa infeksi masa nifas (postpartum infections) termasuk salah satu penyebab utama kematian maternal setelah perdarahan. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Modul asuhan kebidanan menyebut bahwa infeksi masa nifas dapat berkembang melalui peradangan alat genital akibat kuman dari vagina, kulit, atau lingkungan sekitar jalan lahir, terutama jika kebersihan dan perawatan nifas kurang memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal.unived.ac.id]
Jenis Infeksi yang Umum Terjadi pada Masa Nifas
Infeksi masa nifas dapat mengambil banyak bentuk, tergantung area yang terlibat dan kondisi ibu. Beberapa jenis infeksi yang sering dilaporkan antara lain:
-
Endometritis, infeksi atau peradangan pada lapisan dalam rahim (endometrium), sering terjadi ketika bakteri masuk ke rahim setelah persalinan, misalnya akibat prosedur tidak aseptik atau sisa plasenta. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Infeksi luka persalinan, mencakup luka perineum (pada persalinan pervaginam), luka episiotomi, atau luka bekas operasi caesar; luka ini jika tidak dirawat dengan higienis bisa menjadi sumber infeksi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stpmataram.ac.id]
-
Infeksi saluran kemih (ISK), karena trauma persalinan atau retensi urine, ibu nifas rentan terhadap infeksi saluran kemih. [Lihat sumber Disini - stikesnamira.ac.id]
-
Mastitis, infeksi pada payudara, terutama pada ibu menyusui; dapat terjadi akibat kebersihan puting yang kurang, serta pelepasan ASI yang tidak optimal. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Infeksi lain seperti parametritis, miometritis, atau bahkan sepsis sistemik bisa terjadi jika infeksi menyebar dan tidak segera ditangani. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Infeksi postpartum atau masa nifas dapat berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas maternal secara global; diperkirakan terjadi pada 5, 7% ibu pascapersalinan, dan menyumbang hingga 15% dari kematian maternal pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Perilaku Kebersihan yang Dianjurkan
Untuk mencegah infeksi masa nifas, beberapa praktik kebersihan dan perilaku higienis sangat dianjurkan:
-
Menjaga kebersihan area genital dan perineum, rutin membersihkan area dengan air bersih, menjaga agar tetap kering, mengganti pembalut nifas secara teratur, dan mencuci tangan sebelum dan setelah mengganti pembalut atau menyentuh area intim.
-
Perawatan luka perineum atau jahitan episiotomi/caesar dengan menjaga kebersihan, mandi air bersih, mengganti pembalut setelah BAB/BAK dan nifas, serta menghindari kontak dengan kotoran.
-
Kebersihan puting dan payudara, mencuci tangan sebelum menyusui, menjaga kebersihan puting, memerah ASI dengan tangan atau pompa yang bersih jika perlu, dan memastikan saluran ASI bersih untuk menghindari mastitis.
-
Perawatan saluran kemih, menjaga kebersihan saat buang air kecil, mencukupi hidrasi untuk memperlancar urine, dan segera buang air kecil jika ada dorongan, untuk mengurangi risiko infeksi saluran kemih.
-
Perawatan tubuh dan lingkungan, menjaga kebersihan rumah atau lingkungan sekitar ibu dan bayi, memperhatikan kebersihan alat mandi dan pembalut, serta memastikan ventilasi dan penerangan cukup untuk mendukung penyembuhan.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pencegahan
Beberapa faktor bisa mempengaruhi seberapa baik ibu menjalankan perilaku pencegahan infeksi masa nifas:
-
Pengetahuan ibu tentang risiko dan cara pencegahan, ibu yang memiliki pengetahuan baik tentang infeksi nifas cenderung menjalankan perawatan pascapersalinan dengan lebih optimal. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisayogya.ac.id]
-
Persepsi terhadap manfaat dan hambatan, menurut sebuah studi tentang perilaku pencegahan sepsis puerperalis, “perceived benefit” (manfaat yang dirasakan) berkorelasi positif dengan perilaku pencegahan, sedangkan “perceived barrier” (hambatan yang dirasakan) berkorelasi negatif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor personal dan kondisi kesehatan, status imunitas rendah, malnutrisi, kelelahan, anemia, atau komplikasi persalinan seperti persalinan lama, luka perineum, atau caesar, dapat mempengaruhi kemampuan ibu melakukan perawatan nifas dengan benar. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
-
Dukungan dan perawatan postpartum, ketersediaan asuhan kebidanan pascapersalinan, dukungan keluarga, akses informasi, serta bimbingan dari tenaga kesehatan mempengaruhi kepatuhan ibu terhadap kebersihan dan pencegahan infeksi. [Lihat sumber Disini - repository.ipwija.ac.id]
Pengetahuan Ibu tentang Risiko Infeksi
Pengetahuan ibu tentang infeksi masa nifas adalah fondasi perilaku pencegahan. Penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu postpartum memiliki pengetahuan dan praktik pencegahan yang kurang memadai. Dalam sebuah studi terhadap 120 ibu postpartum di Mesir, ditemukan bahwa kurang dari dua pertiga memiliki pengetahuan yang mencukupi mengenai pencegahan sepsis, dan lebih dari setengah memiliki praktik pencegahan yang kurang optimal. [Lihat sumber Disini - download.garuda.kemdikbud.go.id]
Di Indonesia juga ditemukan bahwa rendahnya pengetahuan bisa berkontribusi terhadap tingginya risiko infeksi nifas. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisayogya.ac.id] Oleh karena itu, edukasi dan penyuluhan tentang risiko infeksi dan cara pencegahan sangat penting, baik selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Kebersihan
Tenaga kesehatan, seperti bidan, dokter, perawat, memiliki peran krusial dalam mencegah infeksi masa nifas melalui:
-
Memberikan edukasi antenatal dan pascapersalinan mengenai pentingnya kebersihan, perawatan luka, kebersihan genital, dan perawatan payudara serta ASI.
-
Menjelaskan tanda-tanda bahaya (misalnya demam, bau tidak sedap pada lochea, nyeri, luka yang tak sembuh) sehingga ibu dan keluarga dapat segera mengenali dan merespon dengan cepat. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Melakukan tindak kebidanan dengan prosedur aseptik, misalnya pada penanganan persalinan, penjahitan, perawatan luka caesar atau episiotomi, agar risiko kontaminasi bakteri diminimalkan. [Lihat sumber Disini - repository.ipwija.ac.id]
-
Memberikan perawatan nifas berkelanjutan, pemantauan kondisi ibu dalam masa nifas, memeriksa luka, memberikan konseling nutrisi dan kebersihan, serta mendukung praktik menyusui yang aman. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Hambatan dalam Melakukan Pencegahan Infeksi
Meski pengetahuan dan rekomendasi tersedia, banyak ibu mengalami hambatan dalam menjalankan perilaku pencegahan, antara lain:
-
Kurangnya pemahaman atau informasi yang memadai tentang risiko dan cara pencegahan, terutama jika edukasi selama kehamilan atau pascapersalinan kurang intensif.
-
Persepsi bahwa perawatan pascapersalinan tidak penting, atau meremehkan risiko infeksi, sehingga kebersihan dan perawatan luka sering diabaikan.
-
Faktor sosial dan lingkungan, misalnya akses terbatas ke air bersih, sanitasi buruk, peralatan kebersihan tidak memadai, atau lingkungan rumah yang kurang mendukung perawatan pascapersalinan.
-
Kondisi ibu, kelelahan, anemia, malnutrisi, kurang tidur, atau beban merawat bayi dan anggota keluarga lain membuat ibu sulit konsisten merawat diri.
-
Minimnya dukungan, dari pasangan, keluarga, atau tenaga kesehatan, bisa membuat ibu merasa sendirian dalam merawat diri pascapersalinan, sehingga pencegahan infeksi terabaikan.
Dampak Perilaku Pencegahan terhadap Pemulihan Ibu
Perilaku pencegahan yang baik selama masa nifas memiliki dampak positif yang signifikan bagi pemulihan ibu dan kesehatan jangka panjang, antara lain:
-
Mengurangi risiko infeksi seperti endometritis, luka persalinan terinfeksi, mastitis, dan infeksi saluran kemih, sehingga mengurangi morbiditas dan potensi komplikasi serius.
-
Mendukung pemulihan organ reproduksi dan luka persalinan, meminimalkan nyeri, percepatan penyembuhan luka, dan mengurangi kemungkinan perawatan ulang atau rawat inap.
-
Mendukung proses menyusui dan kesehatan bayi, dengan mencegah mastitis dan memastikan ibu dalam kondisi sehat untuk merawat dan menyusui bayi sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi bayi.
-
Menurunkan risiko kematian maternal, karena infeksi postpartum termasuk penyebab utama kematian ibu pascapersalinan di banyak negara. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Meningkatkan kualitas hidup ibu dan keluarga, dengan pemulihan yang optimal, ibu dapat berfungsi normal, merawat bayi, serta beradaptasi kembali dalam peran baru sebagai orang tua tanpa dibebani komplikasi kesehatan.
Kesimpulan
Infeksi masa nifas adalah ancaman nyata bagi kesehatan ibu pascapersalinan, namun sebagian besar dapat dicegah dengan perilaku kebersihan dan perawatan nifas yang tepat. Pemahaman ibu terhadap risiko, didukung oleh edukasi dari tenaga kesehatan serta lingkungan sosial dan fisik yang mendukung, menjadi kunci utama dalam pencegahan. Pemeriksaan rutin, kebersihan genital dan luka, perawatan payudara, dan manajemen nutrisi dan istirahat adalah bagian dari perilaku pencegahan yang sangat penting. Dengan demikian, mendidik ibu dan keluarga serta memperkuat sistem asuhan pascapersalinan dapat secara signifikan menurunkan risiko infeksi, mendukung pemulihan, dan menjaga kesehatan ibu serta bayi.